Mendengar podcast anda saya ikut tersindir sebagai orang yang bingung mau ngapain setelah lulus kuliah, tahun kemarin setelah wisuda, orang tua saya menyarankan lanjut S2.

Sambil nunggu tes dan diterima saya coba lamar-lamar kerja. Alhamdulillah tapi bikin saya pusing juga, tiap melamar dan interview saya diterima.

Akhirnya saya coba dan kerjanya gak lama karena alasan ga cocok sama lingkungannya.

Ibu saya akhrnya memarahi saya. Dibilangnya jangan coba2 kasian yang lain yg bener2 niat kerja kesempatannya diambil sama kamu yang ga niat serius kerja.

Akhirnya setelah kuliah mulai berjalan saya gak berani coba2 lagi kerja. Padahal temen sekelas saya notabene lebih tua dan sudah punya banyak pengalaman bekerja, saya malu sendiri.

Menurut saya, tidak ada yang terlambat dalam memperbaiki niat. Melihat teman2 saya bekerja akhirnya saya juga mencoba mencari2 kerja. Alhamdulillah juga, akhirnya saya dipercaya menjadi asdos dan bekerja di prodi saya di pasca menjadi tim borang. Sekali pun masalah feenya gak seberapa tp saya senang dengan saya lakukan karena ini salah satu tahap menuju yang saya cita2kan.

Bagi saya pribadi, kuliah S2 bukan untuk gaya2an atau menaikan gengsi. Saya setuju dengan perkataan mas Iqbal. Harusnya kuliah S2 itu bentuk aktualisasi diri terhadap sesuatu yg kita targetkan.

Kembali lagi juga, di mata Tuhan yang dilihat kan bukan seberapa tinggi pendidikan tapi manfaat apa tidaknya yang kita lakukan.

Trims

Submission dari @antarakadabra tentang Podcast Subjective Ep2: Random Thoughts Tentang Kuliah, Kerja, dan S2. Saya masih merasa dunia pasca kampus merupakan topik penting yang masih perlu dibicarakan lebih banyak.

Terima kasih untuk sharing insightnya, semoga dimudahkan jalannya menuju yang dicita-citakan 🙂

Indonesia, bangsaku, bagaimanapun keadaannya, adalah tanah mutiara di mana aku telah dilahirkan.

Indonesia adalah tangis tawaku, putih tulangku, merah darahku, dan indung nasibku. Tak ada yang lebih layak kuberikan bagi bangsaku selain cinta, dan takkan kubiarkan lagi apapun menodai cinta itu, selamanya.

Andrea Hirata dalam Sebelas Patriot

Hari ini saya belajar untuk menjadi pemberani. Bukan hanya berani untuk berteriak pada sesuatu yang salah, tapi lebih jauh lagi, berani untuk mengakui kebenaran bahwa kita melakukan kesalahan.

Karena hal tersebut justru adalah hal tersulit yang bisa dilakukan manusia,    siapapun kita. 

Jangan takut jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh.

Jangan takut gagal, karena yang tidak pernah gagal hanyalah orang yang tidak pernah melangkah.

Jangan takut salah, karena dengan kesalahan yang pertama kita dapat menambah pengetahuan untuk mencari jalan yang benar pada langkah kedua.

Buya Hamka