They May Show Who You Really Are

Waktu saya lihat twit ini, saya tidak langsung mengerti.

Saya pikir saya salah baca. Saya baca ulang sampai tiga kali, baru kemudian saya mengerti, lalu mengangguk.

Iya juga.

Kita tidak bisa mengubah orang-orang di sekitar kita, tapi kita bisa mengubah orang-orang di sekitar kita.

Got the point?

Mungkin kita pernah punya keinginan mengubah karakter atau sifat orang-orang yang ada di sekitar kita. Mungkin ada orang-orang yang kita kesal karena harusnya dia ngerti gue dong. Harusnya dia lebih sabar. Dan masih banyak harusnya yang lain. Lalu karena dia tidak pernah berubah, kita jadi selalu mengeluh dan marah-marah.

Pada titik tertentu, kita akan sadar bahwa itu sia-sia. Mungkin kita tidak selalu bisa mengubah karakter orang lain sesuai dengan keinginan kita. Dan ketika kita pun mulai ikut berubah karena mereka, mungkin kita yang harus mengubah lingkaran pertemanan kita.

“Orang itu tergantung (agama) temannya”, kata Nabi Muhammad. “Maka lihatlah dengan siapa kamu berteman”. Sebelum netizen yang senang berdebat soal agama menyosor, bukan maksudnya kita tidak boleh berteman jika berbeda agama. Tapi kalau kita bicara tentang keimanan, kualitas keimanan kita ya tergantung dari siapa kita bergaul.

You are only as good as the company you keep”, tulis Paul Hudson ketika menyoroti kenapa pengusaha besar banyak bergaul dengan pengusaha besar lainnya.

Jim Rohnson juga pernah menulis, “You are the average of the five people you spend the most time with”. Kita adalah rata-rata dari lima orang terdekat kita. Not always exactly like that, but hey, why don’t you check who your closest friends are.

They may show who you really are.

Ayo Kita Kencangkan

Berbagai ekspresi orang-orang melewati Ramadhan yang sudah setengah jalan.

Ada yang senang karena semakin dekat dengan THR dan lebaran.

Ada yang kesal karena kok puasanya masih lama banget kayaknya.

Ada yang kaget karena kok tau-tau udah setengah jalan aja, ibadah saya masih biasa aja.

Ada yang sedih karena ternyata sudah lama tapi target saya kayaknya masih banyak yang belum tercapai.

Ada juga yang biasa aja. Yaa, karena mungkin memang biasa aja bagi dia.

Ramadhan sudah setengah jalan. Coba kita introspeksi diri, apa ekspresi kita mengetahui Ramadhan yang sudah setengah jalan.

Dan dari sana, coba evaluasi lagi.

Ramadhan tinggal setengah jalan; ayo kita kencangkan.

5 Catatan Tentang Sosial Media

Hari ini, 10 Juni, diperingati sebagai Hari Media Sosial.

Sebagai pengguna aktif sosial media, saya mau memberikan beberapa catatan kecil tentang sosial media. 

1. Social Media is A Giant Copy Machine

image

Sosial media dan internet pada umumnya bekerja seperti mesin fotokopi raksasa. Apa yang saya tulis dan posting di platform, otomatis akan tersalin ke server, lalu tersalin lagi setiap kali ada orang yang mengakses dari gadget/pc mereka masing-masing.

So it’s a giant copy machine. Dengan tahu konsep ini, sadari bahwa apapun yang kita posting di sosial media – baik ataupun buruk – sangat berpotensi tersalin ke jutaan bahkan milyaran layar dan terbaca orang lain.

Always think twice before you post anything.

2. Not Everything You See Is True

image

Postingan Pandji di Instagramnya ini sangat menggambarkan poin ke-2.

Tidak semua yang ada di internet benar. Yang punya desain bagus, yang disertai foto dan kutipan tokoh, yang dimulai dengan preambul INFO PENTING DARI KAPOLRI, MOHON SEBARKAN; tidak menjamin sama sekali infonya benar.

Always be sceptical.

3. Good Content Can Always Be Traced to A Source

image

Konten yang benar dan baik selalu bisa dilacak hingga mengarah ke sumber aslinya.

Konten yang punya sumber asli itu sebenarnya simpel. Kalo ada suatu konten yang ingin kamu sebar, pastikan ada link website, penyebutan akun sosmed sumber, atau screenshot yang memperlihatkan sumber asli akun yang mempublikasikan konten itu (contoh gambar di atas dari instagramnya Pandji).

Dengan cara itu, kalau kontennya viral, siapapun selalu bisa melakukan kroscek ke sumber aslinya dan memastikan bahwa konten itu memang berasal dari sana.

Kalau ada konten yang tidak bisa dilacak sumber aslinya, ya jangan disebar.

4. You Don’t Have To Be The Fastest

Jangan jadi “si jari cepat”: orang-orang yang dengan mudah menekan tombol Retweet, Share, atau forward suatu informasi tanpa benar-benar memikirkan dampaknya.

Jangan asal ngejeplak di kolom komentar. Jangan asal sebar padahal baru baca judulnya. Jangan asal copas tanpa benar-benar tahu sumbernya dari mana.

Jadi pertamax di sosial media itu bukan prestasi kok. jadi santai aja.

5. Not Everything Need to Be Shared

Seriously. Ga semua hal di sosial media itu harus disebar kok.

Yang baru-baru ini, saya kesel banget waktu kejadian Bom Kampung Melayu, banyak banget orang yang nyebar foto-foto pelaku yang disturbing picture di grup-grup whatsapp. I mean, really? Apa coba pikirannya waktu nyebarin foto itu?

Ga semua konten harus disebar. Ga semua selfie harus diupload. Ga semua joke receh harus dicopas. Ga semua artikel harus dishare dan dikomentari.

Selalu pikir kembali ketika akan menyebarkan sesuatu di sosial media. Apakah penting, apakah perlu, dan apakah ada manfaatnya.


Itu dia 5 catatan kecil saya tentang sosial media.

Semoga kita semua semakin bijak menggunakan sosial media untuk menyebarkan inspirasi dan kebaikan!


Further read

Pede Aja Dulu

Di timeline twitter tadi pagi, saya menemukan twit ini.

image

Isinya tentang sebuah surat dari kepala sekolah di salah satu SD di Bantul. Surat yang diberikan kepada semua orang tua siswa kelas 6 setelah selesai ujian.

Isi suratnya membuat saya tersenyum dan bangga.

image

Saya setuju dengan salah satu bit Pandji Pragiwaksono di show Mesakke Bangsaku, yang bilang bahwa sebenarnya kunci sukses itu simpel: pede aja.

Banyak talent di industri hiburan yang modalnya ya pede aja. Mungkin skillnya sih ga bagus-bagus amat, tapi ya pede aja dan konsisten berkarya, pada akhirnya bisa sukses juga.

Karenanya, saya setuju bahwa kita harus menjaga kepercayaan diri. Bukan hanya untuk anak-anak; tapi juga untuk teman-teman sebaya dan diri kita sendiri. Iya disiplin harus dijalankan, etos bisa dibangun, dan skill bisa dipelajari. Tapi kepercayaan diri harus selalu nomor satu.

Yang penting pede aja dulu.

Bukan Siapa Siapa

Dulu saya orang yang sangat tidak terbiasa mengucapkan terima kasih.

Dulu saya menganggap rasanya bilang “terima kasih” adalah formalitas verbal yang tidak perlu. Saya tahu jika saya mengerjakan sesuatu, maka itu karena memang kewajiban saya. Jadi toh tak perlu pula dibilang terima kasih. Begitu pula awalnya saya berperilaku pada orang lain.

Saya tetap mengucapkan terima kasih, tapi dengan setengah hati. Ya itu tadi, formalitas verbal.

Makin berinteraksi dengan banyak orang saya makin sadar pentingnya berterima kasih.

Ucapan sederhana yang justru seringkali bermakna luar biasa.

Meski masih seringkali alpa dan tidak peka, saya terus berusaha memperbaiki diri untuk terus mengucapkan terima kasih. Sebanyak-banyaknya. Sesering-seringnya.

Saya ingat dulu selesai sidang skripsi, saya dan Pak Adi Basukriadi – pembimbing saya, bicara berdua di ruangannya. Saya ingat sekali pesan pertamanya selesai saya menyelesaikan tugas terakhir menuju sarjana.

“Kamu harus berterima kasih”, katanya.

“Iya pak. Terima kasih”

“Bukan untuk saya”, potong Pak Adi. “Tapi untuk semua orang”.

Saya terdiam.

“Bukan cuma orang-orang baik karena membantu kamu. Tapi juga orang-orang tidak baik yang bertemu kamu”

Saya terheran sebentar, lalu Pak Adi melanjutkan.

“Karena mereka kamu jadi tahu apa rasanya diperlakukan tidak baik dan tahu apa yang harusnya dilakukan untuk menjadi baik.

Kamu harus berterima kasih untuk semua hal yang pernah kamu alami. Susah senang, bahagia dan kecewa, semua membuat kamu seperti sekarang, apa adanya”

Saya mendengarkan dengan seksama. Pesan pertama saya setelah sarjana.

“Kalo kamu sekarang sarjana, dan juga sampai kapanpun kamu nanti di luar sana, ucapkan terima kasih untuk semua orang.

"Ucapkan terima kasih”, tutupnya.

“Karena tanpa pernah bertemu mereka, kamu bukan siapa-siapa”

You Will Rise

Saya punya geng curhat beranggotakan empat orang yang akrab sejak kuliah. Kami jarang kumpul, tapi sekalinya ngumpul selalu bermakna karena kami problem-based community.

Maksudnya, kami komunitas yang kalo kami ngumpul, berarti salah satu dari kami ada yang lagi punya masalah dan butuh tempat sampah. Itulah kenapa namanya problem-based community, karena kami cuma ngumpul kalo lagi ada masalah.

Biasanya yang jadi sumber obrolan karena punya masalah akan bergiliran. Mungkin bulan ini saya, bulan depan si A, 2 bulan kemudian si B, dan begitu seterusnya.

Yang lucu, seringnya masalah yang kami hadapi sama. Hanya saja datangnya bergiliran.

Kalo bulan ini saya punya satu masalah, maka teman saya akan mengalami hal yang sama. Tapi bulan depan.

Jadinya lucu karena bulan ini saya akan jadi orang yang sangat terpuruk, dan teman-teman saya akan berperan jadi orang-orang yang bijaksana dan mengambil peran menasihati. Menunjukkan sisi positif dari masalah yang terjadi.

Nanti bulan depan, kami berganti peran. Yang tadinya menasihati jadi yang terpuruk. Yang terpuruk sudah move on dari masalahnya, lalu gantian jadi yang bijaksana dan menasihati.

Dan begitu seterusnya.

Dalam obrolan kami, biasanya kami saling menasihati sambil ketawa. Mencoba mencari solusi sambil menertawakan betapa lucunya hidup karena masalah datang silih berganti. Konflik hidup yang selalu naik dan turun semacam komidi putar di pasar malam. Yang saat berputar naik membuat kita happy karena adrenalin memuncak, dan saat turun membuat kita terjungkal lalu mual.

Pergantian peran itu seringkali membuat saya menemukan sudut pandang lain dalam melihat masalah.

Saat kita jadi orang yang punya masalah, dunia rasanya sempit sekali. Hidup ini rasanya tidak adil, dan yang terasa cuma sakit hati.

Tapi begitu kita jadi orang yang sudah melewati masalah, kita bisa dengan enteng jadi orang yang menasihati. Kita bisa melihat dengan jernih bahwa masalah teman kita itu ya solusinya simpel. Kita bisa dengan mudah melihat sisi baiknya, memberi tahu solusinya, dan dengan enteng bilang, “Udah, gini doang kok. Bentar lagi juga selesai”

Masalah sering membuat orang yang sedang menghadapinya kehilangan arah. Itulah kenapa kita butuh teman. Butuh orang yang mau hadir dan siap mendengarkan.

Dan saya percaya, masalah selalu hadir dalam tiga babak.

The begin. The fall. The rise.

Saat kita memulai. Saat kita jatuh. Dan saat kita bangkit.

When you come to the third part, you will learn that problems always make us stronger. Wiser. Better.

Pas kejadian sih ga akan terasa.

Pas kejadian, yang terasa cuma dunia yang sempit, hidup yang tidak adil, dan hati yang sakit.

Tapi nanti setelahnya, you will know. Definitely, you will.

You just have to wait.

You are gonna be a different, much better person.

You will rise.

Line Today Tidak Penting

Hari ini, smartphone kita selalu dibanjiri notifikasi.

Pemberitahuan. Lini Masa. Informasi.

Salah satu yang sepertinya semakin marak dan terkenal, terutama di kalangan anak muda, adalah Line Today.

Berdasarkan laporan tahun 2014 saja, ada 30 Juta pengguna Line di Indonesia, yang berarti tahun ini harusnya bertumbuh jauh lebih dari itu. Saya belum menemukan laporan tahun 2016, tapi asumsi saya angkanya mungkin di kisaran 40-50 Juta pengguna. Bahkan bisa lebih.

Tahun 2016 juga disebut sebagai tahunnya Line di Indonesia: Line diketahui digunakan 3 kali lebih banyak dibandingkan dengan aplikasi messaging yang lain. 2017, bisa jadi angkanya berlipat melihat Line yang semakin gencar beriklan di TV, Youtube, dan media lain.

Kembali ke Line Today, saya jadi tertarik membahas ini karena tuntutan pekerjaan yang harus melek dengan tren digital terkini. Saya sendiri bukan pengguna aktif Line, saya menggunakan Whatsapp sebagai messaging utama, dan jarang sekali membuka Line.

Sekarang, mayoritas pengguna Line memposisikan Line Today sebagai asupan informasi dan hiburan utama di tiap hari. Line memang menyediakan Line Today sebagai kurasi berita terkini dan terhangat dari berbagai sumber berita. Menjadikannya semacam patokan agar tidak ketinggalan informasi terpenting setiap hari.

Tapi benarkah penting?

Saya tahu ini sangat subjektif, but let’s see some of this Line Today post.

Momen dramatis di gunung, Ayu Ting Ting yang semakin kurus, Pak Jokowi selfie, SMA pencetak artis hits, Prilly & Gal Gadot (really?), dan pria di kereta. Ada yang penting?

How about this?

Foto Feby Febiola (saya bahkan lupa siapa dia), Mulan atau Maia (hello?), Rapunzel, Cobaan Raisa saat puasa, Siswi calon teroris, dan reaksi orang Korea coba makanan Indonesia.

YANG MANA YANG PENTING?

I’m not sure how to say this, but really. Saya sedih sekali kalau ada jutaan anak Indonesia yang menjadikan Line Today sebagai patokan berita terhangat dan terpenting hari ini. Karena pada akhirnya Line Today merepresentasikan sentralisasi berita yang tidak representatif untuk banyak orang. Semacam TV nasional.

Berita Jakarta menjadi berita nasional. Berita satu orang artis menjadi berita nasional. Berita tidak penting seperti orang korea coba makanan Indonesia juga jadi berita nasional. Padahal tidak semua berita penting untuk jadi berita nasional.

Tentu ada banyak hal yang bisa didiskusikan tentang hal ini. Tapi untuk saat ini, saya hanya ingin bilang bahwa mungkin kita memang harus sangat selektif dalam menerima informasi. Tidak selamanya tahu banyak informasi itu baik, bahkan mungkin kekurangan informasi jauh lebih baik.

Karena toh ternyata, Line Today saja banyak yang tidak penting.

Mengubah dunia, terdengar seperti sesuatu yang sangat besar.

Tapi semua perubahan besar, semua jargon mengubah dunia, selalu dimulai dari mengubah diri sendiri, dimulai dari pikiran.

“Those who cannot change their minds”, kata George Bernard Shaw, “cannot change anything”.

Mengubah diri, ternyata justru dimulai dari menerima diri kita sendiri, apa adanya.

“The curious paradox is that when I accept myself just as I am”, kata Carl J. Rogers, “then I can change”.

Karena saat kita menerima batasan diri sendiri, saat itulah kita melewatinya.

“Once we accept our limits, we go beyond them” – Albert Einstein

Padang Pasir dan Gunung Batu

3 pekan yang lalu, alhamdulillah Allah kasih saya kesempatan berkunjung ke tanah suci Mekkah dan Madinah.

Saya bisa berangkat ke Arab Saudi karena undangan Islamic Development Bank, mewakili Kitabisa.com. Saya akan cerita lebih banyak soal trip ini di tulisan berikutnya.

Selama kurang lebih 10 hari di sana, saya tinggal di Jeddah. Tapi saya juga menyempatkan pergi ke Mekkah untuk umroh dan ke Madinah untuk ziarah.

Hari pertama, saya berangkat ke Mekkah. Dari Jeddah ke Mekkah, saya naik Uber selama 1,5 jam.

Perjalanan 101 Km ditempuh lewat jalan tol. Mobil terus melaju kencang dan yang membuat saya tercengang, sepanjang jalan pemandangannya sama.

Padang pasir.

image

Gunung batu.

image

Padang pasir lagi.

image

Gunung batu lagi.

image

Dan begitu seterusnya sampai ke kota Mekkah.

Di hari ke-7. saya pun ikut rombongan IDB ke Madinah menggunakan bus.

Dan perjalanan +- 475 Km yang ditempuh selama 5 jam itu pun punya pemandangan yang sama.

Sepanjang perjalanan, di kanan kiri cuma ada padang pasir.

image

Dan gunung batu lagi.

image

Sepanjang perjalanan itu pula, saya memperhatikan dan merasakan, betapa terik dan panasnya kondisi di sana.

Saat saya di sana, suhu rata-rata di atas 38 derajat celcius.

Sepanjang perjalanan itu pula, saya melihat ke luar jendela dan membayangkan 1.400 tahun lalu.

Apa yang dirasakan Nabi Muhammad saat beliau dan sahabatnya melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah? 

Perjalanan jauh di bawah terik matahari. Dengan naik unta dan berjalan kaki. Berhari-hari, dengan perbekalan yang terbatas dan kelapangan hati. Berjalan jauh meninggalkan kampung halamannya sendiri.

Perjalanan itu, meski hanya di atas bus, membuat saya sadar. Betapa besarnya perjuangan Nabi Muhammad untuk berhijrah dan membawa agamanya.

Sementara kita umatnya, masih sering menyepelekan perkataannya. Tidak peduli pesan-pesannya. Dan tidak mau tahu dengan sunnahnya.

Semoga kita terus bisa memperbaiki diri menjadi orang yang lebih baik lagi.

Exciting Era to Learn

Today is an exciting era to learn.

Pernyataan saya mungkin tidak valid – obviously karena saya tidak pernah merasakan hidup di era lain. I’m just 24, and far from experienced. But still, this is a very exciting era to learn! *diulang

Gimana engga coba. Dalam perjalanan pulang naik gojek saja, saya sudah 7 kali melompat dari satu artikel ke artikel lain. Dari baca tips menuliskan ide hingga cara efektif bekerja dalam tim. Saya lagi asik kembali sama aplikasi Medium.
Article-Hopping.

Di Medium, ada sangat banyak tulisan seru, kebanyakan dalam bahasa inggris. Temanya beragam, tapi yang paling banyak saya subscribe tentang startup, creativity, dan personal development.

Dunia internet sekarang benar-benar membuat semesta serasa dalam genggaman. Bagus di satu sisi, karena artinya ada kemajuan besar umat manusia mengelola informasi. Tapi kemudahan ini juga perlahan membuat kita semakin malas untuk belajar.

Logika saya dalam opini ini cukup sederhana. Karena semua informasi mudah ditemukan hanya dengan mengetukkan jempol di layar kaca, perlahan kita tidak mau effort berlebih untuk mengingat dan mencatat. Toh informasi apapun itu, kalaupun lupa, tinggal dicari kembali di mesin pencari.

Saya pernah (sok-sokan) berteori, bahwa sekarang bukan lagi zamannya menemukan teorema. Jika sains dan ilmu pengetahuan diibaratkan piramida, maka semua dasar-dasar pengetahuan telah diletakkan. Di atasnya, sudah tersusun pula penelitian dan penemuan yang mengisi hampir setengah bangunan. Pucuk sisanya, hanya bisa diisi dengan kemampuan manusia menyambungkan satu pengetahuan dengan pengetahuan yang lain.

Istilahnya Steve Jobs,

Connecting The Dots.

Connecting The Dots ini yang memang membutuhkan skillset yang agak berbeda dari generasi sebelumnya. Salah satu skillset terpenting, adalah learning skill: kemampuan dalam belajar

Learning Skill di era digital ini yang harusnya dimiliki semua millennials. Dalam tataran praktis, skill ini mencakup bagaimana caranya mengetikkan keyword efektif di Google, mencari video tutorial di Youtube, menemukan artikel kredibel di Linkedin, mengoleksi presentasi berkualitas di SlideShare, mengisi waktu dengan podcast yang relevan di Soundcloud, dan masih banyak lagi. The list could be endless.

Di era ketika semua orang memiliki informasi, maka yang bisa stand out dan menjadi pemenang, adalah mereka yang bisa menjahit beragam informasi dan menciptakan peluangnya sendiri.

What an exciting era to learn!


Recommended Read about Learning: