https://api.soundcloud.com/tracks/307507895/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Ep. 11 – Susahnya Mengatur Waktu

Mengatur waktu adalah salah satu masalah terbesar saya.

Saya punya dua penyakit yang kalo berkolaborasi akan jadi duet maut: lupa dan menunda-nunda.

Padahal saya punya banyak sekali keinginan; karir yang cemerlang, karya yang spektakuler, jaringan yang luas, dan kehidupan personal yang happy.

Tapi itu berarti ada sangat banyak hal juga yang harus dikerjakan; pekerjaan di kantor, bikin karya, nulis di blog, bikin podcast, update sosmed, olahraga rutin, nongkrong bareng teman, ikutan meetup, quality time bareng keluarga, baca buku, rajin ngaji dan ibadah, traveling, dan masih banyak lagi daftar to do yang harus dikerjakan.

Masalahnya, keinginan dan kewajiban tadi terasa sangat jauh gap nya. Banyak to do yang akhirnya ga bisa terselesaikan karena alasan waktu. Kalo sudah ga berhasil dilakukan, biasanya alasan yang keluar selalu itu itu lagi,

“Mau sih, tapi ga ada waktunya”

Saya yakin, banyak orang merasakan keresahan yang sama.

Di episode ini, saya curhat betapa susahnya mengatur waktu. Saya share beberapa metode manajemen waktu, diantaranya The Mourning Routine dalam mengatur rutinitas pagi dan The Power of Sleep nya Ariana Huffington dalam mengatur tidur. Saya juga cerita beberapa cara yang saya lakukan agar lebih produktif dalam mengisi waktu.

Di segmen #JawabDiPodcast, saya cerita pandangan saya tentang Flat Earth dan tes kepribadian seperti Stiffin dan MBTI.

Join me, and you will listen to my subjectivity.  

“The trouble is, you think you have time”

Dalam sebuah perjalanan di commuterline, saya berhenti sejenak setelah berlari-lari karena hampir ketinggalan kereta. Sambil menarik napas, saya membuka smartphone, dan otomatis mengecek jadwal di Google Calendar dan to-do-list di Google Keep.

Saat itu sore hari, dan saya masih memiliki dua jadwal di dua tempat yang berbeda. Lalu saya mulai mengecek inbox, whatsapp, dan line, untuk berkomunikasi dengan teman-teman lama, lalu membuat janji untuk ketemuan. Saya juga mulai melakukan scrolling untuk melihat teman-teman baru, dan mencari kesempatan untuk bertemu dengan lebih banyak orang.

Tak berhenti di sana, saya membuka twitter dan melihat informasi di timeline; ada event-event yang menarik dan menginspirasi, ada buku-buku yang merengek dibeli, ada tujuan traveling yang minta dikunjungi, dan film-film di bioskop yang minta didatangi.

Hingga saya menyadari satu hal: terlalu banyak hal yang ingin dilakukan, tapi terlalu sedikit waktu yang bisa kita manfaatkan.

Saya rasa semua orang merasakan hal yang sama. Kita seringkali berandai-andai. Andai kita punya waktu lebih banyak dari sekarang. Andai satu hari bisa lebih dari 24 jam.

“We think we have time..”

Kita seringkali berpikir bahwa kita punya waktu, padahal tidak. Waktu adalah sumber daya yang sangat terbatas, dan dia terus berkurang tanpa pernah bisa ditawar.

Tak mengherankan ketika Tuhan pun bersumpah atas nama waktu.

Sekarang setiap saya bermalas-malasan, saya tahu saya sedang berkejar-kejaran dengan waktu. Garis akhir sudah ditentukan. Umur saya sudah digariskan. Maka sisa waktu yang tidak pernah kita tahu adalah batas pasti yang harus segera diselesaikan.

Saatnya kita berhenti berpikir bahwa kita punya banyak waktu.

Selesaikan. Sekarang.