Autobiographical

“All advice”, kata Austin Kleon, “is autobiographical”

Setiap nasihat yang kita tuliskan pada dasarnya selalu ditujukan untuk diri kita sendiri.

Karenanya setiap kali saya buntu atau punya masalah, yang sering saya lakukan adalah membuka buku catatan. Notes tempat saya menulis hal-hal kecil dan besar.

image

Sejak SMP, kemanapun saya pergi, di tas saya selalu ada dua barang: buku bacaan dan buku catatan. Sebenarnya lebih karena sifat saya yang pelupa, saya selalu menyimpan tulisan di dalam buku catatan. Isinya beragam mulai dari diari sehari-hari, opini serius, sampai hitung-hitungan hutang. Meskipun kini telah dimanjakan dengan Google Keep, bagi saya menulis dengan tangan selalu punya sensasi yang tidak bisa tergantikan. Emosi yang tertuang lebih spontan.

Saya hampir selalu bisa belajar dari apa yang pernah saya tuliskan. Jika ada masalah hari ini, seringnya saya pernah mengalami hal yang sama di masa lalu, dan pernah saya tuliskan. Ketika membaca tulisan itu lagi, rasanya seperti ngobrol dengan diri saya di masa itu.

Bicara soal menasihati diri sendiri, saya kemudian sadar bahwa belajar dari autobiographical advice di masa lalu tidaklah cukup. Satu hal yang telah dan terus saya pelajari sampai sekarang adalah berbicara lebih sedikit dan mendengar lebih banyak.

“When you talk, you only repeating what you already know. If you listen, you may learn something new"

Terus menerus membuat nasihat sendiri tidak akan memperkaya diri. Tapi merendahkan hati dan mendengarkan orang lain selalu membuat kita lebih baik dan belajar hal baru.

Selamat belajar!

Jembatan Luchtsingel: Kolaborasi Kreatif Untuk Pembangunan Kota

Rotterdam berbangga punya satu infrastruktur publik yang menjadi simbol kolaborasi raksasa.

ZUS, studio arsitektur yang merancang jembatan ini dengan bangga memperkenalkan Luchstingel sebagai world’s first crowdfunded public infrastructure project. Proyek infrastruktur publik pertama yang dihasilkan dari crowdfunding. 

Dinamakan Luchstingel yang berarti kanal udara, jembatan ini berada di atas bangunan, jalan, dan rel kereta api: menghubungkan tiga area yang sebelumnya terpisah. Jembatan ini membuat jalan layang untuk pejalan kaki yang menghubungkan stasiun Rotterdam Centraal dengan distrik bersejarah Laurenskwartier. Dan juga menghubungkan beberapa proyek seru lain, seperti taman publik dan kebun sayur di rooftop.

Jembatan kuning sepanjang 400 meter itu adalah hasil patungan dari ribuan orang. Gagasan pembangunan jembatan ini dilempar ke masyarakat dengan ide: untuk setiap donasi €25 (sekitar Rp 400.000), nama donatur akan dicetak di salah satu papan kayu yang menyusun jembatan.

Lebih dari 8.000 orang mendukung dan berdonasi untuk jembatan ini. Gerakan luar biasa ini kemudian juga mendapatkan dukungan finansial dari pemerintah kota. Sebuah cara baru dalam membangun infrastruktur publik dengan melibatkan semua elemen kota.


Kapan di Indonesia akan ada kolaborasi seru seperti ini?

Saat ini, sepertinya kota paling memungkinkan untuk terjadinya kolaborasi semacam ini adalah Bandung.

@ridwankamil telah memulai berbagai inovasi kreatif dalam pembangunan infrastruktur, mulai dari perencanaan, pembiayaan, sampai arsitekturnya. Budaya kolaborasi warga Bandung pun semakin bertumbuh dengan menjalankan prinsip hidup adalah udunan.

Semoga Bandung semakin juara dan menjadi teladan kota kreatif bagi ribuan kota lainnya di Indonesia.

Salam kreatif!

Dear Kang @ridwankamil,

Terima kasih telah mengingatkan saya rasanya mendoakan kebaikan untuk pemimpin.

Setiap melihat kang Emil berbicara tentang Bandung, saya selalu mendoakan semoga Allah tak henti-henti mengalirkan kebaikan. Semoga Allah selalu berikan kesehatan dan kekuatan untuk Kang Emil berjuang demi kebaikan. Semoga Allah kuatkan pundak dan hati Kang Emil untuk selalu istiqomah di jalan kejujuran.

Terima kasih sudah menyalakan harapan di Bandung. Karena sinarnya tak hanya terlilhat di sana, tapi juga menjadi lentera yang menyalakan harapan di ratusan kota lainnya di Indonesia.

Terima kasih untuk selalu mengingatkan arti berbahagia.

Terima kasih telah mengajarkan bicara dengan tindakan dan hidup dengan udunan.

Wilujeng tepang taun, kang @ridwankamil. Terima kasih telah memberi tahu rasanya punya pemimpin yang bisa disayangi setulus hati 🙂

Buta Sejarah

Harus diakui, saya termasuk orang yang buta sejarah.

image

Pagi ini tiba-tiba di salah satu grup whatsapp saya ramai pembahasan soal peristiwa Komunis dan G30S PKI. Lalu diskusi berlanjut ke pembahasan yang lebih kompleks, peristiwa kecil yang berada dalam satu rantai, penyebutan tokoh-tokoh yang terlibat, sampai ke ragam paham -isme.

Sejujurnya, saya cuma bisa mingkem. Kalo kata orang Bekasi, cengap.

Cengap karena sebenarnya saya tidak tahu apa-apa. Salah satu hal yang sangat saya sesali dalam kehidupan sekolah menengah saya, ketika saya tidak belajar sejarah dengan benar.

Ketika sekarang ingin mengejar ketertinggalan, sebenarnya belum terlambat. Tapi otak saya sudah dipenuhi oleh curiosity di hal lain, terutama industri kreatif dan bisnis digital. Jadi rasanya sulit sekali untuk memaksa diri mencari tahu lebih dalam soal sejarah.

Sumber belajarnya sih ada banyak. Tapi sejarah, kata Winston Churcill, ditulis oleh para pemenang. History is a His Story. Tergantung siapa yang menulis, sejarah selalu punya berbagai versi. Tidak ada sejarah tunggal.

Jadi mencari kebenaran dalam sejarah, adalah masalah berikutnya.

Mesti rajin membaca banyak referensi dan memperluas khazanah melalui diskusi. Kalo sudah begini, masalah berikutnya seperti tulisan saya sebelumnya: the problem is, we think we have time.


Sekarang pertanyaannya, apakah saya dan Anda sama? Sebagian besar anak muda yang (sok) berani menatap masa depan, tapi buta sejarah?

Jika iya, maka ada dua hal yang menurut saya bisa dilakukan.

Pertama, tetaplah membaca sejarah, sesedikit apapun yang kita mampu. Setidaknya, kita membuka sedikit keran agar kepedulian dan pengetahuan tentang sejarah mulai mengalir.

Kedua, biasakan menulis dengan tujuan merekam sejarah. Sejarah ada karena ada yang menuliskannya. Semakin banyak yang menuliskan, semakin banyak pula yang bisa dijadikan referensi untuk membandingkan. Budaya menulis harus terus ditumbuhkan, untuk menjadi dokumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan di masa depan.

Ah, minggu pagi yang terlalu serius sudah saya jalani.

Saatnya mandi dan lanjut menyeruput segelas kopi.


Untuk referensi ringan soal sejarah G30S PKI, saya merekomendasikan newsletter singkat berjudul Kotak Pandora 1965 yang ditulis Pamflet Generasi.

Satu Dengan Seribu

Sejak kuliah, saya selalu suka mengejar matahari.

Mengejar matahari terbit. Mengejar matahari tenggelam.

Menikmati cahaya merah-jingga-kuning yang terurai membuat saya percaya satu hal: Tuhan tidak pernah hitung-hitungan. Nikmat matahari yang menerangi bumi kita setiap hari seharusnya tidak cukup dibayar dengan sholat lima kali sehari. Belum lagi nikmat air, udara, dan bumi.

Karenanya kita pun tak seharusnya hitung-hitungan. Seperti untuk kurban; siapkan hal terbaik yang kita punya. Bukan kurban namanya jika kita memberi alakadarnya. Justru berkurban adalah memberi hal terbaik yang kita punya, meskipun berat pengorbanannya. Seperti Qabil yang mengorbankan harta terbaiknya. Seperti Ibrahim yang mengorbankan anak kesayangannya.

Tapi mengingat Qabil dan Ibrahim, saya jadi berpikir dua kali.

Mungkin salah jika berkata bahwa Tuhan tidak pernah hitung-hitungan. Tuhan berhitung; tapi hitung-hitungannya di luar nalar. Bagaimana tidak, adilnya Dia tidak seperti adilnya manusia. Keburukan tak pernah dihitung sampai diperbuat, tapi kebaikan selalu dihitung meski dalam bentuk niat.

Dan Tuhan tidak membayar satu dengan satu.

Dia membalas satu dengan seribu.

Menjadi Pahlawan

Saya punya pahlawan masa kecil. Namanya Superman.

Dia menjadi sosok pahlawan super ideal. Badan kekar, super tampan, dan yang paling penting, dia menolong semua orang. Exactly, semua orang. Pria atau wanita, anak kecil atau orang dewasa, mulai dari pengemis di pinggir jalan sampai presiden dan walikota.

Saya ingin seperti Superman. Menolong semua orang. Menjadi pahlawan.

Kelas 2 SD, definisi saya soal pahlawan berubah saat Bapak cerita bahwa waktu umur 5 tahun, saya sakit keras. “Lo hampir mati”, cerita Bapak tentang saya yang sekarat karena kekurangan darah. Bapak tumbuh besar di jalanan Jakarta, jadi memang bicaranya macam orang Betawi. “Syukur ada orang yang donor darahnya, nyawa lo tertolong”.

Sejak saat itu, tiap tiga bulan sekali, Bapak rajin datang ke PMI untuk donor darah. Saya selalu diajak untuk melihat mereka: orang-orang yang diambil darahnya tapi tetap ada senyum di wajahnya.

Setiap selesai donor, Bapak selalu bilang berulang-ulang, “Di sini, mereka orang-orang biasa yang hanya memberi apa yang mereka punya”, katanya sambil menunjuk kantong darah. “Tapi di tempat lain, bantuan mereka menyelamatkan nyawa orang. Mereka menjadi pahlawan”.

Bertahun-tahun kemudian ketika saya datang ke PMI dan melihat orang donor darah, saya tidak pernah bisa menahan diri. Saya selalu menangis.

Di sini, seseorang yang saya tidak tahu entah siapa mendonorkan darahnya dan menjadi perantara Tuhan membuat saya hidup sampai sekarang. Di sini, orang-orang memberi apa yang mereka punya, lalu mengubah dirinya sendiri menjadi pahlawan.


Hari ini, saya tahu arti pahlawan.

Pahlawan bukan Superman yang bisa menolong semua orang.

Pahlawan adalah mereka yang tak mau menyerah dengan keadaan. Mereka yang menolak diam.

Pahlawan adalah mereka yang enggan menunggu perubahan. Tapi menjadi perubahan itu sendiri, sekecil apapun yang dia bisa.

Kemarin, teman saya di Jambi cerita. Sudah dua minggu lebih adiknya tidak bisa sekolah. Saudara saya di Riau kesal karena keluarganya tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Dan sahabat saya di Pontianak bilang, ayahnya masuk rumah sakit karena ISPA.

Semua karena asap.

Bertahun-tahun kita masih terus #MelawanAsap. Tapi hari ini, saya mengajak kamu untuk move on. Move on dari prihatin dan makian. Move on dari kesal dan keluhan.

image

Saya mengajak kamu untuk berbuat sesuatu. Memberi apa yang kamu punya.

Ada inisiatif yang sedang dilakukan Jenny Jusuf untuk membagikan masker dan kaleng oksigen bagi saudara kita di sana. Saya mengajak kamu untuk membantu.

  1. Klik link kampanye #MelawanAsap ini.
  2. Klik donasi, isi jumlah yang ingin kamu donasikan.
  3. Pilih metode pembayaran, klik lanjut dan kamu akan dapat info detil tujuan donasinya.

Semudah itu. Sesimpel itu.

Sejak cerita Bapak tentang saya sakit keras, saya selalu berpikir sekecil apapun bantuan kita, mungkin dia penyelamat nyawa di seberang sana. Karenanya jangan bersembunyi di balik alasan belum mapan. Puasa nonton di bioskop atau membeli buku terbaru di gramedia bisa berarti penyambung hidup bagi saudara kita di sana.

Ayo bantu mereka. Ayo berdiri tegak dan katakan dengan lantang.

Hari ini saya menolak diam.

Hari ini saya menjadi pahlawan.

Everything Has A Price

Saya percaya di dunia ini tidak ada yang gratis. Seperti bit salah satu komika favorit saya, Sammy Notaslimboy:

Everything has a price.

Satu bulan yang lalu, saya datang di acara diskusi dan pameran 125.660 spesimen sejarah alam di Komunitas Salihara. Kurator pameran ini, Anne-Sophie Springer dan Etienne Turpin menyajikan jejak perjalanan Alfred Russel Wallace di Indonesia. Sebuah perjalanan menarik yang mempertemukan sains, seni, dan budaya dalam satu kajian.

image

Dalam diskusi itu kami saling merespon apa yang kami lihat dalam pameran. Opini datang dari berbagai sudut pandang dengan latar belakang yang berbeda-beda: seniman, saintis, budayawan, dan akademisi. Saya ikut mengemukakan ketertarikan saya pada hubungan Wallace dan Darwin sebagai sesama saintis yang dianggap berkontribusi dalam biologi evolusi dan biogeografi. Namun sudut pandang yang paling menarik bagi saya datang dari Bu Melani, guru besar FIB UI.

Ketika melihat koleksi spesimen mulai dari burung, kupu-kupu, hingga mamalia besar seperti harimau, semua orang melihat seni dan keindahan. Beberapa penikmat alam seperti saya melihat petualangan, menghirup aroma hutan, dan mendengar nyanyian alam. Namun dari ribuan spesimen di sana, ada satu kesamaan yang dilewatkan semua orang.

“Tidakkah Anda menyadari satu hal menyedihkan?”, tanya Bu Melani – sambil entah mengapa – menatap saya tajam.

“Mereka semua mati. Mereka semua dibunuh”

image

Saya yang masih membayangkan keindahan spesimen burung Wallace di alam, tiba-tiba seperti ditampar.

“Tidakkah Anda menyadari bahwa kita membunuh mereka dan mengatasnamakan pengetahuan dan seni sebagai pembenaran?”

Saya terdiam.

“Eksplorasi Wallace memberikan andil besar dalam pemetaan biodiversitas indonesia, berkontribusi besar untuk sains dan ilmu pengetahuan, tapi hal itu tidak mengubah apapun dari fakta bahwa burung-burung ini dibunuh untuk diawetkan”.

Paradoks. Kita mau melindungi alam dengan belajar mencintai mereka, tapi kita belajar mencintai dengan membunuh sebagian dari mereka.

Saya jadi teringat cerita Alan Turing di film Imitation Game yang dengan sengaja membiarkan ratusan ribu orang mati, agar perang bisa selesai dan jutaan lainnya selamat.  Atau Dr. Manhattan di film Watchmen yang dengan sengaja meledakkan satu kota untuk menyelamatkan satu dunia. 

We kill millions to save billions.

But can we justify killings with that? Apapun alasannya, pembunuhan tetaplah pembunuhan. Kita tidak bisa mengganti makna pembunuhan dengan apapun, tapi manusia selalu punya cara untuk membenarkan dirinya sendiri.

Saya tidak tahu. Tapi diskusi hari itu membuat saya semakin yakin, tidak ada yang gratis di dunia ini. Mungkin tidak melulu soal uang, tapi saya percaya tidak ada satu hal pun yang bisa kita nikmati secara cuma-cuma. Lingkungan. Pendidikan. Keluarga. Hubungan. Cinta. Semuanya.

Selalu ada yang harus dikorbankan, selalu ada harga yang harus dibayar.

Everything has a price.

Luxury

image

Di Jogja, ada warnet terkenal bernama Luxury.

Waktu pekan kemarin main ke Jogja, saya tidak sempat main ke sana. Tapi teman saya @hahnismail cerita bahwa warnet ini super terkenal karena orang rela antri berjam-jam untuk bisa internetan di sana.

Saya mengernyitkan dahi. Antri berjam-jam?

“Iya, mayoritas orang ke sana bukan buat internetan. Tapi untuk copy film atau lagu”

Teman saya cerita bahwa koleksi di server Luxury lengkap. Super lengkap. It’s like they have all the movies in the world. Ribuan film Indonesia maupun Box Office, short movie ataupun series, semuanya ada.  Foldernya ditata rapi dari A-Z. Bahkan saking banyaknya judul film yang berawalan “The”, filenya dibuat dalam folder sendiri dan di dalamnya diurutkan lagi folder kata setelahnya, dari A-Z.

Begitu juga dengan lagu. Kita bisa temukan berbagai jenis lagu, foldernya disusun rapi dan bisa dicari berdasarkan penyanyi, judul album, atau judul lagunya.

Saya mangap sebentar, takjub. Takjub karena ingin ke sana dan mengkopi koleksi film sebanyak-banyaknya. Dan beberapa detik kemudian takjub karena saya, kamu, dan semua orang yang main ke Luxury sengaja melupakan satu fakta sederhana.

Semua koleksi film dan lagu di sana bajakan.

Oke, sekarang pikirkan fakta ini sebentar, lalu kembali ke cerita di awal bahwa warnet ini punya ribuan koleksi film dan lagu bajakan. Lalu ratusan orang setiap bulannya mengonsumsi produk bajakan dari warnet ini, dan membajaknya lagi, dari satu komputer ke komputer lain.

Pikirkan ada berapa banyak pekerja kreatif di balik film-film tadi yang tidak mendapatkan apapun dari ribuan orang yang mengonsumsi tontonan dari warnet ini. Ada berapa banyak penyanyi, produser, dan penulis lagu yang seharusnya mendapatkan penghargaan tapi malah mendapat pembajakan.

Pikirkan bahwa pembajakan adalah kriminalitas yang seharusnya ditindak oleh negara dengan pidana. Tapi tidak ada tindakan dari penegak hukum. Bahkan lebih parah lagi, tidak ada satupun orang yang merasa bahwa apa yang kita lakukan dengan mengkopi film dan lagu bajakan adalah kesalahan.

Saya tidak hanya bicara soal Luxury, karena di luar sana warnet seperti ini ada banyak. Bukan hanya di Jogja, di Jakarta atau di kota manapun di Indonesia, bahkan dunia.

Kita semua mengonsumsi produk bajakan tanpa pernah merasa bersalah.

Kita semua adalah pembajak.


Saya tidak naif untuk memberi judgement pembajak ke orang lain tanpa menunjuk diri sendiri. Saya pun menyadari bahwa saya adalah konsumen produk bajakan dan sering melakukan pembajakan.

Itulah kenapa di Subjective Episode 1, saya akan bicara soal bajakan.

Saya akan mencoba “menelanjangi diri sendiri” dan melihat seberapa banyak produk bajakan yang kita konsumsi setiap hari. Mencoba mulai menyadari frekuensi penggunaan produk bajakan mulai dari pakaian, film, musik, hingga software yang kita gunakan untuk belajar dan bekerja.

Subjective Episode 1 akan saya publish 13 September 2015 di channel soundcloud.

Join me, and you will listen to my subjectivity.


Further reading:

Muhammad

Banyak yang tidak tahu: nama depan saya adalah Muhammad.

Mungkin karena di sosial media saya hanya mencantumkan nama tengah saya: Iqbal Hariadi. Saya memutuskan demikian karena di suatu hari di kelas satu SMP, saya tahu bahwa di dunia internasional nama orang umumnya hanya terdiri dari dua kata, first name dan last name. Apalagi saya masih punya nama belakang, sehingga total nama saya terdiri dari empat kata.

Dari tiga anak laki-laki, hanya saya yang diberi nama depan Muhammad. Kakak dan adik saya, Subhan Hariadi dan Faturrahman Hariadi tidak punya nama Muhammad. Satu doa yang sangat agung agar saya bisa seperti manusia paling agung sepanjang masa.

Kalau saya sedang duduk atau tiduran menatap langit, saya sering terpikir nama saya sendiri. Nama adalah doa, dan bapak saya berdoa agar saya bisa seperti nabi. Memikirkan fakta itu sering membuat saya bergidik sendiri. Saya takjub sekaligus takut. Saya takjub karena manusia pada umumnya tidak punya kesempatan memilih namanya, dan beruntunglah mereka yang diberikan nama terbaik oleh orang tuanya. Tapi saya takut karena beban berat ada di pundak, saya punya kewajiban untuk membantu mewujudkan doa bapak menjadi nyata.

Muhammad adalah manusia yang paling jujur, pahlawan yang paling pemberani, dan pemimpin yang paling bijaksana. Ia diplomat yang ulung, juru pendamai yang luhur, dan panglima perang yang adiluhung. Dia pria paling dermawan, lelaki paling sabar, dan kepala keluarga paling penyayang. Dia pernah memperjuangkan kebenaran walau dilempari batu. Dia tak pernah berhenti bersabar meski kebaikan yang ia bawa ditertawakan.

Dan mulutnya selalu berdoa meski satu kota menganggapnya orang gila.

Saya sering berkaca dan mematut diri, bagian mana dari diri saya yang sudah mendekati Muhammad yang sebenarnya.

Tapi doa adalah doa.

Tidak ada orang tua yang sempurna, tapi saya percaya semua orang tua tak pernah putus mendoakan kebaikan untuk anaknya.

Kemarin sahabat saya @harisokirio pergi haji, mendatangi Ka’bah tempat suci dimana Muhammad memulai risalah suci. Saya titip doa, semoga Allah pilih kita semua, apapun nama yang kita punya, menjadi seperti Muhammad. Manusia terbaik pejuang kebenaran, pemegang panji kesabaran.

Dan semoga Allah tumbuhkan kerinduan saya untuk mendatangi Ka’bah. Karena ia belum tumbuh di sini, di dalam hati.

Saya capek dengan orang-orang bermental pecundang yang kerjanya hanya menyalahkan.

Presiden goblok, menteri goblok, gubernur goblok, Saiful Jamil goblok. Iya, semua aja goblok.

Pecundang hanya bisa melihat ke belakang. Tindakannya hanya berhenti di mulut sebagai keluhan.

Tapi pemenang melihat ke depan. Melihat masalah sebagai tantangan, lalu berdiri. Hadapi.

Negeri ini sudah kenyang perkataan. Dia haus akan perbuatan.

Indonesia sudah cukup mendapatkan masalah dari pecundang. Saatnya dia menuai solusi dari para pemenang.

Iya ekonomi Indonesia sedang tidak baik, tapi hanya ada 2 jenis manusia di dunia ini: (1) pecundang yang selalu bilang “bisa, tapi susah”, dan (2) pemenang yang selalu bilang “susah, tapi bisa”.

Saya sudah memilih.

Susah, tapi bisa.


Tonton video penjelasan tentang Kenapa Rupiah Melemah dari channel Youtube Kok Bisa?