https://api.soundcloud.com/tracks/290802008/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Ep. 10 – Sumpah Milennials

Do I really care about Sumpah Pemuda?

Pertanyaan itu, mengusik saya satu minggu yang lalu: 28 Oktober, ketika semua orang merayakan Sumpah Pemuda.

Timeline dipenuhi semangat kepemudaan, jargon-jargon perubahan, dan kutipan keren semacam “Beri aku 10 pemuda maka akan kuguncang dunia”.

Sementara saya – sejujurnya – biasa saja. Kok rasanya saya ga seingin itu ikut merayakan hari Sumpah Pemuda. Saya sampai meluangkan waktu sejenak untuk coba berpikir lebih dalam, dan jawabannya tetap sama: saya tidak merasakan hype Sumpah Pemuda sebegitunya.

Mungkin Sumpah Pemuda sudah tidak terasa relevansinya buat kita – generasi Milennials. Mungkin.

Hingga akhirnya di ujung Oktober, saya tetiba kangen rekaman monolog dan terpikir untuk membahas topik ini. Saya membahas tentang spirit Sumpah Pemuda dan relevansinya dengan generasi sekarang; karakter generasi Milennials Indonesia; dan suka duka sebagai anak muda yang sering dipandang sebelah mata.

Di segmen #JawabDiPodcast, saya berbagi opini soal berani berbeda pendapat, budaya membaca, dan memulai berkarya.

Download atau streaming di aplikasi Podcast, Player FM, iTunes, dan Soundcloud.

Join me, and you will listen to my subjectivity

https://api.soundcloud.com/tracks/289285490/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Talk with @dokterfina: Menjadi Dentist, Sosial Media, & Suara Cerita

#SubjectiveTalk is back!

Di episode ini, saya ngobrol bareng @dokterfina, seorang dokter gigi yang juga aktif sebagai penyiar radio, dan hits di Tumblr dan Soundcloud karena project Suara Cerita.

Sebenarnya sudah cukup lama saya mencari waktu untuk episode ini, dan baru bisa rekaman di awal bulan kemarin.

Saya selalu penasaran menggali cerita di balik layar – not exactly the scene, but, you know what i mean. Di obrolan random ini, saya mencoba menggali cerita di balik layar @dokterfina.

Fina cerita tentang imej dokter gigi, pengalamannya menjalani kuliah sambil siaran radio, hingga cerita-cerita unik sebagai artis sosial media.

Download atau streaming di aplikasi Podcast, Player FM, iTunes, dan Soundcloud.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

https://api.soundcloud.com/tracks/279243825/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Ep. 8 – Curhat Tentang Emosi dan Mengenal Diri Sendiri

Lately, I went through some personal problems.

Masalah yang membuat saya bertemu kembali dengan emosi yang sudah terlalu lama tidak pernah lagi saya luapkan: marah, sedih, semua campur aduk menjadi satu. Masalah yang kemudian membuat saya menyelam lebih dalam, mencari jawaban ke dalam diri sendiri.

The thing is, I can’t share the problems. Sometimes, I wish I could.

Tapi jika ada yang bisa saya bagi, saya belajar sangat banyak hal.

Di episode ini, saya curhat dan berbagi cerita. Tentang banyak hal yang saya pelajari: memberi ruang pada emosi, tentang waktu yang seperti teka-teki, dan kedewasaan mengenal diri sendiri.

Saya juga berbagi opini tentang merantau, mencari passion, dan pro kontra berbisnis atau menjadi karyawan di segmen #JawabDiPodcast.

Dengarkan di Soundcloud, iTunes, atau download dan jadikan podcast ini teman ngobrol di jalan.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

https://api.soundcloud.com/tracks/273570907/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Podcast Subjective Episode 7: Ketika Youtuber Jadi Cita-Cita

Buat orang yang sering nonton Youtube, lagu Ganteng Ganteng Swag pasti tidak asing. Lagu hip hop yang menyuarakan keresahan para Youtubers tentang industri entertainment, khususnya TV.

“Youtube Youtube Youtube lebih dari TV!

Dan harus diakui, lirik Jovi di lagu ini sangat catchy dan nempel banget di kepala. Terakhir kali saya cek saat membuat tulisan ini, video Ganteng Ganteng Swag sudah mencapai 9,5 Juta view di Youtube.

Yang menyedihkan, video dengan lirik dan adegan eksplisit ini dibebaskan tampil tanpa age restriction atau batasan usia.

Hasilnya?

Waktu saya sedang jalan-jalan di timeline Twitter, saya melihat sebuah video dari akun @hati2diinternet, berisi kompilasi beberapa video lucu.

Diantara bagian dari kompilasi yang dibuat, ada beberapa video anak-anak SD melakukan cover lagu GGS sambil ngomong Fuck pencitraanI don’t give a fuck, dan mengacungkan jari tengah. Beberapa mengucapkannya dengan penyebutan yang kacau, yang menunjukkan bahwa mereka sebenarnya ga ngerti-ngerti amat yang mereka ucapkan. Mereka hanya mengikuti idola-nya.

Tak hanya itu, yang lebih menyedihkan buat saya adalah banyaknya anak-anak yang sok-sokan ngevlog dan bilang secara eksplisit bahwa mereka bercita-cita menjadi Youtuber.

Ya, kamu ga salah dengar. Anak-anak ini bercita-cita jadi Youtuber.


Internet semakin menggila, dan sosial media semakin merambah siapa saja. Tak terkecuali anak-anak dengan beragam usia.

Dan semakin ke sini, gempuran konten negatif semakin banyak dan saya semakin resah, karena anak-anak mengalami krisis idola dan panutan.

Panutan yang ada dan konten yang tersedia, hanya itu-itu saja. Dan inilah alasan kenapa saya gemas dengan orang yang cuma cerita soal cinta. Inilah kenapa seharusnya kita semua bercerita. Inilah kenapa kita semua harusnya membanjiri sosmed kita dengan karya.

Semua keresahan ini, saya tumpahkan di episode Podcast Subjective terbaru.

Saya bercerita tentang riuhnya dunia Youtube, konten negatif vs konten positif, dan memperluas definisi keren untuk anak muda.

Dengarkan di Soundcloud, iTunes, atau download dan jadikan podcast ini teman ngobrol di jalan.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

I have a confession to make, and this may sound so selfish.

But these podcast things, are all about me.

At least initially.

Saya memulai Podcast Subjective untuk “mengobati” diri saya sendiri. Saya tertantang mengeksplorasi cara baru untuk jujur beropini. Saya merasa perlu menyalurkan suara-suara berisik di kepala ini. Dan saya ingin berbagi keresahan serta membangun diskusi.

Tapi dalam perjalanannya, saya tidak menyangka banyak respon positif yang saya terima. Yang paling menyenangkan, banyaknya pertanyaan dan bahan diskusi, baik via Email, Tumblr, Instagram, dan Twitter.

Sayangnya, ada banyak pertanyaan yang belum sempat terjawab lewat tulisan

Untuk itu, saya sedang mencoba format baru untuk Podcast Subjective: 30 menit membahas topik yang ingin saya bicarakan, dan 30 menit sisanya menjawab pertanyaan dan diskusi dalam segmen #JawabdiPodcast.

Dengan format ini, harapannya tiap episode bisa membangun lebih banyak diskusi. Ask me anything, bisa tentang topik yang pernah dibahas, usulan topik baru, atau pertanyaan apapun – yang iseng maupun yang seru untuk didiskusikan. Kirim pertanyaan via Email/Twitter/Tumblr dengan hashtag #JawabdiPodcast.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

https://api.soundcloud.com/tracks/263061830/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Podcast Subjective Ep. 6: Kritik & Cyber-Bullying

Setelah bicara tentang freedom of speech di episode 4, ada pertanyaan yang terus bersuara di kepala; jika semua orang bebas berbicara, sejauh mana sebenarnya kita bisa mengkritik sebuah karya?

Pertanyaan ini sudah lama saya obrolkan dengan teman-teman sesama seniman. Dua minggu sebelumnya, saya dan @adrianoqalbi ketemuan lagi dan ngobrol seru membahas topik ini. Sayangnya, rekamannya hilang entah kemana dan akhirnya saya harus rekaman ulang. Sendirian.

Setelah nonton show Stand Up Adri dan @muhadkly di #TalkOfLife,  saya ngoceh malam-malam tentang budaya Indonesia yang tidak terbiasa dengan kritik hingga budaya cyber-bullying. Saya bahas kritik keras untuk film Comic 8, kasus Sonya Depari – anak SMA yang dibully netizen karena videonya mengaku anak jenderal saat ditilang, hingga kasus Deddy Corbuzier yang membully followersnya.

Episode kali ini, saya mencoba format baru: 40 menit ngobrol + 20 menit bahas pertanyaan dari pendengar. Ada banyak pertanyaan yang masuk di inbox dan rasanya seru untuk dibahas di Podcast.

Streaming via Soundcloud or iTunes, atau download dan jadikan podcast ini sebagai sohib di jalan atau teman di kosan.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

Feedback from @yuldev: dibaca sukur ga dibaca sukurin.

oke bang, jadi ini surat ketiga yang gue kirim (gue sejujurnya gatau ini gue pake fitur apa sih submit? never use it before) ke tumblr academicus. dan pasti, pasti suratnya dikirim abis dengerin podcast lo. dan karena gue udah 1 jam lebih 11 menit dengerin lo beropini tentang berbagai hal, izinkan gue beropini tentang podcast lo, please …

sumpah bang podcast lo ga jelas asli.

dan jangan tersinggung dulu, kalo boleh jujur, dari semua podcast lo (yang ada berapa sih? 5 yah?) yang punya alur paling jelas tuh cuma kalo ada bintang tamu kayak waktu sama mas adri? mbak mutia dan mas ario? ( itu kan namanya yah?) dan yang paling gajelas itu waktu lo ngomongin kalo sosmed bikin orang-orang jadi gila dan bisa dimaklumin karena itu lo rekaman jam 1 pagi (like what?). seriously gue kayak dengerin temen gue curcol ini lucu banget. 

tapi di sisi lain, dari semua ke gak jelasan itu (yang mungkin bisa gue pahami karena ini bukan acara tv yang ada proofreading nya dulu kali yah) gue bingung kenapa gue masih nunggu2in podcast lu yang baru. Apa lo pake sihir dari kerajaan jin di Alas purwo gue gatau, mungkin karena lo mengangkat tema-tema yang dianggap tabu dan dikupas setajam silet? atau hipotesis gue adalah lo mengangkat isu isu yang relate-able buat anak muda jaman sekarang yang bener banget kata mas adri di podcast lo kalo kegelisahan anak muda jaman sekarang tuh bukan cuma tentang cinta cintaan, dan lo nge-capture itu semua dgn baik di podcast lu. Dan karena setiap gue dengerin podcast lo, gue ikut berpikir, otak gue ikutan menyetujui argumen lo dan otak gue bisa juga membangun argumen untuk kontra dengan lo.

pada intinya yang gue tangkep adalah, orang-orang kayak gue, pendengar lo ini, sebenernya emang ga dapet jawaban dari kegelisahan mereka, (karena lagi-lagi podcast lo sebatas opini yang bukan dilandasi oleh suatu kepastian ya kan?) tapi mungkin orang-orang kayak gue dan puluhan, ratusan, atau ribuan pendengar lo emang bukan berharap untuk mendapatkan jawab dari denger podcast lo. mungkin orang-orang kayak gue ini cuma butuh orang untuk diajak bicara aja gitu soal kegelisahan mereka, karena sumpah mengungkapkan rasa kegelisahan menjadi sebuah kata, tulisan atau ocehan bermakna itu sulit, dan lo mewakili pendengar lo untuk mengungkapkan itu semua. 

so good luck for your next project whatever it is. dan minta rekomendasi podcast indonesia lain dong bang karena lama kalo nungguin lo update 1 bulan sekali 😦 – @yuldev

Thanks a ton @yuldev untuk feedbacknya!

Terima kasih sudah mendengarkan Podcast Subjective dan memberikan feedback yang pedas-pedas asam manis! Feedback semacam ini yang saya tunggu biar saya bisa improve lebih baik lagi 🙂

Sebagai catatan, saya sangat setuju bahwa untuk saat ini kualitas teknis, alur pembicaraan, dan cara saya menyampaikan ide masih bolong sana sini. Masih banyak yang kurang dan tetap ada yang menyempatkan waktu dan kuotanya untuk mendengarkan, saya sangat berterima kasih sekali.

Saya masih belajar dan akan terus memperbaiki kualitasnya. Karenanya, mulai episode berikutnya, saya berencana untuk sedikit mengubah format dan frekuensi. Saya akan coba untuk konsisten rekaman podcast tiap 2 pekan sekali.

Untuk rekomendasi podcast, sebenarnya makin ke sini makin banyak Podcast berbahasa Indonesia yang bisa didengarkan. Bisa coba disearch di soundcloud.

Tapi untuk rekomendasi, karena keterbatasan waktu, saat ini saya hanya bisa merekomendasikan 2 Podcast yang benar-benar saya dengarkan:

  1. Podcast Awal Minggu – @adrianoqalbi, standup comedian yang membahas berbagai isu dari sisi komedi. Pernah jadi tamu juga di Subjective Talk.
  2. Podcast Appscoast – Indonesian Startup Podcast, berisi interview dengan expert dan praktisi startup digital di Indonesia.

Sisanya saya sempat mendengarkan Absurdtive Talk by @kitajabar, The Rain Is Falling by @hujanmimpi, Podcast Perempuan by @veskadinda, Podcast Keriba-Keribo by @keribakeribo, dan Kita Radio milik @tumbloggerkita. Bisa coba didengarkan dan dipilih sesuai selera 🙂

Thanks again!

https://api.soundcloud.com/tracks/250944178/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Episode 4 – Freedom of Speech

Belakangan, saya capek dengan semua perdebatan yang makin intens dan beragam di sosial media.

Perdebatan dimana semua orang merasa paling pintar dan punya hak untuk berbicara.

We think we are smart. And in the same time, we think other people are dumb.

Saya punya keresahan tentang kasus-kasus yang sedang marak, seperti LGBT, penghapusan status facebook, pemblokiran Tumblr, dilarangnya #BelokKiriFest, dan masih banyak lagi.

Tapi yang lebih membingungkan bagi saya adalah ketika semua ini terjadi atas nama demokrasi. Semuanya dilakukan atas nama hak berbicara dan kebebasan berpendapat.

Sementara bagi saya, definisi dari Freedom of Speech itu sendiri tidak pernah benar-benar terjadi.

image

The right to express.

Any opinions.

without censorship or restraint.

Saya membaca setiap katanya satu per satu, dan saya semakin bingung ketika membandingkan definisi dengan apa yang sebenarnya terjadi. Semakin banyak pertanyaan yang muncul di otak saya.

Betulkan semua orang punya hak untuk berekspresi? Ekspresi seperti apa yang dibolehkan? Opini seperti apa yang bisa kita katakan? Kapan opini kita disebut kebebasan berpendapat? Kapan disebut hate speech? Siapa yang menentukan batasnya?

Di episode ini, saya menceritakan kebingungan saya tentang Freedom of Speech.

Saya berbagi kebingungan saya tentang standar ganda, kasus LGBT, Tere Liye, tweet Tifatul Sembiring, serta perdebatan sosmed yang tidak ada habisnya.

Dengarkan di Soundcloud, iTunes, atau download dan jadikan podcast ini teman ngobrol di jalan.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

Mendengar podcast anda saya ikut tersindir sebagai orang yang bingung mau ngapain setelah lulus kuliah, tahun kemarin setelah wisuda, orang tua saya menyarankan lanjut S2.

Sambil nunggu tes dan diterima saya coba lamar-lamar kerja. Alhamdulillah tapi bikin saya pusing juga, tiap melamar dan interview saya diterima.

Akhirnya saya coba dan kerjanya gak lama karena alasan ga cocok sama lingkungannya.

Ibu saya akhrnya memarahi saya. Dibilangnya jangan coba2 kasian yang lain yg bener2 niat kerja kesempatannya diambil sama kamu yang ga niat serius kerja.

Akhirnya setelah kuliah mulai berjalan saya gak berani coba2 lagi kerja. Padahal temen sekelas saya notabene lebih tua dan sudah punya banyak pengalaman bekerja, saya malu sendiri.

Menurut saya, tidak ada yang terlambat dalam memperbaiki niat. Melihat teman2 saya bekerja akhirnya saya juga mencoba mencari2 kerja. Alhamdulillah juga, akhirnya saya dipercaya menjadi asdos dan bekerja di prodi saya di pasca menjadi tim borang. Sekali pun masalah feenya gak seberapa tp saya senang dengan saya lakukan karena ini salah satu tahap menuju yang saya cita2kan.

Bagi saya pribadi, kuliah S2 bukan untuk gaya2an atau menaikan gengsi. Saya setuju dengan perkataan mas Iqbal. Harusnya kuliah S2 itu bentuk aktualisasi diri terhadap sesuatu yg kita targetkan.

Kembali lagi juga, di mata Tuhan yang dilihat kan bukan seberapa tinggi pendidikan tapi manfaat apa tidaknya yang kita lakukan.

Trims

Submission dari @antarakadabra tentang Podcast Subjective Ep2: Random Thoughts Tentang Kuliah, Kerja, dan S2. Saya masih merasa dunia pasca kampus merupakan topik penting yang masih perlu dibicarakan lebih banyak.

Terima kasih untuk sharing insightnya, semoga dimudahkan jalannya menuju yang dicita-citakan 🙂

https://api.soundcloud.com/tracks/243550284/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Episode 3: Sosial Media Bikin Kita Gila

Satu kali, saya pernah membaca cerita tentang Essena O’Neill. Seorang selebgram berumur 18 tahun asal Australia yang muak dengan kehidupan instagramnya

O’Neill dikenal sebagai artis sosial media yang cantik dan merepresentasikan mode berpakaian yang disukai banyak orang. Wanita yang punya setengah juta followes di instagram ini mulai aktif di blog dan sosial media saat masih SMA, dan lama kelamaan terhanyut dalam dunia sosial media yang penuh kepalsuan. Dia mulai tersiksa dengan semua kepalsuan yang dia rasakan untuk membuat foto yang cantik dan menawan. Dia lelah berpura-pura merasa senang memakai pakaian yang tidak akan pernah dia pakai di kehidupan yang sebenarnya.

Semua terus dia lakukan karena mulai adiktif dengan like yang datang dari ribuan orang. Akhirnya, O’Neill memutuskan untuk mengedit semua caption fotonya dengan kejadian sebenarnya, semisal, “Saya harus mengambil foto sebanyak 50 kali untuk yakin bahwa ini adalah selfie yang disukai banyak orang”, atau “Saya harus menahan napas cukup lama untuk bisa terlihat langsing di foto ini”.

Keresahan yang sama mulai saya rasakan. Tentang berpura-pura dan tidak menjadi diri kita yang sebenarnya. Hanya agar ada orang yang terpesona dan menekan tombol suka sebanyak-banyaknya.

Saya mulai merasa bahwa sosial media bisa membuat kita gila. Atau jangan-jangan kita sudah gila, tapi kita tidak menyadarinya.

Keresahan ini saya tumpahkan sambil bercerita tentang hal-hal aneh yang saya temukan di sosial media. Mulai dari perilaku mereka yang rajin debat di grup whatsapp, penggunaan Path sebagai private social media yang isinya bisa menyebar ke mana-mana, hingga mereka yang rajin foto selfie tapi captionnya tentang kebijakan hidup.

This self criticism may hurt. But believe me, it’s necessary.

Streaming di Soundcloud atau download dan jadikan podcast ini sebagai sohib di jalan atau teman di kosan.

Join me, and you will listen to my subjectivity.


Further listening: