https://api.soundcloud.com/tracks/325959198/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

#SubjectiveTalk with @novieocktavia & @khairunnisasyaladin: Tentang Menata Kala

Saya pertama kali kenal Novie di Tumblr. Saya sendiri lupa bagaimana detil awalnya saling sapa, tapi pertama kali ketemu langsung bareng @prawitamutia di pernikahan @satriamaulana di Bandung

Novie adalah blogger yang aktif di Tumblr dan sejak lama berkolaborasi bareng Nisa, hingga akhirnya secara indie menulis buku berjudul Menata Kala. Bercerita banyak kontemplasi tentang kehidupan dan waktu

Di #SubjectiveTalk kali ini, kita ngobrolin banyak hal mulai dari mengatur waktu, menjadi muslimah produktif, dan menjadi penulis indie

Join me, and you will listen to my subjectivity

https://api.soundcloud.com/tracks/320940855/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Talk w/ Ilman Dzikri: Karakter Millennials dan Gerakan Anak Muda

Kenal pertama kali dengan @ilmandzikri saat hadir di salah satu event @geevvcom.

Waktu itu kita ngobrol sebentar dan berlanjut via email dan whatsapp. Ilman yang waktu itu masih aktif sebagai Program Manager @ifutureleaders ngajakin kolaborasi untuk menulis ebook tentang gerakan sosial.

Ketemuan berikutnya di launching apps Campaign.com, kita jadi ngobrol ngalor ngidul soal galau pasca kampus dan gerakan anak muda. Obrolan ini akhirnya berlanjut di meja rekaman.

Saya mengajak Ilman bicara tentang pengalamannya mengelola organisasi kepemudaan berskala nasional. Dengan semakin banyaknya gerakan anak muda, kita juga bicara banyak tentang sindrom millennials yang ingin menjadi founder, common problem yang terjadi pada komunitas dan organisasi, hingga pertanyaan radikal tentang organisasi kemahasiswaan di kampus seperti himpunan dan badan eksekutif mahasiswa.

Apakah organisasi kampus seperti BEM masih relevan?

Bisakah organisasi mahasiswa bergerak dari menjalankan proker turunan ke gerakan yang menyelesaikan masalah spesifik?

Obrolan seru tentang karakter millennials dan gerakan anak muda.

Link ada di bio.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

https://api.soundcloud.com/tracks/316567343/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Ep. 12 – Berkarya di Tumblr

Sejak 2010, saya mulai ngeblog di Tumblr.

Dari yang awalnya cuma iseng mencoba sampai kesengsem beneran dan ketagihan ngeblog, memfokuskan semua tulisan saya di sini.

Tumblr jadi rumah buat tulisan, gagasan, dan keresahan saya. Tumblr juga tempat lahirnya ide @biologeek dan Podcast #Subjective.

Di episode ini, saya membagikan kembali rekaman waktu saya sharing di panggung Social Media Week Jakarta 2016. Rekaman satu tahun yang lalu. Dan saya masih ingat, SMW itu satu minggu setelah kejadian Kemenkominfo memblokir Tumblr.

Sebenarnya waktu Tumblr diblokir, saya baca banyak berita bernada “Tumblr diblokir, Blogger bersuara”. Waktu saya baca dan lihat namanya, saya kesal karena yang diwawancara itu ya blogger blogspot/wordpress atau platform lain. Kesal aja sih, kan yang diblokir Tumblr, ya wawancara blogger Tumblr lah *ngarep.

Karenanya, waktu dapat kesempatan sharing di SMW ini, saya cerita bagaimana Tumblr mewadahi saya berkarya. Saya juga cerita Tumblr sebagai tempat banyak kreator lokal membagikan karyanya; penulis, komikus, bahkan musisi seperti Agnes Monica (@agnezmothekid)  dan Dekat (@musikdekat).

Saya juga sharing perjalanan saya dari blog hingga podcast #Subjective.

Join me, and you will listen to my subjectivity

Baca juga tulisan saya: Tumblr yang Sebenarnya

https://api.soundcloud.com/tracks/307507895/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Ep. 11 – Susahnya Mengatur Waktu

Mengatur waktu adalah salah satu masalah terbesar saya.

Saya punya dua penyakit yang kalo berkolaborasi akan jadi duet maut: lupa dan menunda-nunda.

Padahal saya punya banyak sekali keinginan; karir yang cemerlang, karya yang spektakuler, jaringan yang luas, dan kehidupan personal yang happy.

Tapi itu berarti ada sangat banyak hal juga yang harus dikerjakan; pekerjaan di kantor, bikin karya, nulis di blog, bikin podcast, update sosmed, olahraga rutin, nongkrong bareng teman, ikutan meetup, quality time bareng keluarga, baca buku, rajin ngaji dan ibadah, traveling, dan masih banyak lagi daftar to do yang harus dikerjakan.

Masalahnya, keinginan dan kewajiban tadi terasa sangat jauh gap nya. Banyak to do yang akhirnya ga bisa terselesaikan karena alasan waktu. Kalo sudah ga berhasil dilakukan, biasanya alasan yang keluar selalu itu itu lagi,

“Mau sih, tapi ga ada waktunya”

Saya yakin, banyak orang merasakan keresahan yang sama.

Di episode ini, saya curhat betapa susahnya mengatur waktu. Saya share beberapa metode manajemen waktu, diantaranya The Mourning Routine dalam mengatur rutinitas pagi dan The Power of Sleep nya Ariana Huffington dalam mengatur tidur. Saya juga cerita beberapa cara yang saya lakukan agar lebih produktif dalam mengisi waktu.

Di segmen #JawabDiPodcast, saya cerita pandangan saya tentang Flat Earth dan tes kepribadian seperti Stiffin dan MBTI.

Join me, and you will listen to my subjectivity.  

https://api.soundcloud.com/tracks/302813449/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Live Yogyakarta: Ngobrolin Pasca Kampus ft. Kurniawan Gunadi & Fanbul Prabowo

Setelah 2 bulan kembali dari Jogja, akhirnya saya baru berhasil menyempatkan waktu untuk mengedit rekamannya.

13 November 2016, saya membuat #SubjectiveLive kedua di Loop Station YK dengan tamu istimewa: @kurniawangunadi dan @fanbul

Sangat menyenangkan menggali cerita dan diskusi dari dua sohib keren ini.

Masgun dan Fanbul berbagi pengalaman mereka menghadapi kegalauan dan membuat pilihan. Masing-masing dari mereka punya cerita unik dan perjalanan yang menarik.

@kurniawangunadi, adalah salah satu penulis paling populer di jagad Tumblr. Asal Purworejo, kuliah di Bandung, dan berkarya di Jogja. Masgun cerita berbagai pengalamannya; shock culture saat berkuliah di kota besar, menentukan karir setelah kuliah, dan menemukan jodohnya.

Sementara Fanbul, adalah salah satu aktivis hits di Jogja. Meski sudah kenal dari satu tahun sebelumnya, banyak cerita seru dari Fanbul yang baru saya tahu di obrolan ini; tentang masa pendidikannya yang spesial dan perjalanannya berubah dari anak sekolah yang bermasalah jadi aktivis digital yang haus menyelesaikan masalah.

Akan ada dua part dalam obrolan ini. Part 1 untuk obrolan saya dengan mereka, dan Part 2 untuk tanya jawab dan diskusi dengan teman-teman di Jogja.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

https://api.soundcloud.com/tracks/297513386/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Talk with Agus Z – Cerita Hidup Setelah Sekolah, Tanpa Kuliah

Bisa dibilang, ini cerita #SubjectiveTalk yang paling beda dari tamu-tamu saya sebelumnya.

Jika sebelumnya banyak bercerita tentang kehidupan semasa atau pasca kuliah, yang ini justru tidak kuliah.

Namanya @aguszaee, teman yang saya kenal di pelatihan @siaware di Bandung. Agus tipikal joker sunda; rame, periang, dan suka ngabodor. Selama lima hari di pelatihan, saya banyak ngobrol dengan Agus, yang ternyata punya bisnis hits di Bandung: @martabakmonkey.

Dalam obrolan kita, ternyata cerita di balik bisnisnya lebih seru lagi. Lulus dari sekolah, Agus sempat mencoba kuliah dan gagal. Sempat menganggur, Agus akhirnya memutuskan bekerja: pernah menjadi kuli, tinggal lama jauh dari rumah, hingga akhirnya bertemu partner dan memulai bisnis yang sekarang.

Sepulang 5 hari pelatihan – meski mabok perjalanan – saya memaksa Agus untuk mau cerita. Akhirnya kami ngobrol dan rekaman di salah satu kafe di Dago.

Agus bercerita tentang pengalaman hidupnya setelah sekolah, awal mula dia berbisnis, hingga opininya terhadap mereka yang beruntung bisa berkuliah. Satu sudut pandang baru yang menarik untuk kamu yang pernah atau masih berkuliah.

Join me, and you will listen to my subjectivity .

https://api.soundcloud.com/tracks/293894003/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Talk with Alia Noor Anoviar: Perjuangan Merantau, Kuliah, dan Berkarir di Kota

Saya tidak ingat pasti kapan pertama kali kenal dengan Alia.

Tapi saya ingat dulu ada masanya ketika Alia hampir selalu ada di acara kampus yang bertemakan social, entrepreneurship, or anything in between. Alia dan bisnis sosialnya – Dreamdelion – telah menjadi inspirasi bagi banyak gerakan bisnis sosial lain di berbagai kampus.

Alia memulai Dreamdelion, gerakan pemberdayaan sosial di bantaran kali Manggarai sejak 2012. Sejak saat itu, Alia dan kegiatannya di Dreamdelion banyak diliput di berbagai media online, cetak, maupun TV.

Tapi di balik ceritanya bersama Dreamdelion, Alia punya lebih banyak cerita berharga tentang hidupnya.

Alia yang berasal dari Jember, harus berjuang keras untuk bisa berkuliah di Universitas Indonesia. Dia harus beradaptasi dengan kultur ibukota, bekerja keras untuk mengejar prestasi, dan bertahan hidup dengan beasiswa.

Sejak SMA, Alia sudah menjadi hustler untuk mengejar mimpi-mimpinya, hingga kini bisa berkarir di ibukota dan setahun belakangan sedang menjalankan projectnya sambil keliling ke berbagai kota di Indonesia.

Di Subjective Talk kali ini, Alia berbagi cerita hidupnya: mencari uang sejak SMA, berjuang mengejar mimpi berkuliah di UI, merantau jauh ke ibukota, menjalankan bisnis sambil berkuliah, hingga berkarir sambil terus berjejaring dengan mahasiswa.

Ada banyak cerita seru tentang perjuangan, konsistensi, dan berani bermimpi.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

https://api.soundcloud.com/tracks/290802008/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Ep. 10 – Sumpah Milennials

Do I really care about Sumpah Pemuda?

Pertanyaan itu, mengusik saya satu minggu yang lalu: 28 Oktober, ketika semua orang merayakan Sumpah Pemuda.

Timeline dipenuhi semangat kepemudaan, jargon-jargon perubahan, dan kutipan keren semacam “Beri aku 10 pemuda maka akan kuguncang dunia”.

Sementara saya – sejujurnya – biasa saja. Kok rasanya saya ga seingin itu ikut merayakan hari Sumpah Pemuda. Saya sampai meluangkan waktu sejenak untuk coba berpikir lebih dalam, dan jawabannya tetap sama: saya tidak merasakan hype Sumpah Pemuda sebegitunya.

Mungkin Sumpah Pemuda sudah tidak terasa relevansinya buat kita – generasi Milennials. Mungkin.

Hingga akhirnya di ujung Oktober, saya tetiba kangen rekaman monolog dan terpikir untuk membahas topik ini. Saya membahas tentang spirit Sumpah Pemuda dan relevansinya dengan generasi sekarang; karakter generasi Milennials Indonesia; dan suka duka sebagai anak muda yang sering dipandang sebelah mata.

Di segmen #JawabDiPodcast, saya berbagi opini soal berani berbeda pendapat, budaya membaca, dan memulai berkarya.

Download atau streaming di aplikasi Podcast, Player FM, iTunes, dan Soundcloud.

Join me, and you will listen to my subjectivity

https://api.soundcloud.com/tracks/289285490/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Talk with @dokterfina: Menjadi Dentist, Sosial Media, & Suara Cerita

#SubjectiveTalk is back!

Di episode ini, saya ngobrol bareng @dokterfina, seorang dokter gigi yang juga aktif sebagai penyiar radio, dan hits di Tumblr dan Soundcloud karena project Suara Cerita.

Sebenarnya sudah cukup lama saya mencari waktu untuk episode ini, dan baru bisa rekaman di awal bulan kemarin.

Saya selalu penasaran menggali cerita di balik layar – not exactly the scene, but, you know what i mean. Di obrolan random ini, saya mencoba menggali cerita di balik layar @dokterfina.

Fina cerita tentang imej dokter gigi, pengalamannya menjalani kuliah sambil siaran radio, hingga cerita-cerita unik sebagai artis sosial media.

Download atau streaming di aplikasi Podcast, Player FM, iTunes, dan Soundcloud.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

https://api.soundcloud.com/tracks/282875966/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Ep. 9 – Privacy. Friendship, & The So Called Netizen

Akhir pekan kemarin, saya sedang santai di kamar karena tidak ada pekerjaan. Saking nganggurnya, saya buka Youtube dan random cari tontonan, hingga akhirnya saya melihat video yang sedang trending: Mario Teguh Menjawab Kiswinar.

Saya yang sebelumnya hanya beberapa kali membaca di timeline tentang kasus Mario Teguh akhirnya penasaran menonton. Wawancaranya di Kompas TV itu cukup panjang, hingga dibuat jadi empat bagian.

Saya pun sempat menonton wawancara Kiswinar, dan akhirnya berhenti karena saya kok jadi kesal sendiri. Kesal melihat permasalahan yang sebegitu personal dengan mudahnya diumbar; dan resah melihat komentar orang-orang tak dikenal yang asal nyablak ngurusin hidup orang.

Hingga akhirnya saya ambil alat rekaman dan saya mulai ngoceh sendiri.

Saya bahas soal privasi yang diusik orang-orang sok asik, lapisan pertemanan yang suka dilanggar, dan netizen yang hobinya ngurusin hidup orang.

Di segmen #JawabDiPodcast, saya berbagi opini soal subjektivitas, mengatasi keraguan dalam berkarya, dan bekerja part time selagi mahasiswa.

Dengarkan di Soundcloud, iTunes, atau download dan jadikan podcast ini teman ngobrol di jalan.

Join me, and you will listen to my subjectivity.