Bahagia Menjadi Api

Saya bahagia menjadi Api. 

Kata orang, menjadi api cuma kerjaan orang-orang jahat. Saya tidak peduli. Saya bahagia melihat orang lain terbakar, sementara saya hanya duduk diam, menikmati detik-detik kehancuran mereka. Detik dan menit, semua terbakar. Mereka panik, kalang kabut ke sana kemari. 

“Hei tolong kami, ada api disini!”

Dan seperti biasa, semua orang sibuk memadamkan api, berlari, berputar-putar meniup api. Mereka tak pernah sadar bahwa mereka hanya membuat kebakaran semakin tinggi. 

“Dasar bodoh, apinya disini!”

Yang dipanggil bodoh berdiri. Dan orang itu menohok temannya sendiri dengan pisau dan menyayatkan luka di lengan kiri. Darah menetes, sementara api masih terus meninggi.

“Hei kamu tolol! Padamkan apinya, kenapa kamu malah menusuk dia?!”

Orang itu berbalik dan menatap si orang ketiga. Matanya semerah saga, dan api telah membakar habis jiwanya. Tak ada lagi rasa. Tak ada lagi iba. Ini urusan nyawa. Mengapa kita harus diam menunggu sementara amarah tak lagi kuat membuntu?

“Kamu anak bajingan! Tak berotak, hewan tak berakal!" 

Pisau itu dihunjamkannya berkali-kali.

"YA, SAYA MEMANG TAK BERAKAL!”, pisau itu belum berhenti, suara daging yang terkoyak seperti melodi pagi diiringi tawa puas dan seringai setan tak bernurani.

Tapi bukan mereka yang tertawa. Hanya saya yang tertawa sejak tadi, disini.

Duduk santai sambil mengigit sepotong roti. Sendiri. Bahagia menjadi Api. 

Untuk Hitam

Hitam,

bukan membawa kelam, tapi terang yang bersinar di atas hijau.

Hitam,

bukan menggelapkan mata, tapi menyilaukan pandangan di sudut depan yang tak pernah bisa mengalihkan.

Hitam, 

tak mau melebur sembarangan. Dia berkuncup ketika pelangi ada dimana-mana, tapi ketika bersama jaket coklat dan jam tangan hitam, dia merekah serupa kelopak Colorado di ujung senja.

Hitam, 

tak suka merah jambu, tak suka putih. Sederhana. Hanya karena ia tak suka, bukan berarti hitam akan selalu hitam. 

Hitam, mungkin stagnan. Tapi hitam, hanyalah hitam yang kuharapkan.