https://api.soundcloud.com/tracks/236876327/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Talk with Ario Pratomo (Part 1): Entrepreneurship

Saya
pertama kali mengenal Ario Pratomo (@sheggario) saat membaca tentang @CommaID,
coworking space di bilangan Wolter Monginsidi, Jakarta. Saat itu saya sedang
giat sekali belajar banyak soal desain dan industri kreatif. Bersama Rene
Suhardono, Yoris Sebastian, dan beberapa pegiat kreatif lain, Ario membuat
Comma dan turut memperkenalkan konsep Coworking Space ke banyak orang.

Dari sana,
saya mulai follow twitter dan baca blognya. Ario dikenal sebagai Tech Blogger, dan
beberapa waktu kemudian saya juga membaca profilnya di buku  #101YoungCEO sebagai pebisnis kargo.

Beberapa saat
setelah memulai Podcast Subjective, saya juga menemukan Podcast Ario di
soundcloud, judulnya #DiArioAkuDengar. Saya memberanikan diri email dan
ternyata responnya asik. Kami ketemuan dan ngobrol bareng tentang Podcast.

Sepekan
yang lalu, Ario whatsapp dan ngajakin kolaborasi. Saya sempat megap-megap
sebentar, soalnya orang ini belakangan tiap minggu selalu jadi co-host
#UltimateU di Kompas TV, acara favorit yang juga jadi inspirasi saya dalam
membuat Subjective Talk.

Ternyata punya kesempatan untuk bisa ngobrol bareng
dan featuring untuk Vlognya di Youtube.

Kami
ngobrol ngalor ngidul dan keasikan sampai jadi 1 jam. Karenanya, Subjective
Talk bersama Ario Pratomo akan dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama akan bicara tentang entrepreneurship.


Entrepreneurship dan Hidup Pasca Kampus

Untuk kalian yang berpikir untuk membuat bisnis sendiri setelah lulus kuliah, cerita Ario di sini akan jadi pelajaran yang berharga.

Pertanyaan-pertanyaan saya ke Ario berawal dari keresahan pribadi menanggapi populernya entrepreneurship. Entrepreneurship sedang booming dimana-mana, apalagi di kalangan pemuda. Kisah sukses para pebisnis
sukses mulai dari Steve Jobs (Apple) sampai pahlawan lokal seperti Achmad Zaky
(Bukalapak) makin semarak kita dengar dan baca di berbagai media. Tapi apakah berbisnis semanis itu? Apakah semua orang harus menjadi pengusaha dan punya bisnis sendiri?

Ario bercerita tentang pilihannya bekerja selama 2 tahun setelah lulus kuliah, baru kemudian membuka bisnis sendiri. Perbincangan sangat menarik karena Ario adalah pebisnis yang tidak menyarankan anak muda untuk berbisnis.

Streaming di Soundcloud atau download dan jadikan podcast ini sebagai sohib di jalan atau teman di kosan.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

Jangan lupa follow Instagram @sheggario dan subscribe vlognya di Youtube.


Further reading & listening:

https://api.soundcloud.com/tracks/234603077/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Talk: Mutia Prawitasari (@prawitamutia)

Pada dasarnya, saya orangnya banyak bicara. Bisa dibilang hobi, bisa juga dibilang bawaan dari sananya.

Salah satu hal yang membuat saya menyukai berbicara adalah saya bisa asik berinteraksi dengan orang lain. Saya sangat menikmati diskusi dan ngobrol santai ala warung kopi. Dan sebenarnya sejak awal, format ideal Podcast Subjective versi saya adalah ketika saya bisa ngobrol sok asik dengan tamu membahas suatu isu.

Di episode biasa, saya monolog membahas suatu isu. Tapi di episode-episode khusus, saya berdialog ala warung kopi. Saya menyebutnya Subjective Talk

Di episode ini, saya ngobrol dengan Mutia Prawitasari, Tumblr Blogger dan penulis buku Teman Imaji yang sukses di jalur indie. Kita ngobrol di selasar FE, setelah Mutia selesai dari aktivitasnya di kampus sebagai asisten dosen di UI. Jangan heran nantinya kalau banyak terdengar suara-suara lain di background. 

Rekaman ini sebenarnya dibuat sudah cukup lama, sekitar tiga bulan yang lalu. Tapi saya baru bisa meluangkan waktu sekarang untuk editing dan ternyata lumayan juga: 40 menit. Tapi saya jamin obrolannya seru; banyak pertanyaan menarik dan jawaban unik.

Kita bicara soal tulis menulis, dunia self-publishing, komunitas Tumblr, sampai pendapatnya sendiri soal kenapa dia seterbuka itu dengan cerita cintanya.

Streaming di Soundcloud atau download dan jadikan podcast ini sebagai sohib di jalan atau teman di kosan.

Join me, and you will listen to my subjectivity.


Further reading & listening:

https://api.soundcloud.com/tracks/228326786/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Episode 2: Kuliah, Kerja, dan S2

Sebulan belakangan saya sedang sering main ke berbagai kampus. Dua pekan kemarin saya di IPB, pekan berikutnya di Unibraw Malang, pekan ini akan ke Undip Semarang, dan pekan depannya lagi akan ke UPI Bandung.

Semakin banyak saya berkunjung, semakin kangen rasanya dengan dunia mahasiswa. Dunia ketika rasa haus karena keingintahuan dengan mudah dipuaskan dengan mata air pengetahuan. Dunia yang asik untuk berkembang dan penuh keseruan dengan buku, pesta, dan cinta.

Lalu ketika masa kuliah berakhir, banyak orang yang kehilangan euforianya. Kehilangan karena harus berhenti bersenang-senang untuk bekerja, atau lebih parah lagi: tersesat dan tidak tahu mau melakukan apa.

Pagi ini, pikiran random tentang kuliah dan kehidupan pasca kampus tiba-tiba memenuhi kepala saya. Hasilnya, saya nyerocos selama setengah jam dan beropini sok asik; mulai dari mahasiswa yang sekadar lulus tapi tidak tahu harus melakukan apa, status pekerjaan yang mendefinisikan kata bahagia, hingga tren baru pasca kampus untuk kuliah S2 dengan beasiswa.

Dengarkan di Soundcloud atau download dan jadikan podcast ini (baca: suara saya) sebagai teman ngobrol di jalan.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

https://api.soundcloud.com/tracks/223627321/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Yang lebih berbahaya dari pendosa adalah orang yang berdosa, tapi tidak tahu dan tidak menyadari, bahwa dia berdosa.

Dan mungkin saja, ini terjadi pada kita. Para konsumen dan produsen produk bajakan.

Pembajakan adalah budaya yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Ya, kita semua. Orang-orang modern yang bekerja dengan OS dan Microsoft Office yang tidak berlisensi. Orang-orang berpendidikan yang secara bebas memfotokopi dan membeli buku tiruan berharga murah di toko buku emperan. Orang-orang berwawasan yang mengunduh musik dan film dari situs-situs gratisan.

Di Episode kali ini, saya berbicara mengenai budaya pembajakan dari dua sisi: (1) sisi negatif dengan memperlihatkan frekuensi konsumsi pembajakan yang kita lakukan, dan (2) sisi positif dengan mengkaji benefit yang dinikmati oleh masyarakat dengan adanya budaya pembajakan.

It’s 22 minutes. Take it easy, anggap saja kita sedang duduk bareng sambil ngopi dan ngemil kue cubit rasa greentea. Dengarkan sambil nyetir mobil, masak nasi goreng, atau pura-pura ngerjain skripsi.

Join me, and you will listen to my subjectivity.

https://api.soundcloud.com/tracks/219389142/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Episode 0: Why Podcast

Everything has to have a reason.

Segala sesatu harus digerakkan dengan alasan, dan di episode ini saya menceritakan mengapa saya membuat Podcast Subjective.

Saya berbicara mengenai keresahan saya tentang konten cinta, alternatif pembicaraan anak muda, sampai kebenaran absolut.

Join me, and you will listen to my subjectivity.