https://api.soundcloud.com/tracks/268148662/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Talk with Sandika Dewi: Story About Rising From Bullying

Beberapa waktu yang lalu, saya kembali rekaman Subjective Talk.

Di episode kalo ini, saya ngobrol santai dengan teman saya @sandika_dewi, seorang penyiar di NET Radio Box, seorang MC, dan pembicara publik.

Saya kenal Sandika di Forum Indonesia Muda. Siapapun yang bertemu Sandika akan bertemu dengan pembawaannya yang selalu semangat dan ceria.

Melihat pekerjaannya sekarang, sangat menarik mengetahui bahwa Sandika dulunya adalah anak yang pendiam dan tidak percaya diri. Dia pernah mengalami masa-masa bullying selama SD dan SMP.

Serunya, Sandika sudah melalui masa itu dan bangkit menjadi orang yang berbeda. Semua itu sudah jadi masa lalu. Dan saya baru sadar, ciri-ciri orang yang sudah move on sepenuhnya adalah mau berbagi masa lalunya sebagai pelajaran untuk orang lain.

Dan di episode kali ini, Sandika membagikan ceritanya.

Dalam obrolan ini, Sandika berbagi berbagai bully yang dia alami, pengaruhnya pada perkembangannya sebagai remaja, serta bagaimana dia bangkit dan menjadikannya alasan kuat untuk bertumbuh menjadi lebih baik.

Streaming via Soundcloud, Stitcher, dan iTunes. Atau download dan jadikan podcast ini sebagai sohib sahur atau buka puasa di jalan.

Join me, and you will listen to my subjectivity

https://api.soundcloud.com/tracks/263061830/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Podcast Subjective Ep. 6: Kritik & Cyber-Bullying

Setelah bicara tentang freedom of speech di episode 4, ada pertanyaan yang terus bersuara di kepala; jika semua orang bebas berbicara, sejauh mana sebenarnya kita bisa mengkritik sebuah karya?

Pertanyaan ini sudah lama saya obrolkan dengan teman-teman sesama seniman. Dua minggu sebelumnya, saya dan @adrianoqalbi ketemuan lagi dan ngobrol seru membahas topik ini. Sayangnya, rekamannya hilang entah kemana dan akhirnya saya harus rekaman ulang. Sendirian.

Setelah nonton show Stand Up Adri dan @muhadkly di #TalkOfLife,  saya ngoceh malam-malam tentang budaya Indonesia yang tidak terbiasa dengan kritik hingga budaya cyber-bullying. Saya bahas kritik keras untuk film Comic 8, kasus Sonya Depari – anak SMA yang dibully netizen karena videonya mengaku anak jenderal saat ditilang, hingga kasus Deddy Corbuzier yang membully followersnya.

Episode kali ini, saya mencoba format baru: 40 menit ngobrol + 20 menit bahas pertanyaan dari pendengar. Ada banyak pertanyaan yang masuk di inbox dan rasanya seru untuk dibahas di Podcast.

Streaming via Soundcloud or iTunes, atau download dan jadikan podcast ini sebagai sohib di jalan atau teman di kosan.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

Feedback from @yuldev: dibaca sukur ga dibaca sukurin.

oke bang, jadi ini surat ketiga yang gue kirim (gue sejujurnya gatau ini gue pake fitur apa sih submit? never use it before) ke tumblr academicus. dan pasti, pasti suratnya dikirim abis dengerin podcast lo. dan karena gue udah 1 jam lebih 11 menit dengerin lo beropini tentang berbagai hal, izinkan gue beropini tentang podcast lo, please …

sumpah bang podcast lo ga jelas asli.

dan jangan tersinggung dulu, kalo boleh jujur, dari semua podcast lo (yang ada berapa sih? 5 yah?) yang punya alur paling jelas tuh cuma kalo ada bintang tamu kayak waktu sama mas adri? mbak mutia dan mas ario? ( itu kan namanya yah?) dan yang paling gajelas itu waktu lo ngomongin kalo sosmed bikin orang-orang jadi gila dan bisa dimaklumin karena itu lo rekaman jam 1 pagi (like what?). seriously gue kayak dengerin temen gue curcol ini lucu banget. 

tapi di sisi lain, dari semua ke gak jelasan itu (yang mungkin bisa gue pahami karena ini bukan acara tv yang ada proofreading nya dulu kali yah) gue bingung kenapa gue masih nunggu2in podcast lu yang baru. Apa lo pake sihir dari kerajaan jin di Alas purwo gue gatau, mungkin karena lo mengangkat tema-tema yang dianggap tabu dan dikupas setajam silet? atau hipotesis gue adalah lo mengangkat isu isu yang relate-able buat anak muda jaman sekarang yang bener banget kata mas adri di podcast lo kalo kegelisahan anak muda jaman sekarang tuh bukan cuma tentang cinta cintaan, dan lo nge-capture itu semua dgn baik di podcast lu. Dan karena setiap gue dengerin podcast lo, gue ikut berpikir, otak gue ikutan menyetujui argumen lo dan otak gue bisa juga membangun argumen untuk kontra dengan lo.

pada intinya yang gue tangkep adalah, orang-orang kayak gue, pendengar lo ini, sebenernya emang ga dapet jawaban dari kegelisahan mereka, (karena lagi-lagi podcast lo sebatas opini yang bukan dilandasi oleh suatu kepastian ya kan?) tapi mungkin orang-orang kayak gue dan puluhan, ratusan, atau ribuan pendengar lo emang bukan berharap untuk mendapatkan jawab dari denger podcast lo. mungkin orang-orang kayak gue ini cuma butuh orang untuk diajak bicara aja gitu soal kegelisahan mereka, karena sumpah mengungkapkan rasa kegelisahan menjadi sebuah kata, tulisan atau ocehan bermakna itu sulit, dan lo mewakili pendengar lo untuk mengungkapkan itu semua. 

so good luck for your next project whatever it is. dan minta rekomendasi podcast indonesia lain dong bang karena lama kalo nungguin lo update 1 bulan sekali 😦 – @yuldev

Thanks a ton @yuldev untuk feedbacknya!

Terima kasih sudah mendengarkan Podcast Subjective dan memberikan feedback yang pedas-pedas asam manis! Feedback semacam ini yang saya tunggu biar saya bisa improve lebih baik lagi 🙂

Sebagai catatan, saya sangat setuju bahwa untuk saat ini kualitas teknis, alur pembicaraan, dan cara saya menyampaikan ide masih bolong sana sini. Masih banyak yang kurang dan tetap ada yang menyempatkan waktu dan kuotanya untuk mendengarkan, saya sangat berterima kasih sekali.

Saya masih belajar dan akan terus memperbaiki kualitasnya. Karenanya, mulai episode berikutnya, saya berencana untuk sedikit mengubah format dan frekuensi. Saya akan coba untuk konsisten rekaman podcast tiap 2 pekan sekali.

Untuk rekomendasi podcast, sebenarnya makin ke sini makin banyak Podcast berbahasa Indonesia yang bisa didengarkan. Bisa coba disearch di soundcloud.

Tapi untuk rekomendasi, karena keterbatasan waktu, saat ini saya hanya bisa merekomendasikan 2 Podcast yang benar-benar saya dengarkan:

  1. Podcast Awal Minggu – @adrianoqalbi, standup comedian yang membahas berbagai isu dari sisi komedi. Pernah jadi tamu juga di Subjective Talk.
  2. Podcast Appscoast – Indonesian Startup Podcast, berisi interview dengan expert dan praktisi startup digital di Indonesia.

Sisanya saya sempat mendengarkan Absurdtive Talk by @kitajabar, The Rain Is Falling by @hujanmimpi, Podcast Perempuan by @veskadinda, Podcast Keriba-Keribo by @keribakeribo, dan Kita Radio milik @tumbloggerkita. Bisa coba didengarkan dan dipilih sesuai selera 🙂

Thanks again!

https://api.soundcloud.com/tracks/259260403/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Ep. 5: How To Be Incorruptable

The Dark Knight sudah jadi film favorit saya sepanjang masa sejak pertama kali nonton tahun 2008. Saya ingat sekali hari itu, di penghujung liburan, saya nonton film ini di bioskop sebelum lanjut kembali ke pesantren.

Setelah 152 menit yang intens dengan konflik dan cerita yang kelam, 2 jam berikutnya saya melayang dengan pikiran saya sendiri di atas bus Bekasi-Karawang. Saya terpikir tentang betapa rapuhnya manusia, betapa rentannya kita pada dusta, dan betapa dekatnya kita dengan mengkorupsi diri sendiri.

Film ini saya tonton berulang kali dan rasanya selalu ada hal baru yang saya pelajari. Tapi hal terbesar yang saya pelajari selalu dan selalu tentang korupsi.

Dan hal itu yang saya tumpahkan di podcast kali ini.

Sounds heavy, but not exactly. Saya cuma cerita sudut pandang saya tentang korupsi: bahwa korupsi ga selalu tentang uang, dan korupsi ga selalu tentang hal besar. Semua orang berpotensi melakukan korupsi, dan hanya ada dua jenis orang yang hampir tidak mungkin terkorupsi: Orang seperti Batman yang punya segalanya, atau orang seperti Joker yang tidak peduli apa-apa.


Podcast ini sebenarnya direkam sudah cukup lama, dari bulan Oktober 2015. Waktu itu ceritanya saya dapat email dari @rizafahmi22, yang menemukan podcast saya dan ngajak main ke studio. Mas Riza juga mengelola Podcast Appscoast, podcast tentang dunia startup Indonesia.

Di studio Appscoast, saya akhirnya cobain rekaman ala-ala penyiar radio dengan cuap-cuap tentang korupsi, dan jadilah episode ini.

image

Durasinya hanya sekitar 30 menit, so take it easy.

Streaming via Soundcloud or iTunes, atau download dan jadikan podcast ini sebagai sohib di jalan atau teman di kosan.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

https://api.soundcloud.com/tracks/254840045/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Talk: Obrolan Tentang Salah Jurusan

Tahun lalu, saya pertama kalinya mendengar kalimat “The elephant in the room".

Istilah yang kurang lebih artinya “problem that everyone knows is there, but no one wants to acknowledge”.

Buat saya, bahasan soal Salah Jurusan adalah Elephat in The Room. Semua orang tahu masalahnya apa, dan semua orang tahu masalahnya ada di sana. Tapi jarang sekali orang yang buka-bukaan bicara solusinya.

Buat semua orang yang pernah kuliah, sepertinya tidak perlu intro banyak untuk mengantarkan kita ke bahasan tentang salah jurusan. Jika bukan kita, mungkin sahabat, saudara, atau adik/kakak kelas kita yang masuk kategori ini.

Saya sendiri termasuk di dalamnya. Saya salah jurusan.

Buat saya, definisi sederhana dari salah jurusan adalah mereka yang bekerja di bidang yang tidak sejalan dengan jurusan kuliahnya. Saya dulu mahasiswa MIPA UI, jurusan biologi. Dan sekarang saya bekerja di dunia startup, sebagai storyteller dan content creator.

Tentu tidak sejalan sebagaimana mestinya. Dan saya ingin bagikan apa yang saya pelajari dari kesalahan saya.

Setidaknya agar yang masih kuliah dan ternyata masuk di kategori yang sama bisa persiapkan jauh-jauh hari apa yang sebenarnya harus dilakukan.


Tawaran ngobrolin ini sebenarnya pertama kali datang dari teman saya semasa kuliah di MIPA, @barrysianturi namanya. Dia tetiba whatsapp dan ajak saya untuk bicarain masalah ini, dan menurut saya ini justru akan menarik kalo jadi bahasan di Podcast.

Selanjutnya, saya minta Barry untuk cari kenalan lainnya yang juga bisa jadi contoh kasus Salah Jurusan. Lalu muncul lah nama @numeirama, sesama teman di MIPA. Alumni Fisika yang sekarang kerja sebagai tim kreatif di NET TV. Beberapa bulan pertama dia sempat pegang program The Remix, lalu belakangan dirolling dan bertanggung jawab di program Chef Table.

Saya sebelumnya belum pernah bertemu langsung dengan Numei, tapi namanya memang lumayan populer di kalangan aktivis kampus di zaman saya kuliah. Akhirnya sebelum janjian, saya sempat riset-riset sedikit dan terkejut menemukan bahwa saya ternyata pernah head to head dengannya di salah satu ajang politik kampus. Lumayan lucu sebenarnya, lengkapnya apa bisa didengarkan di podcastnya.

Jadilah kami bertemu di sebuah warung kopi. Duduk manis dan ngobrol ngalor ngidul, mencoba mengulik topik salah jurusan; bagaimana menghadapinya, apa yang harus dilakukan, dan bagaimana mengambil keputusan yang benar.

Diskusi kami seperti obrolan pada umumnya. Tidak semuanya benar, tapi banyak yang bisa diambil untuk memulai percakapan.

Dengarkan di Soundcloud, iTunes, atau download dan jadikan podcast ini teman ngobrol di jalan. Atau kosan.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

https://api.soundcloud.com/tracks/250944178/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Episode 4 – Freedom of Speech

Belakangan, saya capek dengan semua perdebatan yang makin intens dan beragam di sosial media.

Perdebatan dimana semua orang merasa paling pintar dan punya hak untuk berbicara.

We think we are smart. And in the same time, we think other people are dumb.

Saya punya keresahan tentang kasus-kasus yang sedang marak, seperti LGBT, penghapusan status facebook, pemblokiran Tumblr, dilarangnya #BelokKiriFest, dan masih banyak lagi.

Tapi yang lebih membingungkan bagi saya adalah ketika semua ini terjadi atas nama demokrasi. Semuanya dilakukan atas nama hak berbicara dan kebebasan berpendapat.

Sementara bagi saya, definisi dari Freedom of Speech itu sendiri tidak pernah benar-benar terjadi.

image

The right to express.

Any opinions.

without censorship or restraint.

Saya membaca setiap katanya satu per satu, dan saya semakin bingung ketika membandingkan definisi dengan apa yang sebenarnya terjadi. Semakin banyak pertanyaan yang muncul di otak saya.

Betulkan semua orang punya hak untuk berekspresi? Ekspresi seperti apa yang dibolehkan? Opini seperti apa yang bisa kita katakan? Kapan opini kita disebut kebebasan berpendapat? Kapan disebut hate speech? Siapa yang menentukan batasnya?

Di episode ini, saya menceritakan kebingungan saya tentang Freedom of Speech.

Saya berbagi kebingungan saya tentang standar ganda, kasus LGBT, Tere Liye, tweet Tifatul Sembiring, serta perdebatan sosmed yang tidak ada habisnya.

Dengarkan di Soundcloud, iTunes, atau download dan jadikan podcast ini teman ngobrol di jalan.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

Beberapa komentar dari teman-teman tentang Podcast Subjective Episode 3 – Sosial Media Bikin Kita Gila. Tidak menyangka karena omelan saya tentang sosial media tidak hanya didengarkan, tapi banyak juga diamini dan disetujui.

Keresahan yang saya ceritakan ternyata juga jadi keresahan banyak orang. Tentang sosial media yang menyenangkan, tapi bisa jadi memuakkan. Sosial media yang menghubungkan, tapi bisa juga memisahkan. Sosial media yang harusnya jadi tempat berbagi, bukan malah tempat pamer dan mengemis like, comment, dan subscribe.

Afterall, sosial media adalah alat. Sama seperti pisau, sifat pertamanya adalah netral. Baik buruknya kemudian ditentukan oleh penggunanya.

Dan saya bisa yakinkan, meskipun banyak hal buruk di sosial media yang kita temukan, masih jauh lebih banyak hal baik yang bisa kita manfaatkan.

Di tulisan berikutnya, saya akan coba bagikan beberapa cerita bagaimana kekuatan sosial media menciptakan perubahan bagi banyak orang.

Meanwhile, saya mempelajari satu hukum utama agar tetap nyaman bermain di sosial media: tetaplah jujur dan jadi diri sendiri. Tidak mudah, tapi harus diperjuangkan.

Salam kejujuran!

Tulisan lainnya tentang sosial media:

https://api.soundcloud.com/tracks/239069562/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Talk with Adriano Qalbi: Bisakah Kita Laku Dengan Jadi Diri Sendiri?

Pertanyaan ini adalah keresahan yang jadi topik utama dalam diskusi saya dan Adriano Qalbi. Sebelum mendengarkan, saya sangat menyarankan untuk membaca tulisan pengantar saya terlebih dahulu.

Adri adalah seorang komika, (mantan) penyiar di Hardrock, dan (mantan) host di Kompas TV. Pertanyaan tadi tak pernah berhenti mengusik Adri yang selalu berkarya sebagai dirinya sendiri.

Di Indonesia, hampir semua seniman sukses karena mengikuti keinginan pasar. Ada topeng yang digunakan. Ada boneka yang direkayasa.

Saya pun mengamati beberapa orang takut berkarya sebagai dirinya sendiri. Takut menyuarakan keresahan sendiri karena takut tidak diterima. Sebagian lainnya berusaha konsisten berkarya di jalur yang tidak dia suka, hanya karena di situlah dia merasa diterima.

Pertanyaannya, bisakah mereka yang tampil sebagai dirinya sendiri diapresiasi? Bisakah mereka yang melawan arus bertahan, sampai waktu untuk mereka datang?

Obrolan saya dan Adri mengalir ke sana kemari membahas berbagai hal, mulai dari keresahan melihat mereka yang dihujat karena jadi diri sendiri, dunia standup comedy, sampai industri televisi.

Streaming di Soundcloud atau download dan jadikan podcast ini sebagai sohib liburan di jalan atau teman di kosan.

Join me, and you will listen to my subjectivity.


Further reading & listening:

https://api.soundcloud.com/tracks/236877623/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Talk with Ario Pratomo (Part 2): Blogging & Menentukan Jodoh

Ario Pratomo adalah seorang pebisnis kargo yang lebih dikenal sebagai Tech Blogger. Setelah mengulik pandangannya tentang entrepreneurship di part 1, saya melanjutkan obrolan dengan Ario tentang bagaimana dia bisa membentuk personal brand sebagai Tech Blogger.

Personal brand yang kuat membuatnya diundang ke berbagai event keren untuk membuat liputan di blognya, seperti Youtube Fan Fest di Singapore sampai diundang ke NASA!

Selain obrolan soal personal brand dan blogging – well sejujurnya ini juga seru – saya ajak Ario untuk ngobrol tentang tema obrolan meja makan paling hits: nikah. Pandangan Ario akan sangat menarik karena dia pernah gagal dalam hubungan. Bukan pacaran, tapi pernikahan.

Ario sudah pernah menikah dua kali, dimana pernikahan pertamanya berujung dengan perceraian. Di Podcast ini, Ario berbagi pandangannya tentang pernikahan dan bagaimana menentukan bahwa she/he is the one. Tujuannya agar anak muda yang belum menikah bisa mengambil pelajaran dari apa yang dia rasakan.

Streaming di Soundcloud atau download dan jadikan podcast ini sebagai sohib di jalan atau teman di kosan.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

Jangan lupa follow Instagram @sheggario dan subscribe vlognya di Youtube, ah dan satu lagi. Semoga persalinan @nuchabachri lancar dan selamat menjadi Ayah!

Further reading & listening: