Feedback from @yuldev: dibaca sukur ga dibaca sukurin.

oke bang, jadi ini surat ketiga yang gue kirim (gue sejujurnya gatau ini gue pake fitur apa sih submit? never use it before) ke tumblr academicus. dan pasti, pasti suratnya dikirim abis dengerin podcast lo. dan karena gue udah 1 jam lebih 11 menit dengerin lo beropini tentang berbagai hal, izinkan gue beropini tentang podcast lo, please …

sumpah bang podcast lo ga jelas asli.

dan jangan tersinggung dulu, kalo boleh jujur, dari semua podcast lo (yang ada berapa sih? 5 yah?) yang punya alur paling jelas tuh cuma kalo ada bintang tamu kayak waktu sama mas adri? mbak mutia dan mas ario? ( itu kan namanya yah?) dan yang paling gajelas itu waktu lo ngomongin kalo sosmed bikin orang-orang jadi gila dan bisa dimaklumin karena itu lo rekaman jam 1 pagi (like what?). seriously gue kayak dengerin temen gue curcol ini lucu banget. 

tapi di sisi lain, dari semua ke gak jelasan itu (yang mungkin bisa gue pahami karena ini bukan acara tv yang ada proofreading nya dulu kali yah) gue bingung kenapa gue masih nunggu2in podcast lu yang baru. Apa lo pake sihir dari kerajaan jin di Alas purwo gue gatau, mungkin karena lo mengangkat tema-tema yang dianggap tabu dan dikupas setajam silet? atau hipotesis gue adalah lo mengangkat isu isu yang relate-able buat anak muda jaman sekarang yang bener banget kata mas adri di podcast lo kalo kegelisahan anak muda jaman sekarang tuh bukan cuma tentang cinta cintaan, dan lo nge-capture itu semua dgn baik di podcast lu. Dan karena setiap gue dengerin podcast lo, gue ikut berpikir, otak gue ikutan menyetujui argumen lo dan otak gue bisa juga membangun argumen untuk kontra dengan lo.

pada intinya yang gue tangkep adalah, orang-orang kayak gue, pendengar lo ini, sebenernya emang ga dapet jawaban dari kegelisahan mereka, (karena lagi-lagi podcast lo sebatas opini yang bukan dilandasi oleh suatu kepastian ya kan?) tapi mungkin orang-orang kayak gue dan puluhan, ratusan, atau ribuan pendengar lo emang bukan berharap untuk mendapatkan jawab dari denger podcast lo. mungkin orang-orang kayak gue ini cuma butuh orang untuk diajak bicara aja gitu soal kegelisahan mereka, karena sumpah mengungkapkan rasa kegelisahan menjadi sebuah kata, tulisan atau ocehan bermakna itu sulit, dan lo mewakili pendengar lo untuk mengungkapkan itu semua. 

so good luck for your next project whatever it is. dan minta rekomendasi podcast indonesia lain dong bang karena lama kalo nungguin lo update 1 bulan sekali 😦 – @yuldev

Thanks a ton @yuldev untuk feedbacknya!

Terima kasih sudah mendengarkan Podcast Subjective dan memberikan feedback yang pedas-pedas asam manis! Feedback semacam ini yang saya tunggu biar saya bisa improve lebih baik lagi 🙂

Sebagai catatan, saya sangat setuju bahwa untuk saat ini kualitas teknis, alur pembicaraan, dan cara saya menyampaikan ide masih bolong sana sini. Masih banyak yang kurang dan tetap ada yang menyempatkan waktu dan kuotanya untuk mendengarkan, saya sangat berterima kasih sekali.

Saya masih belajar dan akan terus memperbaiki kualitasnya. Karenanya, mulai episode berikutnya, saya berencana untuk sedikit mengubah format dan frekuensi. Saya akan coba untuk konsisten rekaman podcast tiap 2 pekan sekali.

Untuk rekomendasi podcast, sebenarnya makin ke sini makin banyak Podcast berbahasa Indonesia yang bisa didengarkan. Bisa coba disearch di soundcloud.

Tapi untuk rekomendasi, karena keterbatasan waktu, saat ini saya hanya bisa merekomendasikan 2 Podcast yang benar-benar saya dengarkan:

  1. Podcast Awal Minggu – @adrianoqalbi, standup comedian yang membahas berbagai isu dari sisi komedi. Pernah jadi tamu juga di Subjective Talk.
  2. Podcast Appscoast – Indonesian Startup Podcast, berisi interview dengan expert dan praktisi startup digital di Indonesia.

Sisanya saya sempat mendengarkan Absurdtive Talk by @kitajabar, The Rain Is Falling by @hujanmimpi, Podcast Perempuan by @veskadinda, Podcast Keriba-Keribo by @keribakeribo, dan Kita Radio milik @tumbloggerkita. Bisa coba didengarkan dan dipilih sesuai selera 🙂

Thanks again!

Mendengar podcast anda saya ikut tersindir sebagai orang yang bingung mau ngapain setelah lulus kuliah, tahun kemarin setelah wisuda, orang tua saya menyarankan lanjut S2.

Sambil nunggu tes dan diterima saya coba lamar-lamar kerja. Alhamdulillah tapi bikin saya pusing juga, tiap melamar dan interview saya diterima.

Akhirnya saya coba dan kerjanya gak lama karena alasan ga cocok sama lingkungannya.

Ibu saya akhrnya memarahi saya. Dibilangnya jangan coba2 kasian yang lain yg bener2 niat kerja kesempatannya diambil sama kamu yang ga niat serius kerja.

Akhirnya setelah kuliah mulai berjalan saya gak berani coba2 lagi kerja. Padahal temen sekelas saya notabene lebih tua dan sudah punya banyak pengalaman bekerja, saya malu sendiri.

Menurut saya, tidak ada yang terlambat dalam memperbaiki niat. Melihat teman2 saya bekerja akhirnya saya juga mencoba mencari2 kerja. Alhamdulillah juga, akhirnya saya dipercaya menjadi asdos dan bekerja di prodi saya di pasca menjadi tim borang. Sekali pun masalah feenya gak seberapa tp saya senang dengan saya lakukan karena ini salah satu tahap menuju yang saya cita2kan.

Bagi saya pribadi, kuliah S2 bukan untuk gaya2an atau menaikan gengsi. Saya setuju dengan perkataan mas Iqbal. Harusnya kuliah S2 itu bentuk aktualisasi diri terhadap sesuatu yg kita targetkan.

Kembali lagi juga, di mata Tuhan yang dilihat kan bukan seberapa tinggi pendidikan tapi manfaat apa tidaknya yang kita lakukan.

Trims

Submission dari @antarakadabra tentang Podcast Subjective Ep2: Random Thoughts Tentang Kuliah, Kerja, dan S2. Saya masih merasa dunia pasca kampus merupakan topik penting yang masih perlu dibicarakan lebih banyak.

Terima kasih untuk sharing insightnya, semoga dimudahkan jalannya menuju yang dicita-citakan 🙂