Yang Abadi

Hidup berubah. Lagi.

Sebagai anak muda yang emosinya juga masih suka berubah, perubahan rencana hidup yang juga secara konstan terjadi bikin saya sering keteteran. 

Kayaknya banyak deh yang merasakan hal yang sama. Firasat saya sih ini masalah umum untuk anak muda. Atau mungkin bukan cuma anak muda, tapi masalah semua orang berapapun usianya.

Masalahnya, di buku-buku ga pernah diajarkan: hidup itu memang begitu tabiatnya. Berubah sana sini tanpa aturan, suka suka dia. 

Di TV dan sosial media juga ga ada petunjuknya. Dari timeline mah yang ada cuma bahagia, hidup kayaknya isinya cuma ketawa dan hura hura. Padahal kita semua tahu ga begitu aslinya.

The fact is: yes, life is constantly changing. Embrace it. Seperti kata Chief Bogo di Zootopia.

Itulah kenapa teori Darwin bilang yang akan bertahan adalah yang paling cepat beradaptasi. Bukan yang paling kuat. Bukan yang paling kaya. Apalagi yang paling hits kece badai membahana.

Karena akan ada masanya ketika kuat, kaya, dan hits kece badai membahana jadi tidak relevan. 

Memang sepertinya kita harus terima. Kita mungkin punya rencana – dan memang harus ada – tapi hidup akan selalu berubah. Dan gapapa.

Tidak ada masalah dengan perubahan, tinggal kita yang menyesuaikan. Belajar beradaptasi. Berubah, adaptasi lagi. Berubah lagi, adaptasi lagi.

Hingga akhirnya saya bisa paham arti sebuah jargon jaman kampus yang dulu terdengar cheesy, tapi ternyata maknanya dalam sekali.

“Karena yang abadi, hanyalah perubahan itu sendiri”

Bersyukur dan Berbahagia

Hidup itu kalo bersyukur enak banget rasanya. 

Sumpah. Cobain deh. Kok bahagianya kerasa banget; bawaannya mau senyum terus, kepala rasanya ringan dan jernih, dan bibir tuh ga henti-henti ngucap hamdalah.

Ternyata ya bahagia itu kuncinya cukup bersyukur aja.

Bersyukur karena sudah dikasih kehidupan, dikasih keluarga dan teman, dikasih akal pikiran, dikasih kesempatan. Bersyukur karena sudah dipercaya Tuhan untuk punya apa yang kita punya sekarang. Bersyukur, bersyukur, bersyukur, ternyata bahagianya bisa dalam sampai kerasa di tulang sumsum. 

Call me naive, tapi kalo sulit bahagia, kemungkinan besar karena belum mempraktikan bersyukur. Belum melihat bahwa hidup ini sudah hebat sekali Tuhan kasih dengan segala fitur-fiturnya. Masih terjebak dengan perbandingan-perbandingan sama kehidupan orang lain.

Kata orang tua, jangan pernah kejar dunia, karena dunia itu ga akan ada habisnya. Punya pasangan cantik, masih banyak yang lebih cantik. Punya mobil mewah, masih banyak yang lebih bagus dan mahal. Punya jabatan ini itu, masih banyak yang lebih tinggi lagi di atasnya. Akhirnya mengejar sesuatu yang tidak ada habisnya. 

Tapi kalo kita bersyukur, wah bahagia itu datang sendiri. 

Sadari deh apa yang sudah kita punya sekarang; lalu pahami bahwa semua yang kita punya itu bukan datang tiba-tiba. Itu semua pemberian. Semua dari Tuhan, tapi jalurnya saja yang berbeda-beda. Ada yang melalui orang tua, keluarga, teman, bahkan orang asing yang belum pernah kita temui sebelumnya. 

Jika sudah sadar bahwa semua hanya pemberian, kita akan sampai di titik kesadaran bahwa kita sebenarnya tidak pernah punya apa-apa. 

Jadi apalagi alasan untuk tidak bersyukur dan berbahagia?

Ayo Saling Menguatkan

Sampai sekarang, saya masih setuju bahwa nasihat itu pada dasarnya selalu ditujukan untuk diri sendiri.

“All advices are autobiographical”, kata Austin Kleon.

Itu juga yang menyentak saya kembali setelah mendengar kembali suara Chester Bennington.

image

Saya bukan fans Chester. Iya suaranya berkarakter banget, tapi waktu jaman album Meteora booming dan LP lagi naik banget, saya bahkan lebih penasaran sama Hahn sang DJ dan tidak terlalu banyak tahu tentang Chester.

Saya juga bukan fans hardcore Linkin Park, tapi saya suka banget beberapa lagu hits mereka; Numb, In The End, Faint (yang jadi alarm subuh saya karena lagunya emang rising), The New Divide (yang bikin kesengsem karena waktu itu jadi OST nya Transformers 2), dan Iridescent.

Lagu terakhir punya ikatan emosional buat saya. Saya sedang spotify-hopping sampai akhirnya bertemu lagi dengan lagu ini setelah sekian lama.

Dulu, lagu Iridescent menemani saya untuk move on dari masalah. Saya juga tidak ingat persis waktu itu masalah saya apa. Pokoknya saat itu saya sedang mengalami kegagalan dan lagu ini jadi lagu yang membantu saya bangkit dan mengikhlaskan semuanya.

Mungkin, lagu ini adalah nasihat yang Chester nyanyikan untuk dirinya sendiri.

Iridescent adalah lagu rock ballad tentang harapan di tengah frustrasi dan kesedihan.

Liriknya membuat saya bercermin tentang kondisi yang waktu itu sedang saya rasakan.

When you were standing in the wake of devastation

When you were waiting on the edge of the unknown

And with the cataclysm raining down

Insides crying, “Save me now!”

You were there, impossibly alone

Lalu pelan-pelan mengajak saya mengingat semua rasa sedih itu.

Do you feel cold and lost in desperation,

You build up hope and failures all you’ve known

Remember all the sadness and frustration

And let it go…. let it go

Memeluk semua rasa itu, lalu mengikhlaskannya.

Saya ingat saat itu, saya seringkali mengulang lagu ini, dan beberapa kali menangis. Hingga akhirnya saya bisa ikhlas dan bangkit.

I just remember how powerful the song gave me strength.

But sadly, Chester himself, can’t help himself to get through. He commit suicide.

Dan bukan hanya saya. Di kolom komentar video klip Iridescent juga banyak yang menceritakan pengalaman serupa, bahkan dengan masalah yang lebih besar dari yang saya alami.

Saya tidak ingin menghakimi. Saya pun baru membaca lagi bahwa Chester juga secara terbuka bercerita tentang kehidupannya yang sulit; mengalami kekerasan dan sexual abuse saat dia kecil, orangtuanya bercerai saat dia umur 11 tahun, kecanduan obat-obatan, dan masalah lainnya.

“I remember that stuff happening to me at that stage and even thinking about it now makes me want to cry,” katanya di satu interview. “My God, no wonder I became a drug addict. No wonder I just went completely insane for a little while.”

Saya juga tidak tahu apa yang akhirnya membuat Chester mengakhiri hidupnya. Tapi apapun itu, menurut saya mengakhiri hidup sendiri bukanlah sesuatu yang bisa dibenarkan, baik secara agama maupun moral. Bunuh diri bukanlah jalan keluar.

Jangan sampai ini terjadi lagi pada siapapun, terutama orang-orang di sekitar kita. Jangan sampai ada teman/keluarga kita yang terpuruk dalam kesendirian, lalu memutuskan untuk mengambil bunuh diri sebagai jalan keluar.

Kita harus bisa saling menguatkan. Jika kita sedang terpuruk dalam masalah, cari bantuan. Cari teman, lalu ceritakan. Punya masalah bukan tanda payah. Curhat bukan tanda lemah. Semua orang punya masalah, dan semua orang pada dasarnya lemah. Bercerita dan saling menguatkan adalah cara kita bangkit dan bertahan.

Lihat lagi teman-teman di sekitar kita. Lakukan hal simpel, cek kembali daftar kontak kita. Sapa teman-teman kita yang sudah lama tidak bersua, colek lagi walaupun sekadar menyapa. Pastikan dia tetap ada di sana, dan pastikan juga dia tahu kita ada untuk mereka.

Saya sudah pernah mengalaminya; kita tidak pernah tahu betapa berharganya upaya kita membantu teman kita bangkit meski hanya sekadar menyapa. Apa yang buat kita mungkin sekadar hi di Whatsapp bisa jadi sangat berharga untuk teman-teman kita.

image

Setelah kematiannya, kini Linkin Park mempersembahkan sebuah halaman khusus sebagai tribute untuk Chester, berisi dukungan agar orang-orang yang mengalami masalah bisa mendapatkan support dan tahu bahwa mereka tidak sendirian.

Ayo pastikan tidak ada orang di sekitar kita yang merasa sendirian.

Ayo saling menguatkan.

10 Hal Yang Saya Pelajari dari Buku The Airbnb Story

Saya baru selesai membaca buku The Airbnb Story yang ditulis editor Fortune, Leigh Gallagher.

Judul lengkapnya The Airbnb Story: How three ordinary guys disrupted an industry, made billions, and created plenty of controversy.

image

Buku ini menceritakan perjalanan Airbnb, sebuah platform digital yang menghubungkan jutaan tempat tinggal dengan para traveler. Airbnb memfasilitasi orang-orang yang memiliki apartemen, rumah, bahkan kamar untuk disewakan kepada orang lain; dan memfasilitasi traveler untuk bisa tinggal di berbagai tempat di berbagai kota di seluruh dunia.

Airbnb memudahkan traveler untuk mencari tempat menginap dengan harga termurah atau sesuai preferensi, dan pengalaman yang lebih menarik karena tinggal seperti orang lokal. Saya sendiri pernah menggunakan Airbnb di Bandung, Bali, dan Kuala Lumpur.

Buku ini bercerita tentang perjalanan Airbnb dari sejak trio co-founders memulai di San Fransisco hingga tumbuh menjadi perusahaan global dengan valuasi lebih dari 31 Milyar USD.

Ada banyak cerita menarik dan lessons learned dari cerita Airbnb, dan saya ingin membagikan beberapa diantaranya.

Ini dia 10 poin yang saya pelajari dari The Airbnb Story.

1. Just Start and Grow

Brian Chesky, Joe Gebbia, dan Nathan Blecharzyk. Trio co-founders ini memulai ide Airbnb bukan dari passion; tapi karena kepepet.

image

Berawal dari kepepet karena tidak bisa membayar kos-kosan (sebenarnya apartemen, tapi ya kurang lebih sama lah), mereka melihat kesempatan saat mengetahui banyak peserta konferensi desain di San Fransisco yang kehabisan hotel. Akhirnya mereka menyediakan air bed dan menyewakan kamar kosan mereka.

Dari sana, baru mereka melihat peluang penyewaan properti seperti rumah dan apartemen sebagai bisnis. Mereka terus belajar dan mengembangkan platformnya dari sekadar blog biasa (bahkan di awal namanya airbedandbreakfast.com) hingga dikembangkan sebagai platform dengan teknologi kompleks.

So if you have an idea, it’s not gonna be something big when you just start. Just start and grow.

2. The Cofounders: Perfect Triangle

image

Dalam perjalanan panjang Airbnb sebagai perusahaan, salah satu yang paling mengagumkan dan jarang sekali dimiliki perusahaan lain adalah komposisi unik cofoundernya.

Chesky, Gebbia, dan Blecharzyk adalah tiga orang dengan karakter dan personaliti yang berbeda, dan saling melengkapi satu sama lain. Diantara mereka bertiga; Chesky adalah pemimpin natural, Gebbia adalah otak kreatif + desain, dan Blecharzyk adalah engineer dengan mindset analitik.

Perbedaan karakter ini membuat Airbnb berkembang pesat karena semua pilar diisi expert di bidangnya masing-masing, dan membuat mereka komprehensif dalam menyelesaikan masalah karena punya berbagai sudut pandang.

Salah satu kesalahan umum orang yang memulai startup: tim dibuat dari lingkaran pertemanan. Akibatnya, seringkali tim tidak efektif karena diisi oleh orang-orang dengan karakter dan keahlian yang sama.

Cofounder Airbnb justru menunjukkan sebaliknya; perbedaan karakter akan membuat tim sangat solid dan cepat berkembang.

3. Shameless in Learning

Ketiga cofounder Airbnb adalah pemula saat memulai. Apalagi sang CEO, Brian Chesky, yang saat memulai Airbnb bisa dibilang belum punya pengalaman kerja yang mumpuni.

image

Tapi kekurangan itu justru diakuinya sebagai keuntungan terbesarnya.

“Karena saya banyak tidak tahu, saya jadi tidak tahu malu saat belajar”, kata Chesky. Dia tidak malu untuk datang ke berbagai sumber; membaca buku, mendatangi mentor dan pengusaha senior, dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk ngobrol dan bertanya apapun yang harus dia pelajari.

4. Learning Fast By Going to One Source

Airbnb tumbuh sebagai perusahaan dengan sangat cepat, yang berarti Chesky sebagai pemimpin juga harus belajar dan bertumbuh dengan sangat cepat.

image

Dalam dunia startup dan bisnis pada umumnya, salah satu metode belajar adalah mendatangi pebisnis senior yang sudah berpengalaman.

Dalam hal ini, Chesky mengembangkan metode belajarnya sendiri yang disebut Going to The Source: alih-alih datang ke 10 sumber dan menyimpulkan nasihat mereka semua, lebih baik habiskan setengah waktu untuk mencari satu orang yang paling relevan, dan hanya datang ke orang itu.

Chesky belajar dari banyak pebisnis; bisnis global dari Warren Buffet, desain dari Johy Ive (Apple), manajemen dari Bob Iger (Disney), ekspansi internasional dari Sheryl Sandberg, dan masih banyak lagi.

Find your most revelant mentor, and go ask for his/her advice.

5. Go With Mission

image

Airbnb adalah salah satu bisnis yang bergerak dengan misi. Misi Airbnb tercetak jelas dalam logo dan slogan mereka: Belong Anywhere.

Mereka ingin menciptakan dunia dimana semua orang bisa merasakan menjadi bagian dari masyarakat, tempat, dan cinta, dimanapun mereka berada.

Meski bisnisnya bergerak di bidang properti, tapi misi belong anywhere menggerakkan semua orang yang terlibat dalam Airbnb untuk bergerak lebih dari sekadar motif uang. This makes them go extramile, and create an extraordinary impacts.

6. To Scale, Do The Unscalable

Menumbuhkan skala bisnis (to scale) adalah tantangan besar sebuah bisnis.

image

Airbnb sempat mentok pertumbuhannya. Saat Chesky dkk. melakukan analisis, ternyata pengguna mereka pada saat itu tidak bertumbuh karena foto-foto properti yang ada di listing mereka tidak menarik.

Chesky turun sendiri mendatangi rumah-rumah yang disewakan dan memberikan jasa fotografi gratis. Beberapa orang bahkan tidak tahu bahwa Chesky yang saat itu turun sendiri adalah CEO nya. Setelah list itu memiliki foto-foto yang bagus, barulah pengguna Airbnb bertumbuh pesat.

Untuk bertumbuh, terkadang kita harus melakukan hal-hal yang unscalable alias merepotkan dan butuh effort besar, tapi tetap harus dilakukan.

7. Recruit The Best Talent

Di dunia startup, tim adalah koentji.

image

Chesky punya concern besar terhadap tim, apalagi anggota tim di awal perusahaan. “Tim di awal seperti menanamkan DNA perusahaan”, kata Chesky.

Karenanya, dia juga memastikan 300 karyawan pertama diwawancara secara langsung oleh Chesky, untuk meyakinkan bahwa semua anggota tim memiliki visi dan value yang sama.

Hasilnya, tim dengan visi yang sama membawa Airbnb melesat dengan cepat.

8. Disruption Always Get Rejection

Inovasi besar selalu mendapatkan perlawanan. Setidaknya di awal.

image

Hal ini mudah dipahami mengingat inovasi selalu merupakan perlawanan pada status quo, sehingga orang-orang yang sudah berada di zona itu pasti terganggu.

Dalam kasus Airbnb, model bisnisnya “mengganggu” jaringan hotel besar, pengelola apartemen, dan tentu saja pemerintah sebagai regulator.

Airbnb mendapat penolakan di banyak kota, bahkan di kota besar seperti New York dan tempat asalnya sendiri, San Fransisco.

Jika kamu punya ide yang tertolak, mungkin perlu berbaik sangka karena semua inovasi besar selalu dapat penolakan. Tinggal bagaimana kita terus maju dan meyakinkan bahwa inovasi kita membawa manfaat dan dampak.

9. Bigger Size = Bigger Problems

Ukuran yang membesar tidak membuat Airbnb selesai dengan masalah.

Justru semakin besar ukurannya, semakin besar pula tantangan dan masalah yang mereka hadapi.

Di awal, Airbnb berjuang dengan masalah bagaimana caranya menumbuhkan pengguna. Setelah membesar, mereka berkutat dengan ekspansi dan adaptasi ide Airbnb ke berbagai kota. Lalu mereka mendapatkan masalah besar dari pemerintah dan jaringan pengusaha properti di New York. Belum selesai dari itu, mereka juga mendapatkan isu negatif tentang rasisme di platform Airbnb.

Chesky pernah bilang, semakin besar perusahaan mereka, semakin banyak pula yang terlibat dan semakin besar pula tantangan mereka.

Bersiap hadapi tantangan yang lebih besar seiring pertumbuhan perusahaan/ide kita yang semakin membesar.

10. Be A Cockroach

Salah satu cerita paling legendaris dari Airbnb adalah saat mereka menjual sereal Obama O’s dan Cap’n McCains.

image

Tahun 2008 saat pemilu Amerika berlangsung, Chesky dkk. yang saat itu masih kesulitan menumbuhkan Airbnb dan hampir kehabisan uang justru memiliki ide gila. Mereka belum bisa mendapatkan banyak uang dari penyewaan properti, jadi mereka bertaruh di hal lain; mereka menjual sereal dengan gimmick politik.

Mereka membeli seral kiloan, lalu dibungkus dengan packaging berjudul Obama O’s dan Cap’n McCains yang dijual seharga 40$. Ide ini viral dan habis terjual, hingga mereka berhasil mengumpulkan 30.000$ yang memberi mereka nyawa lebih untuk mengembangkan Airbnb. Meskipun yang mereka lakukan justru tidak ada hubungan langsung dengan model bisnis mereka.

Saat Paul Graham (Y Combinator, inkubator yang memberi pendanaan awal untuk Airbnb) mendengar cerita ini, dia langsung yakin pada Chesky dkk.

“You guys are cockroaches”, kata Graham. “You just won’t die”.

So lessons learned: pertahankan ide dan bertahan hidup dengan cara apapun. 

Jadilah kecoa.


Itu dia 10 hal yang saya pelajari dari The Airbnb Story.

Masih banyak cerita menarik lain di bukunya. Dan juga banyak video cerita Airbnb di berbagai talks di Youtube. Berikut beberapa diantaranya:

  1. The Airbnb Story – Startup Founder Biography
  2. Brian Chesky – Launching Airbnb and the Challenges of Scale

  3. Joe Gebbia – How Airbnb Design for Trust
  4. Nathan Blecharczyk – The real story about how Airbnb was founded

Semoga menginspirasi.

Salam kreatif!

Membawa Perdamaian

Di acara Islamic Development Bank di Jeddah kemarin, saya ketemu dengan banyak teman-teman dari berbagai negara.

image

Mulai dari Mesir, Turki, Inggris, Amerika, Jepang, India, Arab Saudi, Palestina, Suriname, Nigeria, hingga negara kecil di pasifik seperti Guam.

Dan setiap saya kenalan dan menyebut Indonesia, hampir semuanya mengenal negara kita.

Yang paling standar, kalo mereka pernah ke Indonesia atau punya teman di sini, mereka akan bilang,

“Apa kabar?”

Dan kemudian beragam pujian tentang negara kita.

“Ah Indonesia, beautiful country!”

“Jannah! Paradise of the world”

“Friendly people, I miss Indonesia!”

Tak ketinggalan, beragam kekaguman mereka tentang Indonesia sebagai salah satu negara dengan muslim terbanyak di dunia.

Mereka mengagumi ekonomi kita yang bertumbuh pesat. Perkembangan negara kita di hampir semua industri. Dan pengakuan mereka tentang Indonesia sebagai salah satu kekuatan baru ekonomi Asia, bahkan dunia.

Tapi yang lebih banyak lagi, adalah rasa iri dan kekaguman mereka tentang Islam di Indonesia.

“Saya kagum sekali, Indonesia adalah negara dengan penduduk yang sangat banyak, tapi negaranya sangat damai. Tidak ada konflik, tidak ada perang”
Saya tersenyum.

“You know what, Iqbal? Saya iri sekali, di Indonesia punya banyak agama selain Islam. Tapi kalian bisa hidup berdampingan, saling menjaga satu sama lain. That’s beautiful, I hope that happen in my country too”

Hati saya mengembang. 

“Saya pernah bikin studi tentang negara-negara Islam di dunia. Salah satu kesimpulan saya, Indonesia adalah salah satu pilar terpenting Islam di dunia”, kata seorang teman dari Arab Saudi. “Kalau Indonesia damai, maka negara lain akan mencontoh Islam yang sebenarnya”

Saya tersenyum bangga.

Lalu beberapa detik kemudian, saya malu sendiri. Saya teringat beragam konflik yang belakangan membuat kita terpecah belah.

Berbeda pandangan, lalu saling berteriak, saling menuduh, bahkan saling membenci satu sama lain.

Dan terus berlanjut, entah hingga kapan. Rasanya kita jadi mudah sekali disulut, semua perbedaan jadi alasan permusuhan.

Padahal saya percaya, Islam di Indonesia yang sesungguhnya adalah seperti apa yang dikatakan oleh teman-teman kita di luar sana.

Saya tidak menutup mata bahwa ada sebagian orang Islam yang tidak menjalankan Islam sebagaimana mestinya, lalu melakukan tindakan-tindakan yang membuat orang membenci kita.

Tapi itu bukan Islam yang sesungguhnya.

Islam yang sesungguhnya adalah agama yang damai.

Yang salamnya adalah doa kebaikan untuk orang lain.

Yang hari rayanya membawa berkah untuk semua.

Yang muamalahnya selalu berbagi dan mengasihi.

Ketika membayangkan Islam yang rahmatan lil alamin seperti ini, saya bergetar sendiri.

Ramadhan sudah datang.

Ayolah kita hentikan semua kebencian.

Perbanyak kebaikan.

Dan tunjukkan Islam yang sebenarnya:

Bagian besar dari keragaman Indonesia yang membawa perdamaian.

Catatan Tentang Whatsapp

Saya sedang iseng menuruni timeline twitter sampai melihat @sheggario posting tulisan baru di blog nya. Tentang Whatsapp.

Dia cerita pendapatnya tentang hal-hal yang seharusnya bisa diimprove dari Whatsapp. Saya jadi terpikir untuk membahas hal serupa.

Ini beberapa catatan curhat saya dalam menggunakan Whatsapp dan betapa besar pengaruhnya terhadap kehidupan saya sehari-hari.

image

Pertama, sebagai orang yang cukup dewasa – setidaknya begitu saya menilai diri saya sendiri – saya menggunakan Whatsapp sebagai jalur utama berkomunikasi. Saya selalu merasa tua dengan LINE yang begitu ramai dengan gambar, dan saya merasa terlalu muda untuk BBM yang – subhanallah sekali – masih bertahan di industri ini.

Whatsapp buat saya pilihan yang paling tepat karena memenuhi semua kebutuhan saya dalam messaging: berkirim pesan, mengirim gambar, audio/video call, sharing link ke situs tertentu, bikin grup, dan ada versi desktopnya. Dan yang paling penting, tampilannya simpel. Elegan. Fungsional. Less distraction. Tidak terlalu ramai seperti LINE atau “terlalu tua” seperti BBM.

image

Kedua, Whatsapp buat saya sangat personal. It is like the simplest direct channel to reach me out. Jadi, sejujurnya saya ingin benar-benar membatasi kontak saya di Whatsapp karena kalo kebanyakan malah blunder: banyak message yang terlewat dan tidak terbalas.

Beberapa kali pula saya dikontak oleh orang asing dengan percakapan yang sama sekali tidak saya inginkan. Yang paling parah, pernah saya dapat pesan (yang sepertinya broadcast) berisi perintah untuk segera pergi ke TPS di Jakarta Selatan dan memastikan tidak ada kecurangan untuk salah satu kandidat. Entah dari mana orang itu dapat nomor saya, padahal saya orang Bekasi.

Karena alasan itu pula, saya termasuk orang yang protes ketika Whatsapp keluar dengan fitur semacam Instagram Stories.

image

Bagus sih, tapi waktu saya test pertama kali, hasilnya jadi banyak yang reply dan saya jadi harus chat langsung dengan banyak orang.

Ketiga, di Whatsapp, saya punya banyak sekali grup. Nah, grup Whatsapp ini sebenarnya juga sering jadi sumber masalah. Misalnya jumlah grup yang terlalu banyak, sehingga notifikasi selalu penuh oleh broadcast atau obrolan ga penting. Atau dimasukkan ke sebuah grup baru tanpa izin, lalu mau keluar tapi ga enakan. Atau kesel sama anggota grup yang terlalu berisik dengan obrolan lokal yang tidak ada faedahnya, tapi bingung gimana protesnya.

Saya yakin bukan hanya saya yang punya masalah ini.

Sampai-sampai ada akun Twitter @GrupWAKeluarga yang suka capture kelucuan dan hal-hal aneh yang terjadi di berbagai grup keluarga.

image

Ada beberapa orang yang menyikapi masalah-masalah ini dengan punya dua nomor; satu nomor yang bisa masuk di berbagai grup, satu lagi yang personal. Buat saya pribadi, metode ini tidak bisa jadi solusi karena saya orangnya sangat reckless. Punya dua nomor malah akan bikin saya tambah pusing.

Jadi secara berkala saya sendiri bersih-bersih grup. Ini hal yang sebenarnya saya lakukan di semua sosial media saya; secara berkala saya akan cek grup-grup yang tidak penting, tidak masuk prioritas, atau sudah tidak aktif. Saya akan minta izin dan keluar dari grup-grup itu. Hasilnya, hidup lebih aman, damai, dan tentram.

image

Keempat, Whatsapp membuat saya jadi lebih sering terpapar dengan berita-berita tidak jelas. Lewat grup-grup Whatsapp, siapapun bisa share apapun. Akibatnya, potensi berita hoax, broadcast tidak penting, hingga joke-joke tidak lucu sangat mudah tersebar. Katanya sih selalu “dari grup sebelah”, walau saya ga pernah tau juga grup sebelah itu sebenarnya grup yang mana.

Hal ini membuat sebuah konten sangat mudah viral. Saya pribadi menyikapinya dengan selalu menerapkan prinsip-prinsip dasar dalam berkomunikasi online. Misalnya, selalu pastikan menyebutkan sumber ketika menyebarkan konten.

Jika ada yang menyebarkan foto / video tanpa keterangan sumber, jangan disebarkan kembali. Jika ingin menyebarkan konten dengan link ke suatu situs, pastikan kita sudah membuka link dan membaca isinya sebelum menyebarkan kembali. Dan jika kontennya sudah menyangkut isi sensitif, selalu pastikan domain situsnya kredibel dan tidak abal-abal. Jangan asal sebar link berita dengan embel-embel blogspot, wordpress, atau apapun yang terlihat jelas tidak resmi.


Now, I will stop here. Rasanya kalo saya harus cerita lebih banyak tentang Whatsapp, mungkin masih akan panjang bahasannya.

Tapi bagaimanapun, Whatsapp tetap menjadi alat komunikasi yang sangat penting karena digunakan secara masif; hampir semua keluarga, teman, saudara, dan rekanan kerja saya hadir di Whatsapp. Jadi memang tidak bisa ditinggalkan sepenuhnya, tinggal bagaimana tetap menggunakannya dengan kritis dan bijaksana.

Semoga makin banyak orang yang aware dan kritis supaya barisan pesan di Whatsapp kita lebih damai dan membahagiakan!

image

PS: Meet Brian Acton & Jon Koum, Founders of Whatsapp

Mending Kita Temenan Aja :)

Kalo saya cerita tentang pandangan politik saya, apakah kita masih berteman?

Saya serius menanyakan ini karena di otak saya, rasanya jawabannya lebih condong tidak.

Apalagi melihat kenyataan belakangan yang membuat masyarakat semakin terpolarisasi. Mungkin karena sekarang semua orang merasa punya corong suara. Mungkin karena sekarang semua orang merasa punya kekuatan dengan sosial media. Lalu semua orang berisik dengan opininya: sibuk membenarkan diri sendiri dan mencari kesalahan orang-orang yang berada di seberangnya.

Kalo saya cerita pandangan politik saya, mungkin Anda yang tidak sepaham akan kaget. Lalu bilang “lah, gue kira si iqbal sama sama gue”, “Kok si Iqbal goblok sih mikir kayak gitu”, atau bahkan “oh, Iqbal ternyata sedangkal ini”.

Ayo lah. Kita semua mikir kayak gitu kok ketika tahu pandangan politik teman kita. Di kepala kita pasti terbesit suara-suara serupa. Bedanya, ga semuanya diomongin aja.

Hal-hal seperti ini yang bikin saya malas sekali bicara pandangan politik di ranah publik.

Silakan cap saya populis, tapi saya orang yang lebih menghargai pertemanan daripada perbedaan pandangan. Tuduh saya apatis, tapi saya lebih memilih diam daripada berisik lalu kehilangan teman.


Ngomongin masalah ini, saya jadi teringat juga soal hutang piutang. Kasusnya mirip dengan pandangan politik.

Hutang piutang juga salah satu interaksi sosial yang sangat sering kita alami. Dan setelah beberapa kali pengalaman, saya sangat berusaha menghindari yang namanya hutang piutang. Apalagi dengan teman.

Bukannya saya pelit atau gimana. Memberikan pinjaman kepada saudara/teman adalah salah satu cara kita membantu, tapi kalau ujung-ujungnya malah bikin memutus persaudaraan, ya buat apa.

Pernah satu kali ada teman yang ingin meminjam uang. Saya ceritakan semuanya, lalu saya minta untuk bikin semacam surat perjanjian. Simpel, saya hanya mengikuti apa yang diajarkan agama saya. Lalu orang ini menolak karena menurutnya ribet. Lalu saya bilang,

“Men, kita temenan udah lama banget loh. Gue bukan masalah uangnya, gue bisa banget bantu. Gue cuma ga mau duit yang kecil ini merusak pertemanan kita yang ga ternilai harganya”

Saya berani bilang begitu bukan karena saya sombong, tapi belajar dari pengalaman. Tidak sekali dua kali saya meminjamkan uang, lalu yang berhutang hilang entah kemana, tidak ada kabarnya. Atau pernah juga orangnya sih tidak hilang, tapi entah kenapa dia bisa tetap bicara sama saya tapi tidak pernah menyinggung soal hutangnya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Dibanding kehilangan uangnya, saya lebih sakit hati karena dibohongi seakan pertemanan kita tidak ada harganya.

Mungkin itulah kenapa, ayat terpanjang di Al-Qur’an adalah syariat tentang hutang. Allah sendiri yang mengatur bagaimana kita sebaiknya bermuamalah dalam hutang piutang. Karena di sini potensi konflik hubungan pertemanan dan kekeluargaan sangat rawan terjadi.


Kembali soal politik. Jadi, saya pilih siapa?

Kadang-kadang rasanya ingin sekali blak-blakan bicara saya pilih siapa, dan kenapa.

Tapi sosial media dan platform chatting adalah tempat yang sangat terbatas untuk berdiskusi dengan kepala terbuka.

Saya takut sekali berdebat dan jadinya malah merusak hubungan dengan teman atau keluarga saya.

Belakangan, saya sendiri keluar dari beberapa grup whatsapp yang semakin tidak kondusif dan tidak relevan dengan tujuan aslinya. Grup yang tadinya hanya ditujukan untuk komunikasi mengenai topik/event tertentu, jadi ajang debat kusir dan broadcast sana sini soal pilihan politik yang bahasannya itu itu lagi.

Saya sendiri bukannya anti politik. Kalo anda ajak saya ngopi, saya bisa cerita pandangan saya.

Tapi ya, balik lagi. Saya tidak tahu seberapa siap kita semua dengan perbedaan pandangan politik. Seberapa dewasa kita menyikapi perbedaan dan tidak memberikan cap sebab-akibat pada pandangan politik dengan hal lain, pandangan keyakinan dan agama misalnya.

Saya mau banget sih suatu saat nanti jadi orang yang vokal membicarakan pandangan politik. Pada level tertentu, saya ingin terjun ke politik praktis. Mungkin tidak sebagai politisi – saya cukup yakin saya tidak tahan dan punya kemampuan untuk itu – tapi sebagai juru bicara atau tim kreatif salah satu kandidat misalnya.

Mungkin dalam waktu dekat. Mungkin juga masih dalam waktu yang lama.
Yang jelas, sekarang sih saya lebih memilih diam saja.

Ya sudahlah jangan dipaksa. Memangnya anda mau saya bicara, ternyata kita berbeda, lalu kita jadi berantem dan anda ga mau lagi ketemu saya?

Sudahlah.

Mending kita temenan aja 🙂

Let’s Change

Saya sedang scroll timeline Tumblr sampai saya menemukan artikel ini. Lucu, dan mengingatkan saya pada beberapa teman yang Grammar Nazi.

Buat yang belum tahu, Grammar Nazi simpelnya adalah orang-orang yang tidak bisa menahan diri untuk menyerang orang-orang yang melakukan kesalahan grammar ketika berbahasa, baik saat berbicara maupun menulis.

image

Grammar Nazi biasanya merasakan kegembiraan dengan menunjukkan kesalahan orang lain.

Sebenarnya sih tidak ada yang salah dengan mengkoreksi kesalahan orang lain. Tapi Grammar Nazi selalu melakukannya dengan membuat orang tersebut merasa bersalah, bodoh, dan tidak punya kemampuan apa-apa.

Itulah kenapa mereka disebut Nazi. Karena kerjanya membantai dan membuat orang merasa bersalah.

Saya pernah berinteraksi dan mendapat koreksian dari orang-orang semacam ini, dan jujur saja, menyakitkan.

Pernah satu kali, saya berpidato bahasa inggris di depan banyak orang, dan banyak menyebut sebuah kata yang ternyata saya salah dalam penyebutan spelling-nya. Saya lupa katanya apa, tapi saya ingat saya menyebut kata itu lebih dari 10 kali dalam pidato saya. Setiap saya menyebut kata itu, si Grammar Nazi ini ketawa dan mengajak teman-teman di sampingnya ikut menertawakan saya.

Waktu saya turun pidato, saya didatangi dan ditertawakan, “Haha lucu banget sih lo spellnya, yang bener tuh gini!”, lalu dia menyebut spellingnya yang benar dan diikuti dengan tawa teman-teman saya yang lain.

Saya marah, kesal, dan malu. Saya merasa sangat bodoh dan ingin tenggelam saja saat itu.

Padahal kalo dipikir-pikir, sebenarnya saya hanya salah di satu kata saja. Sisanya ya biasa saja, tidak memengaruhi pidato saya.

Kejadian diserang Nazi pun lainnya beberapa kali saya alami. Ada yang saat berbicara, ada juga yang saat membuat tulisan (biasanya di sosmed), lalu dikoreksi secara memalukan di bagian komentar. “Maksud lo ini kali! HAHAHA”.

Yap, haha nya dengan capslock. Dan dilike beberapa orang lain. Publicly.

I hate these Nazis.


Sebenarnya, saya cukup beruntung karena saya termasuk orang yang punya kepercayaan diri tinggi dan seringnya tidak terlalu peduli dengan pendapat orang lain. Sehingga, Grammar Nazi tidak terlalu berpengaruh buat saya. Saya tetap pede berbahasa inggris meskipun masih banyak salahnya.

Yang sedih adalah, banyak teman-teman saya yang akhirnya berhenti belajar berbahasa inggris karena para Nazi ini. Mereka tidak berani lagi ngomong atau menulis berbahasa inggris, karena takut salah. Lebih sedih lagi, rasa takut salah mereka terjadi karena takut dipermalukan. Terlihat bodoh dan jadi bahan tertawaan di depan publik itu sakit sekali, saya tahu persis rasanya seperti apa.

Karena itulah, saya benci sekali dengan para Grammar Nazi. Bukan masalah koreksinya, tapi cara menyampaikannya.

Padahal kalo kita bicara tentang berbahasa, salah satu modal utamanya ya pede aja. Tidak harus langsung keliatan bagus dan terdengar seperti bule, pede aja dulu ngomong sebisanya. Sambil jalan dikoreksi dan berbahasa dengan lebih baik lagi.

Pede aja ini adalah salah satu poin sederhana yang membuat orang India jauh lebih maju, bahkan mendapatkan posisi bergengsi di banyak perusahaan besar. Sebut saja Sundar Pichai (CEO Google), Indra Nooyi (CEO PepsiCo), dan Shantanu Narayen (CEO Adobe).

Semua orang tahu betapa lucunya bahasa inggris orang india / keturunan india jika dibandingkan dengan native speaker, bahkan sangat sering kita melihat cara mereka bicara jadi bahan lawakan di berbagai film. Tapi ya mereka pede aja dengan cara bicara mereka, karena toh pada akhirnya gaya berbahasa tidak terlalu relevan dengan kinerja dan karya mereka. Tiga CEO tadi diantara contohnya.

Tidak percaya, cek saja video-video Sundar Pichai berbicara di Google I/O dan event lainnya. Masih sangat terdengar logat Indianya, tapi itu tidak menurunkan kualitasnya sama sekali sebagai seorang CEO salah satu perusahaan terbesar di dunia.

Karenanya, kelakuan Grammar Nazi harus dibasmi. Karena bisa saja, kelakuan mereka bertemu The Next Great CEO yang malah akhirnya berhenti belajar bahasa inggris hanya karena takut salah dan dianggap.

Saya pernah menulis sebelumnya, kebenaran saja tidak cukup. Cara kita menyampaikan kebenaran seringkali sama pentingnya dengan kebenaran itu sendiri. Jika kita hanya peduli apa yang kita berikan tanpa peduli cara kita memberikannya, maka semua bisa berakhir sia-sia.

Bayangkan seseorang ingin memberi kita sebuah berlian, tapi memberikannya dengan cara melemparkannya ke kepala, hingga kepala kita bocor dan berdarah. Seberapa pun mahalnya berlian yang diberikan, kita tidak melihatnya lagi sebagai berlian. Setelah itu, yang kita lihat hanya rasa benci terhadap cara orang itu melemparkannya dengan kurang ajar.

Kelakuan Nazi ini ada dimana-mana, dan bisa jadi kita juga masih melakukannya.

Tidak hanya Grammar. Ada Facebook Nazi, Religion Nazi, Politic Nazi, pokoknya semua orang yang dengan mudah menyalahkan orang lain padahal dia sedang berproses. Semua orang yang meninggikan dirinya dengan merendahkan orang lain.

These people, are douchebag.

We may be one of them. We may still behave like one.

But please, please don’t.

Karena kebenaran tidak seharusnya menyakitkan; ia seharusnya menyejukkan.

Let’s change.

Sebaik-baiknya Guru

Menjelang akhir tahun, saya terbiasa merapihkan data-data di laptop.

Saya sedang membuka-buka folder lama sampai menemukan foto 3 tahun yang lalu.

image

Diambil tahun 2013 saat saya, @alifindra_, @harridi, @sabilil29, dan @raf2909 jadi finalis dan ikut bootcamp Jakarta Social Innovation Camp, kompetisi inovasi sosial berbasis teknologi yang diadakan Global Entrepreneurship Program Indonesia (GEPI).

Waktu itu, saya membawa ide Crowdfunding x Commerce yang saya ajukan dengan sangat baik. Proposal saya susun dengan sangat rapi dan berhasil lolos masuk final. Di event Meet The Innovators, saya melakukan presentasi publik di @atamerica – US cultural center di Pacific Place – dengan sangat meyakinkan, hingga banyak audience yang ingin bergabung dengan tim saya. Rekaman saya presentasi masih bisa ditonton di website @atamerica di sini

image

FInalis melanjutkan proses seleksi dengan kegiatan The Weekend, bootcamp intensif selama 3 hari di Prasetia Mulya Business School. Semua terasa menyenangkan hingga tiga hari terlewati dan sampai waktu pengumuman: tim saya kalah.

Waktu itu saya marah. Tim saya mungkin masih ingat, saya sampai tidak mau lagi bicara dengan panitia karena sangat kecewa.

Saya sangat marah karena selama evaluasi, menjalani proses bootcamp, hingga melihat presentasi final, saya merasa tim dan ide kami sudah memenuhi semua kriteria. Saya sudah membuat penilaian dan membandingkan dengan tim lain, dan saya sangat yakin saya bisa mengungguli mereka semua.

Ternyata, hasilnya sangat berbeda dari perkiraan saya. Saya marah dan kecewa.

Rasa marah dan kecewa itu saya pendam sampai satu tahun kemudian; saya belajar lebih banyak soal startup dan menyadari bahwa waktu itu saya memang tidak pantas untuk menang. Ide-nya tidak teruji, business model nya tidak tervalidasi, dan tim-nya hadir dengan pengalaman yang nihil. Saya terlalu sombong untuk melihat pada bodohnya saya pada saat itu.

Dari sana, saya menyesal pulang dari kompetisi itu dengan marah, karena saya melewatkan banyak hal yang jauh lebih berharga. Saya tidak mengapresiasi kinerja tim yang sudah bekerja semaksimal mungkin. Saya tidak memberikan selamat kepada finalis lain yang berhak memenangkan kompetisi. Dan saya melewatkan sesi networking dengan para juri.

Tapi kekalahan itu, mungkin jadi cara yang baik untuk saya belajar rendah hati dan mulai dari nol lagi.

Saya jadi membiasakan diri untuk gagal, untuk kalah, dan untuk siap mendapatkan hasil yang berbeda dari apa yang saya inginkan.

Saya juga terus belajar untuk tidak pusing membandingkan diri dengan orang lain, melakukan yang terbaik di saat ini, di momen ini.


Lima hari lagi, kita akan menutup tahun ini.

Pastikan kita mengevaluasi perjalanan satu tahun ke belakang, serta sadar penuh dengan apa yang sudah, sedang, dan akan kita lakukan untuk satu tahun ke depan.

Pastikan kita belajar dari kekalahan dan kesalahan, karena mereka memberikan pelajaran jauh lebih banyak dari keberhasilan.

Selalu bersyukur bisa belajar dengan melihat ke belakang, karena masa lalu adalah sebaik-baiknya guru 🙂

Choose to Grow

Waktu dua bulan yang lalu main ke Semarang, saya mendapatkan handlettering ini sebagai hadiah 1 tahun Podcast Subjective. Goresan keren ini karya sohib gaul asal Pontianak, @zulfianrahman namanya.

Zulfian teman saya dari jaman pesantren. Dia salah satu kru MAPLIS, singkatan dari Majalah Papan Tulis. Saya tau namanya agak alay, tapi geng ini isinya 5 orang gila, teman-teman saya yang kreatifnya kebangetan, jago gambar, dan punya ide-ide liar. Geng ini, adalah tempat saya belajar menumbuhkembangkan ide-ide kreatif dan semangat berkarya.

Sebagai anak-anak yang isi kepalanya selalu meletup, di tengah keterbatasan media untuk berekspresi, kami menggunakan papan tulis di asrama sebagai kanvas seni yang kami gubah setiap hari. Kita menulis, menggambar, dan bikin ilustrasi macam-macam di sana.

Dulu sih kami merasa keren. Dan memang keren, saat itu. Tapi setelah lama lulus dan sempat lihat lagi karya-karya kita dulu, ternyata kita baru sadar kualitas kita dulu sangat cupu. Kesadaran ini bikin saya sadar hal penting lainnya: ternyata kita bertumbuh.

Kata @pandji.pragiwaksono, kunci berkarya adalah bertumbuh. Bukan berpikir gimana caranya membuat karya terbaik seumur hidup, karena kalo gitu, setelah itu tercapai kita akan berhenti berkarya. Yang benar adalah selalu berpikir gimana bikin karya yang lebih baik dari karya kita yang sebelumnya.

Cara paling mudah mengukurnya adalah dengan lihat karya-karya kita di masa lalu. Kalau kita bisa dengan mudah menertawakannya, berarti kita sudah naik kelas dan bertumbuh jadi lebih baik.

Zulfian ini, handletteringnya dulu cupu. Pake banget. Dan saya yakin dia akan ketawa lihat karyanya yang dulu, karena yang sekarang sudah jauh lebih keren dan berkualitas dari segi skill maupun hasilnya. Cek aja instagramnya @zulfianrahman atau Tumblr-nya @vintagestrikesback.

Saya melihat dia bertumbuh, sebagaimana dia melihat saya juga bertumbuh.

Dan jika ada satu hukum universal yang berlaku sama di industri kreatif, dunia startup, dan biologi sekaligus, maka saya melihatnya dalam hukum bertumbuh.

“As entity/startup/creature, you only have two choices: you gotta grow, or die

Let’s always choose to grow.