Bahasa Bekasi: Mixed to be Interesting

Bila bicara soal Bekasi, bagi saya yang paling menarik adalah bahasanya.

Bahasa? Yap, betul sekali, bahasa, Anda tidak salah baca, ini tentang bahasa. Menurut pengamatan saya sendiri, Bekasi belum mempunyai brand yang benar-benar menunjukkan jati diri Bekasi yang dikenal luas. Dalam hal ini contoh kasarnya makanan seperti dodol-Garut, asinan-Bogor, atau sambel-Padang misalnya. Atau kalo tempat terkenal semisal Monas-Jakarta, kebun raya-Bogor atau Keraton-Cirebon. Tidak ada kan yang namanya baso-Bekasi, ayam-Tambun, atau mie-Bekasi? Masalah tempat terkenal, saya rasa kita, setidaknya sampai saat ini, belum punya landmark yang dikenal semua orang.

Nah, saya yang juga menghabiskan sembilan per sepuluh hidup saya di Bekasi tentu merasa miris. Masa sih tidak ada yang benar-benar khas dari Bekasi kota tercinta ini. Ehmm, sebagai seorang pemuda yang masih menggebu-gebu dan penuh semangat, saya mencoba mengadakan sebuah penelitian-penelitian [<–kata pengulangan yang dimaksud disini bermakna sama dengan boong2an] dan mendapatkan hasil menarik untuk didiskusikan, yaitu bahasa!
Lho? Saya tahu reaksi Anda. Kok bahasa sih? Emangnya bahasa orang Bekasi bahasa Latin, ato bahasa inkripsi Mesir kuno? Well, mari kita mulai kajian spekulatif mengenai Bekasi dari sisi geografis.
Bekasi adalah wilayah pinggiran Jakarta sang primadona Indonesia, yang dalam bahasa kerennya adalah daerah urban. Super-banyak tuh orang Bekasi yang kerjanya di Jakarta dan ga super-sedikit juga yang sebaliknya. Jakarta, sebagai ibukota dengan berbagai gaya hidup dan gelembung budaya yang selalu berkembang, tentu saja menyentuh sisi-sisi Bekasi sebagai daerah urban. Makanya, Bekasi merupakan salahsatu kota yang paling cepat mengalami perubahan dalam hal sosial, seperti lifestyle dan ilmu pengetahuan.
Dari segi sosial, hal ini tentu saja wajar dan amat sangat biasa, mengingat globalisasi yang gila-gilaan. Ups, tetapi saya lupa mengingatkan bahwa Bekasi aslinya adalah Jawa Barat, dimana penduduk aslinya pun kebanyakan adalah orang Sunda yang berbahasa Sunda. Tapi sedikit demi sedikit, fenomena yang terjadi menunjukkan bahwa kecenderungan sosial- dalam hal ini bahasa -turut dipengaruhi Jakarta. Wah, wah, wah, bagaimana tidak, di kota saja, orang yang menggunakan bahasa Sunda secara konstan sangat sedikit, paling-paling antara sesama orang sunda. Sedangkan semakin lama semakin terasa bahasa Betawi turut memberi pengaruh.
ANALISIS BAHASA
Nah, pernahkah Anda menyadari bahwa bahasa Bekasi adalah benar-benar khas dan tidak ada yang menyamainya? Pernahkah Anda memperhatikan bahwa bahasa yang lazim digunakan orang kebanyakan di Bekasi sangatlah unik dan tidak biasa? Baiklah, mungkin Anda belum menangkap maksud saya, kalau begitu kita ambil saja beberapa contoh bahasa Bekasi.
Agar lebih terasa familiar, saya hadirkan beberapa contoh bahasa Bekasi dalam dialog berikut.

BEK : Kas, lo belon bayarin makan gua di warteg Bang Soun ya?
KASI: Ilok? Pan udah gue bayariiin, dua rebu ma ratus kan?
BEK : Boong lo, pokoknya kalo ditagihin ama Bang Soun gua mah kaga tanggung jawab.
KASI: Lah bageen…orang gua udah bayar.
BEK : Lah kicep, mangnya gua mau bayarin elo?

Nah dari dialog itu, ada beberapa kata yang dicetak tebal yang saya anggap sebagai beberapa contoh paling fundamental dalam bahasa Bekasi. “Ilok” dapat berarti “masa”, sebuah ungkapan keraguan untuk memastikan. Namun dalam banyak kasus, kata “ilok” juga digunakan untuk menyatakan kesungguhan seperti “Ilok, gua kaga nyolong”. Kemudian untuk kata “bagen”, berarti “masa bodo” atau ungkapan tidak mau bertanggung jawab. Ini adalah salahsatu kata paling sering digunakan orang Bekasi asli. Selanjutnya kata “kicep” dapat diartikan tidak mau tahu dan juga dapat disandingkan dengan kata “bagen” sebagai sinonim.
Beberapa contoh kata tadi mungkin pernah tau bahkan sering Anda dengar. Namun saya juga yakin banyak dari Anda yang sangat asing mendengarnya. Namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kata-kata tersebut saya sebut sangat khas Bekasi? Alasannya karena kata-kata tersebut tidak saya temukan pada bahasa lainnya. Kata-kata tersebut bukanlah bahasa Bekasi, bukan juga bahasa Betawi dan bahasa lainnya. Dan sejauh ini, kata-kata itu memang saya temukan hanya di Bekasi. Bagaimana bisa?
Bila kita perhatikan, orang asli atau yang sudah lama tinggal di Bekasi akan berbicara dengan bahasa Sunda, atau terkadang hanya logatnya. Dengan membawa keaslian Sunda tersebut, Bekasi yang notabene adalah kota urban, terkena imbas budaya betawi yang begitu mudah masuk dan mempengaruhi nilai-nilai sosial, termasuk bahasa. Cobalah Anda perhatikan, seringkali orang Bekasi dapt dikenali ke-sunda-annya dari logat dan nada yng digunakan. Namun diksi dan kata-kata yang dipilih lebih mengarah ke bahasa Betawi. Sehingga dapat disimpulkan bahasa Bekasi adalah mixing antara Betawi dan Sunda yang membuat bahasanya lebih menarik dan asik untuk didengarkan.

Tentu saja saya bukan dosen sastra atau etimolog handal, saya juga bukan mahasiswa sastra yang sedang meneliti bagaimana sebuah bahasa bisa bermetamorfosis menjadi lebih kompleks. Saya hanyalah orang Bekasi asli yang mencintai kota ini, dimana saya tumbuh besar, menghabiskan masa kecil saya. Dan bahasa yang saya sebut sebagai bahasa Bekasi telah saya gunakan sejak kecil, dan telah merasuki jiwa saya begitu dalam. Dan menurut saya inilah hal yang paling unik dan khas dari Bekasi, meskipun mungkin belum dikenal luas dan bisa diterima sebagai sebuah aset. Tapi saya menganggapnya sebagai sebuah nilai sosial yang bernilai tinggi, karena Bekasi telah memadukan bahasa Sunda yang klasik dan bahasa Betawi yang ekspresif menjadi bahasa Bekasi yang asik dan menyenangkan.

Mudah-mudahan Anda terhibur dengan analisis saya. Kalaupun Anda kurang setuju ya bagen, tapi kalo Anda cinta Bekasi tapi tidak cinta bahasanya, ilok?

Perbedaan

Saya tergelitik dengan kata “perbedaan”. Sepertinya kata yang satu ini sulit dijabarkan dari sisi mana pun kita melihat. Iseng-iseng menjelajah tumblr, saya tersenyum kecut membaca postingan anak sastra.

ijonkmuhammad:

Anda bisa menjadi pemeluk Kristen oirtodoks jika terlahir di Kota Damaskus pada abad keempat.Tapi.jika Anda terlahir beberapa waktu kemudia di lokasi yang sama,Anda bisa saja menjadi penganut Kristen Monofisit.Tambahkan beberapa ratus tahun lagi,masih dikota ini, Anda bisa saja terlahir sebagai seorang muslim bernama Ahmad.

Kasus yang sama akan berulang jika Anda terlahir pada abad kedua hijriah:Anda bisa jadi seorang muslim Ahlus Sunah.Berselang beberapa ratus tahun kemudian, Anda bisa saja lahir sebagai pengikut Imam Syiah. Ini persis sama jika Anda terlahir di Kota Amsterdam pada tahun 1500: Anda pastilah jadi pemeluk Katolik Roma. Padahal, bila seratus tahun kemudian di ibu kota Belanda itu, Anda seorang Protestan.

Arnold Tonybee-1975

Berbeda,

Tidak sama.

Sama,

Tak berbeda.

Lantas dimana kita bisa mempertemukan beda dan sama?

Perbedaan

Orang Dewasa

Dulu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, saya ingin segera menjadi dewasa. Saya pikir, menjadi dewasa itu enak; menikmati kehidupan dewasa, pulang pergi tempat kerja yang ber-AC, menghasilkan uang dan mendapatkan apa yang kita ingin punya. Mungkin menyenangkan bekerja di gedung-gedung tinggi itu atau di tempat-tempat yang jauh, sering jalan-jalan jadinya. Ketika kuliah, tepatnya saat saya duduk satu bus bersama mereka, orang-orang dewasa itu, ada satu gambaran yang saya tangkap mengenai keseharian mereka:

Setiap pagi mereka berjalan dan berlomba masuk ke bus yang menuju tempat kerja. Jika tidak dapat tempat duduk, mereka rela berdiri. Jika tidak dapat tempat di dalam, mereka rela bergelantungan di pintu. Jika tidak dapat juga, mereka akan menunggu lagi bus selanjutnya sambil berpanas-panasan, bertahan dari sengatan matahari pagi. Perjalanan dari satu terminal ke terminal lain, lalu tak jarang disambung ke terminal lainnya, mereka lewati untuk sampai ke tempat tujuan. Setiap pagi, setiap hari, sepanjang tahun kecuali hari libur yang jarang sekali didapat. Setelah sampai tempat kerja, mereka langsung disuguhkan setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu juga. Tak jarang pula ada teman sekantor yang cari gara-gara dengan menumpahkan segelas kopi ke kertas kerja yang akan diserahkan kepada atasan nanti siang. Mau memaki-maki, dia tidak sengaja. mau membiarkan, rugi besar. Dengan terpaksa mereka harus memulai kerjaan yang tadi rusak dari awal dan harus sudah selesai pada deadline nanti siang. sorenya saat pulang, mereka kembali bertemu kemacetan dan membawa oleh-oleh setumpuk pekerjaan tambahan untuk laporan kepada atasan. Kemacetan sangat parah sore ini karena banjir dimana-mana. Ditambah lagi, saat masuk jalur alternatif, ada metromini ugal-ugalan yang menabrak trotoar, berhenti total hingga beberapa jam. Sampai rumah jam setengah dua pagi, mati listrik karena hari ini jadwal pemadaman. Mereka terpaksa tidur beberapa jam dan kembali bangun paginya untuk kembali bertemu kemacetan, kembali bertemu setumpuk pekerjaan, kembali dibikin kesal oleh rekan kerja, kembali pulang larut malam karena dihadang macet.

Siklus seperti itu membuat saya ingin tetap menjadi mahasiswa. Pagi bisa membaca buku pelajaran, jalan ke kampus tanpa macet, bergaul dengan teman di kelas, menjadi eksis dengan ikut kegiatan tertentu, dan pergi kemanapun saya suka bersama pacar. Kadang kebebasan yang demikian tanpa kita sadari akan hilang seiring kita menjadi dewasa. Maka saya berusaha semaksimal mungkin untuk menikmati masa muda yang sekarang saya punya. Karena beberapa tahun lagi, ketika lulus kuliah, saya tahu bahwa saya akan sama seperti mereka, dengan rutinitas yang sama sepanjang tahun.

Bangun pagi. Terminal. Bus. Macet. Tempat kerja. Bus. Macet. Tidur nyenyak.

Selamat malam

GUE ANAK FISIP, BANGGA. GUE ANAK MIPA?

Sampah. Saya akui fakultas saya sampah.

Jangan salah kaprah. Mungkin memang terdengar sedikit kasar atau tidak layak, tapi jujur saya katakan, I DEFINITELY DISAPPOINTED WITH FMIPA. Sebuah kekecewaan yang sebenarnya tak ingin saya nyatakan.

Siang ini saya pergi ke perpustakaan pusat. Saya mencoba mencari buku tentang lingkungan, karena sepertinya saya mulai tertarik dengan masalah ekologi dan environmental issues. Kompi Perpus menuntun saya untuk datang ke rak 333, tempat buku tentang lingkungan dan ekologi bersarang.

Pada awalnya, saya ingin membaca buku yang sering saya dengar dari orang-orang: AMDAL – Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Tapi Tuhan berkehendak lain (halah). Langkah saya berhenti dan tanpa sadar tangan saya mengambil sebuah buku bersampul hijau : KUMPULAN ESAI BLITS 2008 – SEBUAH ASPIRASI UNTUK LINGKUNGAN. Saya melihat lambang UI di bagian depan sampul, yang berarti bahwa buku ini terbitan lokal kampus.

Saat saya membuka halaman halaman awal, saya terhenyak. Kata pengantar disampaikan Dekan FISIP dan Ketua BEM FISIP 2008. Mengapa ada orang FISIP di buku lingkungan ini?

Saya membaca terus dan kembali terhenyak. Buku itu adalah kumpulan esai anak anak FISIP dalam kompetisi menulis aspirasi mereka mengenai peran manusia dalam menjaga lingkungan. Saya membaca judul-judulnya, dan oh, saya malu sekaligus marah. Solusi-solusi yang ditawarkan oleh anak-anak FISIP itu luar biasa, mereka sangat menunjukkan bahwa GUE ANAK FISIP, GUE GA APATIS TERHADAP LINGKUNGAN.

Saya bukannya tidak menghargai apa yang dilakukan FISIP. Tetapi saya marah dengan Fakultas saya, Jurusan saya, FMIPA, Biologi. Dan entah saya marah kepada siapa. Kenapa kita cuma diam? Bukankah kepedulian terhadap lingkungan seharusnya menjadi identitas kita, kenapa FISIP yang harus memulainya? Lalu dimana kita, cuma diam, belajar, menjadi fakultas terpojok dan bengong tanpa punya ciri dan aksi nyata?

FISIP telah memulai kepedulian mereka terhadap lingkungan, yang digerakkan oleh BEM mereka. Salahsatu langkah fundamental yang diambil adalah adanya peraturan bahwa semua karya tulis di FISIP harus diprint bolak-balik untuk menghemat kertas. Bukan hanya berlaku bagi mahasiswa biasa, bahkan langkah cerdas ini telah disetujui oleh Dekanat dan menjadi standar pembuatan skripsi dan Laporan Pertanggungjawaban sampai di tingkat Dekanat. Selain itu juga diterapkan SOP berbasis lingkungan dalam penggunaan ruangan seperti batas penggunaan AC, jam pemakaian lampu, dan sebagainya. Langkah luar biasa yang bahkan samapi sekarang kita tidak melakukan apa-apa.

Saya tidak tahu siapa yang patut dipersalahkan. Kita kah sebagai mahasiswa, BEM kah sebagai badan eksekutif, Dekanatkah sebagai pengelola regulasi, atau FISIP kah yang mengambil “identitas kita”? Saya tidak tahu yang mana, tapi saya yakin bukan yang terakhir.

Anda tahu jargon FISIP?

GUE ANAK FISIP. Bangga.

GUE ANAK MIPA? 

Saya Ragu di Masa Depan Ada Kesempatan Seperti Ini Lagi

Sepertinya saya berada dalam kebimbangan.

Ternyata dunia kampus lebih parah dari yang saya duga. Kini saya terjebak dalam dilema bahwa saya ingin masuk dunia pergerakan kampus. BEM, seperti terus menghantui hidup saya. Saya ingin masuk BEM. Sangat ingin. Apalagi melihat mereka para senior yang sudah lebih dulu berjuang dalam mencapai kursi di BEM (walaupun di sekretariatnya malah ga ada kursi). Mereka menggalang massa, berkampanye, dan menyusun visi dan misi. Luar biasa, di mata saya perjuangan seperti punya makna yang amazing dan sangat mahasiswa. Semua itu bisa kita lakukan hanya sekarang, saat kita masih berstatus sebagai MAHASISWA. Kalau tidak sekarang, kapan lagi kita bisa menikmati serunya berorganisasi? Saya ragu di masa depan ada lagi kesempatan seperti ini.

Namun dilema yang saya alami adalah ketidaksetujuan orangtua saya jika saya ikut dalam organisasi. Sebenarnya kurang tepat jika dikatakan “ketidaksetujuan”, karena orangtua saya, terutama Bapak, bukannya tidak setuju tapi menolak mentah-mentah. Dia bilang ikut organisasi cuma jadi budak dan boneka mainan. Kita hanya dimanfaatkan oleh oknum tertentu, organisasi kemahasiswaan sesungguhnya hanya memberdayakan semangat kaum muda untuk menyokong tujuan-tujuan kelompok, golongan, atau partai tertentu. Orangtua saya hanya ingin agar saya serius di akademis dan terus mempertahankan IPK diatas 3,5. Sepertinya bayangan kakak saya yang lulusan FIB dengan predikat Cum Laude menjadi patokan bagi saya. Bapak saya tidak mau tahu, pokoknya saya harus seperti kakak saya : Kuliah bagus, IPK tinggi, lulus Cum Laude, dapet beasiswa dan cabut ke luar negeri.

Yah, baiklah mungkin ada benarnya. Saya bukannya tidak mau seperti kaka saya, tetapi saya ingin mengambil jalan lain. Jalan yang saya anggap sesuai dengan prinsip dan idealisme yang saya pegang. Saya tahu sangat sulit untuk bisa sukses di akademis dan organisasi sekaligus, karenanya Bapak saya melarang karena dia hanya ingin saya sukse s di akademis. Padahal, jujur saya tidak ingin terlalu sukses di akademis jika memang itu adalah harga yang harus saya bayar jika mengambil jalur organisasi. 

Baiklah, tulisan ini saya tulis di MUI jam 19.55. Semua lampu sudah mati kecuali lampu mimbar dan tidak ada seorang pun disini, hanya saya, sendiri. Besok UTS matematika dan saya belum terlalu siap. But it will be fine.

Well, cukuplah curcol untuk hari ini. Mungkin tulisan ini akan menjadi pemicu saya untuk menulis sebuah buku suatu saat nanti.

Ngeblog = Beol

Ngeblog itu seperti beol. Tulisan kita ibarat tai, komputer ibarat WC, dan Internet ibarat pispot.

Ada saat dimana kita sangat kebelet pengen ngeblog. Segala sesuatunya sudah terkumpul di perut kita, memenuhi segala pikiran dan membuat kita keringat dingin karena sudah tidak tahan lagi untuk mengeluarkannya. Tapi seringkali ketika hal itu terjadi kita tidak sedang berada di dekat WC dan kita sangat bingung mau mengeluarkannya dimana. Kita berusaha mencari kesana kemari tapi tak jua menemukan WC yang kita nanti. Oh, kondisi seperti itu sangat mengerikan.

Setelah menahannya beberapa lama, ketika akhirnya kita menemukan WC, dengan senang hati kita akan segera beol dan mengeluarkan tai dengan lancar dan tanpa putus ke dalam pispot. Pada akhirnya, setelah menyelesaikan beol dan melihat kembali tai tai yang telah kita hasilkan di dalam pispot, kita tersenyum senang dan merasa sangat lega. Betapa asiknya beol dan menikmati tai yang telah kita keluarkan. 

Ya, saya akui beol, tai, dan WC bukan perbandingan yang indah. Tapi setidaknya, saya bisa melihat bahwa ternyata ada kemiripan antara ngeblg dan beol. Mungkin substansinya berbeda, tapi urgensinya tetap sama dan senilai. 

Selamat beol, eh, ngeblog !