Subjective Talk w/ Choqi Isyraqi​: Ngobrolin Bullying & Titik Balik Berubah

 

Choqi adalah salah satu teman seru berkarya bareng, diantaranya pernah jadi tamu #SubjectiveLive Bandung dan kolaborasi bareng bikin video social experiment Kitabisa.com.

Lanjutkan membaca Subjective Talk w/ Choqi Isyraqi​: Ngobrolin Bullying & Titik Balik Berubah

Subjective Ep 18 – How To Start a Podcast (Live at Anti Corruption Youth Camp)

 

Rekaman saya saat memenuhi undangan KPK untuk mengisi kelas Podcast di Anti Corruption Youth Camp 2017.

Pelatihan yang dibikin KPK ini ngumpulin anak-anak muda dari berbagai daerah dengan output spesifik: bikin internet lebih berisik dengan konten positif dari anak-anak muda

Saya sharing tentang cara saya memulai podcast serta tips praktis, mulai dari proses rekaman, hal yang harus disiapkan, hingga proses distribusi dari pengalaman saya jalanin Podcast Subjective lebih dari 2 tahun.

Episode ini juga bisa jadi referensi untuk teman-teman yang ingin mulai membuat Podcast.

Semoga makin banyak anak muda yang ngeramein scene Podcast Indonesia dengan konten-konten yang asik dan positif.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

Subjective Ep. 17 – End of An Era (My Tribute to David Karp and Tumblr

27 November 2017, menandakan berakhirnya sebuah era.

David Karp, Founder Tumblr, memutuskan untuk keluar dari perusahaan yang dia bangun sejak 11 tahun yang lalu.

Melalui memo yang dia kirimkan ke semua tim Tumblr, David bercerita bahwa keputusannya keluar dari Tumblr adalah hasil proses refleksi yang panjang.

Sebagai fans setia Tumblr dan David Karp sejak lama, saya merasa ini jadi berita penting. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana masa depan Tumblr. Tapi yang pasti, Tumblr sebagai perusahaan akan sangat berbeda setelah ini.

Di episode ini, saya bercerita tentang sejarah dan perjalanan Tumblr, cerita David Karp, dan bagaimana Tumblr menemani saya bertumbuh sebagai seorang pekarya.

Di segmen #JawabDiPodcast, saya cerita singkat tentang cara membuat podcast dan bagaimana kita bisa berhenti membandingkan hidup dengan orang lain.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

https://api.soundcloud.com/tracks/346963859/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Ep 16 – Kebaikan Tanpa Batas

Ketika semua berisik goblak goblok sana sini soal pribumi, ijinkan saya cerita sedikit, cuma 15 menit.

Episode podcast kali ini adalah rekaman saya di Malang, ketika saya menghadiri undangan acara Annual Malang International Peace Conference di Universitas Raden Saleh Malang.

Diminta berbicara tentang perdamaian, saya cerita salah satu hal terbesar yang saya pelajari selama hampir 3 tahun di Kitabisa.com:

Kebaikan itu tidak ada batasnya

Tidak agama, tidak ras, tidak juga batas kota dan negara.

Saya cerita beberapa inisiatif kebaikan orang Indonesia yang melintasi batas-batas tadi dan membuktikan bahwa jauh di dalam hati, kita semua saling sayang dan peduli.

Hanya 15 menit. Episode singkat yang semoga bisa memberi warna damai di tengah sosial media yang hingar bingar dengan konflik dan perpecahan.

Join me, and you will listen to my subjectivity

Podcast Subjective Ep. 15 – Kopdar di Malang Ngobrolin Self Branding

 

Ini hasil rekaman waktu awal Agustus kemarin ke Malang dan bikin kopdar.

Awalnya sih ya beneran iseng aja, mumpung lagi ada acara juga ke Malang. Awalnya ekspektasinya ya paling 2-3 orang, kita ngobrol-ngobrol. Lah ternyata yang dateng banyak!

Akhirnya yaa mau gamau harus ada semacam “acara” nya. Akhirnya saya sharing tentang Self Branding: insight dan pengalaman saya dalam menggunakan sosial media buat personal branding. Saya cerita tentang kenapa self branding itu penting, apa alasan saya main sosmed, dan apa yang saya lakukan selama 3 tahun belakangan buat membangun personal branding.

View this post on Instagram

MALANG! THANKS A TON! Makasih banget yaa buat teman-teman di Malang yang kemarin udah nyempetin dateng Kopdaran Waktu nyampe di Komika Cafe dari bandara, gue udah siap2 mau kerja Ternyata pas baru masuk aja udah ada yang nyapa, dan ternyata beneran pada dateng. Dan rame! Tadinya expect yaa paling yang dateng 4 orang, kita ngobrol-ngobro aja. Ternyata rame sampe 17an orang. Akhirnya jadinya sharing sekaligus rekaman Podcast bareng Makasih ya buat semua waktunya. Ada yang sengaja datang motoran dari Pasuruan. Ada yang nyempetin datang sebelum travel naik kereta jauh. Ada yang mau foto+video in. Bahkan ada yang ga bisa dateng kopdar dan besoknya nyusulin ke bandara untuk ngobrol dan kasih hadiah. Membuat gue berasa Rangga Thanks juga buat @luqmanhanip yang foto-foto dan bikin saya jadi ganteng Manteman, makasih ya keramahannya Thanks for listening to my podcast and being my friend Makasih ya semuanya! #KopdarSubjective #MakasihMalang #ILoveMalang #MalangIdamanku

A post shared by Iqbal Hariadi (@iqbalhape) on

Obrolannya saya rekam. Teman-teman di Malang juga banyak yang sharing, sayangnya pas rekaman ada yang kayaknya ga sengaja pencet tombol rekamannya di tengah obrolan, dan saya juga baru nyadar beberapa saat kemudian. Jadi jangan kaget ya kalo nanti dengerin ada bagian yang hilang 😀

Sharing ini ada slidenya, jadi untuk full experience (tsah) bisa sambil buka slidenya di link ini.

Thanks a ton buat teman-teman di Malang!

Join me, and you will listen to my subjectivity

https://api.soundcloud.com/tracks/333170121/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Ep. 14: Stop Being a Social Media Jerk

Not sure why. But my “angry” content is usually more interesting than others

Ini salah satu contohnya. My another rant, about what I called jerks on social media.

Saya ngobrolin tentang fenomena Afi; tentang public shaming, bullying, dan berbagai etika di dunia sosial media yang seharusnya punya etika yang sama dengan dunia nyata

You will like it. Or you will disagree with it, and probably still like it

Di segmen #JawabDiPodcast, saya menjawab dan beropini tentang bersikap ke pembully, konsisten berkarya, dan kecerdasan anak yang menurun dari ibu

Link ada di bio

Join me, and you will listen to my subjectivity

https://api.soundcloud.com/tracks/325959198/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

#SubjectiveTalk with @novieocktavia & @khairunnisasyaladin: Tentang Menata Kala

Saya pertama kali kenal Novie di Tumblr. Saya sendiri lupa bagaimana detil awalnya saling sapa, tapi pertama kali ketemu langsung bareng @prawitamutia di pernikahan @satriamaulana di Bandung

Novie adalah blogger yang aktif di Tumblr dan sejak lama berkolaborasi bareng Nisa, hingga akhirnya secara indie menulis buku berjudul Menata Kala. Bercerita banyak kontemplasi tentang kehidupan dan waktu

Di #SubjectiveTalk kali ini, kita ngobrolin banyak hal mulai dari mengatur waktu, menjadi muslimah produktif, dan menjadi penulis indie

Join me, and you will listen to my subjectivity

Mau jadi apa?

jungleblog:

Beberapa hari yang lalu saat lagi bosan dengan playlist saya, akhirnya saya menyempatkan diri mendengarkan podcast teman saya
Iqbal Hariadi https://iqbalhariadi.com/ “Random Thoughts Tentang Kuliah, Kerja, dan S2”. Sebenarnya sejak
dengerin, saya udah gatel ingin memberikan respon, tapi karena sok sibuk
akhirnya ketunda deh. Berhubung hari ini saya habis mengikuti briefing
inspirator Kelas Inspirasi Bogor 3, saya jadi terdorong untuk membuat tulisan
yang isinya mengombinasikan apa yang saya absorb dari podcast bung Iqbal dan briefing KIB.

(Oiya, biasanya saya menulis dalam Bahasa Inggris, tapi
berhubung ini sasaran utamanya pemuda pemudi Indonesia, jadi pake Bahasa
Indonesia aja supaya lebih sok asik dan ga malesin dibaca.)

Kuliah, Kerja, dan S2

Overall, saya setuju pada subjektivitas bung Iqbal mengenai
hal ini. Sepertinya ga perlu ditulis ulang semuanya karena nanti kepanjangan. S2
(termasuk beasiswa magister LPDP yang lagi nge-hitz) nampaknya bukan lagi soal
kebutuhan, tapi keinginan atau bahkan gengsi semata. Tak jarang saya mendengar
celoteh teman-teman seperti “Wah, si A udah di [nama negara] aja”, “Wah, gue
kapan ya nyusul si B?”, dsb. To be honest, saya pun termasuk orang yang
terkadang berceloteh seperti itu. Mungkin S2 sudah menjadi panggung unjuk gigi,
bukan karena memang butuh.

Ada juga sih beberapa teman saya yang memang punya niat serius dan tujuan yang jelas untuk S2.

Tentu tidak ada yang salah dengan melanjutkan pendidikan ke grad school. Namun, di atas semua itu, apakah kita yang ingin S2 sudah mengetahui
the big picture kita? Jurusan apa
yang ingin diambil? Mengapa memilih jurusan tersebut? Setelah lulus mau bekerja
apa dan di mana? Apakah lo akan senang melakukannya? Kontribusi apa yang bisa
kita berikan buat masyarakat sekitar?

image

Gambar 1. Susan kalo gede, mau jadi apa?

Cita-cita, Visi, dan Passion

Dari kecil, seringkali orang bertanya pada kita, “Cita-citamu
apa?”. Mungkin cita-citamu saat kelas 1 SD berbeda dengan sekarang dan tak
jarang pula profesi seseorang berbeda dengan cita-cita masa kecilnya. Itu tak
salah, bahkan itu hal yang wajar karena saat kecil kita belum terekspos pada
luasnya dan bervariasinya bidang ilmu serta lapangan pekerjaan yang ada di atas
dan di bawah bumi ini. Pertanyaannya adalah: Pentingkah memiliki cita-cita?

Penting banget! Cita-cita itu adalah harapan dan harapan lah
yang jadi motivasi kita untuk melakukan sesuatu, dalam hal ini belajar: belajar
untuk sekolah, belajar untuk kuliah, belajar dalam berkarir. Idealnya, pilihan kita saat memilih
jurusan IPA atau IPS di SMA, jurusan kuliah S1, dan juga jurusan kuliah S2 didasarkan
pada cita-cita. Saya pribadi, lebih senang membahas “visi hidup”, yaitu hal terbesar yang ingin dicapai dalam hidup lo. Agak berat sih
kalau bicara tentang visi hidup. Setiap orang mengalami proses yang
berbeda-beda dalam mengenali visi hidupnya. Ada yang tahu sejak SMA, ada juga
yang setelah berkali-kali gonta-ganti profesi barulah dia mengenali visi
hidupnya. (Tidak ada yang lebih baik atau buruk karena mengenal visi itu juga
memiliki faktor spiritualitas.) Visi berkaitan erat dengan passion. Dalam kamus saya, passion
adalah suatu hal yang bener-bener lo suka. Saat lo mengerjakan passion lo,
rasanya seperti dilahirkan untuk melakukan hal tersebut sehingga lo ingin
melakukannya seumur hidup.

image

Gambar 2. Passion saya adalah ngepoin satwa di habitat aslinya a.k.a pengamatan lapangan atau ngalap (istilah anak biologi).

Panggilan Darurat!

Indonesia. Apa yang terpikir ketika kamu mendengar nama itu?
Keindahan alamnya? Kekayaan sumber energinya? Keragaman sukunya? Keunikan
budayanya? Atau malah… kasus korupsinya? Bencana asap abadinya? Kebusukan
pemerintahannya? Penegakan hukum yang lemah? You name it, lah.

Ketika kamu memikirkan cita-cita, visi, dan passionmu, sudah
bukan zamannya lagi kamu hanya memikirkan masa depan pribadimu semata. Negaramu
butuh kehadiranmu. Indonesia tidak kekurangan orang-orang pintar. Indonesia
“hanya” kekurangan orang-orang pintar yang mau kembali untuk membangun
bangsanya. Berikut saya copas catatan saya di Facebook beberapa tahun yang
lalu:

Your Own Path

26 Juli 2011 pukul 22:40

Sebenarnya hal ini sudah saya pikirkan sejak lama–sejak saya nonton
digimon episode 50. Hanya saja, saya baru memiliki keinginan untuk menulisnya
dalam notes.

“Everyone should take their own path. Your path is to find more Digimon who
will join us. Taichi’s path, along with the others, is to continue the fight…
But there must be something out there that only I can do.”

— Jyou (Digimon Adventure ep 50)

Jadi, ceritanya itu para anak-anak terpilih di digimon 01 memisah-misahkan
diri. Yang pertama Yamato karena dia lagi kehilangan visi (caelah),
kemudian Mimi dan Jyou, dan seterusnya. Nonton aja deh kalo mau tau
lengkapnya. Awalnya sih saya sebal karena mereka misah-misah, jadi ga kompak
gitu kan kesannya. Namun, setelah saya tonton filmnya sampai habis, their
decision to seperate means a lot for ther victory. Walaupun
kelihatannya mereka berpisah-pisah, ternyata mereka sedang melakukan dan
menjalani visi yang sama, yaitu mengalahkan kekuatan jahat yang merusak dunia
digimon. Dalam menjalaninya, mereka punya peran masing-masing. Yang diberi
karunia untuk bertempur, ya mereka bertempur. Mungkin ada dari mereka yang
tidak terlalu kuat untuk bertempur, tetapi mereka punya bagian juga dalam
mencapai tujuan, yaitu mencari digimon-digimon lain untuk bertempur. Dan tentu
sajaaaaa, di akhir cerita they have their victory.

Terus maknanya apa?

Sama seperti anak-anak terpilih, kita juga mengemban suatu visi global, cuy
: make a better world. Tentu saja tugas itu bukan cuma buat biologist saja atau
sosiologist saja. Tugas itu adalah tugas semua bidang: kedokteran, hukum,
politik, ekonomi, sains, dll. Sehebat apapun scientist, dia tak akan bisa
menggantikan peran seorang pengacara. Setiap orang harus mengerjakan bagiannya
masing-masing karena hanya dialah yang bisa mengerjakan bagian tersebut. Setiap
bagian pun punya ketergantungan pada bidang lain. Field biologist tidak
bisa melakukan penelitian kalau tidak ada orang kantor yang mengurus
keuangan. Dokter sulit mengidentifikasi patogen kalau tidak
ada biomedical scientist. Guru sulit mengadakan ulangan kalau tidak ada abang-abang fotokopi. Jadi, we have to work together in our own path. We have
our own calling, our own vision from God. Our challenge is to find the calling,
our duty is to do the calling.

image

Gambar 3. Cuplikan film Digimon yang inspiratif

Kalau dikontekstualisasi dalam pembahasan saya di blog
ini, visi besarnya adalah membangun
Indonesia
. Banyak sekali loh permasalahan yang dihadapi Indonesia.

Kehutanan dan lingkungan hidup: Bagaimana menekan laju deforestasi? Sudahkah alih fungsi
lahan sesuai dengan peruntukannya? Bagaimana bencana kebakaran lahan dan asap
diselesaikan? Bagaimana mengelola habitat spesies terancam punah secara
efektif? Perang antara pembela hutan dengan perusahaan kelapa sawit, pulp &
paper, dsb?

Energi: Berapa banyak stok bahan bakar fosil yang tersedia? Berapa
persen yang dapat dinikmati rakyat sendiri dan berapa banyak yang diekspor?
Bagaimana meningkatkan efisiensi pembangkit listrik tenaga surya, angin, air,
panas bumi, dsb? Sumber energi alternatif yang ramah lingkungan?

Kesehatan dan farmasi: Sudahkah masyarakat pelosok mendapatkan fasilitas kesehatan?
Bagaimana dengan kebijakan BPJS? Penanganan penyakit endemik? Transmisi
penyakit dari hewan? Biaya kesehatan yang tinggi? Perusahaan obat yang hanya
mencari untung?

Pangan, pertanian, dan peternakan: Bagaimana memberi makan > 270 juta penduduk Indonesia
dengan sumber daya yang sekarang? Berapa banyak lagi hutan akan dikonversi
menjadi sawah? Bagaimana dengan lahan
yang sudah tidak produktif? Bagaimana dengan penggunaan pestisida, organic
farming, hidroponik, dsb? Apakah bisnis makanan di kota-kota besar berlebihan
dan terlalu banyak menggunakan resource?

Pendidikan: Kapan kita memiliki kurikulum yang pasti? Apakah jumlah guru
memadai di sekolah-sekolah pelosok? Apakah siswa mendapatkan kebutuhan belajar
yang cukup? Biaya sekolah yang semakin mahal?

Hukum dan pemerintahan: Undang-undang yang tidak up-to-date? Nenek-nenek “pencuri
kayu” dihukum? Koruptor bisa berleha-leha? Pemda yang berkonflik dengan
pemerintah pusat?

Dan sebagainya……

image

Gambar 4. Bencana asap (Sumber: dari sini)

Terlalu banyak hal yang harus diperbaiki. That’s why saya sering heran sama pemuda pemudi yang masih aja sempet buang-buang waktu untuk hal ga berguna :’) 

WOY, BANGUN! INDONESIA BUTUH LO! 

Kalau kamu masih bingung mau jadi apa setelah lulus, mungkin kamu perlu banyak membaca berita dan mengobservasi lingkungan di sekitarmu. Jadi, rumusnya adalah: temukan passion-mu, perhatikan kebutuhan sekitarmu, kombinasikan keduanya, itulah visi hidupmu. 

Kelas Inspirasi

Buat yang belum tahu tentang Kelas Inspirasi, bisa kunjungi
tautan ini http://kelasinspirasi.org/?page=about. Singkatnya, Kelas Inspirasi adalah gerakan para profesional untuk
mengambil satu hari cuti dan mengajar di sekolah-sekolah dasar tentang
profesinya masing-masing. Mengapa penting?

Oke, sebelumnya saya akan bercerita sedikit tentang saya. Saya lulus tahun2014 dari jurusan Biologi di Universitas
Indonesia. Saat ini, saya bekerja di salah satu NGO di bidang konservasi satwa
liar. Visi hidup saya adalah konservasi biodiversitas Indonesia. Saya ingin
melanjutkan studi S2 di bidang Conservation Biology untuk mendukung karir saya
sebagai wildlife biologist.

Balik lagi ke Kelas Inspirasi. Nah, untuk menyelamatkan
spesies dari kepunahan, saya ga bisa sendiri, men. Saya memerlukan sesepuh di
bidang konservasi untuk mengajari saya ilmu silat dan juga junior-junior yang akan
meneruskan perjuangan saya nantinya. Salah satu langkah kecil yang bisa saya
lakukan adalah bercerita tentang
profesi saya ke anak-anak dengan harapan beberapa dari mereka
yang bercita-cita untuk menekuni bidang konservasi.

image

Gambar 5. Lagi briefing.

Tentu ini bukan hanya tentang konservasi. Di Kelas Inspirasi,
akan ada banyak sekali profesional dari berbagai bidang yang akan berbagi
cerita dan pengalaman. Tujuannya adalah membuka wawasan anak-anak sehingga
mereka berani untuk bercita-cita
setinggi langit! Mereka lah calon-calon pemimpin bangsa setelah generasi kita
(tsah). Ketika mereka terinspirasi, mereka akan berjuang untuk mencapai
cita-cita mereka. Bayangkan kondisi Indonesia jika dipimpin oleh orang-orang
yang berdedikasi tinggi.

Indonesia masih punya harapan. Mungkin kamu salah satu harapan itu.

Catatan teman saya Marsya yang saat ini sedang berkuliah di Queensland, Australia. Worth to read untuk teman-teman yang sedang dan akan galau pasca kampus.

Further Read:

https://api.soundcloud.com/tracks/302813449/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Live Yogyakarta: Ngobrolin Pasca Kampus ft. Kurniawan Gunadi & Fanbul Prabowo

Setelah 2 bulan kembali dari Jogja, akhirnya saya baru berhasil menyempatkan waktu untuk mengedit rekamannya.

13 November 2016, saya membuat #SubjectiveLive kedua di Loop Station YK dengan tamu istimewa: @kurniawangunadi dan @fanbul

Sangat menyenangkan menggali cerita dan diskusi dari dua sohib keren ini.

Masgun dan Fanbul berbagi pengalaman mereka menghadapi kegalauan dan membuat pilihan. Masing-masing dari mereka punya cerita unik dan perjalanan yang menarik.

@kurniawangunadi, adalah salah satu penulis paling populer di jagad Tumblr. Asal Purworejo, kuliah di Bandung, dan berkarya di Jogja. Masgun cerita berbagai pengalamannya; shock culture saat berkuliah di kota besar, menentukan karir setelah kuliah, dan menemukan jodohnya.

Sementara Fanbul, adalah salah satu aktivis hits di Jogja. Meski sudah kenal dari satu tahun sebelumnya, banyak cerita seru dari Fanbul yang baru saya tahu di obrolan ini; tentang masa pendidikannya yang spesial dan perjalanannya berubah dari anak sekolah yang bermasalah jadi aktivis digital yang haus menyelesaikan masalah.

Akan ada dua part dalam obrolan ini. Part 1 untuk obrolan saya dengan mereka, dan Part 2 untuk tanya jawab dan diskusi dengan teman-teman di Jogja.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

https://api.soundcloud.com/tracks/297513386/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Talk with Agus Z – Cerita Hidup Setelah Sekolah, Tanpa Kuliah

Bisa dibilang, ini cerita #SubjectiveTalk yang paling beda dari tamu-tamu saya sebelumnya.

Jika sebelumnya banyak bercerita tentang kehidupan semasa atau pasca kuliah, yang ini justru tidak kuliah.

Namanya @aguszaee, teman yang saya kenal di pelatihan @siaware di Bandung. Agus tipikal joker sunda; rame, periang, dan suka ngabodor. Selama lima hari di pelatihan, saya banyak ngobrol dengan Agus, yang ternyata punya bisnis hits di Bandung: @martabakmonkey.

Dalam obrolan kita, ternyata cerita di balik bisnisnya lebih seru lagi. Lulus dari sekolah, Agus sempat mencoba kuliah dan gagal. Sempat menganggur, Agus akhirnya memutuskan bekerja: pernah menjadi kuli, tinggal lama jauh dari rumah, hingga akhirnya bertemu partner dan memulai bisnis yang sekarang.

Sepulang 5 hari pelatihan – meski mabok perjalanan – saya memaksa Agus untuk mau cerita. Akhirnya kami ngobrol dan rekaman di salah satu kafe di Dago.

Agus bercerita tentang pengalaman hidupnya setelah sekolah, awal mula dia berbisnis, hingga opininya terhadap mereka yang beruntung bisa berkuliah. Satu sudut pandang baru yang menarik untuk kamu yang pernah atau masih berkuliah.

Join me, and you will listen to my subjectivity .