My 7 Takeaways From Social Media Nowadays

Di sebuah perjalanan kereta, saya iseng ngalor ngidul di berbagai timeline sosial media. Twitter, Instagram, Facebook, Tumblr. Selama setengah jam, saya menulis catatan ini di Insta Stories.

So I want to share them with you. Here is my 7 takeaways from social media nowadays.

Lanjutkan membaca My 7 Takeaways From Social Media Nowadays

Mengubah dunia, terdengar seperti sesuatu yang sangat besar.

Tapi semua perubahan besar, semua jargon mengubah dunia, selalu dimulai dari mengubah diri sendiri, dimulai dari pikiran.

“Those who cannot change their minds”, kata George Bernard Shaw, “cannot change anything”.

Mengubah diri, ternyata justru dimulai dari menerima diri kita sendiri, apa adanya.

“The curious paradox is that when I accept myself just as I am”, kata Carl J. Rogers, “then I can change”.

Karena saat kita menerima batasan diri sendiri, saat itulah kita melewatinya.

“Once we accept our limits, we go beyond them” – Albert Einstein

Keep Growing

2 tahun yang lalu (di foto), tim @kitabisa​ pindah kantor dari Bekasi ke Jakarta.

Dari yang awalnya di Rumah Perubahan, Bekasi, kami pindah ke Pejaten. Ngantor di satu rumah bareng beberapa aktivis sosial digital lain; Change.org, Indorelawan, Pamflet, Public Virtue Institute, dan Peace Women Across The Globe.

Kitabisa kebagian di garasi. Bukan mau keren-kerenan macam Steve Jobs atau Bill Gates, tapi emang dapatnya jatah di garasi.

Sempat ngantor di garasi yang muat 6 orang, ga sampe setahun kita sudah pindah lagi ke kantor sendiri dengan tim sekitar 40 orang.

Hari ini, Kitabisa.com sudah fasilitasi 4.600 campaign, mengumpulkan donasi hampir 100 Milyar, dan bantu 275.000 #OrangBaik.

Sometimes, I love to look back and see how far we’ve gone.

But this is a journey without a finish.

We need to keep going.

We need to keep growing.

#Subjective Talk with Adriano Qalbi: Lo Pikir Lo Keren

Ini kedua kalinya saya ngobrol bareng Adri di Podcast. Technically, sebenarnya tiga kali; tapi yang kedua filenya hilang waktu transfer dari handphone ke laptop. Dodol memang, padahal obrolannya juga seru parah.

Di episode ini, kita ngobrol ngalor ngidul tentang komedi, pandangan politik, dan sosial media. You can listen it directly in my podcast (klik di sini), tapi yang lebih penting, episode ini ada karena Adri bikin show ke-2 untuk specialnya: Lo Pikir Lo Keren.

Saya mau cerita soal show ini, karena ini adalah show stand up comedy yang saya tunggu sejak lama.

Saya sudah nonton show yang pertama 28 Januari kemarin: saya beli tiket gold, duduk barisan ke-2 paling depan, dan saya capek banget ketawa pulang dari sana

This guy, is a true artist.

Adri adalah salah satu pekerja seni favorit saya. Seperti banyak pekerja seni sejati, dia beneran cuma mau berkesenian – dalam hal ini berkomedi – dengan caranya sendiri.

Dia ga mau jadi pembawa pesan. Dia ga peduli tentang politically correct.

Dia bahkan ga pake musik, ga pake gimmick.

Dia cuma mau jadi komedian dengan misi sederhana: being funny. Nanti kalau kalian beneran nonton Adri, jangan kaget liat orang ini baca contekan untuk bawain materi.

Karena dia cuma mau lucu.

“Stand up comedy itu adu lucu, bukan adu ngapal”, begitu katanya.

image

see those papers in the floor?

Saya sudah pernah nonton orang ini Live dua kali, dan dua-duanya baca contekan.

Tapi jokenya super lucu. Deliverynya mantap. Set listnya berputar dari soal fenomena sosial media, kondisi politik, sampai berisiknya suara hairdryer. Saya ga bisa cerita soal joke-nya, tapi dua kali saya nonton dia, pulangnya selalu mau hilang suara karena capek ketawa.

“Gue cuma pengen dijudge karena lucu. Kalo bukan karena lucu, gue ga peduli”

This kind of thinking yang bikin saya kesengsem berat sama Adri sebagai pekarya.

Di tiap jokenya, lo akan tersadar bahwa selama ini lo cuma keren di otak lo doang.

Bit demi bit adalah autokritiknya buat diri sendiri, dan juga buat semua orang yang datang: Lo Pikir Lo Keren.

Padahal sih ya, ga tau juga beneran keren atau engga. Lo coba denger sendiri dan coba tanya lagi.

Tapi saya berani pastikan: kalo referensi kita sama, show ini lucu banget. Tiga Opener Adri juga mengerikan: Ben Dhanio, Patra Gumala, dan Kukuh. Semuanya pecah.

image

Line up super yang memastikan satu hal: you will have a good night.

Sabtu 4 Maret di Gd. Pertunjukan Bulungan.

Hari ini (28 Februari), hari terakhir bisa beli tiketnya secara online. Sisanya harus OTS dan rebutan.

Beli tiketnya di shout.id/lopikirlokeren.

Choose to Grow

Waktu dua bulan yang lalu main ke Semarang, saya mendapatkan handlettering ini sebagai hadiah 1 tahun Podcast Subjective. Goresan keren ini karya sohib gaul asal Pontianak, @zulfianrahman namanya.

Zulfian teman saya dari jaman pesantren. Dia salah satu kru MAPLIS, singkatan dari Majalah Papan Tulis. Saya tau namanya agak alay, tapi geng ini isinya 5 orang gila, teman-teman saya yang kreatifnya kebangetan, jago gambar, dan punya ide-ide liar. Geng ini, adalah tempat saya belajar menumbuhkembangkan ide-ide kreatif dan semangat berkarya.

Sebagai anak-anak yang isi kepalanya selalu meletup, di tengah keterbatasan media untuk berekspresi, kami menggunakan papan tulis di asrama sebagai kanvas seni yang kami gubah setiap hari. Kita menulis, menggambar, dan bikin ilustrasi macam-macam di sana.

Dulu sih kami merasa keren. Dan memang keren, saat itu. Tapi setelah lama lulus dan sempat lihat lagi karya-karya kita dulu, ternyata kita baru sadar kualitas kita dulu sangat cupu. Kesadaran ini bikin saya sadar hal penting lainnya: ternyata kita bertumbuh.

Kata @pandji.pragiwaksono, kunci berkarya adalah bertumbuh. Bukan berpikir gimana caranya membuat karya terbaik seumur hidup, karena kalo gitu, setelah itu tercapai kita akan berhenti berkarya. Yang benar adalah selalu berpikir gimana bikin karya yang lebih baik dari karya kita yang sebelumnya.

Cara paling mudah mengukurnya adalah dengan lihat karya-karya kita di masa lalu. Kalau kita bisa dengan mudah menertawakannya, berarti kita sudah naik kelas dan bertumbuh jadi lebih baik.

Zulfian ini, handletteringnya dulu cupu. Pake banget. Dan saya yakin dia akan ketawa lihat karyanya yang dulu, karena yang sekarang sudah jauh lebih keren dan berkualitas dari segi skill maupun hasilnya. Cek aja instagramnya @zulfianrahman atau Tumblr-nya @vintagestrikesback.

Saya melihat dia bertumbuh, sebagaimana dia melihat saya juga bertumbuh.

Dan jika ada satu hukum universal yang berlaku sama di industri kreatif, dunia startup, dan biologi sekaligus, maka saya melihatnya dalam hukum bertumbuh.

“As entity/startup/creature, you only have two choices: you gotta grow, or die

Let’s always choose to grow.

#SubjectiveLive @Yogyakarta – Ngobrolin Galau Pasca Kampus: Karir, Pilih Pasangan, dan Masa Depan

Sejak banyak bercerita di Podcast, saya menyadari bahwa galau pasca kampus adalah topik kegalauan universal. Topik ini relate dengan hampir semua orang yang pernah berkuliah, baik yang masih di kampus maupun yang sudah lama lulus.

Setelah lulus, kita dihadapkan pada persimpangan masa depan. Kita dituntut untuk memilih ingin berkarir dimana; bekerja di bidang apa; hingga menentukan pasangan dan kapan masuk ke jenjang pernikahan.

Semua adalah kegalauan khas anak muda yang memiliki banyak cerita.

Setelah menggali cerita di #SubjectiveLive Bandung, saya ingin menggali cerita lainnya di sebuah kota istimewa: Yogyakarta.

Sama seperti #SubjectiveLive sebelumnya, eksekusi idenya hadir dengan tiba-tiba.

Saya mengundang teman-teman di Jogja untuk meetup dan cerita bareng bersama mereka. Kita akan ngobrol santai di #SubjectiveLive bersama:

  • @kurniawangunadi, alumni Desain Produk ITB yang sekarang jadi penulis dan buka studio sendiri.
  • @fanbul Prabowo, anak komunikasi yang pernah drop out tiga kali, dan sekarang hobinya kerja sosial dan wara-wiri.

Kita akan berkenalan, berdiskusi santai, dan menggali pengalaman mereka melalui masa galau pasca kampus, serta membuat pilihan-pilihan yang membawa mereka ke titik sekarang.

  • Waktu: Ahad, 13 November 2016 | 19.00-21.00 WIB
  • Tempat: Loop Station Yogyakarta, Jalan Trikora no. 2 (Link Gmaps).

Untuk daftar, ketik Subjective – Nama – Email, kirim via SMS / WA ke 083822010294.

Tempat TERBATAS. Bawa pertanyaan dan kita akan ngobrol seru-seruan.

Ga pake syarat. Ga perlu bawa apa-apa.

Sampai jumpa di Jogja!

Subjective Live @Bandung – Ngobrolin Galau Pasca Kampus: Karir, Pilih Pasangan, dan Masa Depan

Sejak bercerita tentang kerja, bisnis, dan S2 di Podcast Subjective Ep. 2, saya menyadari bahwa galau pasca kampus adalah topik kegalauan universal. Topik ini relate dengan hampir semua orang yang pernah berkuliah, baik yang masih di kampus maupun yang sudah lama lulus.

Setelah lulus, kita dihadapkan pada persimpangan masa depan. Kita dituntut untuk memilih ingin berkarir dimana; bekerja di bidang apa; hingga menentukan pasangan dan kapan masuk ke jenjang pernikahan.

Semua adalah kegalauan khas anak muda yang memiliki banyak cerita.


Kali ini, saya ingin menggali cerita ini dari teman-teman saya secara langsung, di kota Bandung.

Saya mengundang teman-teman di Bandung untuk meetup dan cerita bareng bersama mereka. Kita akan ngobrol santai bersama:

  • Satria Maulana (@satriamaulana.tumblr.com), alumni akuntansi UNPAD yang sekarang jadi kuli industri kreatif.
  • Choqi Isyraqi (@choqi-isyraqi.tumblr.com), alumni Biologi ITB yang sekarang jadi tukang bikin video.

Kita akan berkenalan, berdiskusi santai, dan menggali pengalaman mereka melalui masa galau pasca kampus, serta membuat pilihan-pilihan yang membawa mereka ke titik sekarang.

  • Waktu: Jumat, 26 Agustus 2016 | 19.00-21.00 WIB
  • Tempat: Warung Ruang Putih, Jalan Bungur no 37 (Link Gmaps)

Untuk daftar, ketik Subjective – Nama – Email, kirim via SMS / WA ke  081281000180 (Cile).

Acara ini FREE. Bawa pertanyaan dan kita akan ngobrol seru-seruan.

Ga pake syarat. Ga perlu bawa apa-apa.

Sampai jumpa di Bandung!

I have a confession to make, and this may sound so selfish.

But these podcast things, are all about me.

At least initially.

Saya memulai Podcast Subjective untuk “mengobati” diri saya sendiri. Saya tertantang mengeksplorasi cara baru untuk jujur beropini. Saya merasa perlu menyalurkan suara-suara berisik di kepala ini. Dan saya ingin berbagi keresahan serta membangun diskusi.

Tapi dalam perjalanannya, saya tidak menyangka banyak respon positif yang saya terima. Yang paling menyenangkan, banyaknya pertanyaan dan bahan diskusi, baik via Email, Tumblr, Instagram, dan Twitter.

Sayangnya, ada banyak pertanyaan yang belum sempat terjawab lewat tulisan

Untuk itu, saya sedang mencoba format baru untuk Podcast Subjective: 30 menit membahas topik yang ingin saya bicarakan, dan 30 menit sisanya menjawab pertanyaan dan diskusi dalam segmen #JawabdiPodcast.

Dengan format ini, harapannya tiap episode bisa membangun lebih banyak diskusi. Ask me anything, bisa tentang topik yang pernah dibahas, usulan topik baru, atau pertanyaan apapun – yang iseng maupun yang seru untuk didiskusikan. Kirim pertanyaan via Email/Twitter/Tumblr dengan hashtag #JawabdiPodcast.

Join me, and you will listen to my subjectivity.