Ternyata Semua Tumbuh Dari Sana

Saya sangat beruntung memiliki dua adik, yang pertama berjarak 5 tahun, yang kedua berjarak 11 tahun. Saya jadi bisa melihat bagaimana ibu mendidik anaknya. Saya mungkin tidak lupa, tapi melihat ibu memperlakukan adik-adik, saya selalu teringat saya diberikan kasih sayang yang sama.

Belakangan saya baru tahu bahwa ibu sering memaksakan diri untuk memberi uang jajan dan barang yang kami minta. Bukan karena ibu pelit, atau tidak percaya kepada anaknya, ibu memaksakan diri karena sebenarnya tidak mampu. Ketika anak-anak lain asik dengan tamiya dan beyblade original dengan harga ratusan ribu rupiah, saya hanya bisa iri dan tak berani meminta kepada ibu. Suatu hari ibu yang belanja dari pasar pulang membawa hadiah: tamiya dan beyblade. Saya girang bukan kepalang. Memang bukan yang asli dengan harga ratusan ribu seperti punya orang lain, tapi saya gembira karena ibu mau menyisihkan uang belanjanya yang tidak seberapa untuk saya, untuk kesempatan saya seperti anak lainnya, untuk kebahagiaan saya.

Orang tua saya tidak punya banyak uang, dan sewajarnya saya tidak perlu diberi uang jajan, tapi nyatanya ibu selalu memberi saya uang jajan ketika SD, walau hanya seribu rupiah. Ibu memberikannya untuk satu alasan: agar anaknya tidak minder. Ibu tidak ingin anaknya menjadi anak yang pemalu hanya karena tidak punya. Ibu tidak mau anaknya rendah diri karena hanya bisa terdiam sementara teman-temannya jajan. Ternyata semua kemandirian, semua keberanian, dan semua kepercayaan diri saya, tumbuh dari sana.

Terima kasih ibu. Aku takkan pernah bisa membalas, karena kebaikanmu tak pernah terjangkau untuk dibayar, bahkan oleh seluruh manusia. Tapi biarkan anakmu ini berdoa.

Robbigh firli waliwalidayya warhamhuma kama robbayani shogiraa.

Mungkin Dia Mau Mengingatkan

Saya merasakan kebuntuan. Terpikir banyak hal, tapi tak menghasilkan apa-apa. Ingin menulis, tapi tidak tahu harus menulis apa. Ingin konsisten berkarya, tapi tidak kunjung mencipta apapun juga.

Soal menulis dan blogging, saya jadi mengingat diri saya kembali. Bertahun-tahun lalu saat memulai rasanya asik saja. Semuanya lancar, selalu mengalir dan semuanya dilakukan hanya karena satu alasan: karena saya suka. Hanya karena saya ingin melakukannya.

Kini setelah menerima berbagai apresiasi dan pujian, rasanya semuanya bergeser. Saya tidak lagi murni melakukannya karena suka. Ada rasa ingin dikenal. Ada rasa ingin dipuji, ingin diakui. eksistensi. Semuanya berkumpul dan berputar-putar di tempat ide seharusnya keluar, sehingga menghalangi jalan dan pada akhirnya saya tidak menghasilkan apa-apa.

Mungkin ini keinginan Tuhan. Mungkin Dia mau mengingatkan. Bahwa niatmu telah bergeser dari kebaikan. Bukan itu sebenarnya yang kamu inginkan. Bukan itu yang seharusnya kamu lakukan. 

Semoga niat kembali diluruskan. Agar berkah dan ketulusan kembali dihujankan. Agar ide kembali terlahirkan

Kata Bang Rhoma, Masa Muda Masa Yang Berapi-Api

Menjadi anak muda itu menyenangkan. Kerjaan kita sepertinya dipenuhi dengan senang-senang. Segala sesuatu, untuk anak muda yang benar-benar berjiwa muda, akan kita lakukan dengan keseruan dan suka cita. Kuliah, saya menjalaninya dengan suka cita. Saya mengambil mata kuliah yang menarik untuk saya, urusan nilai dan sebagainya, alah itu urusan nanti. Yang penting saya suka dan saya bisa mengambil sesuatu darinya.

Untuk mata kuliah yang tidak saya sukai, contohnya segala hal yang berbau tumbuhan, ya saya jalani dengan lapang dada. Saya tetap duduk di kelas, mendengarkan dosen dan mencari hal menarik dan bermanfaat yang bisa saya petik. Saya percaya segala sesuatu, baik yang kita suka maupun tidak kita suka, pasti ada manfaatnya.

Selesai kuliah, biasanya saya berkumpul bersama teman-teman. Ngobrol ngalor ngidul, membicarakan apa saja. Mulai dari politik, isu negara, hingga adik kelas yang pacaran dengan anak fakultas tetangga. Semuanya menyenangkan, diambil serunya.

Selain ngobrol, saya biasanya bermain melepas penat. Walaupun penatnya tak seberapa, tapi keinginan “melepas penat” diada-adakan saja untuk membenarkan permainan yang kami lakukan. Mainnya bisa internetan, nonton film bareng, main kartu atau olahraga seperti futsal dan tenis meja.

Pemikiran bahwa masa muda adalah masa yang menyenangkan ternyata disebabakan oleh masa dewasa yang digambarkan sebagai dunia yang tak menarik dan penuh ketidakseruan. Ketika sudah mencapai dewasa, yang dimulai dengan penganugerahan gelar sarjana, kita dituntut untuk menjadi manusia dewasa sepenuhnya. Kita dituntut untuk berkarir, mandiri dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Kita dituntut untuk tidak lagi main-main, tidak lagi memperbanyak kegiatan bersuka cita, sebisa mungkin semuanya dipersiapkan untuk masa depan. Untuk membina rumah tangga. Untuk membeli rumah. Untuk membeli kendaraan. Untuk kelak bisa membahagiakan anak dan keluarga. Untuk segala hal normatif yang telah dipatenkan masyarakat untuk kita lakukan.

Maka orang dewasa akan menjalani rutinitas yang membosankan. Mengekang kebebasan. Mematikan kreativitas. Membunuh imajinasi.

Manusia tanpa kebebasan agar terkekang pada suatu ikatan. Seperti belalang yang ditaruh di dalam kotak, setelah dilepas lompatannya pun akan tetap setinggi kotak. Manusia tanpa kreativitas akan mati. Manusia tanpa imajinasi akan berhenti bermimpi. Berhenti pada keadaan dan tak mau lepas dari zona aman.

Maka benarlah kata bang Rhoma, masa muda masa yang berapi-api. Di masa ini, kita melihat segalanya mungkin. Kita bermimpi. Kita berimajinasi. 

Saya Omnivora: Pemakan Segala

Saya orang yang moody.

Moody, adalah orang yang dalam bekerja sangat tergantung dengan mood. Saya sangat tergantung dengan mood. Jika saya sedang tidak ingin melakukan sesuatu, sehebat apapun diri saya memaksa, maka tetap saja pekerjaan yang dimaksud tidak akan saya selesaikan.

Permasalahan tersebut diperparah oleh prinsip yang entah sejak kapan saya pegang, tapi tak pernah bisa saya ubah seperti inilah diri saya: Daripada mengerjakan sesuatu dengan rasa terpaksa lebih baik tidak mengerjakan sama sekali.

Permasalahan itu diperparah lagi oleh sifat saya yang lainnya, yaitu tak begitu bergairah dalam melakukan hal yang berbau teknis. Setelah menjalani organisasi dan melakukan teamwork dalam berbagai kesempatan, saya baru menyadari bahwa saya orang yang sangat idealis. Idealis dalam artian saya adalah konseptor, bukan eksekutor. Sejak kecil, saya selalu jadi pencetus ide, pembuat konsep dan pengatur skema. Saya selalu hebat dalam hal itu. Tapi ketika dihadapkan pada kondisi dimana saya juga harus menjadi eksekutor, beberapa kali saya dihadapkan pada masalah pertama: saya moody.

Mungkin itulah mengapa beberapa kali saya terhitung gagal atau lalai dalam menjalankan organisasi.

Sifat berbahaya lainnya yang harus saya waspadai dari diri sendiri: otak saya sangat liar. Pikiran saya sangat imajinatif, penuh dengan suara-suara-entah-siapa yang selalu berdiskusi tanpa pernah berhenti. Jika melihat sesuatu, maka timbul tanda tanya, lalu mulailah neuron-neuron dalam otak saya bersahutan satu sama lain, berdiskusi, saling melempar argumentasi. Saya tertarik terhadap kasus apapun dengan tema apapun; sains, sosial politik, budaya, seni, agama, pemberdayaan masyarakat, hingga hal-hal remeh temeh seperti bentuk botol plastik dan ukiran pada pegangan tangga.

Saya mudah sekali terobsesi terhadap sesuatu; jika melihat sesuatu yang menarik, maka bermunculan ide-ide di benak saya. Ide itu begitu banyak karena menurut opini pribadi, saya terlalu banyak mengonsumsi informasi. Saya berlompatan mengunjungi berbagai artikel internet. Dalam membaca buku, saya omnivora, pemakan segala. Saya membaca berbagai buku dengan tema apapun, genre manapun. Jika ide-ide itu penuh dan otak saya mulai bersahutan dan berdiskusi, maka saya harus menumpahkannya pada sesuatu; gambar, tulisan, omongan, apapun. Maka jika ada  yang bertanya kenapa saya banyak sekali omongnya, maka inilah jawaban saya: Terlalu banyak ide di otak saya.

Karena Pahlawan Dinilai Dari Karyanya

Kita berteman dengan seseorang karena kita memiliki persamaan. 

Saya juga tidak ingat jelas kenapa saya, yuyus, dan abi menjadi apa yang kalian sebut sebagai sahabat. Tapi kalo semua orang akan menyebut YAI, maka alasan kami menjadi sahabat adalah karena kami semua menyukai lagu RAN.

Kami menyukai lagu RAN untuk hal yang sederhana; RAN adalah grup musik yang asik. Lagu RAN hampir semua nya nge beat, penuh nada optimisme dan memberi semangat. Personelnya selalu membawakan lagu-lagu RAN dengan sepenuh jiwa, senyum ceria dan menebar semangat positif menjadi pesona. Bahkan untuk lagu dengan tema sedih seperti “Bosan” yang bercerita tentang orang yang pengen putus dari pacarnya, dibawakan dengan riang gembira.

Dari kesemua itu, kami belajar satu hal: optimisme. RAN dan lagu-lagunya yang bersemangat mengajarkan kami untuk selalu berani. Berani melihat sisi positif dari segala sesuatu. Berani terus menatap ke depan. Berani optimis. Berani bermimpi.

Lalu saya teringat biogenesis, dan semua yang telah kita capai, dan yang akan kita hadapi di sisa waktu kita kini. 3 tahun terakhir telah membuktikan bahwa kita semua bukan orang biasa: Selalu ada sisi hebat yang kita punya. Semua penghargaan dan prestasi yang membanjiri timeline kita telah menasbihkan bahwa saya, kamu, dan dia selalu dikelilingi orang-orang hebat di sekitar kita, dan percayalah, begitu pun dengan diri kita sendiri. Kita semua adalah pahlawan.

Terlalu naif jika seorang pahlawan dinilai hanya dari penghargaan dan sertifikat tertulis yang dibagikan dengan pesta dan jumawa. Karena pahlawan dinilai dari karyanya. Dari manfaat yang diberikannya.

Maka untuk teman-teman biogenesis, kita akan segera memasuki penggalan cerita baru dalam perjalanan hidup kita. Masing-masing dari kita akan mulai sibuk dengan dirinya sendiri, mengejar kisah impiannya masing-masing. Sebagian dari kita ingin segera lulus dan mempersembahkan gelar sarjana untuk orangtua, sebagian tak begitu memikirkan kapan lulus yang penting menghisap madu ilmu dari rampai terbaiknya, sebagian lainnya ingin berlama-lama menjadi mahasiswa dan berkarya sebanyak-banyaknya. Melalui foto ini, YAI (R Yusrifar Kharisma TirtaAbinubli Tariswafi Mawarid, dan Iqbal Hariadi Putra) ingin menceritakan hal sederhana; 

berkaryalah di bidang kalian masing-masing. Berjuang sesuai passion kalian. Beberapa dari kita seperti Yuyus; menikmati masa kejayaan mahasiswa, berkecimpung dalam pergerakan dan melakukan pengabdian masyarakat dengan jaket kuning almamater tercinta. Beberapa dari kita seperti Abi, memakai jaket yang menunjukkan identitas kita sebagai saintis; mempelajari misteri alam semesta dan terpesona cahaya pengetahuan yang tak pernah terduga. Sisanya seperti saya; tak peduli pakaian apa yang kita pakai, yang penting berkarya dan melakukan apa yang menjadi passion kita. 

Semua dari kita akan membuka lembar baru. Mengejar mimpi dan cita-cita dengan optimisme dan keyakinan bahwa kita suatu hari akan sampai disana, ke dimensi yang selama ini kita rindu, suatu waktu di saat kita hidup mimpi-mimpi itu.

Sebuah hari baru.

Keep move it on!

Surat yang saya tulis untuk Biogenesis, Departemen Biologi UI 2010

Teman Adalah Tempat Kita Berkaca

Sahabat?

Dulu jika ditanya siapa sahabat saya, saya bisa menjawab. Saya akan menyebutkan teman-teman terdekat saya, mereka yang punya pikiran sama dengan saya. Mereka – orang yang saya sebut sebagai sahabat saya – saya anggap memilik pemikiran dan visi yang sama. Pernahkah anda hanya saling menatap dan mengerti apa yang dimaksud oleh orang di depan anda? Jika iya, maka itulah yang saya sebut sahabat.

Di suatu waktu, saya pernah membaca bahwa teman adalah cerminan diri kita. Seperti apa teman kita, seperti itu pula lah kualitas diri kita. Sabda baginda Muhammad pun berkata demikian, benar adanya bahwa teman adalah refleksi terbaik sebaik dan seburuk apa sebenarnya diri kita sendiri.

Pernahkah kita berpikir bagaimana kita memilih teman? Kita menyebut seseorang sebagai teman ketika kita memiliki kesamaan. Kita berteman dengan teman sekelas, ya karena kita belajar di kelas yang sama. Sekumpulan orang bisa duduk berkenalan dan lama bercengkrama karena mereka memiliki hobi yang sama. Ribuan orang menjalin pertemanan di sosial media dalam sebuah komunitas karena mereka memiliki pandangan, kesukaan, dan passion yang sama.

Semakin banyak kesamaan yang kita temukan dengan orang, semakin tinggi pula tingkat pertemanan kita. Orang Indonesia mengenal tingkatan tertinggi pertemanan sebagai “sahabat”. Dalam bahasa Inggris, sahabat dipadankan dengan idiom “Best Friend”, yang jika diterjemahkan secara cuma-cuma berarti teman terbaik. Maka jika kita disuruh menyebutkan siapa sahabat kita, maka kita akan mencari yang terbaik dari sekian teman yang kita punya. Tendensi umum yang terjadi adalah, kita akan mencari siapa yang memiliki kesamaan paling banyak dengan diri kita, maka dia lah yang memiliki tingkat pertemanan tertinggi buat kita. Orang yang bisa kita ajak bicara. Orang yang kita ceritakan tentang bingung, duka, dan cinta. Orang yang kita percayakan rahasia.

 Tapi benarkah itu semua? Semakin dewasa dan memiliki banyak teman, saya justru menganggap konsep sahabat yang seperti itu sudah sangat kuno. Payah. Tidak relevan.

Semakin kesini, saya masih percaya bahwa teman adalah tempat kita bercermin, tapi buat saya teman bukan stiker yang menjiplak dan memperlihatkan dengan gamblang siapa diri kita. Teman adalah tempat kita berkaca, darinya kita belajar kekurangan dan melihat di bagian mana kita harus berbenah diri. Teman adalah tempat kita belajar, di satu teman mungkin saya belajar tentang sains dan matematika, tapi pembelajaran tentang budi pekerti dan akhlak mulia hanya saya temukan dari teman yang lainnya. Yang harus kita ketahui bahwa, tidak ada orang yang sempurna. Setiap kita punya kebaikan, namun setiap kita juga punya cela. Berteman dengan banyak orang seperti punya banyak jenis kacamata: kita akan bisa belajar dan memperbaiki diri dari banyak cara.

Maka jika sekarang saya ditanya siapa sahabat saya, teman terbaik saya, saya belum tahu mau menjawab seperti apa.

Bukan karena tak ada teman yang memiliki kesamaan paling banyak dengan saya. Tapi karena dari tiap teman kita akan belajar hal yang berbeda. Maka bertemanlah dengan siapa saja.

Ke-tidak-inisiatif-an Orang Indonesia

25 Agustus 2012, Stasiun Bekasi

Salah satu karakter orang Indonesia adalah curiga, sulit percaya, dan skeptis. Impilkasi dari karakter ini adalah sifat orang Indonesia lainnya yang sangat tidak inisiatif

Ke-tidak-inisiatif-an ini biasanya terjadi karena mereka sulit percaya dan takut jika mereka yang duluan berinisiatif ternyata gagal dan mempermalukan diri mereka sendiri. Seringkali akhirnya mereka menunggu bukti, dan jika sudah benar mereka yakin dengan melihat bukti tersebut akan berhasil, baru mereka berani ber-inisiatif (tentu sudah bukan inisiatif lagi kalo mengikuti).

Alkisah, hari ini saya mau pergi silaturahmi ke rumah ustadz Azhar di Rawamangun, bareng Alip dan Syahid. Di loket stasiun Bekasi, orang sudah mengantri panjang. Ada dua loket yang dibuka, loket pertama sudah diisi antrian panjang di depannya. Anehnya, loket yang kedua kosong, bahkan tidak ada yang mengantri disana. Saya yang berada di barisan paling belakang memperhatikan. Beberapa dari mereka melirik ke loket yang kosong, lalu tetap diam dan melanjutkan antrian. Tak ada satupun yang mengambil kesempatan mengantri-di-loket-kosong itu. 

Akhirnya saya yang geregetan pindah dan langsung maju ke depan loket, bahkan ternyata si “mbak"nya udah kesel sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja dengan tatapan "Lo orang pada goblok banget sih, ga liat apa dari tadi loket gue kosong?”. Saya menyerahkan uang 100.000an, dan selagi menunggu si “mbak"nya menghitung uang kembalian, saya melihat ke belakang. Orang-orang memperhatikan saya. Setelah mendapatkan uang kembali dan tiket, saya baru sadar mengapa mereka memperhatikan saya. 

Ternyata mereka memperhatikan apakah benar loket kedua ini benar-benar buka, karena setelah saya bisa membeli tiket, setengah dari antrian langsung pindah ke "loket saya”. Mereka menunggu bukti, baru berani ambil keputusan yang jelas tidak akan merugikan mereka. See, itulah sebagian dari budaya kita.

Budaya ini sebenarnya hanya permasalahan sudut pandang. Ya, sudut pandang, kebanyakan orang kita belum berani mengambil resiko, masih takut-takut mengambil keputusan sebelum tahu apa sebenarnya yang akan dia terima setelah melakukannya. Sok2an analisis saya, sudut pandang ini bisa jadi disebabkan oleh sejarah penjajahan kita yang panjang. Karena lama hidup di dalam penjajahan, kita terbiasa menjadi korban tipu muslihat para kumpeni yang kurang ajar itu. Akibatnya kita menjadi bangsa yang skeptis, sulit sekali percaya kepada orang lain. Sudut pandang skeptis ini semakin membudaya dengan tidak amannya hidup di kota besar (baca: Berburuk Sangka di Jakarta). Sering banget kan kita dapat sms/telpon/email/surat yang menjanjikan hadiah, ga taunya cuma tipu-tipu. Hasilnya? Ya kita menjadi orang-orang dengan budaya yang selalu curiga dan memandang hal dengan negatif.

Kalo Anda pernah merasakan bangku sekolah atau kuliah, budaya ini pun ada. Ketika ujian misalnya, dan Anda sudah selesai mengerjakan tapi waktu masih banyak, seringkali kita tidak mau mengumpulkan dan hanya diam menunggu ada yang berdiri dan memulai duluan. Anda takut akan ada yang mencela Anda terlalu sombong, atau kemungkinan lainnya seperti Anda terlihat pintar dengan mengumpulkan ujian duluan tetapi ternyata saat keluar hasilnya nilai Anda paling jelek. Ketakutan-ketakutan tersebut akhirnya menuntun kita menjadi orang yang tidak inisiatif, takut mengambil keputusan. Padahal biasanya jika ada yang berdiri mengumpulkan duluan, tiba-tiba setengah dari kelas pun akan langsung berdiri dan mengumpulkan kertas ujian mereka. 

Di sekolah kita juga sering takut menjawab pertanyaan yang diajukan guru, padahal Anda tahu persis jawabannya. Seringkali ketakutan kita akan ditertawakan akibat salah menjawab membuat kita tidak jadi menjawab, padahal jika menjawab kita akan mendapatkan nilai tambahan dari Guru. Dan ketika orang lain dengan takut-takut memberanikan diri menjawab, jawabannya benar dan serta merta sang Guru berkata “Bagus, nak, kamu saya kasih nilai A di rapot”, serta merta kita menggerutu dan berkata “Kan bener jawaban gue! Harusnya tadi gue jawab tuh!”

Ya, memang seharusnya kita menjawab. Memang seharusnya kita inisiatif.

Berburuk Sangka di Jakarta

Kota besar telah membutakan mata kita tentang arti kepercayaan.

Kehidupan dengan persaingan yang ketat telah menyebabkan kriminalitas menjadi salah satu bagian dari keseharian. Kalau tidak kita lihat, kita dengar, atau kita rasakan, dan mungkin saja kita melakukannya.  Rasa curiga, buruk sangka, dan skeptisisme telah merasuk begitu dalam pada diri siapa saja. Sulit rasanya mempercayai dengan mudah siapapun di sekitar kita.

Jika bertemu orang asing, kita diajarkan untuk curiga. Jangan mudah percaya. Jika dia menawarkan minum, bisa jadi sudah dicampur obat bius. Jika dia mengajak ngobrol, bisa jadi dia sedang berusaha menghipnotis kita. Jika dia melihat dan mengamati kita, boleh jadi dia perampok yang sedang mengincar kita. Segala prasangka buruk menghantui, menghilangkan rasa percaya dan sentosa yang harusnya ada dan menjadi pengiring hidup kita.

Tadi, saya baru turun di stasiun Juanda. Duduk di pinggir peron, lalu melihat kanan kiri dan saya ternyata sendiri. Tiba-tiba datanglah dua orang, geometri wajahnya dapat saya kenali sebagai orang Sunda. Keduanya tidak membawa tas apapun, memakai jaket dan memasukkan kedua tangannya di saku. Mereka duduk di samping saya, lalu bertanya, “Gambir udah lewat ya mas?”

Timbullah curiga di benak saya. Jangan-jangan mereka copet. Jangan-jangan mereka mau menodong saya. Jangan-jangan mereka sedang memegang pisau di saku mereka. Berbagai prasangka “jangan-jangan” berdentang di kepala saya, membunyikan lonceng waspada. Saya menarik tas dan memeluknya, memasang posisi duduk siap melawan. Baru kemudian saya menjawab, “Iya, satu stasiun sebelum ini mas”, kata saya sambil menunjuk arah Gambir. Dia mendekatkan duduknya ke arah saya. Curiga kembali timbul, saya semakin waspada.

“Saya ketiduran, mas”, katanya sambil mengucek-ngucek mata.

Lagi-lagi datanglah prasangka itu, jangan-jangan dia bohong. Matanya memang merah, jangan-jangan karena dia pemabuk. Saya semakin siap.

Tapi di sisi lain, ada suara yang juga berbisik kepada saya. 

Bagaimana jika dia benar, bahwa dia cuma orang biasa? Bagaimana jika dia memang orang yang ingin bertanya, butuh pertolongan saya? Kali ini sangka itu tidak datang dari kepala, tapi suaranya dari dalam hati saya.

Dan kemudian, dengan kondisi tetap siaga, saya bilang kepada mereka, “Naik aja kereta lagi kesana mas, tuh dari peron seberang, cuma satu stasiun kok”. Lalu kejadiannya begitu cepat.

Mereka tersenyum, berterima kasih, dan pergi ke peron seberang.

Tak terjadi apa-apa.

Sangka buruk saya tinggallah menjadi prasangka.

Astaghfirullah. Saya beristighfar. Sungguh berdosa saya telah berburuk sangka pada mereka, padahal mereka hanya ingin bertanya. Sungguh saya merenung setelahnya.

Hidup di ibukota memang harus penuh waspada, apalagi kejahatan memang terbukti terjadi dengan berbagai cara, pada siapa saja. Tapi haruskah kemudian kita mencederai nilai-nilai kepercayaan pada sesama, dan menggantikannya dengan buruk sangka? Haruskah kita berhenti memberi senyum, dan mengganti semuanya dengan tatapan curiga?

Kita butuh Jakarta yang aman dan sentosa.

Teori Kampungan

12 Oktober 2010

Membaca buku The Rebel Sell, saya jadi mengerti satu teori penting meeengenai kehidupan di zaman kayak gini. Pribadi, saya menamakannya Teori Kampungan.

Bagi kebanyakan remaja, mereka pasti punya banyak hal keren. Baju distro, band pujaan, sampai semua gaya, pasti ada yang namanya keren. Sesuatu yang tidak termasuk dalam kategori keren, itulah yang disebut dengan kampungan. Masalahnya adalah, apakah kampungan itu benar-benar kampungan? Apakah kampungan itu memang berselera rendah dan tidak berkualitas? Apakah keren itu sesuatu memang lebih keren dari kampungan?
Daripada bingung, mending kita ambil contoh saja. Beberapa tahun belakangan ini, industri musik Indonesia sedang mekar. Band-band dan grup musik bertaburan, meramaikan ranah Lagu nusantara yang makin berwarna. Tiba-tiba, tahun 2007 vokalis Naif mengecam secara langsung grup musik Kangen Band. Kangen Band dianggap merusak musik Indonesia, dengan lagu yang cupudan tampang personelnya yang kampungan. Lantas, Kangen Band dicap sebagai band dengan musik rendahan, dan disebut sebagai Band kampungan.

Tapi benarkah Kangen Band kampungan?

Bila benar kampungan, maka Kangen Band tidaklah keren. Dengan kata lain, musik mereka tidak laku dan tidak disukai. Pada kenyataannya, lagu-lagu mereka digandrungi. Penjualan album mereka sampai mendapat platinum, hit mereka selalu booming dan menempati chart teratas, mengalahkan band-band yang dianggap keren. Semua kalangan, anak-anak, remaja, ibu-ibu, mengenal lagu mereka. Jadi bagaimana kita menjelaskan bahwa Kangen Band kampungan, padahal musik mereka laku  keras dan digandrungi jutaan orang?

Penjelasannya sederhana saja. Kangen Band tidaklah kampungan, musik mereka tidaklah norak. Penjualan kepingan album di tengah maraknya pembajakan adalah sebuah pengakuan dan apresiasi yang nyata: musik mereka berkualitas. Ngapain sih orang beli album asli kalai musiknya ecek-ecek, kenapa ga beli yang bajakan? Maka satu-satunya alasan mengapa orang menyebut mereka kampungan adalah karena mereka laku. Karena jutaan orang telah menjadi pengikut Kangen Band, maka status keren perlu dialihkan pada Band yang belum menjadi mainstream banyak orang. Dalam artian lain, orang malu untuk mengakui karena sudah rame oleh orang-orang. Akhirnya orang-orang harus mencari status baru dan mulai mencap mayoritas sebagai kampungan, agar status mereka menjadi keren.

Penjelasan yang sama bisa diberlakukan pada website social network. Awalnya friendster lah yang menguasai Indonesia, maksudnya paling banyak penggunanya. Waktu muncul facebook, orang langsung beralih dan mengatakan bahwa FS kampung. Sekarang orang rame menggunakan facebook. Karena sudah rame dan jamak, sebagian mulai beralih ke twitter dan lagi-lagi mengatakan bahwa facebook kampung. Siklus ini akan terus berlanjut. Pada dasarnya tidak ada yang berubah. Kualitas fs tidak berubah menjadi jelek, twitter pun tidak lebih baik dari facebook. Ini hanyalah masalah gengsi dimana punya sesuatu yang dimiliki semua orang tidaklah keren alias kampung dan punya sesuatu yang tidak dimiliki orangadalah keren.

Inilah yang saya sebut dengan teori kampungan.  Kualitas bukanlah ukuran utama menilai keren atau kampungan.

Keren hanyalah eksklusivitas di tengah mayoritas.

Tak kurang tak lebih.

Ngeblog = Beol

Ngeblog itu seperti beol. Tulisan kita ibarat tai, komputer ibarat WC, dan Internet ibarat pispot.

Ada saat dimana kita sangat kebelet pengen ngeblog. Segala sesuatunya sudah terkumpul di perut kita, memenuhi segala pikiran dan membuat kita keringat dingin karena sudah tidak tahan lagi untuk mengeluarkannya. Tapi seringkali ketika hal itu terjadi kita tidak sedang berada di dekat WC dan kita sangat bingung mau mengeluarkannya dimana. Kita berusaha mencari kesana kemari tapi tak jua menemukan WC yang kita nanti. Oh, kondisi seperti itu sangat mengerikan.

Setelah menahannya beberapa lama, ketika akhirnya kita menemukan WC, dengan senang hati kita akan segera beol dan mengeluarkan tai dengan lancar dan tanpa putus ke dalam pispot. Pada akhirnya, setelah menyelesaikan beol dan melihat kembali tai tai yang telah kita hasilkan di dalam pispot, kita tersenyum senang dan merasa sangat lega. Betapa asiknya beol dan menikmati tai yang telah kita keluarkan. 

Ya, saya akui beol, tai, dan WC bukan perbandingan yang indah. Tapi setidaknya, saya bisa melihat bahwa ternyata ada kemiripan antara ngeblg dan beol. Mungkin substansinya berbeda, tapi urgensinya tetap sama dan senilai. 

Selamat beol, eh, ngeblog !