Hai, mas Iqbal. Hari ini pertama kalinya gue nemu tumblr lo dan gak tau kenapa gue menikmati tulisan yang ada di sini. Bahkan gue dengerin podcast subjective episode 6 sampai selesai hahaha Selama ini sering banget, bahkan hampir tiap hari terjadi perdebatan antara gue dan sisi lain gue di kepala yang berebutan buat ngeluarin pendapatnya. Ternyata lo juga ngalamin hal yang sama, paling ngga gue sekarang tau kalo bukan cuma gue yang ngalamin itu. Nanti gue dengerin deh podcasts lainnya. Sukses!

Halo @larasgitaran​,

Salam kenal. Terima kasih sudah menikmati tulisan dan mendengarkan podcast saya, semoga bermanfaat 🙂

Saya bahas juga soal ini di segmen #jawabdipodcast episode 7. Saya percaya bahwa semua orang juga mengalami hal yang sama; punya otak yang berisik dengan suara-suara yang saling berdebat. Hanya saja, kadarnya berbeda-beda.

Sedikit cerita tambahan, saya baru baca kembali bahwa otak yang berisik adalah anugerah sekaligus masalah. Anugerah karena berarti otak kita bekerja dengan normal dan terus mengolah informasi, tapi masalah karena jika keberisikan ini tidak dikendalikan, kita justru akan tersesat pada eksplorasi yang tidak terkendali.

Karenanya, beberapa waktu belakangan semakin marak bahasan tentang mindfulness, tentang bagaimana kita secara sadar mengendalikan bagaimana otak kita berpikir.

Apalagi dengan ramanya dunia sosial media, banjirnya notifikasi, dan nagihnya scrolling di linimasa; berfokus dan menyadari diri sendiri semakin sulit untuk dilakukan.

image

Karenanya, berikut beberapa tulisan yang menarik dibaca untuk belajar fokus dan mengendalikan pikiran yang berisik:

  1. Social Media Detox: Identifying Addiction and Disconnecting From Your Newsfeed by Holstee
  2. 7 Tips on Reboot Smartphone with Mindfulness by Tristan Harris
  3. 12 Mindfulness Hacks You Can Use in 24 Hours by Larry Kim
  4. 11 Ways to Make Your Mind Calm and Peaceful by Lifehack

Selamat belajar mengendalikan pikiran, semoga bermanfaat.

Salam kreatif!

Kita Sudah Punya Semuanya

Tahu kenapa hidup kita ga enak?

Karena kita mulai membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain.

Kita membandingkan apa yang mereka punya, sementara kita tidak. Kita iri dengan jalan mereka yang lurus, sedang jalan kita berputar-putar. Kita menginginkan perjuangan mereka yang mudah, sedang perjuangan kita begitu sulit.

Membandingkan adalah aktivitas tanpa akhir.


Ramadhan dua tahun lalu, saya buka puasa bareng sahabat lama saya, @anjasbiki. Anjas teman saya sejak di pesantren, dan lanjut kuliah bareng di universitas dan fakultas yang sama.

Waktu itu masing-masing kita sudah bekerja dan punya penghasilan, dan kami makan di warteg langganan di depan kosan. Saya pesan makanan langganan sejak kuliah: nasi + usus + telur dadar. Ceritanya mau nostalgia.

Dulu rasanya makan dengan menu itu rasanya super enak. Super mewah, pokoknya setiap pulang kuliah dan kelaparan, makan dengan menu itu rasanya luar biasa.

Saya duduk bareng Anjas dan mulai makan. Lalu satu dua suap pertama, kok saya merasakan hal yang aneh. Saya kunyah lagi, dan otomatis saya menoleh ke Anjas.

Ternyata rasa nasi wartegnya ga seenak yang saya kira.

Saya dan Anjas langsung tertawa, karena kita langsung paham alasannya kenapa. Selama kuliah, nasi warteg ini jadi makanan termewah yang biasa kita konsumsi setiap hari, saat itu. Setelah punya referensi dan kemampuan membeli makanan yang lebih baik, makan di warteg ini rasanya jadi hambar.

Ternyata karena membandingkan, nasi yang dulu saya anggap paling enak, sekarang jadi kurang sedap.

Lalu obrolan kami berlanjut jadi lebih filosofis.

“Itulah kenapa, kaya itu bukan soal uangnya”, kata Anjas sambil menyeruput es teh manis. “Tapi soal seberapa bisa kita berterima kasih dengan apa yang ada”.

Semakin punya uang, saya semakin bisa merasakan bahwa kaya memang hanya soal pikiran. Karena jika rasa kaya diukur dari apa yang bisa kita punya, rasanya tidak akan ada habisnya.

Waktu dulu belum punya handphone apapun, punya nokia saja rasanya sudah bahagia. Sekarang punya smartphone Asus Zenfone, inginnya punya iPhone.

Dulu waktu belum punya kamera, bisa megang Canon pocket aja senangnya luar biasa. Sekarang punya kamera Prosumer, pengen juga punya GoPro dan Mirrorless.

Dulu waktu kemana-mana masih naik kendaraan umum, punya motor aja sudah gaya. Sekarang punya motor, kepengen punya mobil. Nanti punya mobil, pengen punya helikopter. Punya helikopter, pengen punya jet pribadi. Dan begitu seterusnya sampai mati.

Peace comes from within, don’t seek it without.

Kebahagiaan harus selalu dicari ke dalam, bukan ke luar. Terbang ke atas tidak akan pernah membuat kita sampai, karena langit tak pernah punya ujung untuk digapai.

Tapi berenang ke dalam, akan selalu membahagiakan.

image

Karena saat hati kita berhasil menyentuh dasarnya, kita akan tahu: kita sudah punya semuanya.