Saat sedang menuruni timeline Facebook, saya bertemu postingan ini.

Baca perlahan, dan entah kenapa saya tersenyum sambil berkaca-kaca.

Betapa bahagianya punya hidup yang bermanfaat.

Yang tiap langkahnya adalah aktivitas berbagi.

Yang tiap kalimat yang dituliskannya adalah inspirasi.

Yang adanya ia menjadi pelipur lara untuk mereka yang sedang berduka.

Yang tiap hadirnya bisa menjadi sebab bahagia untuk orang yang bahkan tidak ia kenal sebelumnya.

Terima kasih Ya Allah telah mengirimkan pemimpin teladan penuh kebaikan di tengah-tengah kami.

Terima kasih Kang Emil.

Semoga kita semua bisa meneladani hidupmu yang penuh inspirasi.

Dear Kang @ridwankamil,

Terima kasih telah mengingatkan saya rasanya mendoakan kebaikan untuk pemimpin.

Setiap melihat kang Emil berbicara tentang Bandung, saya selalu mendoakan semoga Allah tak henti-henti mengalirkan kebaikan. Semoga Allah selalu berikan kesehatan dan kekuatan untuk Kang Emil berjuang demi kebaikan. Semoga Allah kuatkan pundak dan hati Kang Emil untuk selalu istiqomah di jalan kejujuran.

Terima kasih sudah menyalakan harapan di Bandung. Karena sinarnya tak hanya terlilhat di sana, tapi juga menjadi lentera yang menyalakan harapan di ratusan kota lainnya di Indonesia.

Terima kasih untuk selalu mengingatkan arti berbahagia.

Terima kasih telah mengajarkan bicara dengan tindakan dan hidup dengan udunan.

Wilujeng tepang taun, kang @ridwankamil. Terima kasih telah memberi tahu rasanya¬†punya pemimpin yang bisa disayangi setulus hati ūüôā

‚ÄúSehebat-hebatnya pemerintah, ia hanya membawa ¼ perubahan. ¼ lagi ada di bisnis, ¼ lagiada di pergerakan masyarakat seperti ormas dan komunitas, dan ¼ lagi ada di
media.


Perubahan besar
hanya bisa terjadi dengan kolaborasi‚ÄĚ


Ridwan Kamil, dalam
bukunya #TETOT: Aku,
Kamu dan Media Sosial
.

Sudahkah kita
menentukan di bagian mana kita akan ambil bagian dalam perubahan?