Saat sedang menuruni timeline Facebook, saya bertemu postingan ini.

Baca perlahan, dan entah kenapa saya tersenyum sambil berkaca-kaca.

Betapa bahagianya punya hidup yang bermanfaat.

Yang tiap langkahnya adalah aktivitas berbagi.

Yang tiap kalimat yang dituliskannya adalah inspirasi.

Yang adanya ia menjadi pelipur lara untuk mereka yang sedang berduka.

Yang tiap hadirnya bisa menjadi sebab bahagia untuk orang yang bahkan tidak ia kenal sebelumnya.

Terima kasih Ya Allah telah mengirimkan pemimpin teladan penuh kebaikan di tengah-tengah kami.

Terima kasih Kang Emil.

Semoga kita semua bisa meneladani hidupmu yang penuh inspirasi.

Masih Mencari

Makin dewasa saya makin paham, hidup punya pilihan-pilihan sulit.

Dari mulai pakai baju apa hari ini, makan malam apa saat buka puasa nanti, hingga jalan hidup macam apa yang mau kita jalani.

Saya ingat salah satu episode paling memorable di serial Avatar: The Last Air Bender.

Judulnya Crossroad of Destiny. Ketika semua karakter berada di ujung persimpangan takdir, dan harus memilih keberpihakan. Menentukan sisi yang diperjuangkan. Menentukan satu pilihan.

Di episode itu, masing-masing karakter mengambil pilihan yang akan mengubah jalan hidup mereka. Selamanya.

image

Tiap detiknya kita berada di persimpangan takdir.

Entah sadar atau tidak, kita selalu berada pada titik-titik kecil pengambilan keputusan dari ratusan pilihan.

Dan makin ke sini, saya juga makin sadar bahwa pilihan hidup bukan cuma hitam putih. Bukan hanya tentang kanan dan kiri. Dan lebih sering lagi, bukan hanya tentang diri kita sendiri.

Pilihan datang dalam berbagai tingkatan. Dan waktu tak pernah mau peduli; jika sudah saatnya, kita harus memilih. Mau tidak mau. Siap tidak siap.

Di titik ini, saya percaya kesiapan untuk memilih hanya akan datang pada mereka yang sudah pernah menyelam jauh ke dalam hati. Menjelajahi pertanyaan dan jawaban ke dalam diri sendiri.

Sementara saya masih di sini.

image

Saya masih mencari.

Jangan Nyusahin Orang Lain

Saya cukup beruntung punya Bapak yang mengajarkan sholat sejak kecil.

Umur 8-9 tahun saya sudah mulai dibangunkan setiap hari untuk sholat shubuh ke masjid.

Kalau melawan, sapu lidi melayang.

Bukan sembarang melayang. Maksudnya melayang ke badan saya, biasanya tangan atau kaki. Buat yang belum pernah coba, pukulan sapu lidi itu perih-perih sedap. Satu lidi aja kalo disabet bikin meringis, ini puluhan lidi yang bersatu padu. Perihnya bukan main.

Bapak saya memang didikannya keras. Dia besar di jalanan dan beruntungnya bisa paham ilmu agama dan berusaha keras mengajarkan kembali pada anak-anaknya.

Saya tidak tahu apakah ini hanya Bapak saya atau orang tua pada umumnya. Bapak saya kalo memberi nasihat itu-itu saja, kalimatnya diulang dengan redaksi yang itu-itu juga. Semacam mantra.

Seringkali kalo mantra sudah diucapkan, saya jengkel sendiri di dalam hati, “iya Pak, iqbal udah tahu, gausah diomongin lagi”.

Tapi mungkin cara itu yang paling tepat untuk mendidik.

Salah satu mantra yang diajarkan pada saya sejak kecil adalah “jangan nyusahin orang lain”.

Saat awal-awal diajarkan sholat shubuh di masjid, saya selalu berjalan ke masjid dengan bermalas-malasan. Dengan memakai sarung, baju koko, dan sendal jepit, saya selalu berjalan dengan langkah yang diseret sehingga menimbulkan bunyi berisik.

Kalo sudah malas-malasan gitu, Bapak saya akan menegur.

“Jalannya jangan diseret. Tetangga lagi pada tidur, kita yang ke masjid jangan berisik. Jangan nyusahin orang lain

Padahal kalau dipikir-pikir, kayaknya ga akan ada tetangga yang bangun terganggu hanya karena suara sendal diseret. Tapi begitulah prinsip hidupnya diterapkan, hingga pada tingkatan yang tidak pernah terpikirkan.

Hari-hari berikutnya, seringkali saya mengulangi hal yang sama, dan akan ditegur dengan mantra yang sama.

Jangan nyusahin orang lain.

Mantra ini juga disebutkan di kesempatan lain. Misalnya saat kita pergi belanja dan membawa mobil, lalu mencari tempat parkir. Bapak selalu mencari tempat parkir yang benar-benar kosong dan tidak menghalangi mobil lain. Karenanya dia seringkali menghindari parkir paralel, meskipun kami harus memutar jauh dan lama mencari tempat yang pas.

Saat ditanya kenapa, mantranya keluar kembali. “Kita mau belanja. Jangan nyusahin orang lain”

Atau setiap kali saya akan berangkat travel ke tempat yang jauh, Bapak akan selalu nanya hal-hal perintilan, macam “Casan udah masuk belum? Dompet udah dibawa? Periksa lagi semuanya”

Lalu keluar kembali sang mantra. Jangan nyusahin orang lain.

Entah kenapa dulu – sebenarnya hingga sekarang – mantra itu benar-benar mengesalkan karena selalu diulang-ulang. Tapi lama kelamaan saya sadar, mantra itu sudah masuk ke alam bawah sadar saya dan tak sekadar jadi mantra. Dia telah berubah menjadi pegangan. Menjadi prinsip.

Kini, kemanapun saya pergi, saya selalu ingat bahwa saya harus ada untuk membantu dan memberikan manfaat. Saya harus ada untuk menjadi solusi.

Jika pun saya belum bisa menjadi solusi, maka saya akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak menjadi masalah. At the very least, saya tidak akan menyusahkan orang lain.

Sambil menulis ini, saya tersenyum sendiri. Terhibur dengan ajaibnya mantra orang tua yang mengesalkan, tetapi akhirnya menjadi salah satu pegangan terbaik dari prinsip hidup yang saya miliki.

Jangan nyusahin orang lain.

Musiman

Entah
kenapa setiap mulai Ramadhan, di hari pertama selalu terucap. “Ga terasa ya,
tiba-tiba udah Ramadhan lagi”
.

Entah
karena waktu memang berjalan cepat atau kesibukan yang kita lewatkan dari
Syawal hingga Sya’ban tidak seberarti itu. Entah yang mana, bagi saya masih
misteri.

Mungkin bukan hanya untuk Ramadhan. Setiap mulai tahun baru, Idul Adha, dan semua momentum yang sifatnya tahunan, rasanya ucapannya selalu sama.

Ga terasa ya.

Lalu tiba-tiba, di hari shaum pertama saya sadar satu hal: saya masih masuk kategori muslim musiman. Ini istilah unofficial yang tercetus di kepala saya sendiri. Gampangnya, muslim yang imannya masih tergantung momen.

Buat saya sendiri masih terasa sekali. Waktu mulai tilawah, kok terasa sekali saya sudah lama ga ngaji. Waktu mulai tarawih, kok terasa sekali saya sudah lama tidak sholat malam.

Makin terasa bahwa benar, iman manusia itu labil. Kadang bertambah, kadang berkurang. Kadang naik, kadang turun.

Dan setelah saya pikir, kayaknya memang sudah fitrahnya manusia.

Itulah kenapa kita diperintahkan melakukan ibadah-ibadah rutin dalam skala besar dan kecil. Yang kalau diteliti, semua ibadah itu memang diciptakan dalam bentuk siklus agar kita selalu terjaga dalam waktu diantara keduanya.

Ada 5 sholat wajib sebagai pengontrol harian. Ada sholat jumat yang didesain sebagai charger pekanan. Ada Ramadhan dan hari raya yang didesain sebagai harinya satu umat Islam sedunia dalam satu tahunan.

Syukurnya, tahun ini kita masih bisa merasakan nikmatnya Ramadhan. Diizinkan kembali ke siklus tahunan, dipersilakan untuk berada kembali di titik atas kualitas iman.

Karenanya jangan disia-siakan. Selagi masih semangat di atas, kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk beribadah sebanyak-banyaknya.

Dan tentunya terus belajar cara agar kita bisa konsisten, dan ga selamanya jadi muslim musiman.

Malu

Saya malu bisa tahan membaca semua novel Dan Brown dan melahap Tetralogi Laskar Pelangi selama berjam-jam, tapi tidak tahan 20 menit saja membaca Al-Qur’an.

Saya malu bisa merasa senang ketika berlari kesana kemari saat main futsal, tapi tidak bisa merasa senang ketika hanya berdiri saja saat sholat tarawih.

Saya malu bisa nyaman berjam-jam streaming standup comedy di youtube, tapi tidak tahan tujuh menit saja mendengarkan ustadz sehabis sholat shubuh.

Saya malu bisa mudah mengeluarkan banyak uang untuk maraton Transformers, How to Train Your Dragon, dan Beta Maluku, tapi susah sekali mengeluarkan sepuluh ribu saja untuk kotak amal.

Saya malu bisa mengunjungi puluhan situs untuk mencari tahu secara mandiri tentang calon presiden, tapi enggan membuka kitab dan bertanya pada ustadz tentang masalah agama yang sepele saja.

Saya malu mau tahu banyak tentang sains dan politik, tapi tidak mau tahu banyak tentang agama saya sendiri.

Saya malu ketika setiap hari peduli terhadap pendapat orang, tapi sering tidak peduli pada pendapat Tuhan.

Saya malu menengadahkan tangan dan berdoa pada Nya hanya ketika sulit.

Dan saya sangat malu,

Saya sangat malu terkadang saya tidak pernah merasa malu,

Atas semua anomali dan kontradiksi,

Atas semua ciri munafik yang muncul di dalam hati.