Padang Pasir dan Gunung Batu

3 pekan yang lalu, alhamdulillah Allah kasih saya kesempatan berkunjung ke tanah suci Mekkah dan Madinah.

Saya bisa berangkat ke Arab Saudi karena undangan Islamic Development Bank, mewakili Kitabisa.com. Saya akan cerita lebih banyak soal trip ini di tulisan berikutnya.

Selama kurang lebih 10 hari di sana, saya tinggal di Jeddah. Tapi saya juga menyempatkan pergi ke Mekkah untuk umroh dan ke Madinah untuk ziarah.

Hari pertama, saya berangkat ke Mekkah. Dari Jeddah ke Mekkah, saya naik Uber selama 1,5 jam.

Perjalanan 101 Km ditempuh lewat jalan tol. Mobil terus melaju kencang dan yang membuat saya tercengang, sepanjang jalan pemandangannya sama.

Padang pasir.

image

Gunung batu.

image

Padang pasir lagi.

image

Gunung batu lagi.

image

Dan begitu seterusnya sampai ke kota Mekkah.

Di hari ke-7. saya pun ikut rombongan IDB ke Madinah menggunakan bus.

Dan perjalanan +- 475 Km yang ditempuh selama 5 jam itu pun punya pemandangan yang sama.

Sepanjang perjalanan, di kanan kiri cuma ada padang pasir.

image

Dan gunung batu lagi.

image

Sepanjang perjalanan itu pula, saya memperhatikan dan merasakan, betapa terik dan panasnya kondisi di sana.

Saat saya di sana, suhu rata-rata di atas 38 derajat celcius.

Sepanjang perjalanan itu pula, saya melihat ke luar jendela dan membayangkan 1.400 tahun lalu.

Apa yang dirasakan Nabi Muhammad saat beliau dan sahabatnya melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah? 

Perjalanan jauh di bawah terik matahari. Dengan naik unta dan berjalan kaki. Berhari-hari, dengan perbekalan yang terbatas dan kelapangan hati. Berjalan jauh meninggalkan kampung halamannya sendiri.

Perjalanan itu, meski hanya di atas bus, membuat saya sadar. Betapa besarnya perjuangan Nabi Muhammad untuk berhijrah dan membawa agamanya.

Sementara kita umatnya, masih sering menyepelekan perkataannya. Tidak peduli pesan-pesannya. Dan tidak mau tahu dengan sunnahnya.

Semoga kita terus bisa memperbaiki diri menjadi orang yang lebih baik lagi.

Muhammad

Banyak yang tidak tahu: nama depan saya adalah Muhammad.

Mungkin karena di sosial media saya hanya mencantumkan nama tengah saya: Iqbal Hariadi. Saya memutuskan demikian karena di suatu hari di kelas satu SMP, saya tahu bahwa di dunia internasional nama orang umumnya hanya terdiri dari dua kata, first name dan last name. Apalagi saya masih punya nama belakang, sehingga total nama saya terdiri dari empat kata.

Dari tiga anak laki-laki, hanya saya yang diberi nama depan Muhammad. Kakak dan adik saya, Subhan Hariadi dan Faturrahman Hariadi tidak punya nama Muhammad. Satu doa yang sangat agung agar saya bisa seperti manusia paling agung sepanjang masa.

Kalau saya sedang duduk atau tiduran menatap langit, saya sering terpikir nama saya sendiri. Nama adalah doa, dan bapak saya berdoa agar saya bisa seperti nabi. Memikirkan fakta itu sering membuat saya bergidik sendiri. Saya takjub sekaligus takut. Saya takjub karena manusia pada umumnya tidak punya kesempatan memilih namanya, dan beruntunglah mereka yang diberikan nama terbaik oleh orang tuanya. Tapi saya takut karena beban berat ada di pundak, saya punya kewajiban untuk membantu mewujudkan doa bapak menjadi nyata.

Muhammad adalah manusia yang paling jujur, pahlawan yang paling pemberani, dan pemimpin yang paling bijaksana. Ia diplomat yang ulung, juru pendamai yang luhur, dan panglima perang yang adiluhung. Dia pria paling dermawan, lelaki paling sabar, dan kepala keluarga paling penyayang. Dia pernah memperjuangkan kebenaran walau dilempari batu. Dia tak pernah berhenti bersabar meski kebaikan yang ia bawa ditertawakan.

Dan mulutnya selalu berdoa meski satu kota menganggapnya orang gila.

Saya sering berkaca dan mematut diri, bagian mana dari diri saya yang sudah mendekati Muhammad yang sebenarnya.

Tapi doa adalah doa.

Tidak ada orang tua yang sempurna, tapi saya percaya semua orang tua tak pernah putus mendoakan kebaikan untuk anaknya.

Kemarin sahabat saya @harisokirio pergi haji, mendatangi Ka’bah tempat suci dimana Muhammad memulai risalah suci. Saya titip doa, semoga Allah pilih kita semua, apapun nama yang kita punya, menjadi seperti Muhammad. Manusia terbaik pejuang kebenaran, pemegang panji kesabaran.

Dan semoga Allah tumbuhkan kerinduan saya untuk mendatangi Ka’bah. Karena ia belum tumbuh di sini, di dalam hati.