Tips Melawan Bosan di Kerjaan + Kerja Sambil Traveling

Bosan karena kerja adalah hal yang sangat wajar.

Apalagi kalau melakukan rutinitas yang sama persis, setiap hari. Ga aneh kalo jadi bosan, motivasi ga setinggi dulu, dan akhirnya produktivitas menurun.

Tapi kalo lagi di bawah kayak gini, kerjaan kan ga berubah. Tetap harus selesai. Trus gimana cara  mengatasinya?

1. Ingat Lagi Visi Bekerja

Apa alasan lo saat memutuskan untuk bekerja? Coba ingat lagi visi dan fokus kerja saat lo pertama memulai karir dulu. Apakah untuk mengembangkan diri, mempelajari skill baru, mengembangkan jaringan baru, atau belajar dari mentor yang tepat.

Kalau lo melatih pola pikir untuk terus berpikir positif tentang visi bekerja, maka lo akan lebih mudah untuk konsisten dalam menjaga semangat bergerak maju.

2. Jaga Pertemanan Sehat

Pertemanan juga super penting, karena pola pikir lo akan sangat dipengaruhi oleh teman-teman yang setiap hari ketemu dan berinteraksi. Bergabung dengan orang-orang yang memiliki motivasi kerja dapat membantu lo buat ikut termotivasi.

Hindari mereka yang sering beripikiran negatif tentang hidup, ngeluh mulu soal kerjaan, atau jelek-jelekin atasan. Ga gampang memang. Tapi ya kita sendiri yang harus membentengi diri dari pikiran yang negatif.

3. Cuti Traveling

Cara lain supaya lo bisa balik lagi termotivasi dan bahagia di tempat kerja adalah dengan mengambil cuti untuk traveling.

Tiap orang pasti punya titik jenuh, dan sangat sangat dianjurkan ketika sampai di titik ini, manfaatin aja waktu buat cuti. Cari waktu dan tempat yang pas buat cabut sejenak dari rutinitas kerja, menghirup udara baru, melakukan pengalaman baru di tempat baru.

Kadang-kadang ga perlu ke tempat yang jauh kok. Bisa juga ke tempat yang dekat, misal kalo lo di Jakarta, ke Bogor atau Bandung mungkin udah cukup. Asalkan kegiatannya baru dan bisa ngerefresh pikiran kita sendiri.

Atau lo juga bisa cari kerjaan yang memungkinkan untuk travel sambil wisata.

Nah, untuk opsi terakhir ini, berikut ini adalah 3 lowongan buat lo yang suka traveling:

Blogger

Di jaman internet ini, bikin blog jadi semakin gampang. Mulailah cari tau gimana cara buat blog, rajin update dan promosi agar banyak orang tau tentang blog lo.

Coba dengan membiasakan untuk menulis ulasan produk atau service di blog lo, atau dengan rajin menulis di platform media lain yang memungkinkan lo untuk menulis apapun.

Pelan-pelan juga mulai bangun personal branding, caranya seperti yang gue pernah tulis di post ini.

Kalau lo sudah punya cukup banyak penggemar, kesempatan lo untuk bekeja sebagai blogger akan semakin mudah.

Fotografer

Buat lo yang suka fotografi, hobi ini bisa menjadi sumber penghasilan juga. Sambil wisata, lo bisa menjual foto hasil karya lo di website stok foto atau jadi kontributor buat media tertentu.

Fotografer ataupun videografer ini kerjaan yang makin banyak banget dicari. Sekarang semua butuh konten. Makanya perlu rajin cari koneksi buat ngenalin hasil karya lo. Aktif di forum, rajin-rajin ikut komunitas. Keahlian lo sebagai fotografer bisa menghasilkan bayaran untuk datang dan memotret di berbagai lokasi wisata.

Penulis

Sambil jalan-jalan, sambil menulis. Lo bisa mengirimkan tulisan ke majalah, koran, dan website yang membuka kesempatan menjadi kontributor atau penulis lepas.

Saat ini kesempatan untuk menulis dan mengirimkan kontribusimu semakin banyak dan gampang dengan terus melesatnya kehadiran media-media baru di Indonesia. Artinya, semakin terbuka pula kesempatan lo buat kerja sambil wisata.


Semoga info diatas bisa membantu lo lebih bahagia dan semangat kerja!

Source: https://id.jora.com

#SIFyse (2): 6 Ide Bisnis Sosial Dari Young Social Entrepreneurs 2016

Di tahun kedua kuliah, saya mulai tertarik dengan inovasi teknologi, khususnya teknologi digital. Dari sana, saya banyak mengonsumsi beragam informasi mengenai dunia social entrepreneurship.

Salah satu artikel pertama yang saya baca adalah bahwa dunia socent mulai menjadi the new cool di kalangan mahasiswa di US; organisasi seperti Social Enterprise Club di Harvard mulai jadi primadona kampus, dan semua orang bicara mengenai bisnis yang menyelesaikan masalah sosial.

Di Indonesia, tren positif ini mulai terasa. Bahasan ini jadi menarik karena social enterprise alias bisnis sosial jadi pertemuan antara bisnis yang menguntungkan dan gerakan sosial yang memberi dampak.

image

Ribuan anak muda mulai tertarik ikutan, dan asiknya, berbagai event seminar, program inkubasi, maupun kompetisi mempermudah ide-ide kita jadi kenyataan. Waktu di kampus, saya rajin sekali ikut berbagai seminar dan kompetisi untuk dapat pengalaman, networking, wawasan, dan pendanaan gratis.

Di event Young Social Entrepreneur kemarin, saya bertemu dengan teman-teman peserta Indonesia yang standout dengan ide-ide kreatif. Dari ratusan aplikasi dari berbagai negara, ada 50 tim terbaik yang diundang ke Singapura dan 14 diantaranya dari Indonesia. Setelah proses pitching, 6 tim terpilih dari Indonesia maju ke tahap berikutnya untuk mendapatkan mentorship, study visit ke socent di negara lain, dan pendanaan.

Di hari terakhir, saya sempat berbagi cerita dengan mereka. Ini dia cerita singkat tentang 6 bisnis sosial yang mereka jalankan.

1. Riliv

image
image

Riliv menciptakan aplikasi untuk membantu dunia psikologi. Singkatnya, Riliv adalah social network yang menghubungkan setiap orang yang memiliki permasalahan pribadi dengan orang-orang berlatar belakang psikologi melalui konseling online.

Riliv jadi solusi untuk orang-orang yang ingin curhat dan menyelesaikan masalah pribadinya. Di aplikasi ini, orang-orang berlatar psikologi yang disebut Reliever akan siap mendengarkan curhat para pengguna dan memberikan solusi terbaik.

Dengan cara ini, Riliv membantu orang-orang untuk bisa mencurahkan masalah pribadi mereka tanpa khawatir identitas mereka akan bocor. Secara personal, Riliv adalah ide favorit saya dimana aplikasi ini sangat berpotensi membawa dunia konseling dan psikologi memiliki dampak yang lebih luas untuk Indonesia, bahkan dunia.

2. Kama Batik

image

Kama Batik diinisiasi oleh tiga perempuan muda setelah melihat masalah di Pekalongan, kota penghasil batik di Indonesia. Banyak limbah batik yang dihasilkan oleh produsen batik yang akhirnya terbuang begitu saja.

Kama Batik mengumpulkan limbah batik dan mengolahnya kembali menjadi berbagai produk seperti kalung, dompet, tas, dan aksesoris lainnya.

3. Iwak.me

image
image

Tim Iwak juga menjalankan ide bisnis yang menarik.

Berawal dari permasalahan di kota Nganjuk, Jawa Timur, tim Iwak melihat adanya kesenjangan masalah dan potensi; 76% angkatan kerjanya menganggur, padahal 88% lahan di Nganjuk masih kosong dan belum dimanfaatkan.

Setelah melalui riset, mereka memunculkan ide budidaya ikan. Iwak menyediakan platform yang menghubungkan investor dengan keluarga pembudidaya ikan; orang-orang di kota yang memiliki dana bisa berinvestasi, sementara dana investasi akan digunakan oleh penduduk Nganjuk untuk membuat kolam-kolam ikan.

Skema menarik ini punya skalabilitas tinggi dan memutus rantai bisnis yang sebelumnya rumit dan panjang. Skema yang juga berpotensi “menggusur” cara investasi konvensional melalui lembaga seperti bank. A disruptive innovation.

4. Cognosente

image

Cognosente terdiri dari anggota tim berlatar belakang chemical engineering.

Mereka melihat bahwa metode tradisional pembuatan garam tidak bisa memenuhi kebutuhan Indonesia, sedangkan petani garam tradisional tidak bisa bersaing dengan garam berharga murah yang ada di pasar.

Cognosente membantu mengefisiensikan proses produksi garam dengan membuat sistem plant desalinasi air laut menjadi garam dan air tawar, serta mengajarkan petani menggunakan teknologinya.

5. Valour Footwear

image
image

Valour adalah brand sepatu yang diproduksi di Bandung. Sepatu valour dibuat dari bahan kanvas berkualitas yang anti air.

Sejalan dengan pengembangan produk, Valour mengusung project SMILE: untuk tiap 10 pasang sepatu yang terjual, sepasang sepatu akan didonasikan untuk mereka yang membutuhkan.

6. Morbi+

Tim Morbi+ terdiri dari tiga orang mahasiswa yang sedang kuliah di Belanda. Ide mereka berangkat dari masalah malnutrisi di Marcos, Sulawesi Selatan.

Dengan latar belakang di bidang teknologi pangan, Morbi+ menciptakan produk makanan bernutrisi berupa biskuit dengan bahan Moringa oleifera

image

Dalam proses produksinya, pengerjaan akan ikut memberdayakan masyarakat sekitar untuk mendapatkan penghasilan. Produk ini diharapkan bisa menjadi solusi nutrisi untuk masyarakat lokal.


Keenam tim tersebut akan menjalankan ide bisnisnya dan berkompetisi kembali dengan 8 tim dari negara lain di babak final, hingga 8 bulan mendatang.

Selain 6 tim tadi, ada 8 tim lain dari Indonesia dengan ide mereka masing-masing.

Menyenangkan rasanya mendengarkan cerita anak-anak asik yang pengen mengubah dunia. Ga ada jaminan ke depan bisnis mereka akan bertahan, tapi ide yang mereka sudah mulai harusnya bisa jadi inspirasi untuk anak muda lainnya.

Obrolan semacam ini harus dibicarakan lebih banyak lagi. Ada pilihan baru untuk anak-anak muda bisa berkarya, menjalankan bisnis yang tidak hanya memberikan kebebasan finansial, tapi juga menciptakan dampak yang membahagiakan.

Kalo kata @achmadzaky, kreativitas dan semangat entrepreneurship itu menular. Karenanya cerita seperti ini harus lebih banyak diangkat, spiritnya harus lebih sering ditularkan.

Just like Einstien said: Creativity is contagious.

image

Pass it on.

#SIFyse (1): Tentang Perjalanan & Bisnis Sosial

Sejak kemarin, saya sedang membaca buku terbaru @pandji, Menemukan Indonesia.

Bercerita tentang perjalanannya melakukan tur dunia untuk pertunjukan standup comedy Mesakke Bangsaku. Pandji menceritakan perjalanannya ke 20 kota, 8 negara, di 4 benua.

Kota di dalamnya adalah kota-kota keren yang selama ini mungkin hanya kita lihat di buku atau film, seperti Sydney, Hong Kong, Berlin, London, Tokyo, dan San Fransisco.

Ditilik dari penulisan, sebenarnya bisa saya katakan bahwa Anda akan kecewa kalau berharap buku ini seperti buku travel pada umumnya. Detil perjalanan tidak terlalu banyak, penggambaran destinasi juga tidak terlalu detil, dan pengalaman travelnya juga tidak banyak yang spesial. Mungkin karena memang perjalanan Pandji ke sana untuk tur standup, sehingga travel ke sana kemarinya bukan tujuan utama. Alasan lain yang sering disebutkan juga adalah cerita perjalanannya akan lebih seru dinikmati di film dokumenternya, yang akan rilis 30 Maret ini.

Tapi yang paling menarik buat saya adalah konsep cerita Menemukan Indonesia. Di tiap kota yang dia kunjungi, Pandji selalu membandingkan apa yang berbeda dari Indonesia dengan kota tersebut, dan apa yang bisa kita pelajari dari kota tersebut untuk Indonesia.

Dan buat saya, konsep Menemukan Indonesia ini yang paling luar biasa. Karena rasanya memang sejauh mana pun kita pergi, rasanya konsep gue tuh orangnya Indonesia banget akan selalu terasa. Hal-hal sepele seperti harus makan nasi atau cebok harus pake air, baru terasa luar biasanya ketika kita ada di negeri orang.

Dan yang terpenting, bahwa sejauh apapun kita pergi, harus selalu ada yang kita bawa kembali dan ceritakan lagi.


Pekan kemarin, saya diundang Singapore International Foundation untuk hadir di acara tahunan mereka, Young Social Entrepreneurs Programme. Singkatnya, YSE ini adalah kompetisi dan inkubasi untuk para social entrepreneur muda mengembangkan bisnis sosial mereka. Dari ratusan aplikasi yang masuk dari berbagai negara, dipilih 50 tim terbaik untuk mengikuti workshop, mentorship, dan pitching selama 4 hari di Singapura.

Bersama @novintt dari Limbahagia.org dan @sannygadafi dari 8villages.com, saya diajak ke Singapura untuk meliput kegiatan para peserta yang didominasi oleh anak muda Indonesia. Dari 50 tim, 14 diantaranya berasal dari Indonesia.

Bisa dibilang, acara ini terhitung dadakan, karena kita berangkat hari Rabu (16/3) dan baru dibriefing @arukmantara dari Edelman (partner YSE) pada hari Senin sebelumnya (14/3).

Dalam 3 tulisan berikutnya, saya akan membagikan cerita dan insight yang saya dapatkan selama perjalanan ke sana. Selama 3 hari, kami berpartisipasi dalam beberapa sesi workshop, melakukan visit ke berbagai social enterprise, dan berdiskusi dengan beberapa social entrepreneurs di Singapura. Serta menceritakan kegiatan kami di twitter dengan hashtag #SIFyse.

Tapi sebelum menceritakan hal yang serius, saya mau ceritakan beberapa hal personal yang saya rasakan selama perjalanan di sana. Setidaknya, buat saya ada 3 hal yang bikin perjalanan ini jadi asik.

Pertama, asik karena alasan yang super simpel: kami diajak naik Singapore Airlines. Karena biasa pake AirAsia atau pesawat low budget lainnya, naik SQ jadi luar biasa enak karena tiga hal: (1) tempat duduk luas, posisi kaki jadi nyaman karena bisa ngejeplak, (2) disediakan TV sehingga bisa nonton selama penerbangan, dan (3) waktu baru berangkat, penumpang dikasih handuk hangat. Waktu pramugari membagikan sambil tersenyum “Hot towel, sir”, saya sempat bingung maksudnya apa. Setelah celingak celinguk lihat orang lain menggunakannya, saya baru tahu

dan ikutan membersihkan tangan dan muka.

Mohon maaf, saya memang senorak itu.

Kedua, asik karena saya bawa koper. Biasanya saya hanya bawa satu carrier besar karena gamau repot bawa banyak tas dan harus ambil bagasi. Saya masukkan semua pakaian, laptop, dan tetek bengek lainnya dalam satu carrier. Tapi kali ini saya bawa koper. Asik juga bisa menggeret koper sepanjang bandara, berasa orang penting yang ada di film-film.

Again, mohon maaf, saya memang senorak itu.

Ketiga, asik karena di perjalanan ini, saya bertemu banyak sekali orang baru. Pesertanya saja beragam luar biasa. Yang dari Indonesia sendiri, ada yang masih mahasiswa, ada yang sedang kuliah S2 di Belanda, dan ada yang sudah bekerja. Mentor dan pembicara, datang dari berbagai negara di Asia. Tiga bulan ke belakang, saya mulai terjebak dalam zona nyaman dan merasa perlu untuk belajar lebih banyak lagi. Karenanya, forum seperti ini jadi penting untuk saya terus mulai belajar dari bawah.

Banyak pelajaran yang saya ambil dan cerita yang saya rasa penting untuk dibagikan agar lebih banyak orang mengenal dunia social entrepreneurship.

Social entrepreneurship memang sedang marak. Business with a cause juga sedang ramai menjadi slogan. Bisnis yang hanya mementingkan profit, biasanya tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya dan tidak bertahan lama. Di sisi lain, banyak misi sosial yang tidak bertahan lama karena tidak bisa mandiri secara finansial.

Social entrepreneurship hadir untuk menjadi jembatan keduanya.

Lalu seperti apa pebisnis sosial yang sebenarnya?

Karena merupakan term baru, banyak definisi yang bisa dikemukakan. Tapi saya setuju dengan Vishnu Swaminathan dari Ashoka India dalam salah satu sesi diskusi.

Bisnis sosial adalah bisnis yang semakin besar profitnya, semakin besar dampak sosial yang dia ciptakan.

Di tulisan berikutnya, saya akan bercerita tentang ide-ide kreatif para peserta YSE yang berasal dari Indonesia. Semoga bisa jadi inspirasi agar lebih banyak anak muda Indonesia menyelesaikan masalah dengan bisnis yang memberikan penghidupan bagi banyak orang.

Salam kreatif!

Terbuka Di Ujung Sana

image

Duduk di tengah ramainya KL Sentral, saya mulai membuka kembali lembaran-lembaran paspor dengan semua cap imigrasinya. Koleksi saya masih sedikit, sejauh ini baru ada tiga negara; Malaysia, Singapura, dan Sri Lanka. Waktu itu sempat transit di Maldives, tapi ya boro-boro mau dicap, saya ga sempat kemana-mana. Pesawatnya cuma numpang isi ‘bensin’ dan saya cuma numpang melongo lihat pantainya dari jendela.

Perjalanan kali ini, saya kembali ke Malaysia, Kuala Lumpur tepatnya untuk urusan pekerjaan. Pertama kali ke sini dua tahun yang lalu, saat transit dalam perjalanan bersama @kuntawiaji dan @peterdraw ke Sri Lanka. Sebuah negara di Asia Selatan yang ga pernah kepikiran untuk didatangi kalau bukan karena berangkat atas nama @lendabook untuk menerima penghargaan di ajang World Summit Youth Award.

Saya ingat waktu itu dalam pesawat ke KL, @kuntawiaji bertanya ke saya, “gimana pertama kali ke luar negeri?”. Saya kemudian cuma diam tak menjawab sambil tersenyum sok cool. Padahal di dalam hati, sebenarnya norak dan excited luar biasa.

Saya sejak kecil ingin sekali jalan-jalan ke luar negeri, meski tidak tahu caranya. Keluarga saya hidup sederhana, sehingga memang tidak pernah terpikir untuk berharap dari orang tua. Saat masuk kuliah tahun 2010, saya melihat teman-teman maupun senior bisa pergi ke luar negeri gratis dengan berbagai cara, ada yang ikut pertukaran pelajar, konferensi, atau kompetisi. Saya pun mulai mencari cara untuk bisa mendapatkan kesempatan yang sama.

Waktu itu, struggle saya terhitung sulit, karena saya tipe salah jurusan yang tidak terpikir mengandalkan wawasan biologi untuk ikut event-event di bidang sains. Makanya waktu itu, setiap hari saya ke perpustakaan dan mantengin akun informasi seperti @tweetkuliah dan @kampusupdate untuk cari kesempatan yang bisa saya ambil.

Dan akhirnya di tahun ketiga kuliah, kesempatan itu datang. Saya bisa pergi ke luar negeri. Tanpa mengeluarkan biaya sendiri.

Secara personal, saya menyesal banyak melewatkan kesempatan ke luar negeri saat kuliah. Kuliah adalah waktu terbaik untuk mencari jalan ke berbagai negara, karena kesempatannya ada banyak. Sangat banyak.

Ribuan event berupa kompetisi, konferensi, maupun seminar memfasilitasi mahasiswa untuk traveling ke berbagai negara di seluruh dunia setiap tahunnya. Selain itu, jika kita bicara soal biaya, status mahasiswa sangat memudahkan kita mencari dukungan finansial dari pihak ketiga. Apalagi gerakan, organisasi, ataupun personal yang mendukung pengembangan pemuda makin kesini makin banyak pilihannya.

Saya sendiri pernah berniat memperpanjang satu semester setelah skripsi, khusus untuk mencari kesempatan ke luar negeri sebanyak-banyaknya. Waktu itu, saya sudah bertekad menyelesaikan skripsi di semester yang sama, tapi ingin menunda lulus untuk ikut segala macam yang bisa bikin saya ke luar negeri. Mungkin karena sudah kuliah terlalu lama, ide ini ditolak mentah-mentah oleh Bapak saya.

Sambil melihat kembali halaman identitas paspor, saya yakin bahwa membuat paspor adalah langkah pertama untuk bisa ke luar negeri. Buat saya, traveling ke luar negeri itu harus bisa dilakukan sesegera mungkin. Bukan untuk pamer atau gegayaan di instagram, tapi percaya sama saya, pergi ke luar negeri akan membuka mata kita tentang betapa luasnya dunia.

Berinteraksi dengan mereka yang berbeda negara dan budaya akan memperkaya khazanah bahwa kita adalah bagian dari warga dunia. Forum internasional itu berbeda. Global citizenship semakin jadi keniscayaan: batas-batas geografis antar negara semakin pudar, interaksi antar-budaya semakin cair, dan kesempatan untuk mendunia semakin besar.

Tengok saja bagaimana perusahaan gokil seperti Uber, Airbnb, dan GrabTaxi masuk dan menggoyang sistem ekonomi kita sedemikian rupa. Jika kita tak siap, bukan tak mungkin kita mengambil keputusan yang salah dan merugikan negara kita sendiri.

Jadi buat saya, nasionalisme itu bukan “negeri sendiri aja belum kelar ngapain jalan-jalan ke luar negeri “ atau “ngapain ngabisin duit ke luar negeri kayak Indonesia ga bagus aja“. Mindset ini, tidak sepenuhnya salah, tapi tidak benar juga kalau diartikan sebagai satu-satunya nilai sehingga menihilkan nilai nasionalisme yang lain. Sama seperti slogan cintailah produk Indonesia, bukan berarti kita sama sekali tidak boleh menggunakan produk dari luar. Yang paling penting adalah, bagaimana kita belajar apa yang ada di luar dan mengaplikasikan dengan konteks yang tepat di negara kita.

Sangat banyak, atau terlalu banyak ide inovasi yang lahir di negara kita karena observasi dari negara-negara yang jauh di luar sana. Perbedaan akan membuat kita melihat dengan sudut pandang baru, dan menciptakan ide dan karya yang baru.

Karenanya, menarik pula melihat metode Pak @rhenaldkasali yang memaksa mahasiswanya untuk ke luar negeri, seperti cerita yang ditulis di buku 30 Paspor di Kelas Professor. Dan langkah pertama yang dilakukan Pak Rhenald di kelasnya, adalah mewajibkan mahasiswa membuat paspor.

Paspor jadi tiket pertama untuk ke luar negeri, dan meskipun kita belum punya rencana mau pergi ke mana, saya sangat menyarankan untuk punya paspor dari sekarang. Buat saya yang tidak pernah berharap orang tau bisa mengajak jalan-jalan ke luar negeri, punya paspor jadi semacam pencapaian tersendiri: saya selangkah lebih dekat untuk bisa ke luar negeri.

Melihat kembali halaman paspor, harusnya lebih banyak anak muda mencari kesempatan untuk pergi dan belajar ke luar negeri. Tidak harus sekolah, kunjungan 2-3 hari akan cukup untuk membuka perubahan yang besar bagi diri sendiri.

Tahun ini, saya punya target untuk bisa ke Eropa atau Amerika. Lewat apa dan caranya bagaimana, saya belum tahu.

Yang pasti, saya tetap membuka mata, telinga, dan rasa. Karena saya tahu dengan usaha dan doa, jalannya akan terbuka di ujung sana.

– KL, 4 Februari 2016