Orang Diperkosa? Yuk Diam Saja

Saya pernah membaca cerita rakyat Eropa. Kisahnya tentang seorang Raja yang dengan sangat dermawan mengundang seluruh rakyatnya untuk hadir dalam sebuah pesta. Dia pribadi menamakannya Pesta Rakyat; pesta yang diselenggarakan dan dinikmati pula oleh rakyat. Tujuannya untuk mempererat persaudaraan diantara rakyatnya. Dengan kebaikan hatinya, Raja berjanji akan menyediakan semuanya mulai dari tempat, hiburan, hingga hidangan, kecuali satu hal: minuman.

Maka Raja memberi syarat kepada seluruh rakyatnya yang ingin datang ke pesta, mereka harus membawa sebotol anggur. Anggur tersebut nantinya akan dikumpulkan dan diminum bersama-sama.

Maka tibalah hari pesta yang menyenangkan.

Di pintu gerbang, disiapkan sebuah wadah minuman yang sangat besar. Setiap orang yang datang, diharuskan menuangkan anggur yang mereka bawa ke wadah tersebut, baru diperbolehkan masuk. Ratusan orang telah berdatangan dan saling bercengkrama. Wadah minuman yang disiapkan pun telah terisi penuh.

Seluruh orang menikmati hiburan yang disediakan, hingga akhirnya sang Raja bergabung dengan rakyatnya untuk menikmati pesta.

“Saya ingin kita memulai pesta ini dengan menikmati anggur yang telah dibawa oleh kalian semua”.

Pelayan pun mengambilkan segelas anggur dari wadah yang telah disediakan, memberikannya pada Raja, dan sang Raja meminumnya.

“Cuih!” Betapa kagetnya sang Raja karena ternyata yang diminumnya adalah air putih. Tak terasa sedikitpun anggur, benar-benar air putih.

“APA-APAAN INI?” Sang Raja marah dan meminta penjelasan dari rakyatnya.

Setelah diselidiki, sebabnya sangat mengejutkan. Ternyata tidak ada satupun dari rakyatnya yang membawa anggur, semuanya membawa air putih. Tidak ada yang jujur dan mau merugi. Semua orang berpikir bahwa akan ada ratusan orang lain yang membawa anggur, maka jika saya membawa sebotol air putih, tentunya tidak akan berpengaruh terhadap ratusan botol anggur lainnya.

Sialnya, semua orang berpikir hal yang sama. Akhirnya mereka berpesta dengan air putih.

Dalam dunia psikologi, fenomena seperti ini disebut Bystander Effect. Simpelnya, fenomena yang disebut juga sebagai Bystander apathy ini adalah kondisi dimana setiap orang merasa tidak perlu melakukan sesuatu karena (merasa) ada orang lain yang akan melakukannya. Dan pada fenomena ini, semua orang berpikiran sama, sehingga pada akhirnya tidak ada yang melakukan apa-apa.

Kita pasti sering mengalami bystander effect dalam keseharian kita. Saya sendiri paling sering merasakannya ketika harus traveling dengan teman-teman pria saya, dimana saya berpikir tidak usah membawa odol/sabun karena yang lain pasti bawa. Ternyata semuanya berpikiran sama, dan akhirnya tidak ada yang mandi dengan normal.

Kisah saya serta anggur dan pesta rakyat di atas mungkin tidak ada apa-apanya dengan kisah lain dimana taruhannya bukan hanya haus, bau badan, dan bau mulut, tapi bahkan darah dan nyawa.

Beberapa waktu yang lalu, di India, seorang wanita bernama Jyoti Singh, menjadi korban pemerkosaan. Setelah diperkosa, wanita ini dipukuli dengan besi hingga mengalami luka parah. Para pelaku yang berasumsi bahwa Jyoti sudah mati membuang tubuhnya di pinggir jalan yang ramai. Jyoti yang ternyata masih hidup ini terlentang, tanpa pakaian, dan berlumuran darah.

Banyak mobil dan orang yang lalu lalang dan melihat Jyoti, tapi TIDAK SEORANG pun yang memberikan pakaian, menawarkan bantuan, atau bahkan sekedar menelpon polisi.

Jyoti diperkosa oleh enam orang secara bergantian. 13 hari kemudian, wanita ini meninggal.

Bystander effect sangat berbahaya hingga tidak ada orang yang melakukan apapun karena berpikir akan ada orang lain yang melakukannya. Bahaya Bystander effect tidak hanya sampai disana. Dalam video social experiment ini, kita dapat melihat bahwa fenomena ini juga membuat orang merasa ragu untuk berbuat, karena tak seorang pun yang melakukannya. Hal ini membuat orang takut malu atau takut disebut sok pahlawan dan sok pintar.

Ingat ketika sekolah? Ketika guru melemparkan pertanyaan lalu bertanya, “Siapa yang bisa jawab?”, biasanya kelas menjadi hening, tak seorang pun angkat bicara, termasuk kita.

Biasanya karena dua alasan. Pertama, karena kita merasa pasti akan ada teman kita yang menjawab, jadi tak perlu lah susah-susah menjawab. Kedua, karena kita takut memberi jawaban yang salah, lalu menjadi malu karena disoraki dan dicap sok pintar.

Kesalahan logika yang menjadi dasar kita untuk tidak menjawab pertanyaan guru tadi bisa terbawa pada kejadian penting dalam kehidupan kita, salah satu contohnya yang terjadi pada Jyoti.

Dalam bukunya You Are Not So Smart, David Mcraney menantang kita untuk memikirkan satu situasi. Bayangkan Anda sedang duduk di sebuah kafe di sebuah gedung bertingkat. Dari tempat duduk Anda, Anda dapat melihat bahwa ada belasan pengunjung lain yang juga sedang duduk menikmati kopinya sambil berselancar di dunia maya. Anda juga bisa melihat pelayan berdiri di kasir dan barista sedang meracik kopi. Lalu tiba-tiba, terdengar bunyi sirine yang menandakan terjadi kebakaran, dan Anda harus segera berlari keluar untuk evakuasi. Suara sirine begitu nyaring, tapi Anda melihat tidak ada seorang pengunjung pun yang beranjak dari tempat duduknya. Anda juga melihat pelayan tidak bergerak dari tempatnya, dan barista tetap sibuk meracik kopinya. Apakah Anda tetap duduk dan menunggu seseorang berlari keluar, baru mengikutinya?

Sebaiknya Anda segera berlari keluar dan memberi tahu semua orang, karena Anda tahu tidak akan ada yang melakukan apa-apa.

Marah & Supir Angkot

Malam kemarin saya berkelahi dengan supir angkot.

Tidak sampai adu fisik, tapi cukup membuat saya ingat kembali rasanya menjadi pemarah.

Saya menggedor badan angkot dengan marah.

“Apa-apaan ni!”

Dalam sepersekian detik, saya tidak sedikitpun merasa lelah. Semua rasa berganti dengan amarah. Angkot yang tadinya baru berjalan, langsung berhenti kembali.

“Apaan nih seribu?!” Saya berteriak sambil menunjukkan seribu di tangan saya. Saat turun, saya membayar dengan uang lima ribu. Si supir hanya mengembalikan seribu.

Bukannya menjawab, sang sopir angkot malah balik bertanya, “Emang naik dari mana lo?”

Dalam hati saya sudah memaki dengan berbagai kata yang sungguh tidak pantas. Pertanyaan tolol macam apa itu, jelas-jelas angkot ini ngetem dan tidak jalan sebelum semua kursi penumpang penuh. Jelas-jelas semua penumpang naik dari tempat yang sama, 

“Dari Petronas lah!”, saya menjawab dengan kesal.

“Petronas mana sih?”

“Ya Petronas Pekayon lah, G*OBL*K!”

Kontrol saya lepas. Saya berteriak sambil menggebrak pintu mobil. “Udah mana sini balikin duit gue seribu lima ratus lagi!”. Tangan saya masuk melalui jendela mobil seperti preman menagih uang.

Si supir balik berteriak. Dia juga sudah tersulut emosi. 

“Apaan sih lo, emang segitu bayarnya!”. 

Rasanya badan sudah sangat lelah, kepala sangat berat, dan mata sudah mau terpejam. Saya tidak bisa lagi berpikir tentang apapun dan hanya ingin cepat sampai di rumah. Rasa lelah saya berubah menjadi amarah.

“Gue tiap hari naik ni angkot! Tiap hari gue naik, gue cuma bayar DUA RIBU LIMA RATUS!”

Teriakan saya makin keras. Beberapa penumpang yang tadinya tidur jadi terbangun dan melihat ke depan, ingin tahu apa yang terjadi. Beberapa tukang ojek yang mangkal di dekat saya turun juga ikut berdiri dan penasaran kenapa ada orang teriak-teriak di tengah malam.

Mungkin karena digertak, si supir akhirnya memberi saya uang seribu. Saya menatap uang itu, lalu menatap dia lagi.

“LIMA RATUS LAGI MANA?”,

 "UDAH SYUKUR LO UDAH GUE BALIKIN SERIBU, MASIH MINTA LAGI?“

 "YA HAK GUE YA GUE MINTA LAH, JADI SUPIR ANGKOT AJA KORUPSI LO!”, teriakan saya semakin keras, saya tidak bisa lagi menahan marah, “UDAH SANA JALAN, ENEG GUE LIAT MUKA TUKANG MAKAN DUIT HARAM KAYAK LO!”.

Saya berjalan dengan kepala mau pecah. Sebelum benar-benar pergi, saya menggedor badan mobil. Lagi.

Si supir menatap saya penuh emosi. Saya tidak peduli.

——————————————————————————-

Sampai di rumah, masih dengan kepala yang penuh amarah, saya mengambil segelas air putih. Saya duduk dengan tenang, mencoba bernapas dengan tentram. Saya mencoba kembali berdamai dengan ketenangan.

Kemarin aktivitas saya padat. Pagi hari saya mengurus bisnis, siangnya menjenguk kerabat saya di rumah sakit, lalu sorenya menempuh perjalanan panjang ke Jakarta. Mencari alamat sahabat saya yang menyita banyak waktu dan tenaga.

Semua perjalanan saya lakukan dengan naik kendaraan umum dan berjalan kaki. Jam 23.10, saya baru sampai di stasiun Kranji, baru lanjut naik angkot dua kali untuk sampai di Bekasi. Dalam kondisi amat sangat lelah, angkot terakhir itulah yang akhirnya jadi “pelampiasan” saya menyemburkan api amarah.

Kejadian tadi jelas adalah sebuah kesalahan. Ada yang salah dengan keadaan tadi sehingga saya harus berkelahi dan saling berteriak penuh emosi. Saya menyegarkan kepala dengan berwudhu, lalu mencoba berefleksi. Melakukan introspeksi.

Pertama, saya menyadari betul rasa marah yang begitu meluap tadi adalah karena saya sangat lelah. Rasa lelah saya adalah faktor yang paling bertanggung jawab hingga saya tiba-tiba meledak. Setelah menjalani aktivitas yang begitu melelahkan, ekspektasi saya sederhana: naik angkot, bayar dengan harga seperti biasanya, lalu segera berjalan pulang, istirahat. Tapi ternyata saya harus dihadapkan dengan harga yang tidak seperti biasanya, dan itu dengan mudahnya membuat saya marah.

Ketika lelah, kita kesulitan mengontrol pikiran, fokus kita pun buyar, Perilaku kita – yang pada keadaan normal dikendalikan secara sadar oleh logika – diambil alih kontrolnya oleh emosi. Jika emosi sudah menjadi kontrol utama dalam pengambilan keputusan, logika dikesampingkan, dan perilaku kita seringkali menjadi barbar dan tidak terkendali.

Kasus saya yang menjadi tidak terkendali tadi hanyalah satu dari jutaan kasus yang terjadi setiap hari. Jika Anda ingin merasakannya, gampang, naik kereta Commuterline di jam pulang kerja dari berbagai stasiun besar. Kasus paling ekstrem yang pernah saya rasakan ketika naik kereta tujuan Bogor dari stasiun Tanah Abang. Kereta penuh bau keringat, semua orang kelelahan sepulang kerja, dan rasanya semua orang marah-marah. Ada yang memaki petugas, ada yang mencak-mencak karena kepanasan, ada yang sikut-sikutan karena kegerahan, dan ada yang berteriak marah entah pada siapa. Semuanya melakukan hal itu sepanjang jalan, sepanjang 35 menit, dari Tanah Abang sampai Stasiun UI. Saya hanya menahan napas, jangan sampai ikut terbawa marah.

Tapi hal itu akhirnya terjadi juga pada saya, di tempat lain. Dan mungkin Anda juga pernah merasakannya.

Itulah mengapa saya secara umum tidak setuju pada wanita yang menjadi pemimpin untuk laki-laki. Alasan utamanya, karena secara biologis wanita emosinya tidak lebih stabil dibanding pria, dan emosi ini dapat memengaruhi pengambilan keputusan yang tidak berdasarkan logika. 

Kembali ke masalah saya dan angkot. Kedua, ada alasan lain yang menyebabkan saya marah daripada sekedar masalah uang yang bagi banyak orang tidak seberapa. Ini soal kejujuran. Bukan tentang saya. Justru saya sedang bicara soal kejujuran supir angkot.

Saya naik angkot itu sejak saya SD. 10 tahun lebih. Kalo diibaratkan pangkat militer, pengalaman saya naik angkot tersebut sudah pantas dianugerahi pangkat jenderal. Saya sudah pernah berinteraksi dengan supir yang masa bodo, penipu, hingga yang baik dan benar-benar jujur.

Faktanya, masih banyak supir angkot yang jujur. Supir angkot yang benar-benar menghargai penumpangnya sebagai pelanggannya. Dalam situasi yang normal, seringkali saya memang memberi uang lebih 500 dari ongkos normal. Misalnya untuk jarak dekat, ongkos normalnya adalah 2.500. Saya seringkali menyiapkan selembar 2.000 dan selembar 1.000, dan saya memang berniat untuk memberi 3.000. Jika tidak dikembalikan saya menganggapnya sebagai sedekah, karena memang saya mengikhlaskannya. Tapi ketika saya memberi uang 3.000 tadi, saya sering mendapati supir yang tidak langsung pergi, tetapi sibuk mencari koin 500 untuk kembalian. Padahal jika mereka langsung pergi dan tidak mengembalikannya pun saya tidak masalah. Tapi mereka secara jujur mengembalikan uang 500 tadi.

Dan saya mendapati supir jujur yang seperti ini tidak sekali dua kali. Sering. Artinya, masih ada banyak supir jujur di luar sana.

Maka saya marah sekali ada supir yang jelas-jelas mau menipu. Menentukan ongkos yang tidak sesuai dengan harga sebenarnya. Dan bukan hanya 500, dalam kasus tadi si supir ngotot dengan harga 1500 lebih mahal dari harga sebenarnya. Memang kelihatannya tidak seberapa, tapi untuk Anda yang menggunakan transportasi umum, terutama menggunakan angkot setiap hari, Anda tahu nilai itu tidak kecil.

Saya hanya merasa sangat tidak adil ada supir yang berani menipu, sementara masih banyak supir angkot lain yang berbuat jujur. Dan alasanketiga, saya sudah tidak ingin lagi menjadi orang yang mendiamkan kesalahan. Saya sedang belajar menjadi orang yang lebih peduli, dan salah satu bentuk kepedulian adalah menegur sesuatu yang salah. Kita sudah terlalu sering membiasakan kekeliruan, mewajarkan kesalahan.

Rasulullah sudah mengajarkan, bahwa jika ada kesalahan, ubahlah dengan tanganmu. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisanmu. Jika tidak bisa, ingkari dengan hatimu, dan itulah selemah-lemahnya iman. Saya memilih yang pertama.

Saya juga belajar dari Anies Baswedan, bahwa negeri ini terus bermasalah bukan karena banyak orang jahat, tapi karena orang baik diam dan mendiamkan. Karena kita sering mewajarkan keadaan, sering menganggap sistem yang salah adalah hal yang biasa.

Sudah saatnya kita berubah. Sudah saatnya kita menjadi lebih baik dan berani mengoreksi kesalahan. Mengatakan yang hitam adalah hitam, putih adalah putih.

————————————————————–

Apa yang telah saya kemukakan tentunya bukan untuk membenarkan apa yang telah saya lakukan, tapi lebih kepada evaluasi. Saya menyadari untuk beberapa alasan, apa yang saya lakukan adalah benar, dan juga salah untuk beberapa alasan yang lain. Yang terpenting saya belajar dan terus belajar