Mending Kita Temenan Aja :)

Kalo saya cerita tentang pandangan politik saya, apakah kita masih berteman?

Saya serius menanyakan ini karena di otak saya, rasanya jawabannya lebih condong tidak.

Apalagi melihat kenyataan belakangan yang membuat masyarakat semakin terpolarisasi. Mungkin karena sekarang semua orang merasa punya corong suara. Mungkin karena sekarang semua orang merasa punya kekuatan dengan sosial media. Lalu semua orang berisik dengan opininya: sibuk membenarkan diri sendiri dan mencari kesalahan orang-orang yang berada di seberangnya.

Kalo saya cerita pandangan politik saya, mungkin Anda yang tidak sepaham akan kaget. Lalu bilang “lah, gue kira si iqbal sama sama gue”, “Kok si Iqbal goblok sih mikir kayak gitu”, atau bahkan “oh, Iqbal ternyata sedangkal ini”.

Ayo lah. Kita semua mikir kayak gitu kok ketika tahu pandangan politik teman kita. Di kepala kita pasti terbesit suara-suara serupa. Bedanya, ga semuanya diomongin aja.

Hal-hal seperti ini yang bikin saya malas sekali bicara pandangan politik di ranah publik.

Silakan cap saya populis, tapi saya orang yang lebih menghargai pertemanan daripada perbedaan pandangan. Tuduh saya apatis, tapi saya lebih memilih diam daripada berisik lalu kehilangan teman.


Ngomongin masalah ini, saya jadi teringat juga soal hutang piutang. Kasusnya mirip dengan pandangan politik.

Hutang piutang juga salah satu interaksi sosial yang sangat sering kita alami. Dan setelah beberapa kali pengalaman, saya sangat berusaha menghindari yang namanya hutang piutang. Apalagi dengan teman.

Bukannya saya pelit atau gimana. Memberikan pinjaman kepada saudara/teman adalah salah satu cara kita membantu, tapi kalau ujung-ujungnya malah bikin memutus persaudaraan, ya buat apa.

Pernah satu kali ada teman yang ingin meminjam uang. Saya ceritakan semuanya, lalu saya minta untuk bikin semacam surat perjanjian. Simpel, saya hanya mengikuti apa yang diajarkan agama saya. Lalu orang ini menolak karena menurutnya ribet. Lalu saya bilang,

“Men, kita temenan udah lama banget loh. Gue bukan masalah uangnya, gue bisa banget bantu. Gue cuma ga mau duit yang kecil ini merusak pertemanan kita yang ga ternilai harganya”

Saya berani bilang begitu bukan karena saya sombong, tapi belajar dari pengalaman. Tidak sekali dua kali saya meminjamkan uang, lalu yang berhutang hilang entah kemana, tidak ada kabarnya. Atau pernah juga orangnya sih tidak hilang, tapi entah kenapa dia bisa tetap bicara sama saya tapi tidak pernah menyinggung soal hutangnya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Dibanding kehilangan uangnya, saya lebih sakit hati karena dibohongi seakan pertemanan kita tidak ada harganya.

Mungkin itulah kenapa, ayat terpanjang di Al-Qur’an adalah syariat tentang hutang. Allah sendiri yang mengatur bagaimana kita sebaiknya bermuamalah dalam hutang piutang. Karena di sini potensi konflik hubungan pertemanan dan kekeluargaan sangat rawan terjadi.


Kembali soal politik. Jadi, saya pilih siapa?

Kadang-kadang rasanya ingin sekali blak-blakan bicara saya pilih siapa, dan kenapa.

Tapi sosial media dan platform chatting adalah tempat yang sangat terbatas untuk berdiskusi dengan kepala terbuka.

Saya takut sekali berdebat dan jadinya malah merusak hubungan dengan teman atau keluarga saya.

Belakangan, saya sendiri keluar dari beberapa grup whatsapp yang semakin tidak kondusif dan tidak relevan dengan tujuan aslinya. Grup yang tadinya hanya ditujukan untuk komunikasi mengenai topik/event tertentu, jadi ajang debat kusir dan broadcast sana sini soal pilihan politik yang bahasannya itu itu lagi.

Saya sendiri bukannya anti politik. Kalo anda ajak saya ngopi, saya bisa cerita pandangan saya.

Tapi ya, balik lagi. Saya tidak tahu seberapa siap kita semua dengan perbedaan pandangan politik. Seberapa dewasa kita menyikapi perbedaan dan tidak memberikan cap sebab-akibat pada pandangan politik dengan hal lain, pandangan keyakinan dan agama misalnya.

Saya mau banget sih suatu saat nanti jadi orang yang vokal membicarakan pandangan politik. Pada level tertentu, saya ingin terjun ke politik praktis. Mungkin tidak sebagai politisi – saya cukup yakin saya tidak tahan dan punya kemampuan untuk itu – tapi sebagai juru bicara atau tim kreatif salah satu kandidat misalnya.

Mungkin dalam waktu dekat. Mungkin juga masih dalam waktu yang lama.
Yang jelas, sekarang sih saya lebih memilih diam saja.

Ya sudahlah jangan dipaksa. Memangnya anda mau saya bicara, ternyata kita berbeda, lalu kita jadi berantem dan anda ga mau lagi ketemu saya?

Sudahlah.

Mending kita temenan aja ūüôā

Bagaimana cara membersihkan gelas yang terisi penuh oleh air kotor?

Ada dua cara untuk melakukannya.

Cara pertama: buang semua air kotor yang ada di dalamnya, lalu isi kembali dengan air bersih.

Cara kedua: tuangkan air bersih ke dalam gelas, hingga seluruh isi air kotor keluar dan digantikan oleh air bersih.

Sekarang bayangkan gelas tadi adalah pemerintahan, sementara air tadi adalah para pejabat pemerintah.

Saat ini kita punya stigma bahwa pemerintahan kita diisi oleh orang-orang kotor; para koruptor, pemakan uang haram, dan mereka yang tidak bekerja dengan benar, maka ada dua cara untuk membersihkannya.

Cara pertama, kita enyahkan semua orang-orang kotor yang ada di dalam pemerintahan. Inilah yang telah, sedang, dan akan terus dilakukan oleh KPK. Berbagai penyelewengan dan pemyalahgunaan kekuasaan di segenap tubuh pemerintahan sedang dibersihkan. Kotoran-kotoran itu sedang dicari untuk dikeluarkan, dijebloskan ke penjara agar mereka tidak pernah kembali lagi, dan kotoran-kotoran lain melihat, takut, dan kemudian keluar dari pemerintahan kita dengan sendirinya.

Cara kedua, kita dukung orang-orang bersih masuk ke dalam pemerintahan. Inilah yang telah, sedang, dan akan terus dilakukan oleh orang-orang terbaik di Indonesia. Kita telah melihat pejabat-pejabat yang hebat dan bekerja untuk rakyat. Ridwan Kamil di Bandung, Risma di Surabaya, Ganjar Pranowo di Jawa Tengah. Begitu pula dengan Jokowi dan Ahok di Jakarta. Terlepas dari pro-kontra yang akan kita utarakan terkait keputusannya maju sebagai capres, sangat naif rasanya melupakan apa yang telah dikerjakan Jokowi sejak dilantik sebagai Gubernur di Jakarta. Saya pribadi belum pernah mendengar pejabat yang demikian gesit bekerja untuk perubahan. Kita semua telah menyaksikannya, dan sungguh luar biasa perubahan yang telah diperjuangkannya.

Ridwan Kamil, subhanallah, sungguh orang ini luar biasa. Saya selalu mengikuti sepak terjangnya lewat facebook dan twitter @ridwankamil. Tak pernah satu postingan pun yang tidak saya lewatkan tanpa mendoakannya, karena memang kerjanya luar biasa. Maka kita harus selalu mendukung orang baik untuk masuk ke pemerintahan.

Hal terakhir yang harus kita pahami adalah: kedua cara tadi bukanlah opsi.

Kita tidak bisa membersihkan pemerintahan hanya dengan mengeluarkan orang-orang yang kotor. Butuh waktu dan tenaga yang sangat banyak jika kita harus memulai dari nol. Dan kita tidak bisa berharap pemerintahan kita akan selalu bersih, karena kotoran itu akan selalu datang, sekeras apapun kita membersihkannya. Ibarat rumah yang kita sapu di pagi hari, toh pada malam harinya akan kotor lagi. Ibarat motor yang selalu kita cuci setiap minggu, toh pada akhirnya tetap akan  berdebu kembali.

Kita juga tidak bisa membersihkan pemerintahan hanya dengan memasukkan orang-orang bersih. Karena orang-orang bersih ini memang akan fokus bekerja dengan cara yang bersih, tetapi hanya bekerja tanpa berusaha mengenyahkan orang-orang kotor yang terus berdatangan, maka semua usaha mereka akan sia-sia.

Keduanya harus dijalankan dengan sinergi, agar kita bisa melihat pemerintahan kita bersih. Keduanya harus dijalankan secara bersamaan, agar kita bisa punya pemerintahan yang berjalan dengan benar.

Mari bersama kita bersihkan gelas kita sendiri.

Balairung, 29 Maret 2014

Saya dan @alifindra_ datang ke Parpolfest karena ingin melihat seorang tokoh luar biasa: Anies Baswedan.

Saya membawa kamera Canon SX40 dan membidiknya dari jauh. Mengambil sudut pandang terbaik. Pesan yang ingin saya sampaikan: Ada banyak orang berharap wajah Anies Baswedan yang ada di bingkai belakang.

Sekarang sudah dipastikan bahwa Anies Baswedan tidak akan menjadi Presiden untuk Pemilu 2014.

Konvensi Demokrat berakhir dengan kemenangan Dahlan Iskan. Dan pada akhirnya, Demokrat tidak pula mengajukan satu nama pun untuk calon presiden. Tidak pula nama Anies Baswedan.

Bagi saya, Anies Baswedan dengan Gerakan Turun Tangan nya adalah salah satu fenomena politik yang luar biasa. Gerakan ini telah menjaring ribuan orang dari seluruh Indonesia, yang didominasi oleh anak muda, untuk ikut bersuara dalam politik. Ribuan pemuda yang sebelumnya apatis dan hanya sekadar tahu terhadap politik, menjadi lebih vokal dan tersadar untuk mengambil peran dalam menjalankan demokrasi.

Banyak orang mengatakan bahwa Gerakan Turun Tangan telah gagal, karena Anies bukan hanya gagal menjadi calon Presiden. tapi juga gagal memenangkan konvensi. 

Orang yang mengatakan demikian, pasti tak memahami Gerakan Turun Tangan. Dari awal, tujuan utama gerakan ini bukan untuk memenangkan Anies Baswedan.

Turun Tangan adalah gerakan edukasi politik. Gerakan ini ada untuk mengubah peta permainan dan bercita-cita membawa proses demokrasi Indonesia menuju kedewasaan.

Gerakan ini ingin mengajak semua orang untuk memilih pemimpin berdasarkan jejak rekam dan prestasi yang baik, bukan karena segepok uang atau popularitas semata.

Gerakan ini ingin mengajak masyarakat untuk membuka mata, bahwa negeri ini bermasalah bukan karena banyaknya orang jahat, tapi karena orang baik diam dan mendiamkan.

Gerakan ini mengajak semua orang untuk mendorong orang baik membuat perubahan dengan masuk ke dalam pemerintahan, untuk berhenti diam dan ikut turun tangan.

Dan gerakan ini tak pernah berakhir sia-sia.

Lihatlah bagaimana Anies Baswedan menjalankan kampanye yang kreatif dan mencerdaskan. Perhatikan bagaimana beliau menyebarkan virus positif pada ribuan orang yang bergabung menjadi relawan tanpa iming-iming rupiah. Amati bagaimana orang-orang baik bersatu dan ikut berjuang di sampingnya, bergandengan tangan untuk membuat perubahan.

Dan perubahan itu nyata adanya.

Kini, kita memasuki babak baru dalam demokrasi Indonesia. Kita telah dihadapkan pada dua pilihan: Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta.

Pada titik ini, Anies Baswedan sendiri telah menentukan sikap pribadinya. Beliau telah menyatakan sikapnya untuk mendukung pasangan Jokowi-JK.

Saya rasa akan banyak dari relawan Turun Tangan yang menentukan sikap berbeda. Dan hingga saat ini, saya pun berseberangan dengan beliau.

Ada ratusan juta rakyat Indonesia.
Berbeda pendapat itu biasa. Justru itu bagus karena artinya kita punya pilihan, bayangkan sebaliknya dimana kita tidak punya pilihan. Kita jadi tidak mau tahu mana yang baik dan mana yang buruk, karena kita tidak punya pilihan. Tapi sekarang berbeda.
Kita punya pilihan untuk menentukan yang lebih baik bagi bangsa kita.

Karenanya, sikapi perbedaan dengan baik. Jika berbeda, ingat bahwa kita bukan musuh, tapi kita adalah lawan. Musuh akan saling menghabisi. Tapi lawan akan menunjukkan dimana kelemahan kita dan disitu kita jadi berbenah dan saling menguatkan.

“Saya perlu garis bawahi, apapun pilihan kita itu adalah karena kecintaan kita pada Indonesia dan komitmen kita untuk memanjukan bangsa tercinta ini. Dengan begitu¬†pilihan ini tidak boleh menyebabkan permusuhan. Lawan beda dengan musuh. Lawan debat adalah teman berpikir, lawan badminton adalah teman berolah raga. Beda dengan¬†musuh yang akan saling menghabisi, lawan itu akan saling menguatkan.

Berbeda pilihan itu biasa, tidak usah risau apalagi bermusuhan. Jangan kita terlibat untuk saling menghabisi. Mari kita semua turun tangan untuk saling menguatkan,¬†untuk saling mencintai Indonesia dan untuk membuat kita semua bangga bahwa kita jaga kehormatan dalam menjalani proses politik ini”, ujar Anies Baswedan.

Dan pada titik ini, mari kita turun tangan.

Jika harus berbeda, Mari menjadi lawan dan saling menguatkan.

Mari berbeda dan tetap berjabatan tangan.

Mari berjalan beriringan mengawal demokrasi di negeri ini menuju kedewasaan.

Untuk Indonesia yang lebih baik.