Tidak terasa sudah satu tahun sejak pertama kali episode pertama Podcast Subjective mengudara di dunia maya.

Saya juga baru sadar kira-kira dua minggu yang lalu, waktu @adrianoqalbi merayakan #PAMUltah, dan saya baru ingat, Podcast Awal Minggu-nya Adri yang membuat saya memutuskan saat itu, “oke, emang harus sekarang waktunya”.

Baru kemudian saya cek tanggal rilis episode pertama saya: 16 Agustus 2015.

Keinginan punya Podcast sendiri udah ada dari setahun sebelumnya, simply karena saya juga suka mendengarkan Podcast. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk coba menuangkan keresahan di medium yang baru. Jika selama ini hanya tulisan, maka saya coba untuk bikin medium yang buat saya bisa bersuara lebih bebas, bisa beropini lebih puas.

Selama satu tahun, total ada 14 Episode Podcast Subjective: 8 episode Reguler, dan 6 episode Talks.

Nothing makes me happier than knowing my podcast means something to someone out there. Tiap saya baca komentar/message/tweet yang bilang bahwa Podcast saya berarti sesuatu buat seseorang di luar sana, rasanya saya selalu berkaca-kaca.

Dan satu tahun ternyata ga berasa.

Podcast saya masih belum ada apa-apanya, masih banyak salahnya, masih tidak konsisten polanya.

Tapi saya berani bilang bahwa Podcast ini karya kebanggaan saya. Karya yang saya tahu akan terus membesar dan bertumbuh bersama saya.

Terima kasih telah jadi bagian dari perjalanan selama satu tahun ini

Terima kasih untuk semua yang mau menyempatkan waktunya, membayar dengan kuotanya, dan ikut meramaikan diskusinya

Terima kasih sudah mau menghargai karya saya 🙂


Untuk menandai satu tahun Podcast Subjective, saya mau ngajak teman-teman untuk ikutan bikin episode khusus. Saya mau bikin kompilasi audio dari pendengar Subjective. Bikin voice message 30-60 detik: sebutkan Nama + Asal + Episode podcast subjective favorit dan sebutkan alasannya. Kirim voice message ke line iqbal.hariadi. Voice message favorit akan saya kirimkan artwork desain saya sendiri. Looking forward!


Playlist Podcast Subjective

https://api.soundcloud.com/tracks/273570907/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Podcast Subjective Episode 7: Ketika Youtuber Jadi Cita-Cita

Buat orang yang sering nonton Youtube, lagu Ganteng Ganteng Swag pasti tidak asing. Lagu hip hop yang menyuarakan keresahan para Youtubers tentang industri entertainment, khususnya TV.

“Youtube Youtube Youtube lebih dari TV!

Dan harus diakui, lirik Jovi di lagu ini sangat catchy dan nempel banget di kepala. Terakhir kali saya cek saat membuat tulisan ini, video Ganteng Ganteng Swag sudah mencapai 9,5 Juta view di Youtube.

Yang menyedihkan, video dengan lirik dan adegan eksplisit ini dibebaskan tampil tanpa age restriction atau batasan usia.

Hasilnya?

Waktu saya sedang jalan-jalan di timeline Twitter, saya melihat sebuah video dari akun @hati2diinternet, berisi kompilasi beberapa video lucu.

Diantara bagian dari kompilasi yang dibuat, ada beberapa video anak-anak SD melakukan cover lagu GGS sambil ngomong Fuck pencitraanI don’t give a fuck, dan mengacungkan jari tengah. Beberapa mengucapkannya dengan penyebutan yang kacau, yang menunjukkan bahwa mereka sebenarnya ga ngerti-ngerti amat yang mereka ucapkan. Mereka hanya mengikuti idola-nya.

Tak hanya itu, yang lebih menyedihkan buat saya adalah banyaknya anak-anak yang sok-sokan ngevlog dan bilang secara eksplisit bahwa mereka bercita-cita menjadi Youtuber.

Ya, kamu ga salah dengar. Anak-anak ini bercita-cita jadi Youtuber.


Internet semakin menggila, dan sosial media semakin merambah siapa saja. Tak terkecuali anak-anak dengan beragam usia.

Dan semakin ke sini, gempuran konten negatif semakin banyak dan saya semakin resah, karena anak-anak mengalami krisis idola dan panutan.

Panutan yang ada dan konten yang tersedia, hanya itu-itu saja. Dan inilah alasan kenapa saya gemas dengan orang yang cuma cerita soal cinta. Inilah kenapa seharusnya kita semua bercerita. Inilah kenapa kita semua harusnya membanjiri sosmed kita dengan karya.

Semua keresahan ini, saya tumpahkan di episode Podcast Subjective terbaru.

Saya bercerita tentang riuhnya dunia Youtube, konten negatif vs konten positif, dan memperluas definisi keren untuk anak muda.

Dengarkan di Soundcloud, iTunes, atau download dan jadikan podcast ini teman ngobrol di jalan.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

I have a confession to make, and this may sound so selfish.

But these podcast things, are all about me.

At least initially.

Saya memulai Podcast Subjective untuk “mengobati” diri saya sendiri. Saya tertantang mengeksplorasi cara baru untuk jujur beropini. Saya merasa perlu menyalurkan suara-suara berisik di kepala ini. Dan saya ingin berbagi keresahan serta membangun diskusi.

Tapi dalam perjalanannya, saya tidak menyangka banyak respon positif yang saya terima. Yang paling menyenangkan, banyaknya pertanyaan dan bahan diskusi, baik via Email, Tumblr, Instagram, dan Twitter.

Sayangnya, ada banyak pertanyaan yang belum sempat terjawab lewat tulisan

Untuk itu, saya sedang mencoba format baru untuk Podcast Subjective: 30 menit membahas topik yang ingin saya bicarakan, dan 30 menit sisanya menjawab pertanyaan dan diskusi dalam segmen #JawabdiPodcast.

Dengan format ini, harapannya tiap episode bisa membangun lebih banyak diskusi. Ask me anything, bisa tentang topik yang pernah dibahas, usulan topik baru, atau pertanyaan apapun – yang iseng maupun yang seru untuk didiskusikan. Kirim pertanyaan via Email/Twitter/Tumblr dengan hashtag #JawabdiPodcast.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

Mendengar podcast anda saya ikut tersindir sebagai orang yang bingung mau ngapain setelah lulus kuliah, tahun kemarin setelah wisuda, orang tua saya menyarankan lanjut S2.

Sambil nunggu tes dan diterima saya coba lamar-lamar kerja. Alhamdulillah tapi bikin saya pusing juga, tiap melamar dan interview saya diterima.

Akhirnya saya coba dan kerjanya gak lama karena alasan ga cocok sama lingkungannya.

Ibu saya akhrnya memarahi saya. Dibilangnya jangan coba2 kasian yang lain yg bener2 niat kerja kesempatannya diambil sama kamu yang ga niat serius kerja.

Akhirnya setelah kuliah mulai berjalan saya gak berani coba2 lagi kerja. Padahal temen sekelas saya notabene lebih tua dan sudah punya banyak pengalaman bekerja, saya malu sendiri.

Menurut saya, tidak ada yang terlambat dalam memperbaiki niat. Melihat teman2 saya bekerja akhirnya saya juga mencoba mencari2 kerja. Alhamdulillah juga, akhirnya saya dipercaya menjadi asdos dan bekerja di prodi saya di pasca menjadi tim borang. Sekali pun masalah feenya gak seberapa tp saya senang dengan saya lakukan karena ini salah satu tahap menuju yang saya cita2kan.

Bagi saya pribadi, kuliah S2 bukan untuk gaya2an atau menaikan gengsi. Saya setuju dengan perkataan mas Iqbal. Harusnya kuliah S2 itu bentuk aktualisasi diri terhadap sesuatu yg kita targetkan.

Kembali lagi juga, di mata Tuhan yang dilihat kan bukan seberapa tinggi pendidikan tapi manfaat apa tidaknya yang kita lakukan.

Trims

Submission dari @antarakadabra tentang Podcast Subjective Ep2: Random Thoughts Tentang Kuliah, Kerja, dan S2. Saya masih merasa dunia pasca kampus merupakan topik penting yang masih perlu dibicarakan lebih banyak.

Terima kasih untuk sharing insightnya, semoga dimudahkan jalannya menuju yang dicita-citakan 🙂

https://api.soundcloud.com/tracks/243550284/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Episode 3: Sosial Media Bikin Kita Gila

Satu kali, saya pernah membaca cerita tentang Essena O’Neill. Seorang selebgram berumur 18 tahun asal Australia yang muak dengan kehidupan instagramnya

O’Neill dikenal sebagai artis sosial media yang cantik dan merepresentasikan mode berpakaian yang disukai banyak orang. Wanita yang punya setengah juta followes di instagram ini mulai aktif di blog dan sosial media saat masih SMA, dan lama kelamaan terhanyut dalam dunia sosial media yang penuh kepalsuan. Dia mulai tersiksa dengan semua kepalsuan yang dia rasakan untuk membuat foto yang cantik dan menawan. Dia lelah berpura-pura merasa senang memakai pakaian yang tidak akan pernah dia pakai di kehidupan yang sebenarnya.

Semua terus dia lakukan karena mulai adiktif dengan like yang datang dari ribuan orang. Akhirnya, O’Neill memutuskan untuk mengedit semua caption fotonya dengan kejadian sebenarnya, semisal, “Saya harus mengambil foto sebanyak 50 kali untuk yakin bahwa ini adalah selfie yang disukai banyak orang”, atau “Saya harus menahan napas cukup lama untuk bisa terlihat langsing di foto ini”.

Keresahan yang sama mulai saya rasakan. Tentang berpura-pura dan tidak menjadi diri kita yang sebenarnya. Hanya agar ada orang yang terpesona dan menekan tombol suka sebanyak-banyaknya.

Saya mulai merasa bahwa sosial media bisa membuat kita gila. Atau jangan-jangan kita sudah gila, tapi kita tidak menyadarinya.

Keresahan ini saya tumpahkan sambil bercerita tentang hal-hal aneh yang saya temukan di sosial media. Mulai dari perilaku mereka yang rajin debat di grup whatsapp, penggunaan Path sebagai private social media yang isinya bisa menyebar ke mana-mana, hingga mereka yang rajin foto selfie tapi captionnya tentang kebijakan hidup.

This self criticism may hurt. But believe me, it’s necessary.

Streaming di Soundcloud atau download dan jadikan podcast ini sebagai sohib di jalan atau teman di kosan.

Join me, and you will listen to my subjectivity.


Further listening:

secondeye:

Tiga minggu terakhir, saya ga posting foto apapun di instagram. Keinginan ada, tapi belakangan tiap kali mau posting, saya bertanya dengan diri sendiri, is this really me? Is this what i really want? Post something just to grab people’s like? Mengatasnamakan sharing padahal pamer dan begging?

I mean, come one, dude. Saya merasa aneh karena makin lama merasa larut dalam kehidupan sosmed yang adiktif, tapi banyak kopongnya. And it’s a lie if i don’t expect for likes or comments. Hidup ini kok ya jadi tergantung dengan pengakuan orang

Apalagi lihat temen yang posting selfie, tp captionnya ttg kebijakan hidup. Bilangnya lagi traveling, tp yang ada di frame foto mukanya doang. Masuk sana check in, makan situ check in. People are busy capturing moments, but rarely having time to enjoy it

Well, I’m not saying that I’m not one of them. I am. That’s why here is the real caption for the photo:

“Hidup ini harus bisa seperti pohon besar, akarnya menghunjam tanah, daunnya menggapai langit. Tariannya melepaskan peluh, dan napasnya memberikan teduh”

#instagramforlife #thatshowyoudoit

Ini adalah foto terakhir yang saya posting di instagram.

Foto dengan tulisan yang berisi keresahan saya tentang dunia sosial media. Tulisan yang diamini banyak orang lewat kolom komentar.

Tulisan singkat tadi adalah autokritik yang membuat saya berpikir kembali, bagaimana sosial media mengubah banyak cara pandang kita melihat dunia yang sebenarnya.

Keresahan ini, saya tumpahkan lebih dalam di episode podcast Subjective yang terbaru. Sudah bisa didengarkan di Soundcloud.com/iqbalhariadi, dan baru akan rilis di Tumblr besok.

Join me, and you will listen to my subjetivity.

Ini adalah beberapa tweet dari teman-teman saya tentang Podcast Subjective, terutama episode Subjective Talk with Ario Pratomo.

Yang menarik, beberapa dari mereka tidak saya kenal secara langsung. Tapi somehow, internet mempertemukan kita dan jadi jalan untuk memulai pertemanan. Sungguh menyenangkan, dan saya sangat berterima kasih untuk semua pertemanan ini.

Saya seringkali dapat pertanyaan dari mereka yang ragu mulai berkarya. Gimana caranya berani berkarya? Gimana caranya biar ga takut dicemooh orang?

Jawaban saya selalu: mulai aja dulu. Memulai, adalah satu-satunya cara untuk berkarya. Mulai, dapatkan cemoohan orang, lalu belajar. Mulai lagi, dapat cemoohan lagi, belajar lagi. Dan begitu seterusnya.

Podcast saya sendiri adalah media saya belajar berbicara dan mengenal diri sendiri. Kalau ada kurang di sana sini, saya sangat terbuka untuk semua kritik karena memang itu tujuannya. Tujuannya bukan untuk menghasilkan yang terbaik, tapi untuk selalu menghasilkan yang lebih baik.

Dan percaya sama saya, kita hanya butuh satu orang yang bilang senang dengan karya kita untuk terus maju. Cukup satu. Dan kita jadi punya alasan untuk terus belajar, lagi dan lagi. 


Subjective Behind The Scene on Vloggario

Episode Subjective Talk with Ario Pratomo adalah proses kolaborasi yang asik. Ario bersedia berbagi ilmunya, sementara saya (dengan haircut yang gagal) bisa mejeng di vlog-nya di Youtube. Tonton videonya:

Sampai hari ini, saya belum mengeluarkan episode terbaru untuk 2016. Semoga segera.

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mendengarkan podcast saya. Dan saya masih menunggu kritik, saran, dan pertanyaan tentang apapun. Bisa via Tumblr, tweet ke @iqbalhape, atau email ke iqbalhape@gmail.com.

Please, be subjective!


Further Do:

https://api.soundcloud.com/tracks/234603077/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Talk: Mutia Prawitasari (@prawitamutia)

Pada dasarnya, saya orangnya banyak bicara. Bisa dibilang hobi, bisa juga dibilang bawaan dari sananya.

Salah satu hal yang membuat saya menyukai berbicara adalah saya bisa asik berinteraksi dengan orang lain. Saya sangat menikmati diskusi dan ngobrol santai ala warung kopi. Dan sebenarnya sejak awal, format ideal Podcast Subjective versi saya adalah ketika saya bisa ngobrol sok asik dengan tamu membahas suatu isu.

Di episode biasa, saya monolog membahas suatu isu. Tapi di episode-episode khusus, saya berdialog ala warung kopi. Saya menyebutnya Subjective Talk

Di episode ini, saya ngobrol dengan Mutia Prawitasari, Tumblr Blogger dan penulis buku Teman Imaji yang sukses di jalur indie. Kita ngobrol di selasar FE, setelah Mutia selesai dari aktivitasnya di kampus sebagai asisten dosen di UI. Jangan heran nantinya kalau banyak terdengar suara-suara lain di background. 

Rekaman ini sebenarnya dibuat sudah cukup lama, sekitar tiga bulan yang lalu. Tapi saya baru bisa meluangkan waktu sekarang untuk editing dan ternyata lumayan juga: 40 menit. Tapi saya jamin obrolannya seru; banyak pertanyaan menarik dan jawaban unik.

Kita bicara soal tulis menulis, dunia self-publishing, komunitas Tumblr, sampai pendapatnya sendiri soal kenapa dia seterbuka itu dengan cerita cintanya.

Streaming di Soundcloud atau download dan jadikan podcast ini sebagai sohib di jalan atau teman di kosan.

Join me, and you will listen to my subjectivity.


Further reading & listening:

Further Discussion & Read – Subjective 2 tentang Kuliah, Kerja, dan S2

Unexpected.

Saya sama sekali tidak menyangka ternyata respon terhadap podcast Subjective Episode ke-2 begitu besar.

image

Sangat jauh dari prediksi saya sebelumnya. Tidak hanya jumlah play yang banyak, tetapi juga berbagai feedback saya dapatkan di berbagai channel, mulai dari Twitter, Tumbr, Facebook, hingga pesan pribadi di whatsapp atau Line.

Dari ramainya pembicaraan, setidaknya ada dua hal yang bisa saya validasi.

Pertama, asumsi tentang durasi audio yang bisa didengarkan anak muda Indonesia ternyata salah. Banyak yang mengatakan bahwa durasi 30 menit mungkin terlalu lama dan membosankan untuk membahas suatu isu dalam bentuk audio. Ternyata 90% feedback yang masuk mengatakan sebaliknya. Secara struktur konten dan penyampaian masih (sangat) perlu diperbaiki, tetapi durasi 30 menit tetap ideal untuk dilahap selama isunya asik diperbincangkan.

But still, saya akan (berusaha) mengurangi bahasan yang random.

image

Dan (berusaha) mempersingkat durasi ke sekitar 20 menit. Tidak janji, tapi akan saya coba.

Kedua, topik tentang kuliah, kerja, dan S2 ini ternyata bahasan yang menarik untuk anak muda seumuran saya.

image

Saya sendiri kaget dan agak grogi karena ternyata bukan hanya mahasiswa yang masih kuliah, beberapa senior saya yang sudah bekerja atau S2 juga ikut tertarik mendengarkan podcast ini.

Artinya, persimpangan hidup antara kuliah, kerja, dan S2 adalah keresahan yang dirasakan oleh banyak orang. Bahkan bisa saya katakan oleh semua orang. Hanya saja belum banyak yang mengangkat pembahasan ini ke permukaan karena mungkin terlalu sibuk bicara soal nikah, cinta, dan tata cara move on.

Jika sudah mendengar Podcast Episode 0, maka Anda akan tahu bahwa tujuan utama podcast Subjective bukanlah membuat orang setuju dengan opini saya, tapi memperkaya wawasan dengan membangun diskusi. Dan saya senang sekali ternyata tujuan ini mulai menunjukkan tren yang baik. Beberapa teman sudah mulai membangun diskusi dengan membuat tulisan sebagai feedback terhadap Podcast Subjective.

Di tulisan ini, saya akan mencoba menuliskan beberapa pembahasan lanjutan dari feedback yang masuk berupa pesan maupun tulisan. Setidaknya melalui 3 poin.


1. Keep Your Dream Alive, But Learn to Pivot

Setiap dari kita punya cita-cita semasa kecil, dan cita-cita itu bisa jadi terus berubah seiring pertumbuhan kita menjadi dewasa. Pandangan menarik soal ini bisa dibaca di tulisan @marsyachrs tentang passion dan cita-cita, tetapi satu poin penting: jangan pernah berhenti bercita-cita. Mimpi adalah kompas yang menunjukkan arah kemana kita harus berjalan. Dan cita-cita adalah obor yang memberi keyakinan bahwa kita tidak berjalan di dalam kegelapan.

Namun dalam perjalanan hidup, cita-cita kita seringkali berubah karena dua hal: (1) karena pengetahuan kita berkembang, dan (2) karena situasi dan kondisi sekitar. Sebagai contoh, ada teman saya yang awalnya bercita-cita menjadi dokter militer, tapi saat membaca bahwa perawat lebih dibutuhkan dibandingkan dokter, dia memutuskan untuk mengubah cita-citanya dan berkuliah di Fakultas Ilmu Keperawatan.

Di sisi lain, ada kondisi tertentu yang membuat kita harus mengubah cita-cita kita. Misalnya ingin sekolah kedokteran, tapi orang tua tidak punya biaya dan tidak punya akses informasi tentang beasiswa. Untuk kondisi seperti ini, kita harus siap untuk pivot. Pivot dalam dunia bisnis adalah istilah untuk berbelok arah tanpa kehilangan pijakan awal. Jika diibaratkan dengan berjalan, pivot berarti menggerakkan kaki kanan ke arah lain sementara kaki kiri tetap di tempatnya. Dengan pivot, kita bergerak ke arah yang lain tanpa melupakan cita-cita besar kita di awal.

Tuhan akan menggantikan cita-cita kita dengan rencana-Nya yang jauh lebih baik tanpa pernah kita sangka.

2. Not Knowing Is Part of The Journey

Salah satu komentar yang saya dapatkan datang dari @yuldev, yang tidak setuju dengan poin saya di dalam podcast.

image

Saya setuju dengan ketidaksetujuan @yuldev.

Mungkin saya agak miss dalam penyampaian poin ini di Podcast. Seharusnya saya bilang kondisi idealnya. Kondisi idealnya, pemuda harusnya sudah tahu ke mana arah hidupnya dari jaman lulus SMA. Kenapa SMA? Saya belajar dari budaya di US dan Eropa, anak SMA saat libur summer diharuskan (secara budaya) untuk kerja part time. Tujuannya supaya anak-anak sudah merasakan rasanya bekerja, sehingga saat lulus SMA dia bisa memutuskan akan kuliah atau langsung bekerja.

See, bahkan di sana mereka sudah harus memutuskan untuk kuliah atau tidak.

Tidak semua pekerjaan butuh kuliah, bahkan banyak yang justru tidak perlu kuliah untuk bisa sampai ke puncaknya. Misalnya menjadi penari atau chef.

Meskipun faktanya, yang sukses melalui jalur kuliah jauh lebih banyak dari yang tidak.

Dalam konteks pendidikan di Indonesia, mengenyam pendidikan tetap menjadi pilihan paling ideal untuk bisa tahu apa yang kita inginkan. Kalau bahasanya @yuldev, ya harus nyemplung dulu untuk tahu air itu dingin, dan tahu bahwa dia alergi dingin.

Setidaknya itu yang saya pelajari dari kuliah saya di Biologi UI. Saya masuk biologi karena memang saya menyukai sains dan kehidupan liar. Dan selama 4,5 tahun kuliah, rasa cinta itu bukan berkurang, justru bertambah besar. Tapi dengan terus mencoba beraktivitas di laboratorium, lapangan, dan berbagai aktivitas yang saya lakukan; saya mengetahui bahwa saya tidak bisa berkarir sebagai saintis.

Saya harus mencari cara lain untuk tetap menyalurkan kecintaan saya terhadap dunia ini. Dan saya menemukannya di bidang lain.

Poinnya, jangan pernah takut untuk tersesat. Tersesat adalah bagian dari menemukan, dan tidak tahu adalah bagian dari pembelajaran.

Jangan pernah berhenti untuk mencari. Keep looking, don’t settle.

3. Semua Tentang Pilihan

Semua bahasan ini adalah pilihan.

Tidak ada kebenaran absolut untuk semua orang. Steve Jobs bisa jadi sukses karena drop out, tapi kondisinya mungkin berbeda jika kita yang ada di sana.

Jalan satu orang belum tentu jalan yang lain. Ibarat tujuan, semua orang bisa mencapai tujuan yang sama dengan jalan yang berbeda-beda.

Andrea Hirata bisa jadi sukses karena S2, David Karp karena dropout SMA, dan Jim Carrey karena langsung bekerja. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Semua tentang pilihan.

Kuliah, kerja, dan S2 adalah jalan yang pada dasarnya mengarahkan pada tujuan yang sama. Yang membuat mereka berbeda datang dari kita: kerja keras, konsistensi, dan tekad baja.

Dan jangan lupa doa.

Karena Tuhan selalu tahu. Dia tahu, tapi menunggu.


Further reading tentang kuliah, kerja, dan S2:

Terima kasih sudah mau berbagi. Semoga bermanfaat 🙂

Subyektif Saya tentang Subjective Episode 2 Iqbal HP (Random Thoughts Tentang Kuliah, Kerja, dan S2)

ammarjasir:

Sebenarnya pada malam kamis ini saya mau menulis tentang film 3 yang barusan saya tonton, ada beberapa kesan yang menurut saya perlu diabadikan dalam tulisan dari film itu. Tapi begitu membuka laptop dan menjelajah sebentar, saya menemukan sebuah audio ‘kultum’ (kuliah tigapuluh menit) Bang Iqbal HP atua yang di sebut Podcast, yang cukup menarik. Sebuah rekaman suaranya pagi tadi, cukup random, tapi menarik sekali. Random karena bahasan yang disampaikannya tidak dipersiapkan sebelumnya, tapi menarik karena spontanitas penyampaiannya, dan juga tema yang dibawakan membuat saya tidak bisa menolak untuk mendengarkannya. 

Sebelumnya saya mau bercerita dulu soal bang Iqbal HP ini, yang buah pikirnya bisa ditemui di https://iqbalhariadi.com/ . Bang Iqbal adalah mahasiswa Biologi UI angkatan 2010, yang kini bekerja di kitabisa.com dan juga beberapa aktifitas lainnya di luar itu. Saya bertemu pertama kali dengannya sekitar tahun 2013, ketika bergabung di HIPMI UI. Ada beberapa aktifitas yang kami pernah lakukan bersama dan itu menyenangkan. Saya belajar banyak dari bang Iqbal, pada banyak hal kami memiliki ketertarikan di bidang yang sama. Saya menilai bang Iqbal adalah orang yang memiliki loncatan pikiran dan ide yang seru. Gagasan dan buah pikirnya seperti meletup-meletup di dalam kepala, ditambah pembawaannya yang selalu bertenaga, katanya dulu saat masih SMP suka berantem. Hehe lho ko jadi bahas bang Iqbal? ya gapapalah, biar teman-teman sekalian tau, bagi yang belum tau. Mengenal  dan berdiskusi dengan bang Iqbal, bagi saya merupakan suatu pengalaman yang asik.

image

Kembali ke audio bang Iqbal, yang pada episode ke-2nya mebahas mengenai dilema yang banyak dialami mahasiswa, termasuk juga saya. Kuliah, kerja, S2. Perihal 3 hal tersebut, saya kira banyak sekali diskusi dan pembicaraan, baik dari seminar pasca kampus, atau pembicaraan di kantin dan tongkrongan mahasiswa. Tapi kali ini bang Iqbal memberikan sudut pandangnya mengenai hal ini, yang saya rasa perlu sama-sama kita pikirkan. 

Yang pertama tentang masa kuliah yang masih banyak tersia. Masa di mana seharusnya kita menemukan mau jadi apa

melakukan apa kita setelah lulus. Sehingga apa yang kita lakukan pada masa kuliah, mengarah kepada hendak melalukan apa kita setelah sudah tidak kuliah, tentu dengan bekal ilmu yang kita dapatkan pada masa kuliah. Namun banyak terjadi setelah lulus lulusan kampus bingung melakukan apa. Akhirnya banyak yang hanya ikut tren, cari beasiswa, ambil S2 ke luar negeri, atau buka bisnis. Tidak ada yang salah memang. Tapi andai saja semuanya telah dipikirkan dan dipersiapkan sejak kuliah, maka akan menjadi lebih baik. 

Mencoba merefleksi kepada diri sendiri, saya pun merenungi hal ini. Posisi di mana secara akademis, di disiplin ilmu yang saya tekuni, saya tidaklah begitu baik. Sedangkan dalam dunia bisnis, beberapa telah saya coba, belum maksimal. Antara saya yang belum sungguh-sungguh, atau memang saya tidak begitu cocok berjualan, atau malah gabungan keduanya. Dengan keaadaan tersebut, pikiran mengenai kemana saya setelah kuliah sempat mampir. Tapi yang lebih parah adalah saat pikiran mengenai apakah saya bisa menyelesaikan kuliah. Itu adalah titik paling pesimis sih. haha

Di luar itu, saya sedang enjoy mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang banyaknya tidak berkaitan sama sekali dengan dunia kuliah saya. Mungkin ada, tapi sedikit. Tapi itu sebenarnya bukan masalah. Saya menafkahi diri dan mendapatkan kepuasan batin dari pekerjaan desain dan beberapa proyek kesenian lainnya. Hal ini kemudian yang membuat saya bersyukur, saya masih mempunyai harapan tentang apa yang hendak saya lakukan setelah masa kuliah berakhir. Paling mentoknya adalah saya melanjutkan aktifitas ini, mungkin lebih banyak belajar lagi, mencari spesialisasi saya. Saya pernah sedikit memabahas mengenai hal ini beberapa waktu lalu di 

What do you do when you are good at something but not good enough? 

Kembali ke audio, ada bahasan menarik tentang bisnis. Mindset yang sempat saya aminkan sekian lama, hingga kemudian pikiran saya menjadi lebih terbuka. Bagian ini cukup mengena karena apa yang dialami bang Iqbal sempat saya alami juga. Keadaan di mana saya sangat meyakini bahwa menjadi pengusaha atau berbisnis, merupakan satu-satunya jalan terbaik menempuh hidup, jalan paling terang menuju bahagia, menafikan jalan lain. Hal itu cukup menyesatkan di mana dengan mindset demikian saya sempat terjebak dalam situasi yang sulit yang saya paksakan, padahal sebenarnya saya tidak begitu menikmatinya. Tidak ada yang salah menjadi pekerja untuk orang lain, tidak ada yang salah dengan profesi apapun dan dibawah siapapun, selama itu halal dan baik untuknya. Sayapun demikian, malah kini lebih enjoy bekerja membantu orang lain. 

Ada banyak sudut pandang menarik lagi sih. Saya tidak bisa menyampaikan semuanya di sini, dan mungkin bisa didengarkan langsung ‘kultum’ Kuliah tigapuluh menitnya di bawah ini. Thank you bang Iqbal, telah sukses mengalihkan malam saya, sehingga baru ingat harus ngerjain tugas buat UTS besok pagi. haha Tapi tak apa sih, jadi tambah semangat ngerjainnya, biar cepat kelar juga nih masa-masa sulit. Haha Mohon doanya : )

https://soundcloud.com/iqbalhariadi/subjective-episode-2-random-thoughts-tentang-kuliah-kerja-dan-s2

Di awal membuat Podcast Subjective, saya bahkan ga yakin ada yang mau mendengarkan. Ternyata ada yang mendengarkan, share, dan komentar. Makanya saya tambah kaget saat dapat notifikasi dari @ammarjasir membuatkan tulisan.

I can’t say anything but thanks.

Ammar ini adalah teman super kreatif yang berbaju kriminologi tapi berjiwa seni. Makanya di profilenya, dia mengaku sebagai mahasiswa DKV: Desain Kriminologi Visual. Beberapa desain asiknya bisa dilihat di instagramnya @mmaryasir.

Masalah salah jurusan dan mindset bisnis mungkin banyak kesamaan antara saya dan Ammar. Makanya bisa langsung relate dengan obrolannya. Selamat menikmati hari ini dan memikirkan masa depan :D.

Terima kasih sudah memulai diskusi dari Podcast Subjective. This is exactly what I want to make. Podcast Subjective dibuat untuk mengangkat keresahan yang mungkin selama ini cuma dipendam. Podcast ini juga dibuat untuk mengangkat obrolan warung kopi menjadi lebih banyak dibicarakan anak muda di dunia digital. Nantinya setiap komentar dan opini yang saya dapatkan dari tiap episode Subjective akan saya angkat kembali dalam tulisan untuk menjadi bahan diskusi. Harapannya anak muda, terutama di Tumblr, bisa membicarakan banyak hal yang lebih produktif.

image

Untuk yang belum mendengarkan episode ke 2 Subjective, saya bicara soal kuliah, kerja, dan S2.

Dengarkan atau Download di Soundcloud.com/iqbalhariadi.