Subjective Ep 18 – How To Start a Podcast (Live at Anti Corruption Youth Camp)

 

Rekaman saya saat memenuhi undangan KPK untuk mengisi kelas Podcast di Anti Corruption Youth Camp 2017.

Pelatihan yang dibikin KPK ini ngumpulin anak-anak muda dari berbagai daerah dengan output spesifik: bikin internet lebih berisik dengan konten positif dari anak-anak muda

Saya sharing tentang cara saya memulai podcast serta tips praktis, mulai dari proses rekaman, hal yang harus disiapkan, hingga proses distribusi dari pengalaman saya jalanin Podcast Subjective lebih dari 2 tahun.

Episode ini juga bisa jadi referensi untuk teman-teman yang ingin mulai membuat Podcast.

Semoga makin banyak anak muda yang ngeramein scene Podcast Indonesia dengan konten-konten yang asik dan positif.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

https://api.soundcloud.com/tracks/316567343/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Ep. 12 – Berkarya di Tumblr

Sejak 2010, saya mulai ngeblog di Tumblr.

Dari yang awalnya cuma iseng mencoba sampai kesengsem beneran dan ketagihan ngeblog, memfokuskan semua tulisan saya di sini.

Tumblr jadi rumah buat tulisan, gagasan, dan keresahan saya. Tumblr juga tempat lahirnya ide @biologeek dan Podcast #Subjective.

Di episode ini, saya membagikan kembali rekaman waktu saya sharing di panggung Social Media Week Jakarta 2016. Rekaman satu tahun yang lalu. Dan saya masih ingat, SMW itu satu minggu setelah kejadian Kemenkominfo memblokir Tumblr.

Sebenarnya waktu Tumblr diblokir, saya baca banyak berita bernada “Tumblr diblokir, Blogger bersuara”. Waktu saya baca dan lihat namanya, saya kesal karena yang diwawancara itu ya blogger blogspot/wordpress atau platform lain. Kesal aja sih, kan yang diblokir Tumblr, ya wawancara blogger Tumblr lah *ngarep.

Karenanya, waktu dapat kesempatan sharing di SMW ini, saya cerita bagaimana Tumblr mewadahi saya berkarya. Saya juga cerita Tumblr sebagai tempat banyak kreator lokal membagikan karyanya; penulis, komikus, bahkan musisi seperti Agnes Monica (@agnezmothekid)  dan Dekat (@musikdekat).

Saya juga sharing perjalanan saya dari blog hingga podcast #Subjective.

Join me, and you will listen to my subjectivity

Baca juga tulisan saya: Tumblr yang Sebenarnya

https://api.soundcloud.com/tracks/297513386/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Talk with Agus Z – Cerita Hidup Setelah Sekolah, Tanpa Kuliah

Bisa dibilang, ini cerita #SubjectiveTalk yang paling beda dari tamu-tamu saya sebelumnya.

Jika sebelumnya banyak bercerita tentang kehidupan semasa atau pasca kuliah, yang ini justru tidak kuliah.

Namanya @aguszaee, teman yang saya kenal di pelatihan @siaware di Bandung. Agus tipikal joker sunda; rame, periang, dan suka ngabodor. Selama lima hari di pelatihan, saya banyak ngobrol dengan Agus, yang ternyata punya bisnis hits di Bandung: @martabakmonkey.

Dalam obrolan kita, ternyata cerita di balik bisnisnya lebih seru lagi. Lulus dari sekolah, Agus sempat mencoba kuliah dan gagal. Sempat menganggur, Agus akhirnya memutuskan bekerja: pernah menjadi kuli, tinggal lama jauh dari rumah, hingga akhirnya bertemu partner dan memulai bisnis yang sekarang.

Sepulang 5 hari pelatihan – meski mabok perjalanan – saya memaksa Agus untuk mau cerita. Akhirnya kami ngobrol dan rekaman di salah satu kafe di Dago.

Agus bercerita tentang pengalaman hidupnya setelah sekolah, awal mula dia berbisnis, hingga opininya terhadap mereka yang beruntung bisa berkuliah. Satu sudut pandang baru yang menarik untuk kamu yang pernah atau masih berkuliah.

Join me, and you will listen to my subjectivity .

Subyektif Saya tentang Subjective Episode 2 Iqbal HP (Random Thoughts Tentang Kuliah, Kerja, dan S2)

ammarjasir:

Sebenarnya pada malam kamis ini saya mau menulis tentang film 3 yang barusan saya tonton, ada beberapa kesan yang menurut saya perlu diabadikan dalam tulisan dari film itu. Tapi begitu membuka laptop dan menjelajah sebentar, saya menemukan sebuah audio ‘kultum’ (kuliah tigapuluh menit) Bang Iqbal HP atua yang di sebut Podcast, yang cukup menarik. Sebuah rekaman suaranya pagi tadi, cukup random, tapi menarik sekali. Random karena bahasan yang disampaikannya tidak dipersiapkan sebelumnya, tapi menarik karena spontanitas penyampaiannya, dan juga tema yang dibawakan membuat saya tidak bisa menolak untuk mendengarkannya. 

Sebelumnya saya mau bercerita dulu soal bang Iqbal HP ini, yang buah pikirnya bisa ditemui di https://iqbalhariadi.com/ . Bang Iqbal adalah mahasiswa Biologi UI angkatan 2010, yang kini bekerja di kitabisa.com dan juga beberapa aktifitas lainnya di luar itu. Saya bertemu pertama kali dengannya sekitar tahun 2013, ketika bergabung di HIPMI UI. Ada beberapa aktifitas yang kami pernah lakukan bersama dan itu menyenangkan. Saya belajar banyak dari bang Iqbal, pada banyak hal kami memiliki ketertarikan di bidang yang sama. Saya menilai bang Iqbal adalah orang yang memiliki loncatan pikiran dan ide yang seru. Gagasan dan buah pikirnya seperti meletup-meletup di dalam kepala, ditambah pembawaannya yang selalu bertenaga, katanya dulu saat masih SMP suka berantem. Hehe lho ko jadi bahas bang Iqbal? ya gapapalah, biar teman-teman sekalian tau, bagi yang belum tau. Mengenal  dan berdiskusi dengan bang Iqbal, bagi saya merupakan suatu pengalaman yang asik.

image

Kembali ke audio bang Iqbal, yang pada episode ke-2nya mebahas mengenai dilema yang banyak dialami mahasiswa, termasuk juga saya. Kuliah, kerja, S2. Perihal 3 hal tersebut, saya kira banyak sekali diskusi dan pembicaraan, baik dari seminar pasca kampus, atau pembicaraan di kantin dan tongkrongan mahasiswa. Tapi kali ini bang Iqbal memberikan sudut pandangnya mengenai hal ini, yang saya rasa perlu sama-sama kita pikirkan. 

Yang pertama tentang masa kuliah yang masih banyak tersia. Masa di mana seharusnya kita menemukan mau jadi apa

melakukan apa kita setelah lulus. Sehingga apa yang kita lakukan pada masa kuliah, mengarah kepada hendak melalukan apa kita setelah sudah tidak kuliah, tentu dengan bekal ilmu yang kita dapatkan pada masa kuliah. Namun banyak terjadi setelah lulus lulusan kampus bingung melakukan apa. Akhirnya banyak yang hanya ikut tren, cari beasiswa, ambil S2 ke luar negeri, atau buka bisnis. Tidak ada yang salah memang. Tapi andai saja semuanya telah dipikirkan dan dipersiapkan sejak kuliah, maka akan menjadi lebih baik. 

Mencoba merefleksi kepada diri sendiri, saya pun merenungi hal ini. Posisi di mana secara akademis, di disiplin ilmu yang saya tekuni, saya tidaklah begitu baik. Sedangkan dalam dunia bisnis, beberapa telah saya coba, belum maksimal. Antara saya yang belum sungguh-sungguh, atau memang saya tidak begitu cocok berjualan, atau malah gabungan keduanya. Dengan keaadaan tersebut, pikiran mengenai kemana saya setelah kuliah sempat mampir. Tapi yang lebih parah adalah saat pikiran mengenai apakah saya bisa menyelesaikan kuliah. Itu adalah titik paling pesimis sih. haha

Di luar itu, saya sedang enjoy mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang banyaknya tidak berkaitan sama sekali dengan dunia kuliah saya. Mungkin ada, tapi sedikit. Tapi itu sebenarnya bukan masalah. Saya menafkahi diri dan mendapatkan kepuasan batin dari pekerjaan desain dan beberapa proyek kesenian lainnya. Hal ini kemudian yang membuat saya bersyukur, saya masih mempunyai harapan tentang apa yang hendak saya lakukan setelah masa kuliah berakhir. Paling mentoknya adalah saya melanjutkan aktifitas ini, mungkin lebih banyak belajar lagi, mencari spesialisasi saya. Saya pernah sedikit memabahas mengenai hal ini beberapa waktu lalu di 

What do you do when you are good at something but not good enough? 

Kembali ke audio, ada bahasan menarik tentang bisnis. Mindset yang sempat saya aminkan sekian lama, hingga kemudian pikiran saya menjadi lebih terbuka. Bagian ini cukup mengena karena apa yang dialami bang Iqbal sempat saya alami juga. Keadaan di mana saya sangat meyakini bahwa menjadi pengusaha atau berbisnis, merupakan satu-satunya jalan terbaik menempuh hidup, jalan paling terang menuju bahagia, menafikan jalan lain. Hal itu cukup menyesatkan di mana dengan mindset demikian saya sempat terjebak dalam situasi yang sulit yang saya paksakan, padahal sebenarnya saya tidak begitu menikmatinya. Tidak ada yang salah menjadi pekerja untuk orang lain, tidak ada yang salah dengan profesi apapun dan dibawah siapapun, selama itu halal dan baik untuknya. Sayapun demikian, malah kini lebih enjoy bekerja membantu orang lain. 

Ada banyak sudut pandang menarik lagi sih. Saya tidak bisa menyampaikan semuanya di sini, dan mungkin bisa didengarkan langsung ‘kultum’ Kuliah tigapuluh menitnya di bawah ini. Thank you bang Iqbal, telah sukses mengalihkan malam saya, sehingga baru ingat harus ngerjain tugas buat UTS besok pagi. haha Tapi tak apa sih, jadi tambah semangat ngerjainnya, biar cepat kelar juga nih masa-masa sulit. Haha Mohon doanya : )

https://soundcloud.com/iqbalhariadi/subjective-episode-2-random-thoughts-tentang-kuliah-kerja-dan-s2

Di awal membuat Podcast Subjective, saya bahkan ga yakin ada yang mau mendengarkan. Ternyata ada yang mendengarkan, share, dan komentar. Makanya saya tambah kaget saat dapat notifikasi dari @ammarjasir membuatkan tulisan.

I can’t say anything but thanks.

Ammar ini adalah teman super kreatif yang berbaju kriminologi tapi berjiwa seni. Makanya di profilenya, dia mengaku sebagai mahasiswa DKV: Desain Kriminologi Visual. Beberapa desain asiknya bisa dilihat di instagramnya @mmaryasir.

Masalah salah jurusan dan mindset bisnis mungkin banyak kesamaan antara saya dan Ammar. Makanya bisa langsung relate dengan obrolannya. Selamat menikmati hari ini dan memikirkan masa depan :D.

Terima kasih sudah memulai diskusi dari Podcast Subjective. This is exactly what I want to make. Podcast Subjective dibuat untuk mengangkat keresahan yang mungkin selama ini cuma dipendam. Podcast ini juga dibuat untuk mengangkat obrolan warung kopi menjadi lebih banyak dibicarakan anak muda di dunia digital. Nantinya setiap komentar dan opini yang saya dapatkan dari tiap episode Subjective akan saya angkat kembali dalam tulisan untuk menjadi bahan diskusi. Harapannya anak muda, terutama di Tumblr, bisa membicarakan banyak hal yang lebih produktif.

image

Untuk yang belum mendengarkan episode ke 2 Subjective, saya bicara soal kuliah, kerja, dan S2.

Dengarkan atau Download di Soundcloud.com/iqbalhariadi.

Luxury

image

Di Jogja, ada warnet terkenal bernama Luxury.

Waktu pekan kemarin main ke Jogja, saya tidak sempat main ke sana. Tapi teman saya @hahnismail cerita bahwa warnet ini super terkenal karena orang rela antri berjam-jam untuk bisa internetan di sana.

Saya mengernyitkan dahi. Antri berjam-jam?

“Iya, mayoritas orang ke sana bukan buat internetan. Tapi untuk copy film atau lagu”

Teman saya cerita bahwa koleksi di server Luxury lengkap. Super lengkap. It’s like they have all the movies in the world. Ribuan film Indonesia maupun Box Office, short movie ataupun series, semuanya ada.  Foldernya ditata rapi dari A-Z. Bahkan saking banyaknya judul film yang berawalan “The”, filenya dibuat dalam folder sendiri dan di dalamnya diurutkan lagi folder kata setelahnya, dari A-Z.

Begitu juga dengan lagu. Kita bisa temukan berbagai jenis lagu, foldernya disusun rapi dan bisa dicari berdasarkan penyanyi, judul album, atau judul lagunya.

Saya mangap sebentar, takjub. Takjub karena ingin ke sana dan mengkopi koleksi film sebanyak-banyaknya. Dan beberapa detik kemudian takjub karena saya, kamu, dan semua orang yang main ke Luxury sengaja melupakan satu fakta sederhana.

Semua koleksi film dan lagu di sana bajakan.

Oke, sekarang pikirkan fakta ini sebentar, lalu kembali ke cerita di awal bahwa warnet ini punya ribuan koleksi film dan lagu bajakan. Lalu ratusan orang setiap bulannya mengonsumsi produk bajakan dari warnet ini, dan membajaknya lagi, dari satu komputer ke komputer lain.

Pikirkan ada berapa banyak pekerja kreatif di balik film-film tadi yang tidak mendapatkan apapun dari ribuan orang yang mengonsumsi tontonan dari warnet ini. Ada berapa banyak penyanyi, produser, dan penulis lagu yang seharusnya mendapatkan penghargaan tapi malah mendapat pembajakan.

Pikirkan bahwa pembajakan adalah kriminalitas yang seharusnya ditindak oleh negara dengan pidana. Tapi tidak ada tindakan dari penegak hukum. Bahkan lebih parah lagi, tidak ada satupun orang yang merasa bahwa apa yang kita lakukan dengan mengkopi film dan lagu bajakan adalah kesalahan.

Saya tidak hanya bicara soal Luxury, karena di luar sana warnet seperti ini ada banyak. Bukan hanya di Jogja, di Jakarta atau di kota manapun di Indonesia, bahkan dunia.

Kita semua mengonsumsi produk bajakan tanpa pernah merasa bersalah.

Kita semua adalah pembajak.


Saya tidak naif untuk memberi judgement pembajak ke orang lain tanpa menunjuk diri sendiri. Saya pun menyadari bahwa saya adalah konsumen produk bajakan dan sering melakukan pembajakan.

Itulah kenapa di Subjective Episode 1, saya akan bicara soal bajakan.

Saya akan mencoba “menelanjangi diri sendiri” dan melihat seberapa banyak produk bajakan yang kita konsumsi setiap hari. Mencoba mulai menyadari frekuensi penggunaan produk bajakan mulai dari pakaian, film, musik, hingga software yang kita gunakan untuk belajar dan bekerja.

Subjective Episode 1 akan saya publish 13 September 2015 di channel soundcloud.

Join me, and you will listen to my subjectivity.


Further reading:

https://api.soundcloud.com/tracks/219389142/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Episode 0: Why Podcast

Everything has to have a reason.

Segala sesatu harus digerakkan dengan alasan, dan di episode ini saya menceritakan mengapa saya membuat Podcast Subjective.

Saya berbicara mengenai keresahan saya tentang konten cinta, alternatif pembicaraan anak muda, sampai kebenaran absolut.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

Semua dari kita punya opini, tapi tidak semua orang berani beropini.

Banyak orang yang tidak berani beropini karena takut dicacimaki, dianggap sok tau, dicap sok pintar, atau lebih parah: dimusuhi.

Sebuah hal yang sangat wajar karena opini itu subjektif. Pasti sepasti-pastinya, selalu ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Selalu ada yang suka dan ada yang tidak suka.

Semua orang mencari kebenaran. Kepastian. Fakta.

Tapi saya percaya kebenaran bisa dimulai dengan mengemukakan opini.

Opini akan membangun diskusi. Diskusi akan menghasilkan solusi.

Sejak 2011, saya sudah mengemukakan opini melalui tulisan. Saya selalu membangun opini dari observasi, menuangkannya dalam kata-kata, dan mengemukakan apa yang saya lihat dari sudut pandang saya sendiri.

Dan saya selalu tertantang untuk mencoba hal baru. Saya akan mencoba mengemukakan opini saya melalui cara baru dengan media yang baru.

Sesuatu yang saya percaya juga baru di dunia Tumblr Indonesia.

Saya akan beropini melalui Podcast.


Podcast: Subjective

Secara umum Podcast adalah media digital berbentuk audio yang diluncurkan secara berseri.

Saya akan membahas berbagai isu dan observasi sekitar. Bahasannya bisa beragam mulai dari isu nasional seperti politik, sains, dan pendidikan, atau isu remeh temeh seperti tetangga yang tidak mau bertanggung jawab karena kucingnya buang air sembarangan.

Intinya, saya akan berbagi cerita tentang keresahan. Saya akan berbagi opini tentang apapun di sekitar saya.

Podcast saya berjudul Subjective. Alasannya sederhana, karena saya ingin berani beropini dan mengemukakan subjektivitas saya sebagai individu. Siapapun bisa setuju ataupun tidak setuju. 

Di Podcast ini, Anda akan menemukan saya yang sebenarnya. Bukan berarti Iqbal di tulisan tidak sama, hanya saja di sini Anda akan mendengar Iqbal Hariadi di kehidupan sehari-hari.

Jika selama ini Anda mengenal saya melalui tulisan, dengan mendengar saya berbicara, saya yakin rasanya akan berbeda. Saya ingin siapapun yang mendengar merasa sedang duduk ngopi dan berdiskusi dengan saya. Santai dan mengalir apa adanya.

Podcast Subjective akan diupload di Soundcloud.com/iqbalhariadi. Frekuensinya belum ditentukan. Tiap Episode, durasinya berkisar antara 15-20 menit, cukup untuk didengarkan selagi di mobil, kereta, atau sambil bekerja.

Untuk pertama, saya akan mengupload Episode 0 yang menjelaskan mengapa saya membuat Podcast ini. Sudah bisa didengarkan melalui channel Soundcloud, tapi saya juga akan membuat penjelasan khusus di postingan berikutnya malam ini.

Semoga inisiatif ini bisa membangun lebih banyak diskusi.

Join me, and you will listen to my subjectivity.