Subjective Talk with Panji Aziz: Cerita Membangun Gerakan Sosial di Banten

Subjective Talk with Panji Aziz: Cerita Membangun Gerakan Sosial di Banten

Saya pertama bertemu Panji waktu sama-sama mengisi sebuah acara di IPB.

Tidak banyak anak muda yang konsisten melakukan gerakan sosial, dan Panji salah satunya.

Dari sekadar niat abstrak “ingin membuat karya yang membantu daerah saya”, Panji membangun Isbanban Foundation hingga menjadi gerakan yang sustainable, membuatnya diundang Kick Andy, dan mendapatkan pengakuan di berbagai forum internasional. Tapi yang jauh lebih penting: memberi impact nyata buat ratusan anak-anak di Banten.

Di Episode ini, Panji bercerita tentang perjalanannya membangun Isbanban sejak kuliah, menjalankan organisasi dengan basis relawan, dan tips praktis dalam membangun organisasi sosial.

Buat teman-teman BEM atau komunitas yang sedang/ingin membangun gerakan sosial, cerita Panji akan sangat membantu membangun mindset yang benar dan menjalankan rencana yang tepat.

View this post on Instagram

Saya pertama bertemu @panjiaziz di IPB waktu sama-sama mengisi sebuah acara. Tidak banyak anak muda yang konsisten melakukan gerakan sosial, dan Panji salah satunya. Dari sekadar niat abstrak “ingin membuat karya yang membantu daerah saya”, Panji membangun Isbanban Foundation hingga menjadi gerakan yang sustainable, membuatnya diundang Kick Andy, dan mendapatkan pengakuan di berbagai forum internasional. Tapi yang jauh lebih penting: memberi impact nyata buat ratusan anak-anak di Banten. Di Episode ini, Panji bercerita tentang perjalanannya membangun Isbanban sejak kuliah, menjalankan organisasi dengan basis relawan, dan tips praktis dalam membangun organisasi sosial. Buat teman-teman yang sedang/ingin membangun gerakan sosial, cerita Panji akan sangat membantu membangun mindset yang benar dan menjalankan rencana yang tepat. Link di bio Join me, and you will listen to my subjectivity #SubjectiveTalk

A post shared by Iqbal Hariadi (@iqbalhape) on

Join me, and you will listen to my subjectivity

Podcast Subjective Ep. 15 – Kopdar di Malang Ngobrolin Self Branding

 

Ini hasil rekaman waktu awal Agustus kemarin ke Malang dan bikin kopdar.

Awalnya sih ya beneran iseng aja, mumpung lagi ada acara juga ke Malang. Awalnya ekspektasinya ya paling 2-3 orang, kita ngobrol-ngobrol. Lah ternyata yang dateng banyak!

Akhirnya yaa mau gamau harus ada semacam “acara” nya. Akhirnya saya sharing tentang Self Branding: insight dan pengalaman saya dalam menggunakan sosial media buat personal branding. Saya cerita tentang kenapa self branding itu penting, apa alasan saya main sosmed, dan apa yang saya lakukan selama 3 tahun belakangan buat membangun personal branding.

View this post on Instagram

MALANG! THANKS A TON! Makasih banget yaa buat teman-teman di Malang yang kemarin udah nyempetin dateng Kopdaran Waktu nyampe di Komika Cafe dari bandara, gue udah siap2 mau kerja Ternyata pas baru masuk aja udah ada yang nyapa, dan ternyata beneran pada dateng. Dan rame! Tadinya expect yaa paling yang dateng 4 orang, kita ngobrol-ngobro aja. Ternyata rame sampe 17an orang. Akhirnya jadinya sharing sekaligus rekaman Podcast bareng Makasih ya buat semua waktunya. Ada yang sengaja datang motoran dari Pasuruan. Ada yang nyempetin datang sebelum travel naik kereta jauh. Ada yang mau foto+video in. Bahkan ada yang ga bisa dateng kopdar dan besoknya nyusulin ke bandara untuk ngobrol dan kasih hadiah. Membuat gue berasa Rangga Thanks juga buat @luqmanhanip yang foto-foto dan bikin saya jadi ganteng Manteman, makasih ya keramahannya Thanks for listening to my podcast and being my friend Makasih ya semuanya! #KopdarSubjective #MakasihMalang #ILoveMalang #MalangIdamanku

A post shared by Iqbal Hariadi (@iqbalhape) on

Obrolannya saya rekam. Teman-teman di Malang juga banyak yang sharing, sayangnya pas rekaman ada yang kayaknya ga sengaja pencet tombol rekamannya di tengah obrolan, dan saya juga baru nyadar beberapa saat kemudian. Jadi jangan kaget ya kalo nanti dengerin ada bagian yang hilang 😀

Sharing ini ada slidenya, jadi untuk full experience (tsah) bisa sambil buka slidenya di link ini.

Thanks a ton buat teman-teman di Malang!

Join me, and you will listen to my subjectivity

https://api.soundcloud.com/tracks/333170121/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Ep. 14: Stop Being a Social Media Jerk

Not sure why. But my “angry” content is usually more interesting than others

Ini salah satu contohnya. My another rant, about what I called jerks on social media.

Saya ngobrolin tentang fenomena Afi; tentang public shaming, bullying, dan berbagai etika di dunia sosial media yang seharusnya punya etika yang sama dengan dunia nyata

You will like it. Or you will disagree with it, and probably still like it

Di segmen #JawabDiPodcast, saya menjawab dan beropini tentang bersikap ke pembully, konsisten berkarya, dan kecerdasan anak yang menurun dari ibu

Link ada di bio

Join me, and you will listen to my subjectivity

https://api.soundcloud.com/tracks/330701488/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Talk with Pandu Kartika: Cerita Code4Bandung & Gerakan Anak Muda

Di #SubjectiveTalk kali ini, saya ngobrol dengan Pandu Kartika Putra.

Pandu dikenal sebagai aktivis open data di Bandung.

Aktif mengikuti kegiatan exchange dan konferensi di berbagai negara, Pandu memulai gerakan Code4Bandung: sebuah gerakan yang mendorong kolaborasi pemerintah dan publik Bandung untuk menyelesaikan masalah sosial menggunakan teknologi.

Di episode ini, Pandu bercerita tentang perjalanan dia membangun Code4Bandung; memulai gerakan dari nol, menjalin kerjasama dengan pemerintah kota, formula menggerakkan warga kota, tips networking, hingga lessons learned untuk anak muda yang ingin atau sedang memulai gerakan.

Semoga bisa menginspirasi untuk gerakan anak muda lainnya.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

https://api.soundcloud.com/tracks/325959198/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

#SubjectiveTalk with @novieocktavia & @khairunnisasyaladin: Tentang Menata Kala

Saya pertama kali kenal Novie di Tumblr. Saya sendiri lupa bagaimana detil awalnya saling sapa, tapi pertama kali ketemu langsung bareng @prawitamutia di pernikahan @satriamaulana di Bandung

Novie adalah blogger yang aktif di Tumblr dan sejak lama berkolaborasi bareng Nisa, hingga akhirnya secara indie menulis buku berjudul Menata Kala. Bercerita banyak kontemplasi tentang kehidupan dan waktu

Di #SubjectiveTalk kali ini, kita ngobrolin banyak hal mulai dari mengatur waktu, menjadi muslimah produktif, dan menjadi penulis indie

Join me, and you will listen to my subjectivity

Mau jadi apa?

jungleblog:

Beberapa hari yang lalu saat lagi bosan dengan playlist saya, akhirnya saya menyempatkan diri mendengarkan podcast teman saya
Iqbal Hariadi https://iqbalhariadi.com/ “Random Thoughts Tentang Kuliah, Kerja, dan S2”. Sebenarnya sejak
dengerin, saya udah gatel ingin memberikan respon, tapi karena sok sibuk
akhirnya ketunda deh. Berhubung hari ini saya habis mengikuti briefing
inspirator Kelas Inspirasi Bogor 3, saya jadi terdorong untuk membuat tulisan
yang isinya mengombinasikan apa yang saya absorb dari podcast bung Iqbal dan briefing KIB.

(Oiya, biasanya saya menulis dalam Bahasa Inggris, tapi
berhubung ini sasaran utamanya pemuda pemudi Indonesia, jadi pake Bahasa
Indonesia aja supaya lebih sok asik dan ga malesin dibaca.)

Kuliah, Kerja, dan S2

Overall, saya setuju pada subjektivitas bung Iqbal mengenai
hal ini. Sepertinya ga perlu ditulis ulang semuanya karena nanti kepanjangan. S2
(termasuk beasiswa magister LPDP yang lagi nge-hitz) nampaknya bukan lagi soal
kebutuhan, tapi keinginan atau bahkan gengsi semata. Tak jarang saya mendengar
celoteh teman-teman seperti “Wah, si A udah di [nama negara] aja”, “Wah, gue
kapan ya nyusul si B?”, dsb. To be honest, saya pun termasuk orang yang
terkadang berceloteh seperti itu. Mungkin S2 sudah menjadi panggung unjuk gigi,
bukan karena memang butuh.

Ada juga sih beberapa teman saya yang memang punya niat serius dan tujuan yang jelas untuk S2.

Tentu tidak ada yang salah dengan melanjutkan pendidikan ke grad school. Namun, di atas semua itu, apakah kita yang ingin S2 sudah mengetahui
the big picture kita? Jurusan apa
yang ingin diambil? Mengapa memilih jurusan tersebut? Setelah lulus mau bekerja
apa dan di mana? Apakah lo akan senang melakukannya? Kontribusi apa yang bisa
kita berikan buat masyarakat sekitar?

image

Gambar 1. Susan kalo gede, mau jadi apa?

Cita-cita, Visi, dan Passion

Dari kecil, seringkali orang bertanya pada kita, “Cita-citamu
apa?”. Mungkin cita-citamu saat kelas 1 SD berbeda dengan sekarang dan tak
jarang pula profesi seseorang berbeda dengan cita-cita masa kecilnya. Itu tak
salah, bahkan itu hal yang wajar karena saat kecil kita belum terekspos pada
luasnya dan bervariasinya bidang ilmu serta lapangan pekerjaan yang ada di atas
dan di bawah bumi ini. Pertanyaannya adalah: Pentingkah memiliki cita-cita?

Penting banget! Cita-cita itu adalah harapan dan harapan lah
yang jadi motivasi kita untuk melakukan sesuatu, dalam hal ini belajar: belajar
untuk sekolah, belajar untuk kuliah, belajar dalam berkarir. Idealnya, pilihan kita saat memilih
jurusan IPA atau IPS di SMA, jurusan kuliah S1, dan juga jurusan kuliah S2 didasarkan
pada cita-cita. Saya pribadi, lebih senang membahas “visi hidup”, yaitu hal terbesar yang ingin dicapai dalam hidup lo. Agak berat sih
kalau bicara tentang visi hidup. Setiap orang mengalami proses yang
berbeda-beda dalam mengenali visi hidupnya. Ada yang tahu sejak SMA, ada juga
yang setelah berkali-kali gonta-ganti profesi barulah dia mengenali visi
hidupnya. (Tidak ada yang lebih baik atau buruk karena mengenal visi itu juga
memiliki faktor spiritualitas.) Visi berkaitan erat dengan passion. Dalam kamus saya, passion
adalah suatu hal yang bener-bener lo suka. Saat lo mengerjakan passion lo,
rasanya seperti dilahirkan untuk melakukan hal tersebut sehingga lo ingin
melakukannya seumur hidup.

image

Gambar 2. Passion saya adalah ngepoin satwa di habitat aslinya a.k.a pengamatan lapangan atau ngalap (istilah anak biologi).

Panggilan Darurat!

Indonesia. Apa yang terpikir ketika kamu mendengar nama itu?
Keindahan alamnya? Kekayaan sumber energinya? Keragaman sukunya? Keunikan
budayanya? Atau malah… kasus korupsinya? Bencana asap abadinya? Kebusukan
pemerintahannya? Penegakan hukum yang lemah? You name it, lah.

Ketika kamu memikirkan cita-cita, visi, dan passionmu, sudah
bukan zamannya lagi kamu hanya memikirkan masa depan pribadimu semata. Negaramu
butuh kehadiranmu. Indonesia tidak kekurangan orang-orang pintar. Indonesia
“hanya” kekurangan orang-orang pintar yang mau kembali untuk membangun
bangsanya. Berikut saya copas catatan saya di Facebook beberapa tahun yang
lalu:

Your Own Path

26 Juli 2011 pukul 22:40

Sebenarnya hal ini sudah saya pikirkan sejak lama–sejak saya nonton
digimon episode 50. Hanya saja, saya baru memiliki keinginan untuk menulisnya
dalam notes.

“Everyone should take their own path. Your path is to find more Digimon who
will join us. Taichi’s path, along with the others, is to continue the fight…
But there must be something out there that only I can do.”

— Jyou (Digimon Adventure ep 50)

Jadi, ceritanya itu para anak-anak terpilih di digimon 01 memisah-misahkan
diri. Yang pertama Yamato karena dia lagi kehilangan visi (caelah),
kemudian Mimi dan Jyou, dan seterusnya. Nonton aja deh kalo mau tau
lengkapnya. Awalnya sih saya sebal karena mereka misah-misah, jadi ga kompak
gitu kan kesannya. Namun, setelah saya tonton filmnya sampai habis, their
decision to seperate means a lot for ther victory. Walaupun
kelihatannya mereka berpisah-pisah, ternyata mereka sedang melakukan dan
menjalani visi yang sama, yaitu mengalahkan kekuatan jahat yang merusak dunia
digimon. Dalam menjalaninya, mereka punya peran masing-masing. Yang diberi
karunia untuk bertempur, ya mereka bertempur. Mungkin ada dari mereka yang
tidak terlalu kuat untuk bertempur, tetapi mereka punya bagian juga dalam
mencapai tujuan, yaitu mencari digimon-digimon lain untuk bertempur. Dan tentu
sajaaaaa, di akhir cerita they have their victory.

Terus maknanya apa?

Sama seperti anak-anak terpilih, kita juga mengemban suatu visi global, cuy
: make a better world. Tentu saja tugas itu bukan cuma buat biologist saja atau
sosiologist saja. Tugas itu adalah tugas semua bidang: kedokteran, hukum,
politik, ekonomi, sains, dll. Sehebat apapun scientist, dia tak akan bisa
menggantikan peran seorang pengacara. Setiap orang harus mengerjakan bagiannya
masing-masing karena hanya dialah yang bisa mengerjakan bagian tersebut. Setiap
bagian pun punya ketergantungan pada bidang lain. Field biologist tidak
bisa melakukan penelitian kalau tidak ada orang kantor yang mengurus
keuangan. Dokter sulit mengidentifikasi patogen kalau tidak
ada biomedical scientist. Guru sulit mengadakan ulangan kalau tidak ada abang-abang fotokopi. Jadi, we have to work together in our own path. We have
our own calling, our own vision from God. Our challenge is to find the calling,
our duty is to do the calling.

image

Gambar 3. Cuplikan film Digimon yang inspiratif

Kalau dikontekstualisasi dalam pembahasan saya di blog
ini, visi besarnya adalah membangun
Indonesia
. Banyak sekali loh permasalahan yang dihadapi Indonesia.

Kehutanan dan lingkungan hidup: Bagaimana menekan laju deforestasi? Sudahkah alih fungsi
lahan sesuai dengan peruntukannya? Bagaimana bencana kebakaran lahan dan asap
diselesaikan? Bagaimana mengelola habitat spesies terancam punah secara
efektif? Perang antara pembela hutan dengan perusahaan kelapa sawit, pulp &
paper, dsb?

Energi: Berapa banyak stok bahan bakar fosil yang tersedia? Berapa
persen yang dapat dinikmati rakyat sendiri dan berapa banyak yang diekspor?
Bagaimana meningkatkan efisiensi pembangkit listrik tenaga surya, angin, air,
panas bumi, dsb? Sumber energi alternatif yang ramah lingkungan?

Kesehatan dan farmasi: Sudahkah masyarakat pelosok mendapatkan fasilitas kesehatan?
Bagaimana dengan kebijakan BPJS? Penanganan penyakit endemik? Transmisi
penyakit dari hewan? Biaya kesehatan yang tinggi? Perusahaan obat yang hanya
mencari untung?

Pangan, pertanian, dan peternakan: Bagaimana memberi makan > 270 juta penduduk Indonesia
dengan sumber daya yang sekarang? Berapa banyak lagi hutan akan dikonversi
menjadi sawah? Bagaimana dengan lahan
yang sudah tidak produktif? Bagaimana dengan penggunaan pestisida, organic
farming, hidroponik, dsb? Apakah bisnis makanan di kota-kota besar berlebihan
dan terlalu banyak menggunakan resource?

Pendidikan: Kapan kita memiliki kurikulum yang pasti? Apakah jumlah guru
memadai di sekolah-sekolah pelosok? Apakah siswa mendapatkan kebutuhan belajar
yang cukup? Biaya sekolah yang semakin mahal?

Hukum dan pemerintahan: Undang-undang yang tidak up-to-date? Nenek-nenek “pencuri
kayu” dihukum? Koruptor bisa berleha-leha? Pemda yang berkonflik dengan
pemerintah pusat?

Dan sebagainya……

image

Gambar 4. Bencana asap (Sumber: dari sini)

Terlalu banyak hal yang harus diperbaiki. That’s why saya sering heran sama pemuda pemudi yang masih aja sempet buang-buang waktu untuk hal ga berguna :’) 

WOY, BANGUN! INDONESIA BUTUH LO! 

Kalau kamu masih bingung mau jadi apa setelah lulus, mungkin kamu perlu banyak membaca berita dan mengobservasi lingkungan di sekitarmu. Jadi, rumusnya adalah: temukan passion-mu, perhatikan kebutuhan sekitarmu, kombinasikan keduanya, itulah visi hidupmu. 

Kelas Inspirasi

Buat yang belum tahu tentang Kelas Inspirasi, bisa kunjungi
tautan ini http://kelasinspirasi.org/?page=about. Singkatnya, Kelas Inspirasi adalah gerakan para profesional untuk
mengambil satu hari cuti dan mengajar di sekolah-sekolah dasar tentang
profesinya masing-masing. Mengapa penting?

Oke, sebelumnya saya akan bercerita sedikit tentang saya. Saya lulus tahun2014 dari jurusan Biologi di Universitas
Indonesia. Saat ini, saya bekerja di salah satu NGO di bidang konservasi satwa
liar. Visi hidup saya adalah konservasi biodiversitas Indonesia. Saya ingin
melanjutkan studi S2 di bidang Conservation Biology untuk mendukung karir saya
sebagai wildlife biologist.

Balik lagi ke Kelas Inspirasi. Nah, untuk menyelamatkan
spesies dari kepunahan, saya ga bisa sendiri, men. Saya memerlukan sesepuh di
bidang konservasi untuk mengajari saya ilmu silat dan juga junior-junior yang akan
meneruskan perjuangan saya nantinya. Salah satu langkah kecil yang bisa saya
lakukan adalah bercerita tentang
profesi saya ke anak-anak dengan harapan beberapa dari mereka
yang bercita-cita untuk menekuni bidang konservasi.

image

Gambar 5. Lagi briefing.

Tentu ini bukan hanya tentang konservasi. Di Kelas Inspirasi,
akan ada banyak sekali profesional dari berbagai bidang yang akan berbagi
cerita dan pengalaman. Tujuannya adalah membuka wawasan anak-anak sehingga
mereka berani untuk bercita-cita
setinggi langit! Mereka lah calon-calon pemimpin bangsa setelah generasi kita
(tsah). Ketika mereka terinspirasi, mereka akan berjuang untuk mencapai
cita-cita mereka. Bayangkan kondisi Indonesia jika dipimpin oleh orang-orang
yang berdedikasi tinggi.

Indonesia masih punya harapan. Mungkin kamu salah satu harapan itu.

Catatan teman saya Marsya yang saat ini sedang berkuliah di Queensland, Australia. Worth to read untuk teman-teman yang sedang dan akan galau pasca kampus.

Further Read:

https://api.soundcloud.com/tracks/316567343/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Ep. 12 – Berkarya di Tumblr

Sejak 2010, saya mulai ngeblog di Tumblr.

Dari yang awalnya cuma iseng mencoba sampai kesengsem beneran dan ketagihan ngeblog, memfokuskan semua tulisan saya di sini.

Tumblr jadi rumah buat tulisan, gagasan, dan keresahan saya. Tumblr juga tempat lahirnya ide @biologeek dan Podcast #Subjective.

Di episode ini, saya membagikan kembali rekaman waktu saya sharing di panggung Social Media Week Jakarta 2016. Rekaman satu tahun yang lalu. Dan saya masih ingat, SMW itu satu minggu setelah kejadian Kemenkominfo memblokir Tumblr.

Sebenarnya waktu Tumblr diblokir, saya baca banyak berita bernada “Tumblr diblokir, Blogger bersuara”. Waktu saya baca dan lihat namanya, saya kesal karena yang diwawancara itu ya blogger blogspot/wordpress atau platform lain. Kesal aja sih, kan yang diblokir Tumblr, ya wawancara blogger Tumblr lah *ngarep.

Karenanya, waktu dapat kesempatan sharing di SMW ini, saya cerita bagaimana Tumblr mewadahi saya berkarya. Saya juga cerita Tumblr sebagai tempat banyak kreator lokal membagikan karyanya; penulis, komikus, bahkan musisi seperti Agnes Monica (@agnezmothekid)  dan Dekat (@musikdekat).

Saya juga sharing perjalanan saya dari blog hingga podcast #Subjective.

Join me, and you will listen to my subjectivity

Baca juga tulisan saya: Tumblr yang Sebenarnya

https://api.soundcloud.com/tracks/307507895/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Ep. 11 – Susahnya Mengatur Waktu

Mengatur waktu adalah salah satu masalah terbesar saya.

Saya punya dua penyakit yang kalo berkolaborasi akan jadi duet maut: lupa dan menunda-nunda.

Padahal saya punya banyak sekali keinginan; karir yang cemerlang, karya yang spektakuler, jaringan yang luas, dan kehidupan personal yang happy.

Tapi itu berarti ada sangat banyak hal juga yang harus dikerjakan; pekerjaan di kantor, bikin karya, nulis di blog, bikin podcast, update sosmed, olahraga rutin, nongkrong bareng teman, ikutan meetup, quality time bareng keluarga, baca buku, rajin ngaji dan ibadah, traveling, dan masih banyak lagi daftar to do yang harus dikerjakan.

Masalahnya, keinginan dan kewajiban tadi terasa sangat jauh gap nya. Banyak to do yang akhirnya ga bisa terselesaikan karena alasan waktu. Kalo sudah ga berhasil dilakukan, biasanya alasan yang keluar selalu itu itu lagi,

“Mau sih, tapi ga ada waktunya”

Saya yakin, banyak orang merasakan keresahan yang sama.

Di episode ini, saya curhat betapa susahnya mengatur waktu. Saya share beberapa metode manajemen waktu, diantaranya The Mourning Routine dalam mengatur rutinitas pagi dan The Power of Sleep nya Ariana Huffington dalam mengatur tidur. Saya juga cerita beberapa cara yang saya lakukan agar lebih produktif dalam mengisi waktu.

Di segmen #JawabDiPodcast, saya cerita pandangan saya tentang Flat Earth dan tes kepribadian seperti Stiffin dan MBTI.

Join me, and you will listen to my subjectivity.  

https://api.soundcloud.com/tracks/293894003/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Talk with Alia Noor Anoviar: Perjuangan Merantau, Kuliah, dan Berkarir di Kota

Saya tidak ingat pasti kapan pertama kali kenal dengan Alia.

Tapi saya ingat dulu ada masanya ketika Alia hampir selalu ada di acara kampus yang bertemakan social, entrepreneurship, or anything in between. Alia dan bisnis sosialnya – Dreamdelion – telah menjadi inspirasi bagi banyak gerakan bisnis sosial lain di berbagai kampus.

Alia memulai Dreamdelion, gerakan pemberdayaan sosial di bantaran kali Manggarai sejak 2012. Sejak saat itu, Alia dan kegiatannya di Dreamdelion banyak diliput di berbagai media online, cetak, maupun TV.

Tapi di balik ceritanya bersama Dreamdelion, Alia punya lebih banyak cerita berharga tentang hidupnya.

Alia yang berasal dari Jember, harus berjuang keras untuk bisa berkuliah di Universitas Indonesia. Dia harus beradaptasi dengan kultur ibukota, bekerja keras untuk mengejar prestasi, dan bertahan hidup dengan beasiswa.

Sejak SMA, Alia sudah menjadi hustler untuk mengejar mimpi-mimpinya, hingga kini bisa berkarir di ibukota dan setahun belakangan sedang menjalankan projectnya sambil keliling ke berbagai kota di Indonesia.

Di Subjective Talk kali ini, Alia berbagi cerita hidupnya: mencari uang sejak SMA, berjuang mengejar mimpi berkuliah di UI, merantau jauh ke ibukota, menjalankan bisnis sambil berkuliah, hingga berkarir sambil terus berjejaring dengan mahasiswa.

Ada banyak cerita seru tentang perjuangan, konsistensi, dan berani bermimpi.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

#SubjectiveLive @Yogyakarta – Ngobrolin Galau Pasca Kampus: Karir, Pilih Pasangan, dan Masa Depan

Sejak banyak bercerita di Podcast, saya menyadari bahwa galau pasca kampus adalah topik kegalauan universal. Topik ini relate dengan hampir semua orang yang pernah berkuliah, baik yang masih di kampus maupun yang sudah lama lulus.

Setelah lulus, kita dihadapkan pada persimpangan masa depan. Kita dituntut untuk memilih ingin berkarir dimana; bekerja di bidang apa; hingga menentukan pasangan dan kapan masuk ke jenjang pernikahan.

Semua adalah kegalauan khas anak muda yang memiliki banyak cerita.

Setelah menggali cerita di #SubjectiveLive Bandung, saya ingin menggali cerita lainnya di sebuah kota istimewa: Yogyakarta.

Sama seperti #SubjectiveLive sebelumnya, eksekusi idenya hadir dengan tiba-tiba.

Saya mengundang teman-teman di Jogja untuk meetup dan cerita bareng bersama mereka. Kita akan ngobrol santai di #SubjectiveLive bersama:

  • @kurniawangunadi, alumni Desain Produk ITB yang sekarang jadi penulis dan buka studio sendiri.
  • @fanbul Prabowo, anak komunikasi yang pernah drop out tiga kali, dan sekarang hobinya kerja sosial dan wara-wiri.

Kita akan berkenalan, berdiskusi santai, dan menggali pengalaman mereka melalui masa galau pasca kampus, serta membuat pilihan-pilihan yang membawa mereka ke titik sekarang.

  • Waktu: Ahad, 13 November 2016 | 19.00-21.00 WIB
  • Tempat: Loop Station Yogyakarta, Jalan Trikora no. 2 (Link Gmaps).

Untuk daftar, ketik Subjective – Nama – Email, kirim via SMS / WA ke 083822010294.

Tempat TERBATAS. Bawa pertanyaan dan kita akan ngobrol seru-seruan.

Ga pake syarat. Ga perlu bawa apa-apa.

Sampai jumpa di Jogja!