5 Catatan Tentang Sosial Media

Hari ini, 10 Juni, diperingati sebagai Hari Media Sosial.

Sebagai pengguna aktif sosial media, saya mau memberikan beberapa catatan kecil tentang sosial media. 

1. Social Media is A Giant Copy Machine

image

Sosial media dan internet pada umumnya bekerja seperti mesin fotokopi raksasa. Apa yang saya tulis dan posting di platform, otomatis akan tersalin ke server, lalu tersalin lagi setiap kali ada orang yang mengakses dari gadget/pc mereka masing-masing.

So it’s a giant copy machine. Dengan tahu konsep ini, sadari bahwa apapun yang kita posting di sosial media – baik ataupun buruk – sangat berpotensi tersalin ke jutaan bahkan milyaran layar dan terbaca orang lain.

Always think twice before you post anything.

2. Not Everything You See Is True

image

Postingan Pandji di Instagramnya ini sangat menggambarkan poin ke-2.

Tidak semua yang ada di internet benar. Yang punya desain bagus, yang disertai foto dan kutipan tokoh, yang dimulai dengan preambul INFO PENTING DARI KAPOLRI, MOHON SEBARKAN; tidak menjamin sama sekali infonya benar.

Always be sceptical.

3. Good Content Can Always Be Traced to A Source

image

Konten yang benar dan baik selalu bisa dilacak hingga mengarah ke sumber aslinya.

Konten yang punya sumber asli itu sebenarnya simpel. Kalo ada suatu konten yang ingin kamu sebar, pastikan ada link website, penyebutan akun sosmed sumber, atau screenshot yang memperlihatkan sumber asli akun yang mempublikasikan konten itu (contoh gambar di atas dari instagramnya Pandji).

Dengan cara itu, kalau kontennya viral, siapapun selalu bisa melakukan kroscek ke sumber aslinya dan memastikan bahwa konten itu memang berasal dari sana.

Kalau ada konten yang tidak bisa dilacak sumber aslinya, ya jangan disebar.

4. You Don’t Have To Be The Fastest

Jangan jadi “si jari cepat”: orang-orang yang dengan mudah menekan tombol Retweet, Share, atau forward suatu informasi tanpa benar-benar memikirkan dampaknya.

Jangan asal ngejeplak di kolom komentar. Jangan asal sebar padahal baru baca judulnya. Jangan asal copas tanpa benar-benar tahu sumbernya dari mana.

Jadi pertamax di sosial media itu bukan prestasi kok. jadi santai aja.

5. Not Everything Need to Be Shared

Seriously. Ga semua hal di sosial media itu harus disebar kok.

Yang baru-baru ini, saya kesel banget waktu kejadian Bom Kampung Melayu, banyak banget orang yang nyebar foto-foto pelaku yang disturbing picture di grup-grup whatsapp. I mean, really? Apa coba pikirannya waktu nyebarin foto itu?

Ga semua konten harus disebar. Ga semua selfie harus diupload. Ga semua joke receh harus dicopas. Ga semua artikel harus dishare dan dikomentari.

Selalu pikir kembali ketika akan menyebarkan sesuatu di sosial media. Apakah penting, apakah perlu, dan apakah ada manfaatnya.


Itu dia 5 catatan kecil saya tentang sosial media.

Semoga kita semua semakin bijak menggunakan sosial media untuk menyebarkan inspirasi dan kebaikan!


Further read

Beberapa komentar dari teman-teman tentang Podcast Subjective Episode 3 – Sosial Media Bikin Kita Gila. Tidak menyangka karena omelan saya tentang sosial media tidak hanya didengarkan, tapi banyak juga diamini dan disetujui.

Keresahan yang saya ceritakan ternyata juga jadi keresahan banyak orang. Tentang sosial media yang menyenangkan, tapi bisa jadi memuakkan. Sosial media yang menghubungkan, tapi bisa juga memisahkan. Sosial media yang harusnya jadi tempat berbagi, bukan malah tempat pamer dan mengemis like, comment, dan subscribe.

Afterall, sosial media adalah alat. Sama seperti pisau, sifat pertamanya adalah netral. Baik buruknya kemudian ditentukan oleh penggunanya.

Dan saya bisa yakinkan, meskipun banyak hal buruk di sosial media yang kita temukan, masih jauh lebih banyak hal baik yang bisa kita manfaatkan.

Di tulisan berikutnya, saya akan coba bagikan beberapa cerita bagaimana kekuatan sosial media menciptakan perubahan bagi banyak orang.

Meanwhile, saya mempelajari satu hukum utama agar tetap nyaman bermain di sosial media: tetaplah jujur dan jadi diri sendiri. Tidak mudah, tapi harus diperjuangkan.

Salam kejujuran!

Tulisan lainnya tentang sosial media:

secondeye:

Tiga minggu terakhir, saya ga posting foto apapun di instagram. Keinginan ada, tapi belakangan tiap kali mau posting, saya bertanya dengan diri sendiri, is this really me? Is this what i really want? Post something just to grab people’s like? Mengatasnamakan sharing padahal pamer dan begging?

I mean, come one, dude. Saya merasa aneh karena makin lama merasa larut dalam kehidupan sosmed yang adiktif, tapi banyak kopongnya. And it’s a lie if i don’t expect for likes or comments. Hidup ini kok ya jadi tergantung dengan pengakuan orang

Apalagi lihat temen yang posting selfie, tp captionnya ttg kebijakan hidup. Bilangnya lagi traveling, tp yang ada di frame foto mukanya doang. Masuk sana check in, makan situ check in. People are busy capturing moments, but rarely having time to enjoy it

Well, I’m not saying that I’m not one of them. I am. That’s why here is the real caption for the photo:

“Hidup ini harus bisa seperti pohon besar, akarnya menghunjam tanah, daunnya menggapai langit. Tariannya melepaskan peluh, dan napasnya memberikan teduh”

#instagramforlife #thatshowyoudoit

Ini adalah foto terakhir yang saya posting di instagram.

Foto dengan tulisan yang berisi keresahan saya tentang dunia sosial media. Tulisan yang diamini banyak orang lewat kolom komentar.

Tulisan singkat tadi adalah autokritik yang membuat saya berpikir kembali, bagaimana sosial media mengubah banyak cara pandang kita melihat dunia yang sebenarnya.

Keresahan ini, saya tumpahkan lebih dalam di episode podcast Subjective yang terbaru. Sudah bisa didengarkan di Soundcloud.com/iqbalhariadi, dan baru akan rilis di Tumblr besok.

Join me, and you will listen to my subjetivity.

Muslim.JPG: Berdakwah di Sosial Media

Dari diskusi santai di warung kopi, sebulan yang lalu saya dan sahabat-sahabat semasa SMA memulai sebuah inisiatif sederhana untuk berdakwah di ranah sosial media. Kami membuat media bernama Muslim.JPG. 

Muslim.JPG adalah inisiatif menyampaikan dakwah; nasihat, doa, dan inspirasi muslim melalui gambar. Kami memahami bahwa tren konsumsi konten di sosial media sekarang menjadikan gambar sebagai format utama. Kami melihatnya sebagai potensi untuk berbagi ilmu dan kebaikan. Itulah mengapa namanya Muslim.JPG, seperti file gambar yg berekstensi .JPG.

Aktivitas utama Muslim.JPG saat ini di Instagram (@muslim.jpg), dengan akun pendukung di Tumblr (muslimjpg.tumblr.com), Twitter (@muslimjpg), Facebook, dan Line (@CUX4592I).

Dengan kesibukan masing masing, semua proses kolaborasi dilakukan secara online: melalui whatsapp & Google Apps, dengan proses kurasi konten oleh teman-teman mahasiswa LIPIA yang mempelajari ilmu syar’i.

Bulan ini kami membuat seri #RamadhanDaily, satu nasihat kecil setiap hari untuk menjalani Ramadhan dengan lebih baik. Berisi hal kecil dan sederhana yang mungkin sudah kita tahu, tapi sering kita lupa. Nasihat sederhana untuk menguatkan iman di hati, yang sangat mudah terbolak-balik dalam semangat beribadah.

Tentu kami masih banyak belajar, dan kami sangat terbuka untuk saran apapun. Kami hanya berusaha mengamalkan perintah bagi mereka yang belajar: “sampaikanlah dari-Ku walau hanya satu ayat”. Semoga Muslim.JPG bisa konsisten dan bermanfaat untuk banyak orang.

Salam muslim kreatif!

Sosial Media: Rektor, Twitter, dan Presiden Dalam Bayangan

image

Ada alasan sederhana mengapa saat pemilihan Rektor UI 2014 saya mendukung Pak Rhenald Kasali.

Dari sekian calon Rektor, beliau satu satunya calon yang aktif bermain twitter.

Buat sebagian orang, mungkin ini alasan yang terlalu sederhana. Tapi selama empat setengah tahun saya kuliah di UI, jujur salah satu keresahan terbesar saya adalah: saya tidak pernah bertemu lalu berinteraksi langsung dengan rektor. Rektor kok susah banget ditemuinnya, ibarat pejabat tinggi negara, padahal kantornya tiap hari saya lewatin juga. Saya menjalani masa kuliah di bawah dua rektor berbeda. Dan satu-satunya kesempatan saya bertemu dan berinteraksi langsung dengan rektor adalah saat wisuda. Itu pun hanya berjabat tangan.

Awalnya saya berusaha biasa saja. “Ah mungkin beliau memang orang super sibuk yang tidak ada waktu untuk mahasiswa biasa seperti saya”. Namun saya jadi teringat cerita seorang teman, @siskarestu dari UIN saat kami berangkat ke Sri Lanka untuk World Summit Youth Award.

Saya, @kuntawiaji, dan @peterdraw sebagai rombongan pertama yangg berangkat untuk menerima penghargaan Lendabook bisa pergi karena sponsor BRI Bangga Ber-Indonesia. Sedangkan dia masih harus mencari sponsor lain, bagaimana cara dia mendapatkan dana?

“Dari rektor. Saya ketok pintu, Assalamualaikum. Lalu saya ceritakan tentang World Summit Youth Award, dan beliau menyuruh saya memberi proposal ke bagian keuangan. Dan kami berangkat”

Semudah itu. Sesimpel itu.

Sebenarnya bagian yang paling mengherankan bagi saya adalah tok tok ketok pintu, dan begitu saja dia bisa ketemu rektornya.

Di UI, saya ga pernah punya kesempatan seperti itu.

Entah apa yang salah, tapi bahkan pernah satu kali saya datang ke masjid untuk sholat Ashar. Saat itu sholat jamaah sudah selesai, dan saya menunggu orang lain untuk berjamaah. Saat itu saya melihat ada dua orang plus Pak Rektor sedang berwudhu dan berjalan ke arah saya di tengah masjid. Pikir saya waktu itu, “wah akhirnya punya kesempatan bersalaman dan mungkin ngobrol dengan pak rektor, sholat berjamaah lagi”.

Hanya ada saya di tengah masjid, dan saya bersiap menunggu beliau. Asumsinya beliau tentu mau sholat berjamaah. Dua orang tadi datang ke arah saya untuk ikut berjamaah, ternyata Pak Rektor malah berhenti di bagian belakang. Dan langsung sholat. Sendirian. Di belakangnya ada sang ajudan, berdiri tegak entah ngejagain apa. 

Kembali soal Twitter: Pak Rhenald adalah salah satu tokoh besar yang mau berdialog dengan siapapun di Twitter. Beliau pun menggunakan Twitter untuk menyampaikan gagasan, mengupdate isu terkini, dan terhitung rutin berbagi aktivitas yang sedang dikerjakan. Bagi saya, itu pertanda bahwa Pak Rhenald mau dan siap berkomunikasi dengan cara baru.

Poin saya adalah: saya ingin punya pemimpin yang terbuka. Yang transparan, tidak bersembunyi, dan tidak punya rahasia. Yang mau menceritakan pekerjaannya dan berkomunikasi dengan orang yang dipimpinnya. Aktif di twitter bukan syarat wajib yang harus dimiliki pemimpin, tapi setidaknya menunjukkan keterbukaan. Dan yang terpenting: menunjukkan itikad baik seorang pemimpin dalam berkomunikasi dengan rakyatnya. 

Bisa dipahami jika seorang pemimpin tidak selalu punya waktu untuk bertemu langsung dengan semua orang. Itulah mengapa internet menjadi sangat penting. Twitter dan sosial media lainnya bisa menjembatani komunikasi pemimpin dengan siapa saja. Sosial media membuat yang jauh menjadi dekat, dan yang sulit bertemu jadi tetap bisa bercengkerama. 

Lihat bagaimana Ridwan Kamil memanfaatkan semua sosial media untuk berkomunikasi dengan warganya. Twitter digunakan untuk berdialog dan menerima laporan; Facebook untuk menyampaikan progress pekerjaan; dan Instagram untuk bercerita apapun melalui gambar. Jika ada pejabat yang tidak bermain sosial media karena beralasan sibuk, coba lihat Kang Emil. Kurang sibuk apa coba. Malah justru beliau menjadikan bermain sosial media sebagai salah satu kesibukan utamanya, sesuai dengan poin tadi: rakyat butuh transparansi. Rakyat butuh tahu apa yang telah, sedang, dan akan dikerjakan pemimpinnya. Dengan begitu akan tumbuh rasa memiliki dan keinginan untuk berkontribusi.

Di level negara, coba telisik kembali kenapa banyak yang diprotes dari Jokowi. Menurut saya – Anda boleh tidak setuju – Jokowi banyak diprotes karena banyak yang disembunyikan. Rakyat tidak banyak tahu apa yang sedang dilakukan dan atas dasar apa. Saya tahu tidak semudah itu membeberkan informasi negara, tapi tetap saja banyak kebijakan Jokowi yang terlihat didasarkan pada banyak kepentingan. Dan rakyat tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena seringkali tidak ada pernyataan yang jelas dari Pak Presiden. Tidak ada komunikasi. Akibatnya banyak rakyat yang berprasangka dan menuduh sana sini.

Sosial media bisa menjadi permulaan. Atau masih banyak cara lainnya, apapun itu. Menjaga keharmonisan pemimpin dan rakyat sama seperti menjaga hubungan dengan pasangan: komunikasi adalah kuncinya.

Saya yakin kita ingin punya pemimpin yang mau mendengar dan menyapa. Kita menginginkan pemimpin yang kita tahu pasti bekerja nyata, bukan pemimpin yang  banyak pencitraan tapi bersembunyi di balik bayangan.

Salam gaul dari anak Tumblr

Sosial Media: Airbrush Reality

Sosial media kadang mendorong kita menjadi pemoles fakta.

Di sosial media, kita menyulap realita menjadi terlihat lebih baik dari aslinya. Instagram membuat foto terlihat lebih berwarna dari yang sesungguhnya. Path menyulap setiap momen terlihat lebih menakjubkan dari yang sebenarnya. Twitter membuat kata-kata kita terlihat lebih bermakna dari kenyataannya.

Perhatikan bahwa ada kata “terlihat” di setiap kalimat saya. Artinya, saya tidak mengatakan bahwa momen hidup kita tidak mungkin sebaik yang kita tampilkan di sosial media. Hanya saja, most of the time, kita membuatnya terlihat lebih dari aslinya. Dalam sebuah artikel di Daily Mail, kolumnis Barney Calman menyebut fenomena ini dengan istilah Airbrush Reality

Airbrush Reality secara simpel adalah fenomena ketika kita memoles fakta dengan bumbu-bumbu yang sebenarnya tidak pernah ada. Mengutip Calman, “we make it looked better than it actually is”

Mengapa kita melakukan pemolesan fakta?

Ada dua jawaban untuk hal ini. Pertama, kita ingin terlihat punya kehidupan yang sangat menarik di mata orang lain. Narsisisme dan eksistensi adalah hal yang sangat penting bagi orang-orang di zaman sekarang. Tanpa bercerita melalui sosial media, rasanya tidak ada yang benar-benar terjadi dalam hidup kita. Persis seperti jargon “no pic=hoax” yang populer di kalangan netizen, memamerkan segala hal yang kita alami menjadi penting. Kita takut terlihat membosankan, sehingga pemolesan fakta menjadi wajib dilakukan untuk bisa eksis di pergaulan.

Kedua, karena kita iri dengan apa yang dimiliki dan diperlihatkan oleh orang lain. Kita tidak mau kalah dan ingin juga terlihat setara, bahkan lebih dengan apa yang orang lain punya. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang belajar dengan meniru. Perilaku kita sebagai makhluk yang berkelompok juga menimbulkan rasa tidak nyaman ketika kita terlihat berbeda dengan anggota lain dalam kelompok. Jika semua orang memamerkan barang yang dipakai, makanan di restoran, dan tempat yang dikunjungi, mengapa saya tidak melakukannya juga? Perilaku ini terus mendorong agar kita menjadi bagian dari mayoritas, dalam hal ini, mereka yang memamerkan segala sesuatunya di dunia maya dengan pemolesan fakta.

Pemolesan fakta berbahaya untuk ingatan

Penelitian yang dilakukan oleh Pencourage menunjukkan bahwa pemolesan fakta bisa membuat kita kehilangan memori. Perilaku memoles fakta membuat otak kita mengingat memori yang salah dari fakta yang sebenarnya. Sebagai contoh: ketika kita pergi ke pantai, kita mengambil foto saat sunrise. Langit sunrise saat itu sebenarnya berwarna datar dan biasa saja, tapi kemudian kita mengunggahnya di Instagram, lalu memberikan filter sehingga foto yang dihasilkan terlihat dramatis dengan gradasi langit yang memukau.

Otak kita akan melupakan bahwa sunrise di hari itu (yang kita lihat dengan mata telanjang) berwarna datar dan biasa saja. Memori yang akan tersimpan di otak kita adalah bahwa pemandangan di hari itu dramatis, dengan gradasi langit yang memukau.

Pemolesan fakta membuat kita mengingat kebohongan dan melupakan fakta yang sebenarnya.

Saatnya berhenti sejenak untuk mulai memperhatikan bagaimana kita berperilaku di sosial media. Meskipun sulit, mulailah belajar untuk menggunakan sosial media untuk berbagi setulus-tulusnya. Mulailah belajar untuk bercerita dengan kalimat yang sejujur-jujurnya. Mulailah untuk bercerita dengan fakta yang sebenarnya.

Sosial Media: Munafik

Sosial media kadang mendorong kita menjadi munafik.

Kita di sini, tentu saja termasuk di dalamnya saya sendiri.

Ada saat dimana saya merasa bahwa saya yang ada di dunia maya bukanlah saya yang sebenarnya. Ada topeng yang saya ciptakan. Ada tameng yang saya gunakan.

Sosial media punya satu candu yang membuat kita semua terlena. Namanya kebebasan. Di sini, kita menemukan angin segar yang mungkin sulit kita nikmati di dunia nyata. Kebebasan yang mendemokratisasi cara kita berkomunikasi, dimana kita tidak pernah mengenal kasta. Semua orang setara dan punya kedudukan yang sama. 

Di dunia nyata, mungkin hanya orang sekelas Faisal Basri yang dipercaya bicara tentang ekonomi, dan hanya tokoh semacam Didi Petet yang dibolehkan ceramah soal budaya.

Tapi di sosial media, siapa saja bisa menjadi apa saja dan berbicara tentang apa saja.

The good – and at the same time – dangerous thing about internet, is its freedom.

Masalahnya, angin kebebasan tadi menyegarkan jika dihirup dengan proporsi yang benar. Tapi kalau setiap detik kita merentangkan badan dan menghirup sebanyak-banyaknya, meminjam istilah Sujiwo Tejo, yang ada malah masuk angin.

Di sosial media, orang merasa bebas sebebas-bebasnya karena merasa aman. Orang bisa berani beringas karena interaksi yang terjadi – apapun itu – tidak akan lebih dari sekedar kesal dan mencak-mencak sendiri. Separah apapun saya memaki Anda, Anda tidak akan bisa meninju saya. Kita dan orang yang kita ajak bicara via Facebook, Twitter, Path, apapun itu, dipisahkan oleh layar kaca.

Di sinilah potensi munafik muncul. Meneriakkan apa yang sebenarnya tidak mau kita katakan. Memperlihatkan apa yang sebenarnya tidak ingin kita tampakkan. Memperdengarkan apa yang sebenarnya tidak berani kita bicarakan.

Tweet only things you would say in real life

Ucapkan hanya apa yang benar-benar akan kita ucapkan di kehidupan nyata. 

Jika di dunia maya kita berani mencaci maki presiden, lalu ketika suatu hari dipertemukan langsung dengan beliau kita malah senang bersalaman, itu munafik namanya.

Jika di dunia maya kita berani berdebat twitwar dengan seorang komedian yang satir, lalu saat bertemu malah minta foto bareng, itu munafik namanya.

Jika di dunia maya kita mengkritik habis-habisan kebijakan pemerintah dan meneriakkan kata revolusi, tapi ketika kuliah saja masih datang terlambat, itu juga munafik namanya.

Tidak mudah memang. Tapi menghindari sifat munafik dan menerapkan kejujuran, dapat dimulai dari sesederhana membaca kembali tulisan kita sebelum menekan tombol tweet. 

Meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang saya ucapkan di dunia maya, adalah yang benar-benar akan saya ucapkan di dunia nyata.