To Be Ready

Sehabis menonton 500 Days of Summer, ada satu kutipan yang nempel banget di pikiran saya.

Kutipan itu, terjadi dalam obrolan antara Tom yang diperankan Gordon-Levitt dan Summer yang diperankan Zoey Deschanel – artis favorit yang masya-allah-cantik banget-matanya. Saya pernah lihat Zoey di beberapa film, tapi di film ini saya baru sadar, yang bikin dia cantik banget adalah matanya. 

Sampai-sampai ada akun lawak di Tumblr: @guyswithzooeyes​ yang didekasikan untuk menempelkan mata Zoey di banyak muka artis lainnya.

Obrolan itu terjadi saat Tom menanyakan apa yang terjadi dengan hubungan Summer sebelumnya yang gagal dan tidak berlanjut.

“What happened? Why didn’t they work out?”

Jawabannya, menampar dan membuat saya berpikir sejenak.

image

“What always happens. Life”


Konteks obrolan tadi mungkin tentang hubungan. Tapi jawaban Summer, adalah jawaban sederhana untuk banyak mozaik kehidupan.

Dalam banyak titik di kehidupan kita, ada hal-hal yang berubah begitu saja. Tidak ada rencana, tidak ada tanda-tanda, tapi kehidupan terjadi dan perubahan harus dialami.

Boom. Just like that.

Kitanya sih mungkin ga pernah kepikiran untuk menjalaninya. Kita mungkin punya bayangan yang berbeda. Kita mungkin sudah menggambar peta dan menuliskan rencana; tapi kehidupan datang dan kita harus menerima.

Dulu, atau bahkan mungkin sampai sekarang, saya masih sering percaya bahwa hidup itu bentuknya lurus-lurus saja. Tapi semakin dewasa, semakin banyak bertemu masalah dan orang yang berbeda-beda, ternyata hidup tidak semulus yang saya kira.

image

Saya sudah sering melihat gambar ini sebelumnya. I used to take it as a joke. Turns out, it’s not.

It never was.

Hidup hadir dengan kejutan-kejutan tidak terduga. Sama seperti melakukan perjalanan, kita harus punya rencana. Tapi kita juga harus selalu siap dengan kemungkinan salah jalan, tetiba turun hujan, bertemu jalan buntu, atau tetiba harus berputar dan pindah haluan.

We gotta learn how to pivot.

Saya mungkin sudah lumayan sering cerita di blog/podcast bahwa saya contoh nyata salah jurusan, tapi pemikiran tentang itu tidak ada sebelumnya.

Saya ingat dulu waktu SMA, saya anak olimpiade Biologi.

Saya pikir, saya memang anak biologi. Saya pikir, sains adalah ladang saya untuk berkontribusi. Saat membuka diari semasa SMA (iya saya punya diari), saya pernah punya cita-cita menjadi saintis lab yang menemukan unsur baru. Saya juga pernah bercita-cita menjadi wildlife photographer, jurnalis National Geographic, atau pembawa acara program seperti BBC Wildlife.

Tapi ternyata kehidupan terjadi. Life happens.

I learned. I met people. I changed.

Then, I moved on.


Kita mungkin berharap perubahan terjadi di saat kita siap. Sayangnya, waktu adalah misteri dan kehidupan tidak pernah mau berkompromi.

Saya jadi teringat dialog di film Doctor Strange, sesaat sebelum The Ancient One meninggal dan menitipkan pesan agar Strange bersiap melanjutkan perjuangannya.

Strange mengelak dan berkata, “I’m not ready”.

Jawaban The Ancient One menampar dan jujur apa adanya.

“No one ever is”, katanya sambil memegang tangan Strange. “We don’t get to choose our time”

Kehidupan mungkin terjadi di saat kita siap, tapi lebih sering lagi, kehidupan datang agar kita siap.

Kita tidak pernah bisa memilih kapan waktu yang tepat untuk kita. Tapi percayalah, Tuhan selalu menyiapkan skenario terbaik-Nya.

So next time Life happens and put you in a condition you don’t want, maybe you may want to think it for a while.

Maybe, He wants you to be ready.

Kita Sudah Punya Semuanya

Tahu kenapa hidup kita ga enak?

Karena kita mulai membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain.

Kita membandingkan apa yang mereka punya, sementara kita tidak. Kita iri dengan jalan mereka yang lurus, sedang jalan kita berputar-putar. Kita menginginkan perjuangan mereka yang mudah, sedang perjuangan kita begitu sulit.

Membandingkan adalah aktivitas tanpa akhir.


Ramadhan dua tahun lalu, saya buka puasa bareng sahabat lama saya, @anjasbiki. Anjas teman saya sejak di pesantren, dan lanjut kuliah bareng di universitas dan fakultas yang sama.

Waktu itu masing-masing kita sudah bekerja dan punya penghasilan, dan kami makan di warteg langganan di depan kosan. Saya pesan makanan langganan sejak kuliah: nasi + usus + telur dadar. Ceritanya mau nostalgia.

Dulu rasanya makan dengan menu itu rasanya super enak. Super mewah, pokoknya setiap pulang kuliah dan kelaparan, makan dengan menu itu rasanya luar biasa.

Saya duduk bareng Anjas dan mulai makan. Lalu satu dua suap pertama, kok saya merasakan hal yang aneh. Saya kunyah lagi, dan otomatis saya menoleh ke Anjas.

Ternyata rasa nasi wartegnya ga seenak yang saya kira.

Saya dan Anjas langsung tertawa, karena kita langsung paham alasannya kenapa. Selama kuliah, nasi warteg ini jadi makanan termewah yang biasa kita konsumsi setiap hari, saat itu. Setelah punya referensi dan kemampuan membeli makanan yang lebih baik, makan di warteg ini rasanya jadi hambar.

Ternyata karena membandingkan, nasi yang dulu saya anggap paling enak, sekarang jadi kurang sedap.

Lalu obrolan kami berlanjut jadi lebih filosofis.

“Itulah kenapa, kaya itu bukan soal uangnya”, kata Anjas sambil menyeruput es teh manis. “Tapi soal seberapa bisa kita berterima kasih dengan apa yang ada”.

Semakin punya uang, saya semakin bisa merasakan bahwa kaya memang hanya soal pikiran. Karena jika rasa kaya diukur dari apa yang bisa kita punya, rasanya tidak akan ada habisnya.

Waktu dulu belum punya handphone apapun, punya nokia saja rasanya sudah bahagia. Sekarang punya smartphone Asus Zenfone, inginnya punya iPhone.

Dulu waktu belum punya kamera, bisa megang Canon pocket aja senangnya luar biasa. Sekarang punya kamera Prosumer, pengen juga punya GoPro dan Mirrorless.

Dulu waktu kemana-mana masih naik kendaraan umum, punya motor aja sudah gaya. Sekarang punya motor, kepengen punya mobil. Nanti punya mobil, pengen punya helikopter. Punya helikopter, pengen punya jet pribadi. Dan begitu seterusnya sampai mati.

Peace comes from within, don’t seek it without.

Kebahagiaan harus selalu dicari ke dalam, bukan ke luar. Terbang ke atas tidak akan pernah membuat kita sampai, karena langit tak pernah punya ujung untuk digapai.

Tapi berenang ke dalam, akan selalu membahagiakan.

image

Karena saat hati kita berhasil menyentuh dasarnya, kita akan tahu: kita sudah punya semuanya.

Masih Mencari

Makin dewasa saya makin paham, hidup punya pilihan-pilihan sulit.

Dari mulai pakai baju apa hari ini, makan malam apa saat buka puasa nanti, hingga jalan hidup macam apa yang mau kita jalani.

Saya ingat salah satu episode paling memorable di serial Avatar: The Last Air Bender.

Judulnya Crossroad of Destiny. Ketika semua karakter berada di ujung persimpangan takdir, dan harus memilih keberpihakan. Menentukan sisi yang diperjuangkan. Menentukan satu pilihan.

Di episode itu, masing-masing karakter mengambil pilihan yang akan mengubah jalan hidup mereka. Selamanya.

image

Tiap detiknya kita berada di persimpangan takdir.

Entah sadar atau tidak, kita selalu berada pada titik-titik kecil pengambilan keputusan dari ratusan pilihan.

Dan makin ke sini, saya juga makin sadar bahwa pilihan hidup bukan cuma hitam putih. Bukan hanya tentang kanan dan kiri. Dan lebih sering lagi, bukan hanya tentang diri kita sendiri.

Pilihan datang dalam berbagai tingkatan. Dan waktu tak pernah mau peduli; jika sudah saatnya, kita harus memilih. Mau tidak mau. Siap tidak siap.

Di titik ini, saya percaya kesiapan untuk memilih hanya akan datang pada mereka yang sudah pernah menyelam jauh ke dalam hati. Menjelajahi pertanyaan dan jawaban ke dalam diri sendiri.

Sementara saya masih di sini.

image

Saya masih mencari.

Cara Kita Memahaminya

Beberapa waktu yang lalu saya menerima email menarik dari seorang anonim yang ingin berbagi dongeng. Namun yang tak kalah menarik, dalam email tadi dia mempertanyakan kesukaan saya pada cerita fiksi.

Awalnya saya bingung, tapi kemudian saya mengerti. Wajar jika orang pikir saya tidak suka fiksi, karena saya terbiasa menulis segala hal yang berbau nonfiksi.

Tapi setelah saya pikir, pandangan ini cukup aneh dan sering terjadi di antara kita. Menganggap seseorang anti-putih hanya karena dia menyukai hitam. Membuat cap seseorang kiri hanya karena dia selalu bercerita tentang kanan. Dalam musik, orang yang suka Jazz seringkali dianggap pasti tidak suka dangdut, dan orang yang menikmati Taylor Swift dicap pasti benci dengan Ayu Ting Ting.

Padahal belum tentu seperti itu.

Saya menyukai banyak karya fiksi. Saya baca beberapa komik, dan saya ngefans berat dengan banyak film superhero, terutama Marvel.

Saya punya koleksi figur Iron Man, dan saya sedang menunggu tidak sabar untuk bisa menonton Civil War. Tiap kali saya menonton trailer dan cuplikan filmnya di Youtube, saya mengalami braingasm. You know, that kind of orgasm happened to your brain when you see something really, really awesome.

image

Saya juga menikmati seri-seri Marvel, dua seri terbaik yang saya nonton; Agents of S.H.I.E.L.D dan Daredevil. Agents of S.H.I.E.L.D. adalah representasi fiksi yang paling fiksi, tokoh pahlawannya dipenuhi anggota inhuman yang tidak masuk akal, dan tokoh antagonisnya diisi manusia neo Nazi pemuja setan serta makhluk-makhluk alien dari semesta dan dimensi yang berbeda.

Kurang fiksi apa coba.

Tapi status seri terbaik buat saya masih milik Daredevil. Ceritanya super keren karena berada di antara fiksi dan dunia nyata; garis batasnya tipis sehingga terasa manis dan pahit di saat yang sama. Manis karena keseruan cerita terjadi dengan sentuhan fiksi, tapi pahit karena kita tahu pasti konflik yang diceritakan benar-benar terjadi di dunia kita. Cerita pemerintah yang korup, mafia yang berkuasa, dan kota yang sekarat adalah cerita yang benar-benar ada di dunia nyata.

image

Saya juga penikmat film-film animasi, terutama produksi Disney & Pixar.

Toy Story adalah film legendaris yang ceritanya benar-benar memasuki kehidupan saya. Saya ingat pertama kali nonton film ini di VCD Player yang baru dibeli Bapak, dengan VCD Toy Story yang menjadi bonusnya.

image

Hampir tiap akhir pekan, saya dan kakak saya menonton film ini berkali-kali, hingga saya hapal dialog versi dubbing Indonesia-nya di luar kepala. Saya punya banyak mainan dan saya selalu merasa mereka berbicara pada saya. Pengaruh besar cerita fiksi membuat saya menjaga mereka sepenuh hati, seakan mereka benar-benar hidup seperti di Toy Story.

Hal terbaik yang membuat Toy Story begitu nyata buat saya adalah ketika saya menyadari bahwa karakter Andy benar-benar seumuran saya. Saat Toy Story 3 rilis tahun 2010 dengan cerita Andy akan pergi kuliah, saya menonton dengan status baru sebagai mahasiswa. I really can relate to Andy.

Toy Story dan ceritanya seakan sudah menemani saya bertumbuh besar, sehingga ketika sampai scene Woody di beranda rumah dan mengucap “So long, partner”, saya menangis sesenggukan.

image

Saya menikmati banyak cerita fiksi.

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, saya mungkin memang tidak suka fiksi. Konteksnya bukan fiksi sebagai genre, tapi fiksi sebagai cerita dengan dasar yang tidak nyata.

Buat saya, fiksi itu hanya cara bercerita. Ada cerita yang disajikan dengan cara lugas sembari berteori, ada juga yang disajikan dengan gaya bercerita lewat tokoh rekaan. Yang kedua, adalah representasi gaya fiksi.

Kalau itu soal gaya bercerita, lalu bagaimana dengan kontennya? Menurut saya, konten karya yang ideal harusnya tidak sepenuhnya fiksi, atau paling tidak, harus punya pijakan yang kuat pada sesuatu yang nyata di dunia yang sebenarnya.

Pijakan di dunia nyata ini yang akan membuat sebuah cerita menjadi kuat, yang membuat pembaca/penonton bisa terhubung dengan cerita yang disajikan, dan mempermudah transfer pesan yang ingin disampaikan.

Saya menyukai cerita luar biasa yang imajinasinya meledak-ledak, tapi punya pijakan dunia nyata yang jelas. Cerita fiksi yang tidak punya dasar atau didasarkan pada keresahan yang dibuat-buat hanya akan menghasilkan cerita yang mudah goyah. Tidak memiliki kedalaman.

Bagi saya, cerita terbaik adalah cerita dengan garis batas yang tipis antara fiksi dan dunia sebenarnya. Cerita yang tiap potongannya membuat kita bisa terhubung dengan salah satu atau banyak kejadian yang kita amati di dunia nyata.

Bagi saya, salah satu contoh yang paling mendekati deskripsi tadi adalah film Zootopia.

image

Lihat sedemikian jauhnya Zootopia mengolah cara mereka bercerita dengan universe dan karakter yang sangat fiksi.

Dikisahkan, Zootopia adalah sebuah kota metropolitan di sebuah dunia yang hanya diisi oleh Mamalia. Dari yang kecil hingga yang besar, dari yang berbulu hingga yang bertaring, semua hidup damai berdampingan dalam sebuah kota.

Konflik mulai terjadi dari sudut pandang Judy Hopps, seekor kelinci dari desa yang bercita-cita menjadi polisi. Dari sana, semua konflik yang terjadi adalah konflik besar dan kecil yang terinspirasi dari keseharian manusia di dunia nyata: cerita tentang seseorang yang bercita-cita tinggi tapi terhambat stigma masyarakat. Cerita tentang mereka yang dinilai karena stereotipe, bukan kompetensi. Cerita tentang bullying dan trauma masa kecil. Cerita tentang politik, kekuasaan, dan toleransi.

Semua cerita dengan konflik yang dalam dan terasa sangat nyata.

Tak heran jika kemudian Zootopia mendapat rating 8,4 di IMDB dan 98% di Rotten Tomates.

Sebuah cerita yang mewakili keresahan yang nyata. Seperti itulah harusnya proses penciptaan sebuah karya.

Karena saya percaya, fiksi bukanlah cara kita lari dari dunia nyata.

Tapi fiksi, hanyalah satu dari banyak cara kita memahaminya.

Fiksi: Teman Imaji

Beberapa tahun belakangan, saya jarang sekali membaca fiksi.

Sebenarnya tidak ada alasan khusus. Saya hanya lebih selektif ketika harus membaca fiksi. Karakter ini saya jalankan setelah semakin yakin bahwa somehow, fiksi adalah cermin dari dunia nyata.

Biasanya, saya akan menyukai buku fiksi yang mudah terhubung dengan kehidupan saya. Contohnya, dulu waktu jaman boomingnya Harry Potter, semua orang baca novel itu, sementara saya tidak. Bertahun-tahun kemudian ketika saya kehabisan stok bacaan dan adanya Harry Potter, saya baru terpaksa baca, dan jadi suka. Saya suka karena saya mudah menyambungkannya dengan kehidupan saya; kehidupan Harry di asrama tak ubahnya kehidupan saya yang anak pesantren. Bedanya ya saya beraqidah dan belajar ngaji, sementara si Harry ini tidak sholat dan belajar sihir.


Tahun ini, salah satu buku fiksi yang saya baca adalah Teman Imaji.

Sebenarnya, saya sudah lama lihat buku ini, karena di awal pre order dulu, Mutia menggunakan platform tempat saya bekerja. Dan buku Teman Imaji juga ada di meja kerja saya, punya @irapurwokinanti​ yang tak pernah saya sentuh karena saya memang tidak tertarik. Apalagi covernya memang terkesan sangat feminim dan childish. Bukan tipe bacaan saya sama sekali.

Baru beberapa bulan kemudian saya mulai melihat nama Mutia bermunculan dan bersinggungan di timeline Tumblr. Akhirnya saya mulai membaca Teman Imaji dan surprisingly, kurang satu minggu saya bisa baca sampai selesai.

Ada beberapa keunikan yang saya temukan dalam tulisannya Mutia.

Pertama, tulisannya benar-benar jujur. Meskipun Teman Imaji adalah novel, dan fiksi, saya merasakan tulisan yang benar-benar apa adanya, tidak dibuat-buat. Di banyak novel, kita pasti sering merasakan ada effort yang diusahakan penulis untuk mengatakan bahwa cerita ini nyata. Di Teman Imaji, saya tidak menemukan usaha itu; dan saya tetap bisa mendapati semua cerita di dalamnya terasa nyata. Setting yang familiar, dialog yang sederhana, dan plot yang mengalir apa adanya.

Mungkin itu juga mengapa saya yang biasa mengonsumsi nonfiksi bisa selesai membaca Teman Imaji. Karena rasanya semua seperti mendengar Mutia bercerita tentang dirinya sendiri. Makanya pertanyaan saya waktu pertama kali ketemu Mutia, “Kica itu lo kan?”.

Bahkan kita ngobrol pertama kali di Jelaga, setting kafe tongkrongannya Kica, tapi di dunia nyata. Dan tanpa diberitahu, saya tahu persis itu dimana.

Kedua, kejernihan tulisan Teman Imaji tertuang dalam kalimat-kalimat sederhana; yang memukau tanpa harus bersayap-sayap.

Banyak sekali penulis yang ingin menyampaikan pesan, tapi dengan cara menggurui. Tidak Teman Imaji; she’s not telling, she’s showing. Daripada memberi tahu langsung bahwa ini harus seperti ini dan itu harus seperti itu, Mutia menunjukkannya lewat percakapan yang membuat kita serasa menonton drama. Tau-tau di ujung dialog kita tersentak lalu tanpa sadar setuju. Iya juga ya. Bener banget ini. Oh iya sih, ternyata ini maknanya.

Kalimat-kalimat itu keluar dari mulut saya dan juga banyak pembaca Teman Imaji yang saya tanyakan pendapatnya.

Ketiga – sebenarnya hanya dua tapi biar afdol kita bikin tiga – Mutia berhasil mengakumulasikan pengalaman dan pengetahuannya ke dalam berbagai tokoh yang berkarakter. Kata Mutia, pembaca Teman Imaji, terutama yang wanita, terbagi menjadi beberapa kubu; mereka yang mengaitkan dirinya sebagai Kica, Faza, dan Rasya. Menarik karena artinya penulis sama sekali tidak mengarahkan subjektivitasnya pada pembaca. Dia memberikan semua alternatif dan membiarkan pembaca yang menentukan pilihannya.

Fakta lainnya adalah bahwa Mutia mulai menulis dari kecil dan menyimpan semua common place nya sejak lama. Maka ketika Teman Imaji hadir sebagai karya yang begitu berkarakter dan diselesaikan dalam waktu 1 bulan, saya tidak kaget. Salah satu anatomi karya yang baik, kata Pandji, adalah dasar yang kuat.


Teman Imaji menjadi satu khazanah baru bagi saya dalam dunia kepenulisan. Karenanya saya tidak ragu untuk kemudian bertemu Mutia dan belajar darinya.

Apa yang saya pelajari dari Mutia juga bisa teman-teman dengarkan di Podcast saya, Subjective.

Saya ajak dia ngobrol soal kepenulisan, self-publishing, dunia Tumblr, sampai pendapatnya sendiri soal kisah cintanya yang selalu buka-bukaan.

Sudah bisa didengarkan di Soundcloud, dan baru akan rilis di Tumblr besok.

Salam fiksi!

Berputar Di Sana. Selamanya.

Dua bulan ke belakang saya sedang kehilangan ritme membaca.

Hubungan saya dengan buku-buku semakin berjarak. Saya jadi sulit membuat waktu khusus untuk membaca. Meskipun sengaja saya luangkan waktu untuk beli beberapa buku menarik di Gramedia, buku-buku itu akhirnya hanya bertumpukan di atas meja kerja. Membawa buku-buku itu di tas juga seringkali ga ada gunanya, karena toh saya commute ke sana kemari dengan kendaraan pribadi dan semakin jarang naik transportasi massal.

Beberapa hari lalu juga saya sempatkan waktu untuk beli buku online, hal yang jarang saya lakukan mengingat membeli buku adalah hal yang lumayan sakral buat saya. Sering banget di toko buku, setelah memastikan tidak ada orang yang melihat, saya menghirup kertas buku – semacam orang ngobat – sebelum saya pergi ke kasir. Pernah satu kali kepergok embak-embak Gramedia, tapi dia ga bereaksi apa-apa. Mungkin sudah biasa ketemu orang serupa.

Bagi saya, membaca sepenting itu karena saya percaya betul apa kata Jac Vanek: “You are what you read”.

Kita memantulkan kembali apa yang kita serap. Dan bukan hanya bacaan, tapi juga film yang kita tonton, musik yang kita dengarkan, obrolan yang kita perbincangkan, dan pengalaman yang kita rasakan.

Saya jadi ingat waktu kelas 1 SMP di pesantren, sahabat saya @lengkocity pernah membawa buku tebal tentang Ibrahim yang dikaji dari tiga sudut pandang agama: Islam, Kristen, dan Yahudi. Saya yang super antusias langsung mengantri untuk baca, dan besoknya langsung kecewa karena bukunya langsung disita. Kami yang sedang gandrung bacaan berbobot dikecewakan dan langsung meradang. “Ini namanya pembatasan pengetahuan! Pengekangan wawasan!”. Tentu semua itu kami teriakkan dalam hati. Kami kesal karena pasti buku itu dianggap sesat dan dibakar.

Bertahun-tahun kemudian saat kami SMA, @lengkocity dipanggil kembali dan kaget karena ternyata buku itu masih ada, tetap dalam kondisi rapi, dan dikembalikan saat itu juga. “Dulu buku ini disita karena kamu belum punya pengetahuan apa-apa, dan buku ini bisa jadi berbahaya”, kata guru saya waktu mengembalikan. “Sekarang, kamu sudah siap untuk baca”.

Kami kemudian baru tersadar kepolosan kami yang mencak-mencak bicara soal kemerdekaan pengetahuan, padahal waktu itu kami masih ingusan. Kami belajar bahwa buku bukan hanya sekadar bacaan. Dia adalah hasil ekstraksi dari ide yang hidup dan pemikiran yang bertumbuh.

Dan seperti kata DiCaprio di film Inception, “There is no such thing as simple idea”. Semua ide adalah benih, dan benih bisa tumbuh liar tanpa pernah kita sadar.


Umpama klasik mengatakan buku sebagai jendela dunia; tapi bagi saya buku lebih dari itu. Buku adalah kumpulan ide, dan ide bekerja seperti virus. Sekali hinggap di tubuh makhluk hidup, virus bisa mereplikasi dirinya sendiri tanpa bisa kita awasi.

Memahami karakter ide dan bagaimana otak kita meresponnya harusnya menjadi kesadaran awal kita untuk menentukan buku apa yang ingin kita baca dan ide apa yang ingin kita pelihara.

Karena sekali ide berputar di kepala, dia akan terus berputar di sana.

Selamanya.

Jauh Lebih Bermakna

Saya tidak pernah merayakan ulang tahun seumur hidup saya.

Serius. Tidak pernah satu kali pun saya secara sadar membuat pesta yang judulnya perayaan ulang tahun dan datangnya dari saya.

Alasannya ada dua, dan sederhana saja. Pertama, karena memang tidak ada budaya merayakan ulang tahun di keluarga saya. Kedua, yang juga menjadi alasan untuk alasan pertama, karena ulang tahun bagi saya tidak penting-penting amat.

Apa sih pentingnya ulang tahun? Alibi beberapa orang, ulang tahun penting dirayakan untuk bersyukur. Evaluasi. Muhasabah.

Sayangnya (atau syukurnya) saya diajarkan untuk melakukannya setiap hari, minggu, dan bulan. Saya tidak merasa butuh momen khusus yang sifatnya tahunan untuk melakukannya.

Sebenarnya ada alasan lain. Tapi ini lebih pada bentuk penolakan pada kesalahan yang saya lihat di sekitar saya. Saya tidak suka melihat perayaan ulang tahun yang cuma pesta pora. Apalagi budaya ceplok telor, buang-buang terigu, atau lempar teman ke kolam. Lebih banyak sia-sia daripada manfaatnya. Seringkali tidak masuk akal di benak saya. Terlebih kalo isinya cuma buang-buang makanan, tawa-tiwi sana-sini, dan hura-hura haha-hihi.

Bagi saya ulang tahun memang tidak sepenting itu.

Sampai saya sadar satu hal.

Semakin luas pergaulan, semakin banyak pula saya bertemu orang-orang. Dan diantara mereka, ada orang-orang yang punya ikatan emosional dengan ulang tahun.

Bagi orang-orang tertentu, ulang tahun sangat penting. Bukan karena mereka ingin merayakannya, tapi karena setiap waktu yang mereka lewatkan benar benar tidak tergantikan nilainya.

Mereka yang bahkan tak pernah yakin jika besok masih ada.

Mereka yang setiap detiknya harus berjuang melawan penyakitnya.

Karenanya ketika sampai di hari kelahiran mereka, tak ada yang pantas diucapkan selain syukur dan bergembira atas karunia-Nya.

18 November 2015 ini, saya ingin merayakan ulang tahun untuk pertama kalinya.

Bukan dengan pesta, dan bukan untuk saya.
Tapi untuk pahlawan kecil yang setiap detik hidupnya begitu berharga.

Saya tidak butuh hadiah, tapi bantu saya memberi hadiah untuk dia. Saya ingin ulang tahun saya bisa membuatnya bahagia dan kuat melawan penyakitnya.


image

Namanya Siti. Umurnya 3 tahun, dan sejak usia 3 bulan, bola mata Siti berkilau dan membengkak. Saat diperiksakan ke rumah sakit, diagnosa dokter bilang Retinoblastoma.

Saat pertama diceritakan Mas Bowo dari Komunitas Taufan, saya sendiri yang anak biologi tidak tahu apa itu retinoblastoma. Bahasa simpelnya, Siti terkena kanker mata. Satu tahun lamanya Siti tak mampu berobat karena tidak punya kelengkapan administrasi sebagai pelengkap untuk mendapatkan kartu gratis pengobatan. Orangtua Siti bekerja sebagai pemulung.

Bola mata Siti semakin membesar dan pecah tanpa perawatan medis, hingga dengan getirnya kedua orang tua Siti menyaksikan kesakitan pada buah hatinya. Lalu dengan segala kemampuan, akhirnya Siti bisa menikmati layanan pengobatan gratis dari pemerintah hingga hari ini.

Siti sudah melakukan perawatan dengan kemoterapi hampir 2 tahun dan sudah melakukan operasi. Kini tinggal melakukan 1 kali lagi rangkaian kemoterapi untuk selanjutkan akan di lakukan evaluasi.

Saya tidak pernah ketemu Siti, tapi saya kenal mas Bowo dari Komunitas Taufan. Komunitas Taufan adalah Yayasan yang melakukan pendampingan untuk anak-anak penderita kanker, dan salah satu pasien dampingannya adalah Siti.

Komunitas Taufan mendampingi anak-anak ini untuk kebutuhan non-medis seperti memberikan supply makanan, biaya transportasi ke dan dari rumah sakit, boneka, buku cerita, dan apapun yang bisa membuat mereka bahagia.

image

Saya ingin ulang tahun kali ini saya rayakan untuk kebahagiaan Siti dan keluarganya.

Untuk membuat Siti kuat dan tidak takluk dengan penyakitnya.

Klik kitabisa.com/ulangtahuniqbal, klik tombol donasi dan bantu saya membuat ulang tahun kali ini jauh lebih bermakna.


Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu Siti dan keluarga dalam biaya transportasi dari dan ke rumah sakit untuk kemoterapi, susu kotak untuk kesehatan Siti, dan kebutuhan diaper. Target saya 1.500.000, tapi semakin banyak uang yang terkumpul maka semakin besar pula bantuan yang bisa kita berikan untuk Siti. Plus sebagai bagian dari gerakan Movember, I will grow my stache during November. Semoga bisa menjadi tren baru dalam merayakan ulang tahun.

Bantu dengan donasi dengan klik kitabisa.com/ulangtahuniqbal atau bantu Reblog untuk lebih banyak orang membantu.

Jujur Bersuara

Belakangan saya traveling ke berbagai kota di Jawa, mulai dari Banten, Pandeglang, Subang, Semarang, Malang, Surabaya, dan Bandung. Semakin banyak kota yang saya kunjungi, meskipun belum beranjak dari Jawa, semakin saya merasakan kesenjangan yang terjadi antara ibu kota dan kota satelit. Antara kota besar dan kota kecil. Antara daerah urban dan perkampungan.

Banyak hal yang tidak merata, mulai dari pembangunan infrastruktur, akses pendidikan, hingga sarana hiburan dan rekreasi. Semuanya berpusat di Jakarta dan kota besar lainnya. Sementara kota lain, masih untung kalau kebagian ampasnya. Lebih banyak lagi kota yang kebagian mencium aromanya saja tidak.

Kalo ditilik dari sejarah, tidak sedikit yang menyalahkan Soeharto karena pembangunan yang Jawa-sentris. Semua dibangun di Jawa. Semua dibangun di Jakarta.

Mungkin salah satu yang paling terasa kesenjangannya adalah penyebaran informasi. Informasi didistribusikan oleh media mainstream, lalu konsumsi mainstream dipaksa menjadi konsumsi semua orang. Contoh paling nyata adalah media TV nasional yang secara distribusi konten tidak seimbang dan isinya ternyata tidak nasional-nasional amat.

Bastian Steel kejedot pintu, kalo kejadiannya di Jakarta, pasti akan langsung jadi berita. Tapi kalau lokasinya di Sulawesi Utara, meskipun kejadiaannya ratusan hektar hutan terbakar, belum tentu bisa diangkat media.

Berita Jakarta jadi berita nasional. Jika Jakarta banjir, berhari-hari disorot dari korban banjir sampai macam-macam sampah yang dibawa air.

Tren Jakarta jadi tren nasional. Musik Jakarta jadi musik nasional. Lelucon Jakarta jadi lelucon nasional.

Kita tidak butuh semuanya menjadi nasional. Kita butuh citarasa lokal.


“Lokalitas seni”, kata musisi dari studio legendaris Lokananta, “adalah faktor yang menjaga kejujuran manusia tetap pada jalurnya”. Seni, termasuk di dalamnya berkarya dengan menulis, adalah bentuk ekspresi jiwa. Sebuah metode menumpahkan keresahan dan jujur menyuarakan kegelisahan.

Maka sudah sewajarnya dalam berkesenian, berbagai genre muncul sebagai pilihan. Tidak ada genre yang bisa mewakili semua kepala; tidak musik dangdut, tidak pula musik Jazz. Dan tidak bisa pula kita membuat klasifikasi kelas berdasarkan genre, karena toh ini masalah selera. Dangdut tidak berarti kampungan, sebagaimana Jazz tidak berarti kekinian. Penyuka Armada Band belum tentu alay, dan pecinta Taylor Swift belum tentu anak gaul Jakarta Selatan.

Setiap kepala punya keresahan yang berbeda dengan metode berekspresi yang berbeda pula. Jadi rasanya akan lebih asik jika kita menerima perbedaan ekspresi apa adanya. Biarlah masing-masing dari kita menyuarakan sesuatu yang memang datangnya dari hati dan kepala. Jangan mengekor hanya karena takut berbeda.

Langkah yang dibuat-buat akan selalu membuat kita tersesat. 

Dan langkah yang jujur akan selalu menunjukkan jalan ke rumah para penikmat.


Terakhir, pernah tahu lagu legendaris Rumah Kita yang dinyanyikan Indonesian Voices?

Lagu ini salah satu bentuk karya seni favorit saya yang menunjukkan keindahan ragam suara yang jadi satu. Lagu ini adalah cerminan kejujuran, karena semua penyanyi tak melakukan apapun kecuali menjadi diri sendiri. Dengar lagu ini sambil menutup mata, maka tanpa usaha Anda akan sadar di sana ada Armand Maulana, Glenn Fredly, Kikan, Pinkan Mambo, dan Achmad Albar.

Semua jujur dan berekspresi apa adanya. Dan keragaman itu yang membuat lagu ini jadi indah tidak terkira.

Dan saya sangat berharap kita semua bisa bersama menciptakan keragaman dengan keindahan yang sama.

Mari jujur bersuara.

Keresahan

Pagi ini saya membuka timeline twitter dan membaca bahwa hari ini adalah hari spesial. Hari ini, 27 Oktober adalah Hari Blogger Nasional.

Karenanya, saya memulai rutinitas pagi dengan kepo sejarah saya sendiri.

Saya mulai menulis di Tumblr sejak 2010, tapi blog pertama saya (ternyata) sudah ada sejak 2008. Namanya Catatan Merah Putih, blog yang saya tulis di awal SMA. Saat membaca lagi tulisan saya satu per satu, saya senyum-senyum sendiri. Rasanya aneh karena ternyata saya pernah menulis tentang M. Natsir (yang bahkan sekarang saya lupa), hobi main ke museum, dan sok-sokan bikin analisis bahasa.

Baca blog jaman dulu rasanya aneh dan seringkali, geli. Kok bisa ya dulu saya berpikiran kayak gitu.

Tapi saya selalu belajar menghargai proses; karenanya meskipun cupu, saya tidak pernah berniat menghapus tulisan yang pernah saya buat di media manapun. Karena saya sepenuhnya sadar: apa yang membuat saya sekarang adalah apa yang saya lakukan di masa lalu.

Menulis di blog telah membuka saya pada amat sangat banyak kesempatan dan pengalaman. Menulis di blog membuat saya bertemu dan kenal secara langsung dengan para idola dan inspirasi. Tulisan di blog membuat saya berkesempatan mengasah skill di Indonesia Kreatif. Karena menulis di blog pula – lewat rantai proses yang agak panjang – saya kenal @peter-draw@kuntawiaji, dan keluar negeri untuk pertama kali.

Tapi yang paling penting bagi saya, blog menjadi tempat saya menumpahkan keresahan. Dia menjadi perantara saya bertemu orang-orang yang berbagi kegelisahan yang sama.

Kata Raditya Dika, keresahan adalah sumber inspirasi paling alami dalam berkarya. Menurut Radit, setidaknya ada tiga tingkatan keresahan: inner self, outer self, dan the world within. Dua tingkatan pertama masih bicara soal diri sendiri, dan tingkatan terakhir bicara soal dunia di sekitar kita.

Menulis adalah langkah pertama membebaskan diri dengan menceritakan masalah apa adanya.

Meminjam istilah @prawitamutia, menuangkan keresahan melalui tulisan adalah proses pemulihan jiwa.

Dunia semakin lebih baik karena semakin banyak orang yang berbagi keresahan. Saya masih terus berharap Tumblr bisa menjadi rumah pengetahuan yang lebih kaya dari sekadar menampung keresahan yang itu-itu saja.

Mari merayakan kegelisahan dan berbagi keresahan.

Selamat Hari Blogger Nasional!

Ruang dan Waktu

Saya beruntung jadi orang yang bisa mencintai buku.

Tidak semua orang mau. Dan tidak semua orang bisa.

Sejauh yang bisa saya ingat, buku pertama yang saya baca dengan penuh kesadaran adalah seri mini ensiklopedia tentang dinosaurus, dimana akhirnya saya mengenal T-Rex, Brontosaurus, Stegosaurus, Ankylosaurus, dan masih banyak lagi. Bisa jadi pula, buku ini adalah inception pertama yang membuat saya menjadi penasaran dengan dunia sains, biologi, dan teori evolusi.

Dalam rentang waktu yang tidak lama, saya juga ingat membaca komik manga tentang Golf. Saya lupa judulnya, pokoknya yang saya ingat, sang tokoh utama bisa hole-in-one (memasukkan bola golf ke lubang dengan satu kali pukulan) dengan teknik bungkus bendera. Awesome. Dulu saya percaya teknik bungkus bendera itu nyata, dan saya belajar bahwa di dunia ini tidak ada yang mustahil. Dan sebagai anak kecil, saya sempat terinspirasi dan bercita-cita menjadi pemain golf. Mimpi itu langsung saya urungkan saat melihat di TV, pemain golf dikelilingi wanita cantik dengan rok pendek. Waktu itu ceritanya saya sudah masuk TPA dan saya tahu itu haram hukumnya, lalu saya beralih ingin menjadi dokter. Lucu juga kalo diingat-ingat sekarang, karena akhirnya tidak ada satu pun dari pemain golf atau dokter yang kejadian.

Tiap membereskan buku di rumah, saya selalu mencari dimana buku-buku dinosaurus dan komik golf itu. Dalam dunia membaca, mereka adalah cinta pertama saya. Saya benar-benar ingat rasanya ketika imajinasi saya lebur dalam halaman-halaman. Saya benar-benar bisa merasakan sensasi petualangan yang seringkali tidak masuk akal, keajaiban yang muncul satu per satu hanya dengan membaca deretan kata di atas kertas.

Cinta pertama itu masih hilang sampai sekarang.

Setelah cinta pertama, saya kemudian terobsesi untuk menjalin cinta dengan buku-buku berikutnya. Dalam baca membaca, (setidaknya dulu) saya omnivora. Saya tidak pilih-pilih, dan kebiasaan ini semakin bertumbuh saat saya di pesantren yang tidak punya hiburan selain bacaan. Saya pembaca segala. Ensiklopedia, kamus, novel, kumpulan puisi, fiksi, nonfiksi, selfhelp, kitab fiqh, siroh nabawi, koran, majalah pria, majalah agama, majalah anak-anak, tabloid bola, pokoknya semua saya baca.

Saya juga selalu bersyukur punya orang tua yang mendukung saya membeli buku. Waktu kecil, saya jarang sekali meminta. Tapi jika saya meminta, rasanya tidak pernah ditolak. Waktu SMP, saya sedang menggilai teori konspirasi dan minta dibelikan buku tebal seharga 120.000. Saya ingat sekali judulnya: Knights of Christ, Knights of Templar karya Rizki Ridyasmara. Waktu diminta, saya ingat sekali tatapan ibu saya yang heran kok bisa anaknya baca buku begituan. Tapi akhirnya toh saya tetap dibelikan.

Saya juga ingat buku pertama yang saya beli dengan uang sendiri: Naked Traveler nya Trinity dan La Tahzan nya Dr. Aidh Al Qarni. Saya ingat kejadiannya sepulang Olimpiade Sains Nasional tingkat provinsi, saya mampir di Gramedia Merdeka, Bandung. Saya masih ingat rasa bangga saat membayar dan saya ingat bilang sama kasirnya, “Teh, ini buku pertama saya”. Saya juga ingat muka si teteh kasir yang kalo hidup di zaman sekarang mimik wajahnya seakan berkata, “Trus teteh harus bilang wow gitu?”. Dan saya akan menjawab balik dengan mimik wajah yang berkata, “Iya, teh. Tolong dong bilang wow untuk buku pertama saya”.

Saat selesai kuliah dan akan pindah dari kosan, saya bangga sekali saat membereskan kamar dan mengepak barang. Saya punya tiga kardus besar, dan tiga-tiganya terisi buku. Ada puluhan buku yang saya beli dan koleksi selama kuliah. Dan malam itu, saya membaca dan mengingat buku-buku itu satu per satu. Tiap membalik halaman-halamannya, saya tersenyum senang macam orang pulang dari kawinan.

Saya selalu menikmati romantisme saya dengan buku.
Saya membaca buku di waktu luang, saat menunggu kereta, ketika di pesawat, dan menjelang tidur.

Saya sangat bahagia menjadi orang yang bisa mencintai buku. Meskipun tidak akan ada yang menyangkal kebaikan buku, tidak semua orang ditakdirkan mencintai buku. Dan saya selalu bersyukur Tuhan memilih saya menjadi sebagian dari orang-orang itu.

Saat memikirkan apa arti buku, yang terlintas di benak saya adalah Endurance, kapal luar angkasa yang melakukan perjalanan antar galaksi di film Interstellar.

A spacecraft to travel through space and time.

That’s how I define a book. Sebuah kendaraan untuk terbang melintasi ruang dan waktu.